Selasa, 17 Desember 2013

Tiap Senin

Tiap kali menghadapi Senin, tiap itu pula saya merasakan horor. Menghadapi situasi yang membuat hati ciut. Dan itu mesti ditambah dengan perasaan tak enak hati sebab menghadapi pekerjaan yang saya tidak suka. Ya tuhan.....

Read more »

Rabu, 11 Desember 2013

Sudah saatnya bertemu dengan seseorang

Tadi pagi nyetir tiga jam menuju lokasi kegiatan. Hampir sepanjang perjalanan dinaungi macet. Kaki luar biasa pegel. Tapi pilihan yang lain, tak ada yang mengantar saya pada hasil akhir yang saya kepingin: cepat sampai rumah.

Tadi sore, pas perjalanan ke rumah saya rasanya hampir menjadi gila. Sesaat pikiran kosong. Saya memutuskan untuk berhenti di bahu jalan. Berteriak sejadi-jadinya. Saya kepingin berhenti kerja. Saya ingin pindah kota.

Apakah saya gila?

Read more »

Minggu, 08 Desember 2013

Tabah dan Waras

Hampir 2 jam Senja berada di mobil kami. Dari mood yang bagus sampai mood yang berantakan. Saya? Jangan tanya. Saya mesti ekstra kuat menundukkan hawa saya yang marah luar biasa dengan kemacetan. Karena di saat yang sama saya harus menenteramkan hati Senja. Saya ajak dia ngobrol terus-menerus. Mampir ke Indomart beli susu. Mampir ke pombensin, biar ada pengalihperhatian. Berangkat dari pukul 06.30 tiba di sekolahnya kira-kira pukul 08.15 ini adalah gila. Untuk menempuh 13 km dengan harga sedemikian menit waktu kehidupan. Luar biasa brengsek. 

Saya khawatir dengan itu. 

Saya khawatir dengan apa yang kami guratkan di otaknya. Tekanan dan kemacetan. Bahkan sejak mula-mula hari, sejak mula-mula kehidupannya (bahkan dia belum duduk di sekolah dasar). Kehidupan seperti apa yang kami jejalkan ke otaknya. Kehidupan penuh kesesakan. Frustrasi. Kemarahan. Kesia-siaan di jalanan. Waktu yang terbang menguapkan hawa yang mestinya dipakai untu bermain. Saya khawatir dengan itu. Saya khawatir dengan dia. Saya khawatir dengan saya. 

Betapa beratnya ongkos yang mesti kami bayar. 

Saya tahu, jika kita menghadapi situasi yang gila, maka kita harus tabah. Ikuti arusnya. Tapi apakah dengan demikian kami harus gila? Dalam sebuah perjalanan, saya pernah berjumpa dengan orang yang tinggal di Puncak Bogor dan bekerja di Cibitung atau Cikarang. Tiga jam katanya sekali jalan. Dan saya bilang--waktu itu--orang ini tidak punya kehidupan. Pasti ada yang salah dengan hidupnya sehingga bisa menerima situasi yang gila seperti itu. Dan saya sedang berbicara kepada diri sendiri. Apakah dia dan saya sudah gila? Atau kami sedang berusaha tabah. Apakah tabah sama dengan waras? Ah gilak. 


Read more »

Selasa, 03 Desember 2013

Kalah

Jakarta sudah mengalahkanku, rasanya.

Read more »

Kamis, 28 November 2013

Start all over again

Tentu tidak adil dan mestilah itu berkilah jika saya bilang saya sekadar mengucapkannya: bagaimana jika kita mulai segalanya dari nol. Ini mestinya bersumber dari kelelahan saya menghadapi kemacetan di Jakarta. Dari kantor pukul 17.30 dan sampai rumah pukul 20.30. Tiga jam! Melalui berkali-kali moda. 

Saya khawatir kewarasan kami berkurang. Dan kami semakin kebas dan toleran terhadap ketidaknormalan. Dan yang lebih parah kami mewakili degradasi ini kepada anak kami. Nauzubillah. 

Ingatan saya melayang pada seorang teman di Bandung. Mengenai kenapa dia memilih dataran tinggi di sana sebagai tempat tinggal. Tidak mendekat dengan orang tuanya, maupun mertuanya. Jawaban yang sederhana dan tidak impresif--saat itu: Karena itu rasanya tempat terbaik untuk membesarkan anak. 

Duh gusti. Tahan-tahankanlah saya menghadapi Jakarta. 

Read more »

Sudah lama

Sudah lama saya  tidak mengeluh tentang kehidupan. Apakah kehidupan saya baik-baik saja. Saya cuma bisa berdoa, semoga iya. Iya, pekerjaan mulai tertata. Meski beratnya minta ampun. Ada bagian yang saya bisa nikmati betul.

Misalkan bagian saya bepergian ke beberapa wilayah di Indonesia. Saya belajar mengalokasikan waktu untuk menikmati kota-kota yang saya kunjungi. Dan kemarin ada kesibukan luar biasa mengurus konferensi. Berat dan capek. Tapi ini yang membuat saya senang. Saya berkumpul dengan teman-teman baru saya yang luar biasa santai dan humoris. Nyaris tiada jam tanpa tertawa. Saya betul-betul menikmati ini. Bukan pekerjaannya. Hehehehe

Read more »

Kamis, 17 Oktober 2013

Genit dan banyak keinginan

Rasanya saya kepingin bikin website sendiri. Dengan domain nama sendiri, plus perwajahan sendiri yang saya kepingin. Niat mulianya adalah mendokumentasikan karya. Ini penting buat saya rasanya. Bukan untuk kepentingan sombong-sombongan. Tapi lebih kepada membuat motivasi kepada diri sendiri, bahwa saya tak perlu rendah diri. Dan bisa bikin sesuatu. Meski pun nggak artistik-artistik amat.

Toh rasanya juga ini bukan kerja yang nguras energi banget. Perkara mengarsipkan apa yang sudah ada. Foto-foto saya, sajak-sajak, sketsa dan cerpen, tulisan kritik, dan ide-ide proyek.

Mudah-mudahan kesampaian.

Read more »

Rabu, 16 Oktober 2013

Monyet

Kalo otak nggak nyampe, pilihan itu ada dua. Maksa otaklu, tanpa harus mengetahui limitnya atau ya menyerah aja. Jadi mana yang akan kita pilih kalau begini?


Read more »

Senin, 07 Oktober 2013

Liburan

Saya menghidupi diri saya sendiri dengan bayang-bayang liburan. Itu seperti membawa motivasi buat saya. Seperti memberikan orientasi buat saya untuk bekerja giat. Cari uang, karena di ujung pekan, saya bisa liburan bersama keluarga. Karena saban tiga bulan, empat bulan, enam bulan, atau paling buruk adalah setahun sekali, kami semua akan pergi melepaskan diri dari kegilaan pekerjaan dan konsentrasi membangun keluarga kami. Yang sempat saya porakporandakan.

Tujuan saya adalah liburan, jika kamu tanya.

Read more »

Jumat, 04 Oktober 2013

Anjing

Sekolahnya anak saya ini mulai menyebalkan. Tapi saya tak punya pilihan.

Jadi ceritanya begini, lagi asyik-asyik berdua di kamar tidur, kami memang sering ngobrol. Dan kebanyakan memang saya yang harus banyak mengorek keterangan dari anak. Mengingat dia biasanya langsung omong, "biasa aja," kalau ditanya soal sekolahnya.

Nah malam kemarin sempet obrol-obrol. Saya kembali menanyakan niat kami untuk memelihara anjing. Dan meletuslah ucapannya. "Kata Bu Guru, aku nggak boleh melihara anjing," Ah kagetlah. Meski saya mestinya tak langsung menjatuhkan hukuman. Karena konteks kalimat itu boleh bisa mengubah apa yang saya pikirkan. Jadi memang harus diklarifikasi.

Tapi begini, saya percaya anak saya tidak bohong soal ini. Saya membayangkan dia pasti ditanya, "Senja mau pelihara apa?" dan jawabnya adalah dia mau memelihara anjing. Dan si ibu guru membalas dengan memelihara anjing itu tidak boleh. Saya khawatir dia bilang begitu, karena Senja adalah muslim. Dan karena itu tidak boleh memelihara anjing.

Ada dua hal yang saya tidak suka. Yang pertama adalah si guru langsung bilang "nggak" boleh untuk memelihara anjing. Buat saya itu sama saja merepresi pendapat si anak. Bagaimana pun hal itu tidak baik. Yang kedua saya tidak mendapatkan alasan yang jelas mengapa Senja dilarang memelihara anjing. Apakah karena statusnya sebagai muslim atau karena memelihara binatang itu punya konsekuensi yang berat?

Kalau memang alasannya sebagai muslim, saya terpaksa untuk tidak sependapat. Secara fiqih bisa kita berdebat soal itu. Saya menganut pendapat yang membolehkan anjing dalam rumah tangga muslim. Saya mungkin agak setuju kalau memang memelihara anjing mungkin bisa dikatakan berat! Memelihara anjing adalah komitmen. Dan tidak bisa dilepas begitu saja. Jangankan anak kecil, orang dewasa saja berat melakukan itu--kecuali mereka yang tidak bertanggung jawab.

Nah kalau argumen yang kedua yang dipakai pun, rasanya itu kurang tepat. Bagaimana pun  nggak bolehlah anak-anak langsung dibilangin nggak boleh ini nggak boleh itu. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Tugas guru mendidik. Bukan untuk melarang ini atau itu.

Saya menduga alasan pertamalah yang lebih kuat. Ini berdasarkan pengalaman kami selama ini, bahwa ada kecenderungan sekolah bernuansa nasional ini bergeser arahnya ke kanan.Ini terlihat dari kebijakan pakai busana muslim tiap Jumat buat guru dan murid-muridnya. Dan Senja selalu kami pakaikan pakaian biasa, sebagai tanda kami tak suka kebijakan itu. Yang kedua, untuk ukuran TK B sudah banyak praktik agama yang diajarkan. Misalkan doa-doa, praktik wudhu dan salat, dll. Buat saya keterampilan seperti itu rasanya tak perlu untuk dikejar untuk diajarkan di usia dini.

Yang penting buat kami itu mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Berbuat baik sesama manusia. Tidak korupsi dan curang, dst. Nilai-nilai universal seperti itu yang butuh untuk terus ditanam. Bukan hapalan-hapalan.

Senin mendatang rencananya akan ada kunjungan anak-anak sekolah ini ke rumah kami. Pada saat itu indah rasanya menunjukkan bahwa punya anjing di keluarga muslim itu tak apa. Sayangnya kami belum punya.


Read more »

Selasa, 01 Oktober 2013

Dapat Kontrak

Jadi ceritanya masa percobaan saya sudah berakhir. Dalam waktu dekat kontrak akan disiapkan selama 2 tahun. Seharusnya saya lega untuk ini. Karena sudah ada kepastian. Saya tak perlu mencari pekerjaan dalam waktu dekat. Tak perlu khawatir dengan urusan nafkah.

Tapi percaya atau tidak, saya tidak sepenuhnya lega. Ada kekhawatiran saya terdera stres terus-menerus dengan substansi pekerjaan yang saya tidak kuasai. Meski si bos berulang-ulang bilang bahwa saya bisa melakukannya. Saya takut terus-nenerus mengalami teror macet di jalanan yang membuat saya bisa punya hobi baru: mengutuk dan mengumbar rasa marah. Sungguh tidak sehat.

Tapi hidup itu kompromi bukan. Dan apa yang keluar dari ketegangan dan keterjepitan.

Sudahlah.


Read more »

Senin, 30 September 2013

Niat Mulia

Ini adalah kali kesekian mempekerjakan teman, tentu saja dengan semangat berbagi rezeki dan solidaritas, dengan harapan meringankan pekerjaan pribadi. Cita-cita mulia dan bermanfaat bukan? Mestinya demikian. Tapi apa daya, ini adalah kali kedua cita-cita tersebut tidak kesampaian. Saya capek, karena mesti kerja dua, tiga, empat kali. Karena si bos menuntut pekerjaan berkualitas tinggi. Dua, tiga kali revisi bisa jadi bukan malah jadi versi final.

Ah pegel hati. Membayangkan mesti kerja lagi malam-malam. Demi mencapai target dan tenggat waktu. Nggak enak. Sungguh. Brengsek

Read more »

Jumat, 27 September 2013

Bisnis Suci

Barusan scrolling akun sosial bekas bos. Sedih membacanya. Silang pendapat yang keras yang bikin kepala panas. Saya rasanya sempat ikutan panas. Sebab saya tahu yang dituding-tuding itu bekas bos saya. Saya tahu dia orang baik. Jalannya lurus. Tak tega rasanya kalau orang begitu mendapat perlakuan sebegitu keras.

Tapi saya juga tahu bagaimana manajemen yang dia kelola tak sebegitu eloknya. Gemuk, keras kepala, dan cenderung tidak ada kontrol yang jeli. Itulah yang menurut saya membuat dia terjerembab.

Saya semakin pesimistis pada mereka yang terjun pada bisnis suci.

Read more »

Selasa, 24 September 2013

Waktunya

Waktunya terus berputar. Saya semakin tua. Semakin tidak berguna. Hampir 34 tahun. Dan masih berjuang mendapatkan pekerjaan yang melapangkan hati dan keluarga.


Read more »

Rabu, 11 September 2013

FAAAAAAKKKK!!!!!

Read more »

Selasa, 10 September 2013

Nggak Sederhana

Kemarin dapat kabar dari istri mengenai seorang teman. Katanya dia mau berhenti bekerja. Sudah begitu saja. Habis itu mau ngapain. Katanya mau break aja dulu.

Hmhmhmh, saya pernah kepingin mereka begitu. Atau masih... Tapi buat saya kondisi nggak semudah itu. Buat dia yang masih bujang dan bisa berbagi beban keluarga tentu saja kehilangan pekerjaan masih bisa ditanggung. Tapi buat saya? Dengan tagihan menggunung dan kebutuhan melebar? Rasanya nggak mungkin.

Nggak sesederhana itu kawan...

Read more »

Jumat, 06 September 2013

Hiburan saya

Setakat ini yang membuat saya terhibur adalah bertemu dengan begitu banyak orang di stasiun. Dan kegemaran saya baru-baru ini adalah melihat laki-laki dan (kebanyakan) perempuan yang bergaya. Saya senang karena mereka elok dan enak untuk dilihat. Terlihat percaya diri dan seperti bersinar saja di tengah khalayak. Sampai itu saja sebenarnya kehadiran mereka sudah menghibur saya. Cukup. 

Tapi tak sekadar itu, saya membayangkan saya mengambil foto-foto mereka. Menaruhnya di album khusus di Internet. Ah, memang ide ini sangat tidak orisinil. Tapi saya senang membayangkannya. Saya bisa membuat album foto berdasarkan tema, sesuai dengan apa yang saya tangkap dalam kamera. 

Lebih jauh, saya membayangkan saya bisa menghadirkan photo-essay mereka. Menangkap metamorfosis mereka dari bangun tidur, bersolek, hingga tampil di stasiun, bergaya di depan rekan kerja, berdesak-desakan di kereta sore, melepaskan segala atribut dan riasan wajah, sampai mengenakan piyama yang nyaman versi mereka. 

Buat saya, apa yang mereka lakukan adalah ekspresi yang patut dihargai. Mereka berani berdandan sedemikian rupa tidak dalam ekosistem yang steril--di mall, di kantor, di acara kawinan. Mereka ada di jantung ekosistem Jakarta: di ruang publik, dalam moda transportasi kelas rakyat biasa. 


Read more »

Senin, 02 September 2013

Deg-degan

Dan yang monyess itu saban pagi degdegan. Seperti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Dan sulit sekali mengusir perasaan itu. Membuat jantung berdetak lebih keras. Mudah-mudahan itu jantung tak berhenti. Atau merusak saraf di otak saya. Tuhan saya masih ingin hidup. Berbahagia. Bersama keluarga saya. Sesederhana itu.


Read more »

Selasa, 27 Agustus 2013

Untuk kemarin dan hari ini

FUCK.  habis ini apalagi?

Read more »

Kamis, 22 Agustus 2013

Frustrating

This is really frustrating. Sepertinya tesis saya betul-betul terbukti. I'm really not good at something that I thougt I'm good at.

Kemarin ceritanya saya diberi kesempatan untuk bacain skrip untuk dokumenter. Saya okein karena duidnya lumayan. Dan tentu saja, dengan anggapan saya bisa membaca skrip dengan baik. Dan ternyata susah. Skrip yang biasanya saya baca dalam waktu 15 menit maksimal, molor menjadi hampir dua jam setengah. Itu pun saya masih belum yakin bagus hasilnya.

Dan terbukti. Masih harus take ulang. Brengsek. Kurang kecepatan, kurang penekanan, kurang tone, dll.

I know this is a very natural process. And I should not take this matter personally. This is only a job. And I have to move on right away. But still. It hurts me. I do not hate the job. But knowing that you're not really good. Not that good. Or even you're not good at all. Ah. Shit.


Read more »

Rabu, 14 Agustus 2013

I do

Really hate this job. At least for now. Spending almost 18 hours of my life for work? That is just insane. Let's not called it life then.


Read more »

Bodoh

Saya merasa betul-betul pandir sekarang. Semakin lama saya belajar, semakin saya merasa tidak mampu berpikir sistematis, analitis, dan tis tis yang lain. Sungguh saya merasa tak berbakat sebagai penulis. Apalagi penulis ilmiah.

Saya sungguh kacrut

Read more »

Selasa, 06 Agustus 2013

Pikiran aneh

Malam-malam, di tengah deadline dan tugas kantor, timbul pikiran yang bikin mules seperti ini: Bagaimana jika saya tidak bertemu istri saya dan menikah dengannya? Betapa menyedihkannya kehidupan saya.

Read more »

Jumat, 02 Agustus 2013

Format ulang

Kemarin sempat terpikir seperti ini. Apa sebaiknya saya memformat ulang karir saya? Saya merasa tidak terlalu terampil menulis. Tidak terlalu kuat mengedit, tidak terlalu baik dalam menata hubungan dan pekerjaan untuk menjadi Program Officer. Hhhhh.

Saya kepingin hal yang simpel. Yang nggak pake otak, meskipun tiada pekerjaan di dunia ini yang tidak pakai otak.

Tapi bener deh. Terpikirkan menjadi si Joni yang mengantar film ke sana ke sini. Atau menjadi tukang kebun yang mengurus tanaman. Tapi itu tidak realistis bukan?

Yang agak realistis adalah saya misalkan sempat terpikir untuk beli kamera. Belajar fotografi. Saya rasanya punya minat kuat untuk itu. Lagian selera  saya nggak jelek-jelek amat. Tapi pikiran kedua bilang, buat apa? Mau cari kerja pakai fotografi? Terlalu banyak orang yang terampil mengambil dan mengolah foto di sana. Jadi buat apa?

Atau menjadi desainer (grafis). Tapi saya tidak jago gambar. Dan itu membutuhkan fasilitas komplet. Sementara saya tidak punya.

Ah..... berat sekali hidup ini.

Read more »

Senin, 29 Juli 2013

Horor Jakarta

Saya tidak menyangka saya sedemikian cepat rontok oleh lalulintas Jakarta. Cuma dalam hitungan pekan saja, mungkin nyaris dua bulan, saya sudah begitu stres dengan kemacetannya. Saya berantem dengan istri. Saya mesti memendam emosi--dan mungkin agresivitas saya--ketika berhadapan dengan stres.

Dahulu, saya dan istri sudah berhitung soal perjalanan kantor-rumah. Dan sudah bersiap dengan kalkulasi waktu tempuh, yang akan menghabiskan waktu 4-5 jam per hari. Tapi entahlah. Persiapan mental itu tak ada artinya dengan lalulintas Jakarta yang begitu brengsek.

Saya khawatir jadi gila. Saya khawatir melampiaskan emosi pada anak dan istri saya. Saya takut mereka jadi sasaran kegilaan saya.

Dan parahnya saya nggak tahu harus bagaimana, kecuali harus menghadapi horor ini. Setiap hari. Dan saya takut, saya tak bisa melampaui horor ini dengan hidup-hidup.


Read more »

Rabu, 24 Juli 2013

Bekerjalah

Sejak dulu saya menganut prinsip yang saya adopsi dari teman karib saya. Jangan pernah bawa kerjaan kantor ke rumah. Kalau bisa, bawalah kerjaan rumah ke kantor. Sekilas ini tampak bercanda. Tapi nggak. Ini sungguh serius. Karena membawa pekerjaan kantor ke rumah itu rasanya tidak adil buat keluarga dan buat sendiri.

Ilustrasinya begini. Contohlah saya sendiri. Tak terbiasa bergadang. Dan suatu saat mesti ngerjain laporan yang mesti disetor besok. Dari semenjak pulang kantor saja, saya sudah merasa ada beban kuat di punggung. Pikiran ini, sekuat apa pun saya bisa cegah, rasanya akan merembes. Dan buntutnya ketika bermain dan ngelonin anak, maka saya tak bisa total ceria. Belum lagi kehilangan waktu berbicara dengan istri--padahal ngobrol adalah kebutuhan saya. Saya mengerjakan laporan 5-6 jam. Tidur pukul 3. Bangun pukul 6, dalam kondisi yang tidak wajar. Kecapean, dan akhirnya siklus kelelahan ini bertahan lama. Saya sungguh tidak suka itu.

Lagian secara prinsip, menurut saya ada yang dilanggar di sana. Kantor mambayar gaji kita untuk 40 jam kerja sepekan. Ya tugas kita adalah memaksimalkan waktu itu bekerja. Dan kalau kemudian ada beberapa pekerjaan yang tertunda akibat pekerjaan lain yang juga sama-sama penting, ya biarlah itu menunggu. Bukan lantas mengorbankan waktu di rumah.

Tapi itu adalah dunia ideal saudara-saudara. Kita dalam hubungan industrial yang rasanya kerap menghilangkan batas-batas ideal itu. Dan saya adalah manusia yang kalah.

Jadi, rasanya mengganggu buat saya ketika bos saya bilang "saya justru produktif di akhir pekan" atau "saya mesti bekerja sampai larut malam untuk mengerjakan PR-PR". Ah tapi jangan salah. Itu bukan berarti yang dilakukannya itu jelek. Atau buruk. Tidak. Beberapa orang memang ditakdirkan untuk begitu. Ada banyak beban yang dia tumpuk di pundak. Sehingga privilese buat dirinya berkurang. Dan buat mereka saya angkat topi. Salut. Hanya saja, itu tidak berlaku buat saya. Saya adalah orang tidak penting, tidak berpretensi untuk menjadi penting, dan bangga dengan itu. Di dunia ini, saya cuma kepingin berarti buat saya dan keluarga saya sendiri. Sudah. Kalau pun kalau nanti saya bermanfaat, anggaplah itu bonus saja.









Read more »

Selasa, 23 Juli 2013

Gagal

Word might kills you. It is true. Definitely. I failed. Again. Kalau seandainya tidak ada tanggungan, saya sudah pasti akan meninggalkan pekerjaan ini. Bukan karena tak mau menyelesaikan, tapi malu. Karena gagal. 

Dan rasanya saya kembali terjebak dalam pekerjaan yang saya tidak terlalu suka. Ini rasanya bukan saya. 

Read more »

Jumat, 19 Juli 2013

Andai aku muda

Setakat ini ada banyak sekali keinginan saya. Wajar bukan? Namanya juga manusia. Dan boleh jadi keinginan itu bisa diakomodasi, jika saya kembali pada waktu ketika muda. Saat saya masih belum punya tanggungan dan seterusnya. 

Tapi kembali lagi seperti muda dulu, apakah itu yang saya inginkan? Saya ragu. Belum tentu saja punya pikiran dan kesadaran seperti sekarang. Dan boleh jadi saya mengulang kesalahan atau malah melakukan hal yang lebih buruk lagi. 

Duh, saya heran kenapa saya memunculkan perbincangan ini di kepala. Tapi rasanya seperti ini: mungkin dilatarbelakangi saya yang kepingin macam-macam. Saya kepingin belajar fotografi, saya kepingin belajar musik, belajar desain, belajar bikin film. Semuanya hobi mahal belaka. Dan semuanya nggak mungkin tercapai dengan napas saya yang ngos-ngosan sekarang ini. Hidup terlalu berat. Dengan aneka tagihan tiap bulan, empat jam perjalanan kantor-rumah, dan ratusan jam yang mesti dialokasi per bulan setiap jamnya di kantor. 

Hidup itu soal kompromi bukan? 


Read more »

Kamis, 11 Juli 2013

The Quitter

Sebenernya saya rasanya pernah menulis judul tulisan seperti yang di atas itu. Judul itu saya ambil dari novel grafis siapa gitu, Lumayan sohor juga. Saya suka gambarnya. Saya suka ceritanya--entah kenapa cerita otobiografis macam itu sepertinya melulu bersifat kuat buat saya. Marjane Satrapi dengan Parsepolis. David B dengan Epilepsi, Lat dengan Anak Kampung.

Tapi buat saya The Quitter itu lebih dari sekadar cerita. Dalam ceritanya saya menemukan diri saya. Gambaran suram yang sulit diterima. Buat saya sendiri, buat orang-orang yang dekat dan peduli dengan saya. Bahwa saya sesungguhnya rasanya bertalian dengan tokoh di dalam novel grafis itu.

Saya merasa punya minat besar pada banyak hal. Saya suka musik, komik, filsafat, sastra, teh, agama, budaya, desain, pornografi, diy, dll. Karena itu dalam perjalanan panjang bersama seorang teman baru ke Jember akhir pekan lalu saya demikian lancar bercerita tentang banyak hal, mulai dari Umm Kulthum sampai dengan fotografi. Saya merasa saya juga menaruh minat dan punya keterampilan dalam dunia tulis-menulis, event organizer, manajerial, pengetahuan soal lingkungan, dll.

Tapi semuanya rasanya tak pernah menawarkan sesuatu yang benar-benar saya bisa kategorikan sebagai pemuas dahaga. Dan saya pun tak pernah merasa di "puncak"dalam aneka minat dan so-called keterampilan saya ini.

It feels like I almost good at something and then goes stuck and another failure. Just like the man in the novel.

Percayalah hidup seperti itu juga sulit.

Read more »

Selasa, 09 Juli 2013

Failed in the first task. Fuck

Read more »

Jumat, 28 Juni 2013

Cwapeeek

Sepekan ini badan rasanya rontok. Cwape banget. Nyetir antara 3 sampai 4 jam sehari. Ditambah perjalanan KRL plus jalan kaki plus angkot yah kira-kira 1 jam tambahan lagi. Itu rasanya cukup. 5 jam dalam sehari habis di jalan. Kali 5 hari dalam sepakan. Kali 4 lagi dalam sebulan. 100 jam sebulan. 4 hari lebih dalam sebulan, hilang menguap. Meninggalkan ampas di kaki, bahu, dan punggung. Belum lagi hati.

Tapi apa boleh buat. Ini mesti dilakoni. Demi aktualisasi diri, demi kontribusi buat manusia lain, demi cari uang juga. Ah  mestinya urutannya di balik.

Tapi asli ini cwapeee sekali. Dan karena itu saya agak ngeri membayangkan apa dampak kecapekan ini buat saya. Tadi pagi saya hilang kontrol. Berseteru dengan sopir angkot. Ah, mudah-mudahan ini bukan manifestasi capek. Mudahmudahan ini cara tubuh beradaptasi untuk sementara. Selanjutnya mudahmudahan lebih baik.


Read more »

Rabu, 26 Juni 2013

Aktivis?

Saya kembali lagi ditakdirkan untuk bekerja bersama orang-orang hebat. Bos saya adalah bos PRD era awal sekali. Rekan kerja saya adalah aktivis yang cukup tenar namanya. Sementara itu orang yang sebelumnya, yang saya gantikan sekarang adalah aktivis tahun 80-an. Coba, gimana nggak minder?

Saya juga kenal rekan saya yang satunya lagi. Kebetulan kami samasama satu almamater. Anak sastra juga dia. Dia bilang dia kayanya nggak kenal ada aktivis dari Sastra. Saya anggap ini pendapat yang instan saja dan cenderung keliru. Meski saya juga tak cukup kenal apa memang ada anak sastra menjadi aktivis kesohor? Bagaimana dengan Rieke?

Tambahan pula dari dialog kami seterusnya muncul pertanyaan bernada guyon seperti ini: Apa ada aktivis dari Betawi? Rasanya nggak ada. Hehehe.

Lantas konyolnya saya semacam ditinggalkan konklusi, apakah saya seorang aktivis juga? Ah, sungguh tidak. Sumpah rasanya tidak. Saya pernah jadi jurnalis, itu iya. Saya pernah hidup dan bekerja di lembaga yang menjunjung tinggi kebebasan dan kemanusiaan. Tapi ya saya membatasi kapasitas saya di situ saja. Saya bekerja di situ. Dapat uang dari situ. Bukan aktivis. Tapi ya pekerja.

Di tempat saya yang sekarang juga demikian. Saya tidak mau jumawa menjadi aktivis di sini. Saya bekerja di sini. Dapat gaji dan menjalankan administrasi. Tapi saya mendadak jiper, mendengar informasi: dari dulu kantor ini tidak pernah buka lowongan secara umum. Biasa cuma beredar dari mulut ke mulut. Dari aktivis ke aktivis lainnya.

Ah... saya cuma pekerja...

Read more »

Rabu, 19 Juni 2013

Wow

Edan. Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Tapi itu bukan berarti hidup saya lempeng-lempeng saja. Sebaliknya, ada banyak sekali perubahan. Entah baik, entah buruk. Semuanya jadi satu. Saya sudah tidak lagi bekerja di Bandung. Itu satu hal. Habis itu saya menjalani kehidupan sebagai freelancer. Dan itu rasanya tak juga terlalu enak. Penghasilan berkurang drastis.

Saya mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta. Puji semesta untuk itu. Pekerjaan yang masih inline dengan hasrat saya yang mesti berdekatan dengan akal sehat dan ikhtiar merawat kemanusiaan. Saya kembali lagi bekerja dengan orang-orang yang tidak sekadar biasa saja. Dan puji semesta untuk itu lagi.

Apa yang bisa saya katakan dari roller coaster ini? Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, saya semakin menghargai waktu saya bersama anak saya. Bersama keluarga. Saya benar-benar tak mau kehilangan banyak waktu bersama Senja. Dan pekerjaan saya sekarang tidak sefleksibel dulu. Tak ada lagi antar-jemput dan main di siang hati, yang sempat saya jalani selama kurang lebih sebulan lewat.

Itu satu hal.

Apakah saya menikmati pekerjaan ini. Mungkin iya. Separuh bilang iya. Karena pertimbangan tadi: Dia dekat dengan akal sehat dan ikhtiar merawat kemanusiaan. Tapi apakah ini passion saya? Entahlah. Saya belum bisa mengatakan mengorganisasi program sebagai passion saya.

Dan marilah kita buka lagi lembar baru ini.

Semoga semesta bersama saya.

Read more »

Selasa, 11 Juni 2013

kenapa nggak bisa nulis di bagian body blog ini ya

Read more »

Selasa, 23 April 2013

Secercah Cahaya?

Sudah ada titik terang sebenarnya, meski sedikit, untuk nasib saya. Teman-bos saya sudah memberikan skema yang menurut saya di luar ekspektasi saya. Saya "cuma" meluangkan waktu 3 jam dalam sehari.
plus ada beberapa proyek yang menyita lebih besar waktu, tapi itu pun tak sering-sering amat, sebegai rancangan pekerjaan masa depan saya.

Satu slot pendapatan sudah saya dapatkan. Minimal 40% dari pendapatan sekarang. Itu buat saya melegakan. Karena saya tinggal melangkah setengah lagi. Dan itu sangat cocok dengan rancangan yang ada di kepala. Saya kepingin menggarap naskah saya lebih serius. Kalau benar-benar perhitungan saya, dan saya dianugerahi energi dan konsistensi, hasil menulis ini cukup menjanjikan. Syaratnya cuma dua: konsisten dan berenergi tadi. Yang lain, tanpa bermaksud melebihkan diri sendiri, rasanya saya punya. Saya bisa menulis, saya suka berkhayal. Saya punya pengetahuan, dst.

Tapi masalahnya itu pendapatan dari buku tidak instan. Berbelit-belit. Dan basis pendapatannya pun tidak ajeg, per bulan misalkan. Jadi saya harus tetap mencari pendapatan lain. Otherwise keluarga kami tidak survive. Terlalu banyak pengeluaran ketimbang pendapatan. Sesederhana itu. Bukan karena saya berpenghasilan lebih kecil daripada istri. Saya tak pernah terlintas soal ketakutan itu. Jadi kesimpulannnya, saya mesti punya pekerjaan reguler. Tidak ideal memang. Tapi ada banyak kesakitan dan hal lain yang tidak kita suka, tapi mesti kita telan. Ya sudah telan saja. Urusan sakit jiwa belakangan.

Idealnya, menurut lintasan kepala saya saat ini, bukan nanti, dan nanti mungkin akan berubah lagi, saya mengerjakan pekerjaan "freelance" yang dirancang teman-bos saya itu. Saya bisa menemani Senja lebih banyak, dan saya bisa berkhayal semampu saya: menulis. Sambil berkhayal di layer ketiga--kok saya ingat film inception--tentang kedai teh saya. Tempat saya melayani orang-orang dengan hati saya.


Read more »

Minggu, 21 April 2013

Kritis

Sekarang saya sedang berusaha membulatkan tekad dan keyakinan, bahwa saya akan kembali lagi ke Jakarta pada tengah bulan depan. Semuanya seperti ketemu pada bulan ini. Saya tak lagi kuat berjauhan dengan Senja. Pekerjaan, bukannya saya benci, tapi juga tak bisa saya nikmati dan semakin banyak. Dan akhirnya pihak penyewa jasa saya--yang ada di luar negeri sana--memutuskan saya tak bisa berlanjut. Jadi pas toh? 

Saya sebenarnya tak gentar kehilangan pekerjaan ini. Cuma saja saya terus terang butuh uangnya. Saya tak masih punya banyak cicilan dan tanggungan. Masih menyumbang untuk kehidupan keluarga ibu saya. Dan itu terus terang membuat saya gentar sekali. Tapi saya harus menghadapi situasi tak enak ini. 

Jadi sepanjang pekan kemarin, saya sibuk mengontak teman dan kawan. Mencari lowongan kembali dan mengirimkan lamaran. Situasi yang sungguh tak enak untuk dilakoni. Tapi semua jumawa dan gengsi mesti saya telan. 

Ada satu lagi peluang yang sekarang benar-benar saya harus tekuni. Saya harus berkeras melawan kemalasan saya. Saya kepingin membuat naskah buku anak. Beberapa draf sudah saya bikin. Dan saya berharap saya bisa membuat paling sedikit sepuluh naskah dalam waktu sebulan ini. Dan mendapatkan kontrak penerbit. Untuk ini rasanya saya tak kurang teman. Saya yakin mereka bisa membantu saya. Dan kuncinya benar-benar di saya. Jika saya baik dalam membuat naskah, maka mereka pasti bisa membantu saya. Tapi kalau saya buruk, maka sudah pasti mereka takkan bisa memoles saya. 

Ah, mudah-mudahan ada jalan.

Read more »

Senin, 15 April 2013

Breakdown Jilid Kesekian


Ini adalah kali kesekian saya merasakan breakdown. Atau apapun yang kau mau bilang. Poinnya, saya seperti laptop dengan ram 512. Tapi saya diberi task ekstra banyak yang memerlukan prosesor lebih tinggi daripada itu. Hasilnya yang tadi.

Jadi begitulah. Ini juga yang saya rasakan sekarang. Awalnya saya sudah gentar duluan. Sebab, Senja sudah kadung tidak menerima pada awalnya. Sebab Senja sepertinya tak bisa seluruhnya pasrah. Dan sebab juga saya tidak bisa menikmati perpisahan ini. Saya nyaris tak berenergi di Bandung. Saya tak bisa menikmati kesendirian saya. Sebuah kondisi yang saya kira saya bakal nikmati. Dan ternyata rasanya hambar, kalau tak mau dibilang kecut.

Dan rasanya tekanan itu bertambah kuat sekarang ini. Saya merasa overwhelming dengan pekerjaan ini. Belum selesai satu urusan, saya diberi urusan lain. Mending kalau gampang. Ini sungguh berat. Saya merasa tak kapabel melakukannya. Dan ini rasanya merembet kemanamana. Perasaan tidak kapabel melakukan hal apa pun yang saya kerjakan sekarang. Coratcoret tak menghasilkan apa pun. Lintasan pikiran tak lantas tertangkap dan mengkristal. Pendeknya saya tak bisa menangkap dan menulis apa pun.

Saya diminta untuk menurunkan rencana strategis marketing... Dan komunikasi. Saya betulbetul tak paham soal ini. Saya diminta berkomunikasi sldengan orang yang sama sekali tak saya kenal, dengan bahasa yang saya tak mampu berekspresi di dalamnya, membicarakan sesuatu yang asing, yang saya sama sekali tak punya keterampilan atasnya. Dan ini benar-benar melelahkan. Dan membuat saya tak berdaya. Saya jadi lelah berpikir. Saya cape. Betulbetul capek. Sehingga saya kepingin meninggalkan pekerjaan ini.

Yang saya kepingin adalah segera meninggalkan pekerjaan ini. Meninggalkan Bandung, dan kembali ke Jakarta. Punya pekerjaan lain. Dan kali ini saya periksa benar-benar agar saya tak membuat kesalahan memilih lagi.

Seandainya bisa memilih, saat ini rasanya saya kepingin pekerjaan yang mekanis saja. Tak perlu mikir. Tak perlu berbincang soal strategi, komunikasi, marketing dan segala tetek bengek tentangnya.

Saya kepingin berkebun. Saya ingin menjaga kedai dan berbincang dengan pelanggan. Saya ingin memasak. Saya ingin menonton film dan berdiskusi. Saya ingin membaca buku dan menulis sedikit tentangnya.Pendeknya saya sekarang ini pekerjaan otot saja. Saya bosan dengan pekerjaan yang menggunakan otak. Sungguh.

Tapi adalah pekerjaan itu di dunia saya? Rasanya tidak. Saya hidup di dunia yang berkonsekuensi. Saya hidup dengan tagihan-tagihan dan rencana masa depan. Yang membutuhkan agunan dan uang yang direncanakan. Saya sudah berkeluarga, meski tak harus jadi kepalanya. Dan itu butuh kepada komitmen dan tanggung jawab. 

Read more »

Selasa, 09 April 2013

RAM 512

Ini agak aneh. Mengupdate blog di jam kantor. Di tengah-tengah kesibukan. Di tengah-tengah banyak PR yang mesti dikerjain.

Tapi asli. RAM saya rasanya nggak kuat untuk menghandle pekerjaan multitasking ini. Ada banyak pekerjaan yang mesti saya kerjain. Dan bukan pekerjaan yang tinggal menulis atau pekerjaan tenaga. Tapi pekerjaan strategis, analisis, dan tambahan tugas lainnya. Saya kalut sekarang. Gemetaran. Seperti hangnya komputer ketika membuka banyak aplikasi.

Saya merasa tak pantas dan tak cocok bekerja di pekerjaan ini. Saya tak berpikir secara linier. Secara urut, runtut, dan runut. Saya bekerja dengan sporadis. Dan akhirnya saya merasa tak cocok dengan pekerjaan ini. Saya not really into it this social marketing, social media, and this strategic communication thing. Paling tidak untuk sekarang ini.

Saya merasa sekarang. Saya nggak terlalu baik untuk ini.

Ah brengsek. Ini bukan lagi masanya cari-cari identitas. Saya sudah tua. Sudah berkeluarga. Tidak ada waktu lagi untuk main-main dang mengejar ilusi. Beda tipis dengan mimpi. Saya punya banyak hal untuk dipertaruhkan.

Jadi saya harus serius. Menjalani kerja ini. Menelan kehidupan meskipun pahit rasanya. Sebelum dia menelan saya.

Apa yang ingin saya katakan? Saya stress. Itu pasti.

 

Read more »

Minggu, 17 Maret 2013

Saban Subuh Ada Saja Hati yang Terluka

Pada matari pertama yang mengerling
Di subuh hari
Selalu kulihat selimut kabut
Yang membawa ayah entah kemana
Surga atau nestapanya

Kadang ingin kuminta saja
Agar dia berhenti menaruh luka pada hatinya
Turun dari kereta
Tak perlu lagi dia berkelana
Sungguhkah bahagia ada pada semua yang sebelumnya tak ada
Atau kita perlu percaya pada hal yang ada di muka

Padang sunyi
Ziarah kelana
Batas tapal yang tak tertera
Di mana sungguhnya kita menaruh tali kekang
Duh ayahda

Ooo hatiku oo hatiku
Kita tahu tak perlu tangga
Untuk mengantar seorang pada nirwana
Untuk itu dia cuma perlu tiada terjaga
Dan menganga
Pada kursi-kursi kosong oto antarkota

Oh maka berpeluklah kita
Yang erat
Dijabat
Karena kita memutuskan untuk percaya
Dan berpegangan pada hari esok lusa



Read more »

Rabu, 13 Maret 2013

Hari ini ada keinginan begitu kuat untuk kembali ke Jakarta. Sampai saya punya niat jahat. Pura-pura sakit saja. Saya kangen berat keluarga. Parah

Read more »

I'm Down

Hari ini down betul. Rasanya nggak enak ngapa-ngapain. Dan nggak tahu harus ngapain. Clueless. Dan perut yang melilit luar biasa. Brengsek. Bagaimana jika. What if. Bagaimana kalau saya gagal berfungsi. Tiba-tiba saya mengalami breakdown.

Saya begitu diliputi banyak ketakutan. Sampai saya nggak tahu harus berbuat apa-apa. Bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan saya. Bagaimana kalau saya kehilangan anak saya? Bagaimana kalau saya kehilangan keluarga saya? Bagaimana kalau saya jatuh miskin dan tidak bisa memberikan nafkah buat keluarga saya. Buat keluarga besar saya. Bagaimana kalau saya berhenti berfungsi. Bagaimana saya kehilangan kehidupan saya. Bagaimana kalau saya tidak ada.

Saya benar-benar takut hari ini. Brengsek.



Read more »

Bad Day

This is a bad day for me. Never hurt this bad before. Damn. I just wanna get home and hug my son.

Read more »

Selasa, 12 Maret 2013

Keinginan

Amboy, sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Tapi itu bukan berarti tidak ada pikiran yang hendak dituangkan. Cuma lantaran sibuk dengan kehidupan saja yang menjadikan saya tak mengupdate. Ada banyak sekali lintasan di kepala. Dan saya pikir cukup berharga untuk dituangkan di dalam blog. Tapi begitu tiba saatnya, seperti sekarang ini, malah saya lupa apa saja yang mau ditulis.

Pikiran Satu: Baru sekarang ini saya betul-betul perhitungan dengan jam kerja dan waktu libur. Saya menghitung ada berapa hari libur nasional yang saya dapatkan di bulan ini. Jam lima selesai, maka tutup buku, selesai juga pekerjaan ini. Tak ada upaya untuk memperpanjang. Ah mungkin ini karena saya begitu banyak kehilangan momen bersama keluarga.

Pikiran Dua: Kalau kemarin saya sempet googling tentang bisnis lele dan belut--yang kemudian saya gentar sendiri untuk terjun ke dalamnya--sekarang saya mendapati lintasan membuka kedai teh. Ini lantaran kemarin melihat rumah yang disulap jadi rumah makan. Saya terus terang iri. Saya suka sekali arsitektur rumah itu--bergaya rumah di Jakarta atau Bandung di era 70-an. Nah saya kemudian menggoogle frasa kedai teh. Memang tak terlalu banyak kedai yang menawarkan teh sebagai specialtynya. Dan memang ini bikin runyam juga urusannya. Ada sebuah di Bandung yang rasanya ingin saya kunjungi.

Pikiran Tiga: You cant buy happiness. Tapi duit rasanya bisa membuat kebahagiaan. Sesedikit dan sesebentar apa pun. Saya tak menyesal dilahirkan dari keluarga miskin, tapi rasanya juga enak jika punya banyak uang. Ah pikiran ini mestinya melintas karena banyaknya keinginan saya yang rasanya tak akan mewujud. Dalam kasus seperti ini, saya mesti berdamai dengan diri sendiri. Mengikis keinginan dan menggantikan dengan kenikmatan lainnya saja. Toh kata orang kebahagiaan itu sederhana dan bisa dicapai dengan hal-hal yang sederhana. Andai bisa sesederhana itu.


Read more »

Kamis, 07 Maret 2013

Butterfly Effect

Nggak ada hal yang sepele. Semua punya konsekuensi. Bahkan sekepak sayap kupu-kupu bisa memicu badai. Itu yang saya (sudah) pelajari. Tapi nyatanya terus saya abaikan. Jadilah saya terus-menerus melakukan kesalahan. Yang saya pikir kecil, tapi sebenarnya besar dan prinsip. Dan tiap kali begini, rasanya otak saya jadi mengecil disergap ketakutan. Saya jadi bodoh, kalut, dan takut.

Brengseklah saya. Kepingin menghilang saja. Tapi itu membuktikan kalau saya pengecut. Ah, memang saya pengecut kok. Ya memang. Trus? Ya mending menghilang. Brengsek. 

Read more »

Selasa, 05 Maret 2013

Mari Kita Berwirausaha

Hari ini lagi sibuk cari informasi tentang ternak lele dan belut. Dan ini brengseknya menyita perhatian dan energi saya... di kantor. Huehue. Bayangkan betapa tidak profesionalnya saya. Brengsek ah.

Tapi rasanya ini saya kepingin segera coba. Meski pun takutnya juga luar biasa.

Ya sudah itu saja

Read more »

Kosan Baru

Alhamdulilah di kosan baru, semua berjalan lancar. Kosan ini bapuk, rasanya iya. Lantainya papan gitu, ada di lantai dua. Sekilas terkesan kumuh. Kamar mandinya juga. Cuma ada 2 untuk delapan kamar dan beberapa penghuni. Ruang tamunya diisi dua sofa yang esktra rusak dan dekil.

Tapi ada beberapa hal positif di kosan ini. Pertama saya suka penjaganya. Pak Dadi namanya. Ramah sekali orangnya. Yang kedua kosan ini murah. 400 ribu saja per bulan. Yang kedua, saya suka kamarnya karena ekstra besar. Dan banyak cahaya masuk. Jadi lebih "hangat" dibanding kosan yang lama. Yang ketiga adalah para tetangga. Rasanya lebih bersahabat dan tak berisik.

Saya bahkan sempat menghabiskan 30 menitan nongkrong bareng mereka. Satu adalah karyawan swasta. Sudah dua tahun menempati kos ini. Sementara dua orang lainnya adalah mahasiswa geologi. Mereka asal dari Timor Leste.

Untunglah saya sedikit banyak tahu tentang Timor Leste: Dari perjalanan istri saya ke sana. Dan itu rasanya cukup memberikan saya modal untuk ngobrol bareng mereka.

Agak aneh obrolan kami, jika saya mengandaikan percakapan ini berlangsung di masa Orde Baru. Pasalnya saya bicara tentang penjajahan Indonesia atas Timor Leste. Nasib anak-anak yang dipaksa tercerabut dari akar keluarga dan tanah airnya di Timor Leste. Tentang penyiksaan tahanan oleh TNI. Dan semuanya diobrolkan dengan santai. Saya orang Indonesia. Dan tak merasa terusik sedikit pun dari pemaparan fakta-fakta tadi. Yang terusik adalah kemanusiaan saya. Bukan nasionalisme taik kucing yang bikin orang berani menyiksa orang lainnya.

Ah, obrolan yang enak semalam.

Read more »

Kamis, 28 Februari 2013

Berhenti Kerja

Nggak ada kerjaan yang nggak cape. Semuanya pasti cape. Nggak ada kerjaan yang menyenangkan 100%. Semua orang pasti ngerasain up and down. Hari ini mengutuk-ngutuk besok akan memuji setinggi langit: itu praktek wajar saja yang dilakukan para karyawan. Termasuk saya.

Hari ini saya merasa capek sekali. Dan kepingin berhenti bekerja saja. Saya tiba-tiba saja merasa, tak mau jadi pegawai selamanya. Sehebat apa pun pekerjaannya. Saya kepingin jaga warung saja. Menata barang belanjaan di etalase dan melayani konsumen baik-baik.

Atau menjadi pelayan atau meracik hidangan buat pengunjung. Sembari saya menulis atau bengong. Sembari mikir strategi pengembangan atau menikmati sajak.

Fiyuh. Sudahlah


Read more »

Selasa, 26 Februari 2013

Tetangga


Heran. Jangan-jangan isi blog ini penuh dengan negativity semua ya. Kok ya nggak ada yang positif-positifnya ya. Hehehe. Tapi biarlah. Mungkin ini ada baiknya juga. Daripada aura negatif saya keluar di luar. Mending di sini aja. Tak merugikan sesiapa.

Tapi izinkanlah sayabercerita tentang tetangga kos saya. Yang edan luar biasa itu. Saya baru menginjak dua pekan tinggal di situ ketika kejadian ini berlangsung. Mulai pukul delapan malam dia mulai beraktivitas membuat aneka kue. Dia akan ditemani dengan suaminya. Dan mereka akan berbincang dengan keras. As if dapur umum kami itu adalah dapur pribadi dan ruang keluarga mereka. Oh ya, kos saya itu punya dapur bersama. Dan ndilalahnya dapur itu ada tepat di samping kamar saya. Dan tebaklah sampai jam berapa aktivitas ini berlangsung? Sampai tengah malam lewat.

Paling tidak dua kali saya mengalami situasi ini. Yang pertama berlangsung sampai kira-kira pukul satu malam. Yang kedua, lebih parah lagi. Berlangsung hingga pukul setengah tiga pagi. Saya tak bisa tidur dibuatnya. 

Saya masukkan keluhan dong, kepada penjaga kos. Bahasa sehalus mungkin. Saya cuma kepingin tahu, berapa lama aktivitas ini akan berlangsung. Apakah si ibu dan suaminya akan membuat kue selamanya, dan akan terus memusatkan waktunya pada malam jelang tengah malam. Atau tidak. Nah kalau iya, saya tak akan melarang mereka. Sungguh. Tapi saya mengalah saja, saya akan cari kos baru. 

Rupanya si ibu penjaga kos menyampaikan keluhan saya. Kata ibu kos, si tetangga akan menggeser waktu pembuatannya. Ah, syukurlah. Saya tak perlu mencari kos lagi. Meski pun sudah siap untuk pindah. Bukan apa-apa, saya enggan berkonfrontasi saja.

Dan tebak saudara-saudara apa yang saya dapatkan pagi ini? Pagi ini saya diasemin. Huehuehue. Dicemberutin sama si tetangga. Ah untunglah saya sudah terbiasa dengan situasi ini: Diasemin. Saya sudah sering menerima perlakuan ini. Jangan tetangga jauh yang tak pernah saya kenal. Dengan teman yang akrab saja saya pernah diasemin. Jadi kehidupan saya rasanya tak akan terganggu.
Mudah-mudahan ini final. Tidak ada lagi kejadian buruk setelah ini. Amin untuk itu

Read more »

I'm a Cracking up or just getting older


And suddenly I’m thirtythree. Shoot. Am I that old? I mean thirtythree? For fuck sake, I’m this March. Duh, sepertinya ada perasaan takut pada saya menjelang usia 33. Entah kenapa. Rasanya banyak kekhawatiran yang mendera pikiran. Dan itu tidak mudah dipecahkan pada usia 33 ini. Fiyuh. 33.

Istri saya kemarin mendapati banyak sekali uban di kepala. Pada mulanya ketawa. Tapi kemudian saya sadar, saya sudah demikian tua.

Tapi apa coba yang saya pikirkan coba? Pekerjaan yang tidak ideal? Keluarga? Rasanya itu baik-baik saja. Hidup saya, yang begitu-begitu saja?

Tapi saya belum punya pencapaian. Saya belum menulis buku. Saya belum sekolah lagi. Saya belum punya ini dan itu. Saya belum punya karya yang patut dibanggakan. Dan itu mengerikan. Apakah saya belum ketemu jati diri pada usia segini? Itu jauh lebih mengerikan.

Dan tiba-tiba saya 33. Saya takut. Karena hidup di depan saya rasanya tak akan lebih mudah ketimbang tahun-tahun yang saya lampaui. Karena saya hidup di realitas sekarang dan masa depan. Di mana ada tagihan, premi asuransi, investasi, jaminan masa tua, pendidikan anak, kesehatan yang terus menurun, pekerjaan. Duh hidup. Apakah kau tak bisa lebih ramah lagi.

Read more »

Kamis, 21 Februari 2013

Menikmati Kebebasan

Saya memang tidak mengutuk-ngutuk situasi setakat ini. Saya di sini, keluarga di Jakarta. Ini pilihan yang harus diambil. Dan semua harus menanggung konsekuensinya saja. Termasuk saya. Tapi saya juga tidak lantas bergembira dengan keadaan ini. 

Ah mungkin ada kelebatan dalam pikiran, saya jadi lebih banyak punya waktu untuk diri sendiri. Bisa menulis, membaca, leyeh-leyeh, berimajinasi, berfantasi. Dan menikmati "kebebasan" saya. Ada bayangan saya bisa keliling kota naik sepeda, atau melempar kaki kemanapun dia menghendaki. Tanpa harus menimbang yang lain. Atau saya bisa kenalan dengan tetangga atau rekan kerja, atau bahkan seorang asing sama sekali. Saya bisa bergabung dengan klub diskusi atau yoga. Atau menikmati kafe dan minuman hangat di tengah dinginnya Buah Batu. 

Tetapi jawabnya tidak. Saya rasanya tidak menikmati semua yang terhidang. Ada banyak alasan. Karena saya tidak selera. Karena saya malas. Karena energi saya rasanya terserap pada pekerjaan. Atau saya terlalu letih, karena memendam rindu sedemikian rupa pada keluarga. 

Ah, hanya karena saya sendiri, itu bukan berarti saya menikmati kesendirian saya. 

Read more »

Rabu, 20 Februari 2013

Orang-orang Hebat

Yang brengsek adalah hidup di sini tidak semudah yang saya perkirakan. Demikian pula pekerjaannya. Bayangan membaca menulis dengan produktif rasanya tinggal ilusi semata. Sebagai gantinya saya terjebak dengan aneka pekerjaan--yang sebenarnya tak banyak-banyak amat, tapi rasanya cukup sulit--dan akhirnya saya bekerja secara sporadis. Sudahnya dia tak maksimal, saya pun rasanya terperas energinya. Betul.

Nah tadi ada satu hal yang keren dari pekerjaan ini. Sudah beberapa hari ini saya mengemas profil para pembaharu ini untuk keperluan publikasi web. Dan rasanya saya mengalami banyak pencerahan. Orang-orang ini hebat-hebat. Sumpah. Mereka adalah pionir dan menempatkan orang banyak di atas diri sendiri. Klise? Memang. Not moving? Maybe. Wait untill you read or see them yourself.

Ada nama Harry Suliztiarto. Saya baru tahu kalau dia adalah benih dari tokoh utama pemanjat tebing di novel Bilangan Fu. Edan! Dia bekerja dengan para pekerja yang bekerja di atas ketinggian. Meyakinkan perusahaan agar berinvestasi pada keselamatan, dan mendesak pemerintah untuk meregulasi bidang kerja baru ini. Dan semua rasanya sudah hampir tercapai. Apakah dia berhenti?

Nggak. Ada penderes nira. Tiba-tiba saya ingat Ahmad Tohari. Penderes nira yang jumlahnya ratusan ribu. Yang memanjat puluhan pohon kelapa dalam satu hari. Kalau Kang Harry punya pilihan untuk mendaki, maka penderes ini nggak punya pilihan kecuali manjat setiap hari untuk mencari nafkah. Dan itulah dia. Bekerja dengan penderes nira.

Satu lagi bernama Hokky Situngkir. Dia aktif di senat mahasiswa, punya klub aneka macam. Dan dia terusik dengan ketidakadilan dan cinta betul sama Indonesia dan budayanya. Nafasnya ada pada sains. Tapi dia tak mau sains menjadi semacam ilmu kosong tanpa konteks Indonesia. Dan jadilah dia bekerja. Berkarya dan hasilnya keren luar biasa. Dia membangun sains yang begitu elitis menjadi sangat fungsional buat masyarakat dan so-called proses membangun bangsa ini.

Ah dia utamanya punya inovasi mengembangkan teori kompleksitas. Teori ini dasarnya adalah perangkat untuk menganalisis pola-pola apa pun--sebagai bahan mentah--menjadi data yang lebih bisa "dibaca" dan dimanfaatkan oleh manusia. Ada pun bahan mentah itu bisa berupa apa saja. Dalam kasus Hokky, dia menganalisis tarian, batik, pertandingan bulu tangkis, sepakbola, bahkan azan. Edan aja ada doktor yang menganalisis pola azan.

Sebagai penutup malam ini saya membaca buku "Rippling: How Social Entrepreneurs Spread Innovation Throughout the World" Ini sebenarnya buku yang menghimpun cerita fellow-fellow Ashoka. Cerita pertamanya adalah tentang ibu rumah tangga biasa. Namanya Ursula Sladek. Yang membuat koperasi untuk pengadaan energi terbarukan. Dia bikin referendum agar desanya tidak lagi menggantungkan energinya dari grid nasional. Dia bikin orang mau berinvestasi pada energi terbarukan. It happens. Later on ada banyak kampung yang kepingin seperti kampungnya. Dan sekarang koperasinya bernilai jutaan euro. Dengan satu juta konsumen di seluruh Eropa. Edan bukan.

Apakah saya kepingin jadi mereka? Nggak tahu. Itu panggilan. Sifatnya nggak bisa dipaksa. Dan biasanya terjadi begitu saja tanpa sebab, kontras, dan begitu mendadak. Saya belum memiliki panggilan itu.

Read more »

Selasa, 19 Februari 2013

Rumah Rumah

Buah Batu hujan terus. Kalo nggak pagi, ya sore. Kalo nggak sore ya  pagi. Seneng sebenernya. Karena suhunya jadi adem kalau hujan. Tapi nggak enak, karena bolak-balik saya kebasahan. Karena itu hari saya putuskan nggak bawa laptop. Takut kebasahan.

Sebagai gantinya saya jalan kaki. Saya menikmati betul aktivitas ini. Biasanya saja berjalan nggak lebih dari 30 menit. Gonta-ganti rute biar nggak bosan. Sekaligus ngeliat-liat aneka rumah. Saya sebenarnya suka aktivitas ini. Saya suka memperhatikan detail muka rumah dan arsitekturnya. Utamanya di sini. Batas antara tembok dan atap cenderung rendah. Dengan halaman yang tak terlalu luas, aneka tanaman, warna-warna pudar, dan ini favorit saya, pagar rumah yang rendah pula.

Somehow saya suka sekali tipe rumah seperti ini. Mungkin karena dia memancarkan kebersahajaan. Rumah seperti ini juga seperti ingin selamanya mempertahankan kehangatan penghuninya. Saya membayangkan mendengar sayup-sayup derai tawa penghuninya. Tak cukup sampai tembok sebelah, tapi cukup untuk mengundang rasa ingin tahu dan senyum pelintas di jalan depan rumah.

Saya membayangkan rumah itu berwarna krem dan hijau pudar. Dengan beranda yang cukup luas untuk bersantai sebuah keluarga. Dan dia mengundang siapa pun untuk bertamu.

Ah tapi rasanya nggak mungkin itu terjadi. Apalagi di Jakarta.



Read more »

Senin, 18 Februari 2013

Menyalahkan Orang Lain

"People leave managers, not companies"
Kutipan ini saya dapat dari artikel yang diberikan istri pada saya. Saya suka isinya. Dan suka kutipan itu. Dalam beberapa aspek, mewakili apa yang saya rasakan. Saya rasanya punya alasan untuk meninggalkan kantor lama. Dan bos saya adalah salah satu alasannya.

Tapi itu rasanya tak begitu betul juga untuk saya ucapkan. Ada banyak situasi mestinya yang melatarbelakangi keputusan saya. Lagian mengerucutkan alasan pada hal-hal yang terlalu simpel menurut saya agak sembrono. Saya percaya tidak ada yang sederhana di balik sebuah keputusan yang terlihat sederhana.

Apakah saya meninggalkan pekerjaan saya karena bos saya? Iya, ada bagian itu. Saya tak suka gaya memimpin si bos ini. Tidak suka pendekatannya. Tidak suka strateginya. Tapi harap dicatat saya juga mengakui dia punya banyak poin yang benar.

Lagian saya takut ada sikap yang terlalu betul saat menyalahkan seorang tok atas kemalangan kita. Saya yakin ada banyak hal yang menyebabkan kemalangan itu. Dan laku dan pertimbangan kita adalah hal yang juga berperan.

Saya rasanya lebih suka pasrah dulu, menerima kesalahan sebelum tunjuk hidung orang lain sebagai biang masalah.

Read more »

Sabtu, 16 Februari 2013

Mencari Nilai Positif

Tugas perdana saya yang kelihatannya "simpel" adalah mencari person hebatuntuk mendapatkan anugerah. Kira-kira begitulah. Saya didraf beberapa nama dari teman. Tugas saya ya mencari data detail orang-orang ini. Saya sudah kenal beberapa di antaranya. 

Dan terus terang, saya rasanya nggak sreg dengan nama-nama ini. Cuma satu yang kelihatannya "yaaah... hmhm okeee..". Sementara dua lainnya yang lainnya menurut saya kok ya biasa saja. Yang pertama ini adalah aktivis. Dia koordinator sesuatu lha. Beken. Bahkan saya pernah mengundang ybs untuk diskusi internal kantor. Namanya sering menjadi narasumber untuk media massa nasional. Organisasi yang dia pimpin bahkan membawahkan paling tidak dua organisasi yang menurut saya juga lumayan lantang. 

Nah tapi menurut saya kok ya aktivitas ybs tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat yang katanya dia wakili. Saya, paling tidak dari penelusuran Internet, tidak menemukan dampak aktivitasnya pada masyarakat. Nah menurut saya yang bersangkutan tidak terlalu layak. 

Tapi kemudian bos saya yang baru ini, kalo menurut saya sekilas, orangnya cukup humble, membalikkan prasangka saya. Saya malu sendiri sebenarnya. Tapi saya merasa tidak dipermalukan dengan insiden ini. Kata si bos, coba dieksplore lagi data yang bersangkutan. Siapa tahu berjaringan ini adalah sesuatu yang baru dan baik untuk memperjuangkan petani yang selama ini diperjuangkan oleh ybs. Hmhmh, benar juga. 

Saya menskip profil orang kedua, karena tak ada waktu yang cukup. Tapi lagi-lagi kalau menurut saya orang kedua ini nggak terlalu cocok. Karena anggapan sementara saya, aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas para hipster masa kini. Untuk ganjen-ganjenan saja. Sekadar gincu untuk kelas menengah. Tapi ya syukurlah tidak dibahas. 

Nah yang ketiga ini adalah aktivis animal welfare. Saya suka kucing. Dan saya sungguh mendukung para konservasionis itu. Pun mereka yang mengurus domestic animal welfare. Tapi yang kurang menurut saya adalah persentuhan bidang ini dengan manusia. Tak ada impact langsung terhadap manusia. Kira-kira begitulah argumen saya, yang mungkin terkesan agak mengecilkan peran aktivis ini. 

Nah lagi-lagi saya kena batunya. Si ibu, bos saya itu bilang. Coba "dieksplore" lagi. Yang dilakukan orang ini menurut doi sebenernya adalah mengubah mindset manusia dalam memperlakukan hewan. Dan itu juga perubahan yang baik. Dwerrrr. Nelen ludah lagi. Malu lagi, meskipun jauh sekali dari kesan dipermalukan. 

Dan hebatnya si doi mengambil kesempilan begitu ya dari keterangan saya sendiri. Saya bilang kalau aktivis ini pernah menggelar kampanye menentang sirkus lumba-lumba. Padahal mainstream bilang sirkus itu untuk pendidikan, agar kita cinta pada hewan itu. Saya bilang aktivitas ybs juga termasuk adopsi hewan telantar dan jangan beli pet! Nah padahal mainstream bilang kalo mau beli hewan peliharaan pergilah ke toko binatang peliharaan. 

Ah saya belajar banyak dari si ibu. Berpikir out of the box itu nggak ajaib-ajaib amat. Sederhana aja. Berpikir positif dan mengeksplorasi kebaikan orang. 

Hmhmhm

Read more »

Kamis, 14 Februari 2013

Ngaco

Ah bajigur. Ternyata niat tinggallah niat. Bayangan tinggallah bayangan. Dalam khayalan sebelumnya saya membayangkan bisa menulis banyak hal, terutama draf buku yang saya kerjakan, saat bekerja di sini.

Dan sekarang hari ketiga. Saya belum bisa menulis apa pun kecuali untuk blog ini. Bajigur. Tidak produktif.

Pekerjaan menyita waktu. Halah, alasan saja.

Buah Batu hujan terus saban sore. Dem

Read more »

Rabu, 13 Februari 2013

Doa Saya

Betapa pun saya suka dengan gosip, tapi izinkanlah saya berdendang doa: mudah-mudahan lebih banyak kerja di sini ketimbang bergosip.

Read more »

Keluhan Pertama

Hari pertama kerja adalah informasi deras luar biasa sementara kaki-kaki saya kena polio. Tak kuat menahan derasnya. Ada begitu banyak informasi dan calon pekerjaan saya yang rasanya begitu berat untuk saya ikuti. 

Semuanya serba terukur. Bahkan untuk menulis profil saja sudah ada templatenya. Edan. Saya juga diberi formulir, mengenai apa saja yang akan saya capai selama setahun ini. Apa target saya. Saya tak biasa dengan tabel, dan angka. Ini semua membingungkan buat saya.

Ini semua membingungkan buat saya. Terus terang. Dan ada semacam gentar dalam hati. Apa ini pekerjaan yang cocok. 

Tapi pikir punya pikir, rasanya pekerjaan apa pun tiada yang cocok dengan saya. Karena pada akhirnya saya bekerja untuk orang kembali. Menjadi bawahan lagi. 

Pernah terbetik begini. Pekerjaan idaman saya adalah bekerja menjadi editor, penulis, produser, apa pun itulah di sini www.npr.org. Saya sungguh terkagum-kagum dengan website ini. Isinya out of the blue semua. Tapi toh sama saja, saya akan bekerja untuk orang dan menghadapi stres kembali. 

Jadi ya sudah. Hadapi saja! 



Read more »

Selasa, 12 Februari 2013

Waktu di Jalan

Sudah saya duga sebelumnya, meskipun dalam taraf yang biasa-biasa saja, alias tidak terlalu PD, bahwa saya akan produktif menulis di sini. Karena praktis saya tak punya pekerjaan lain. Tinimbang cape menggiring pikiran liar yang negatif, ya menulis sajalah.

Jadi... tadi saya menghabiskan waktu hampir tiga jam di jalan. Nyetir. Jakarta-Buah Batu. Dengan kemacetan saat menuju gebang Cikarang. Dan hujan luar biasa hebat, di paling tidak tiga titik. Dalam perjalanan itu, sengaja saya tak pasang musik. Saya rasanya bosan sekali dengan playlist dan senarai lagu yang ada di HP saya. Saya kepingin mendengar deru! Sebuah keinginan yang tak lazim.

Tapi lontaran berikutnya yang menurut saya sangat berharga dalam perjalanan itu adalah ini: Menyetir itu pekerjaan paling bodoh. Betapa tidak. Ketika menyetir saya tak bisa menyambi apa pun. Tak bisa berkhayal karena harus fokus. Tidak bisa rileks, karena taruhannya adalah nyawa. Kita dipaksa untuk konsentrasi pada hal yang tidak menambah kualitas hidup kita!

Betapa mubazirnya pekerjaan itu. Tiga jam yang luar biasa panjang, untuk hal yang bukan apa-apa.

Dan bersama ada puluhan, ratusan, ribuan orang yang menyetir. Untuk satu jam, dua jam, sepuluh jam berikutnya. Menempuh ratusan, bahkan ribuan kilometer.

Tuhan betapa beruntungnya saya. Tak harus seperti itu. Menghabiskan waktu di jalan.

Read more »

Memulai Hidup Baru

Jadi inilah. Saya resmi memulai lembaran hidup-profesional baru. Saya bekerja di tempat baru. Dan nggak sekadar itu. Tapi saya juga memulai hidup baru. Saya tinggal di kota yang baru, jauh dari keluarga. Ini baru tak cuma buat saya, tapi juga istri dan anak, yang setakat ini saya tinggal.

Berat rasanya. Tapi ya sudah.

Saya kepingin ini semua dibawa riang, meski rasanya berat.

Demi mewujudkan kesan riang dan bersemangat itu, saya tadinya berniat untuk membuat blog baru untuk merekam sebagian kehidupan dan ingatan saya saat tinggal di Buah Batu. Tapi saya takut. Yang pertama, saya tak konsisten. Dan yang kedua saya juga pemalas. Pertama-tama mungkin semangat mengeksplorasi tempat baru. Tapi berikutnya ya malas-malas saja.

Yang ketiga, apa sih yang kepingin saya tuangkan dalam blog? Apakah sekadar petunjuk, atau printilan yang biasa ditulis blog wisata? Saya bukan tipe itu, rasanya. Jadi klop deh. Saya membulatkan diri tidak menulis blog lainnya.

Lagian yang kepingin saya tuangkan ya cukup dua hal saja. Dan itu semua bisa tertampung di dua blog saya. Eh tiga. Yang pertama, yang sifatnya renungan atau curhat ya di sini tempatnya. Kalau bersifat karya--ya cerpen, sajak, sketsa, review, foto--ya masukin aja di tumblr. Selesai kan?

Yang esensial dari itu semua adalah pertimbangan ini: saya rasanya tidak akan mengeset Buah Batu atau pekerjaan ini menjadi tempat dan pekerjaan terakhir saya. Sungguh. Betapa pun saya punya cita-cita untuk tidak lagi bekerja untuk orang lain.

Saya merasa apa yang saya jalani mulai hari ini, pada hakikatnya adalah bukan kehidupan. Saya terpisah jauh, ruang dan waktu, dari yang saya cintai: Keluarga dan orang-orang yang saya cintai. Dan itu sungguhnya bukan kehidupan, rasanya buat saya--paling tidak itu yang saya rasakan setakat ini.

Mudah-mudahan hal itu memotivasi saya untuk mencari "kehidupan" saya yang berikutnya.

Sebuah papan reklame di tol Cikampek tadi cukup menarik. Sebenarnya dia tak didesain untuk kampanye sosial. Tapi berhubung belum ada pengiklan, maka dipampanglah poster sederhana. Isinya kira-kira adalah data berapa jam yang dihabiskan orang dijalan. Setelah ditotal jenderal, maka ada dua bulan setengah dalam setahun yang ternyata habis di jalan karena kemacetan. "Jadi lebih baik habiskan waktu di rumah, ketimbang di jalan" kira-kira begitulah pesan si reklame.

Ah, sementara saya menghabiskan waktu berbulan-bulan jauh dari keluarga. Dan itu bukan kehidupan.

Read more »

Minggu, 10 Februari 2013

Last Day

This is it! The final moment. The last day at work. Dan sampai sekarang masih nggak juga ngerasa sentimentil. Nggak ngerasa bahwa saya adalah "anak lama" terakhir di divisi ini. Nggak ngerasa juga kalau ini adalah hari terakhir dari hampir sepuluh tahun kerja.

Dari dulu yang saya pelajari dari tiap perpisahan adalah ini: life goes on. Dan organisasi kerja itu jauh lebih tangguh ketimbang saya digabungkan dengan dua, tiga, sembilan, sepuluh orang. Organisasi ini akan jalan terus, bahkan bisa mencapai puncaknya lagi. Dan saya dan mereka yang telah pergi harus pasrah. Tidak bisa menikmati itu.

Jadi karena itu rasanya saya sudah belajar banyak untuk tidak sentimentil. Biarkan saja, waktu berlalu. Ada banyak hal yang bisa saya tuju untuk menyalurkan emosi ini.

Dan dalam kasus saya: saya sedih karena harus kehilangan banyak momen bersama Senja. Berantem, mandi bareng, ngobrol, bacain buku, ngeledek. Itu yang paling saya sesali. Percayalah.

Saya rasanya tidak akan terlalu kehilangan momen ketika kami bermain musik misalkan. Atau bercanda yang tidak penting bersama teman-teman.

Dan ya sudah. Ini hari terakhir saya di kantor ini.

Hari terakhir saya ngeblog dengan fasilitas internet di kantor ini. Dari ruangan ini.

Fiyuh. Mari lanjutkan kehidupan.

Bismillah

Read more »

Rabu, 06 Februari 2013

Comfort Zone

"People keep saying, 'Oh, it'll be great to get out of your comfort zone'. It's like, 'Fuck you!' Get out of your fucking comfort zone! It fucking took me 20 years to build a comfort zone. I have no fucking intention of stepping outside of mine. Not for no fucker. That's fucking gone! Fucking comfort zone bastard." -Noel Gallagher

Nabi saya itu ya Noel Gallagher itu. Sebenarnya agak risi juga mengumumkan itu. Karena saya sadar hal itu mungkin menerbitkan cibiran yang rasanya juga akan keluar dari mulut saya jika ada orang yang mengidolakan person dari luar negeri atau musisi atau katakanlah popstar sebagai idola hidup. 

Tapi, ah bajingan tengiklah, saya adalah salah seorang dari mereka yang mengidolakan popstar sebagai panutan hidup. Tapi singatnya beginilah. Lewat lirik-liriknya, lagu-lagunya, Noel menyelamatkan saya dari kerasnya hidup sebagai orang miskin. Udah. Gitu ajah. Sebagai loser, saya berhasil keluar dari jurang itu berkat semangat dari lirik-liriknya. 

Dan kutipan di atas adalah salah satunya. Saya sebenarnya nggak ngerti-ngerti amat dengan apa itu comfort zone. Karena itu konsep yang asing buat saya. Buat saya cuma ada hidup atau mati. Nikmatin atau toleransi atau tinggalin. Udah begitu aja. 

Tapi kalimat itu jadi kelewat sering wara-wiri. Mereka yang kutu loncat atau energetik atau berwirausaha biasanya akan mengeluarkan mantra begini: Jangan terlena dengan comfort zone. Dan mereka yang lamaaaaaa betul bekerja di suatu tempat atau terlihat statis biasanya akan kena stempel: terlena dalam comfort zone. 

Seperti biasa, saya tidak mengenal konsep hitam-putih. Saya percaya abu-abu. Dan ratusan mungkin ribuan variannya. Gradasinya. Makanya saya agak jengah juga kalau ada orang gampang betul menyematkan 'terlena dengan comfort zone' kepada mereka yang bekerja--katakanlah 10 tahun di sebuah perusahaan. 

Istri saya adalah contoh paling dekat buat saya. Dia bekerja sudah 10 tahun lewat. Tapi saya yang mendampinginya dalam waktu kurang-lebih 7 tahun melihat betul betapa statis itu tidak ada dalam kamus kerja dan aktivitasnya. Setiap tahun pasti aja ada tantangan baru. Meski bidang yang digelutinya spesifik. 

Dalam kasus saya, pun demikian. Reporter berita-presenter buletin-produser-penyiar-sampai supervisor program. Saya tak masalah dengan waktu. Dan 'celakanya' saya tak tahu apakah saya sudah ada di comfort zone atau tidak. Yang jelas saya menikmati semua tahapan pekerjaan itu, pada akhirnya. Ada beberapa momentum tak enak. Di mana saya benci betul dengan situasi atau beberapa pekerjaan. Tapi hei... ini hidup. Biasa aja bukan? 

Sampai tiba pada akhirnya, saya tiba di titik ini. Saya tak lagi menikmati pekerjaan saya dalam waktu yang lumayan lama. Saya tak suka dengan atasan saya dalam bekerja dan akhirnya saya juga merasa gagal sebagai memimpin teman-teman saya. Nah kalau sudah begitu, pilihannya tinggal toleransi dan hengkang bukan? Saya pilih yang kedua. Tanpa konsiderans: "sudah saatnya saya hengkang dari comfort zone,"

Saya akan mengutuk serupa Noel: Fuck that. Saya suka komunitas ini. Lingkungan tempat saya bekerja. Pekerjaan saya. Tapi ada hal yang tak bisa saya kontrol. Dan ya sudah. --Tapi omong-omong ya saya rasanya juga tidak bisa menikmati perkembangan komunitas. Yang rasanya lebih suka bergosip ketimbang bekerja. Mana gosipnya luar biasa keji! Saya ingat betul kami dulu juga sering ngomongin para bos. Aka bergosip. Tapi itu lebih karena mereka kekurangan pekerjaan. Sementara kami membanting tulang bekerja. Tapi itu cukup. 

Di saat yang sama saya tak cukup dengan gaji ini. Saya tiba pada gerbang itu. Di mana angka mengukur segalanya. Ada uang sekolah, tagihan bulanan, dan kebutuhan harian menyerap dua pertiga kehidupan. 

Jadi apa itu comfort zone? Fuck that!


Read more »

Senin, 04 Februari 2013

Gosip

Ada yang gosipin istri saya. Katanya, cinta pertama dia adalah si X. Dan karena saya akan segera pergi ke Bandung, maka istri saya akan segera kembali pada cinta pertamanya. Pada awalnya saya nyengir dan tertawa. Karena saya tahu istri saya dan si X ini. Dia karib juga. 

Lebih nyengir lagi karena sumbernya adalah si Y, anak buah saya--kelak akan bekas anak buah saya. Barusan dalam penilaian tahunan saya kasih ponten bagus, sesuai kinerjanya dalam enam bulan terakhir. Lha, tahu apa si Y sehingga dia bisa muncul dengan skenario di atas. 

Saya tak menemukan relevansinya. Dan akhirnya inilah yang membuat saya tepekur. Kenapa? Kenapa dia muncul dengan skenario itu. Itu yang pertama mengganggu pikiran saya. Saya hampir sepuluh tahun bekerja di komunitas ini. Sementara X dan istri saya sudah bekerja lebih dari 11 tahun. Sementara Y? 3 tahun? Nah tahu apa dia soal kisah cinta pertama istri saya. Plus dia juga tak pernah berhubungan langsung dengan istri saya dan X. Jadi dia sungguh tidak kompeten bercerita tentang ini. Saya mengasihani dia, karena dia turut mengeluarkan kata-kata busuk itu. Kasihan. 

Ah, jangan-jangan ini karma? Karena saya berbuat jahat sama dia? Duh gusti, satu yang saya tidak mau adalah memotong nafkah orang. Atau berbuat buruk pada mereka yang tidak punya kepentingan terhadap saya. Saya tak punya alasan apa pun untuk membenci dia, demikian juga dia. Saya pernah menegur dia. Memberikan beban tambahan. Tapi itu kan pekerjaan. Memang sih, saya hapal karakternya: ngambek dan tidak menegur saya kalau dikasi pekerjaan tambahan. Tapi ya biarlah. Saya nggak pernah memberikan sanksi atas keterlambatannya dalam pekerjaan. Yang selalu hampir di atas 30 menit. Well? Saya tetap berprinsip tak boleh merugikan orang lain. Saya boleh saja gampang sekali tidak suka pada orang dan mendiamkannya. Tapi itulah sikap maksimal yang bisa saya keluarkan. Saya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan mereka. 

Tapi ya sudahlah. 

Ini membawa saya pada misteri berikutnya. Kalau bukan Y yang menjadi sumber berita kejam itu, lantas siapa yang bikin? Siapa yang tahu kalau X dan istri saya memang karib bergosip. Dan sungguh saya tidak keberatan atas itu. 

Jawabnya adalah mungkin teman lama. Teman lama kami. Yang cukup tahu kedekatan itu dan menafsirkannya seenak nafsunya. Tapi untuk kepentingan apa? Lagi-lagi mungkin dia punya kemarahan yang tak tuntas pada saya. Atau pada istri saya. Dan memutuskan untuk menyebar berita bohong itu. 

Ah kejam sekali. Kenapa kebencian itu disemarakkan. Dan dibagi-bagi kepada yang lain. Itu yang saya tak suka. Dia membenci saya atau kami ya biarlah. Saya juga tak bisa meyakinkan orang untuk suka sama saya. Saya tak punya kapasitas itu. Dan saya bukan tipe orang yang ingin menjadi "ibu" bagi semua orang. Everybody's darling. 



Read more »

Minggu, 03 Februari 2013

What if I'm not good enough? I'm in no capable state of giving? I'm soooo tired. Really.

Read more »

Kamis, 31 Januari 2013

Melankoli Jilid Kesekian

Brengsek, tiap mau menghitung mundur saya selalu terjebak pada melankoli. Ah bukan melankoli, tapi kesedihan. Bagaimana membayangkan adegan perpisahan. Makanya saya lebih suka menyibukkan diri dengan yang lain. Tidak berusaha memikirkan apa-apa. Atau menenggelamkan diri dalam sinema. 

Jadi beginilah. Sungguh jahat perpisahan itu.

Read more »

Rabu, 30 Januari 2013

Yang meneguhkan saya untuk menjadi sekular

Sejak SMP saya sudah bergabung di Kerohanian Islam. Lazim disingkat jadi Rohis saja. Di SMP bahkan saya termasuk yang menginisiasi pembentukannya. Saya bangga bisa 'menyeret' hampir ratusan orang untuk berjubel memenuhi kegiatan Rohis di mushola sekolah. Akhirnya saya terseret ke berbagai aktivisme lain. Ada satu keyakinan saat itu, yang saya atau kami lakukan itu adalah ibadah semata. Dan untuk itu saya tak takut berbeda. Saya meninggalkan semua yang duniawi. Termasuk musik yang saat itu tampil dalam masa yang rasanya paling indah. Saya menggantinya dengan koleksi nasyid dan membentuk kelompok nasyid.

Pada 96 atau 97 saya adalah ketua panitia festival nasyid. Mengorganisasi enam belas penampil dan lebih dari lima ratus orang penonton. Ini seingat saya adalah festival nasyid terbesar kedua yang dihelat di Jakarta. Tahun berikutnya kembali lagi kami bikin festival hampir sama di perpustakaan nasional. Rasanya indah sekali.

Kesyahduan ibadah dan berorganisasi itu benar-benar saya nikmati di SMA. Saat anak sebaya saya tak terlalu jelas orientasinya, saya memilih ikut kursus perbaikan bacaan Quran. Lanjut ke program tahfiz atau penghapalan AlQuran. Saya bangga, 2 juz Alquran saya sudah hapal. Rasanya tak ada anak di sekolah yang punya keterampilan itu. Seminggu tiga kali saya mengambil rute Kayumanis-Kampung Melayu-Mampang untuk ke tempat belajar itu. Dan semuanya saya jalani dengan senang.

Tapi itu menyisakan masalah sebenarnya. Karena dalam hati, ada banyak pertentangan. Karena ada demikian banyak aturan, larangan, restriksi, anjuran, dll. Padahal ada begitu banyak kecenderungan manusiawi saya, sebagai anak muda yang ingin dilepas. Bagaimana saya kalau ingin bergaul dengan perempuan, bagaimana kalau saya ingin menikmati musik. Bagaimana kalau saya punya hobi yang sifatnya duniawi? Yang tidak masuk akal adalah bagaimana untuk mengatasi desakan seksual? Masa iya cuma kawin satu-satunya jalan?

Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana inkonsistensi ini berlangsung. Pada diri saya, pada orang sekitar. Dan pada saat yang sama saya mengalami pencerahan. Belajar bahasa, sastra, dan sejarah Eropa.

Saya bulat memilih keluar dari arus ini. Yang pada saat saya keluar sedang membesar. Ini beberapa pertandanya: Hampir di semua sekolah negeri ada Rohisnya. Waktu saya SMP, cuma ada satu orang saja yang berkerudung. Pada saat saya keluar, ada puluhan yang memakai. Dan sekarang, tiap Jumat anak-anak sekolah pakai baju koko atau rok lebar dan kerudung buat yang perempuan. Ah, ukhti-ukhti yang dulu berkonflik dengan keluarga atau sekolah karena memakai jilbab, pasti berbangga dengan fakta ini--Oh ya kisah-kisah ini jadi bahan terbitan majalah An-Nida saat itu.

Satu lagi pencapaian yang paling ultimate menurut saya adalah ini: Partai! Edan. Jejaring-jejaring tertutup ini sekarang sudah menampakkan gurat akarnya. Dan cerita selanjutnya saya yakin kita mestinya sudah terekam dalam banyak buku sejarah-biografi tentang partai ini. Dan buku-buku yang membahas soal ini adalah buku yang saya wajibkan untuk konsumsi buat saya sendiri. Saya senang membandingkan fakta-fakta dalam buku dengan apa yang saya alami. Seperti perjalanan ulang-alik yang menyenangkan buat saya.

Dan semakin lama semakin terkuaklah boroknya. Pemecatan kader, semakin pragmatisnya langkah partai, adalah dua indikasi yang paling keliatan. Belum lagi kasus video porno. Dan akhirnya hari ini presiden PKS dijadikan tersangka kasus korupsi.

Saya senang bukan kepalang. Bukan karena ada hasrat untuk membenci atau menyerang PKS. Siapalah saya bukan?

Tapi saya senang karena kasus ini menunjukkan satu hal: bahwa manusia selamanya punya kecenderungan untuk berdosa. Catat ini: selamanya! Karena itu klaim partai bersih, atau mengaitkan partai dengan agama jadi sebuah petualangan yang berbahaya! Seberapa ketatnya aturan pun tak akan mampu menanggulangi kecenderungan manusia: untuk bersenang-senang, menikmati dunia, sesekali membuka tabu!

Sudah sepatutnya kader-kader PKS tidak lagi naif. Menganggap semua petingginya adalah kader terbaik setara malaikat. Dan mbok ya bilang aja yang salah ya salah. Bukan dengan alasan macam-macam.

Ah sudahlah. Saya sudah puas dengan berbagai pembuktian untuk tesis saya: bahwa yang duniawi tak mungkin menyatu dengan yang ukhrowi. Dan kalau mau menggabungkan siap-siap saja terbakar.

Saya hanya percaya bahwa ada nilai kebajikan di setiap manusia. Terlepas dari orientasi politik, seksual, kenegaraan, dan agama. Orang baik tak mesti berasal dari kalangan Islam. Dan untuk itu tak perlu mengklaim Islam sebagai yang terbaik. Santai saja.




Read more »

Selasa, 29 Januari 2013

Ada yang belum selesai

Rasanya ada yang belum selesai antara saya dengan diri saya. Dan urusan yang belum selesai ini kadang-kadang bikin letupan sesekali.

"Kadang merindukan dunia tanpa konsekuensi.
Tanpa alasan dan pertanyaan; kenapa?
Saat bertindak bodoh adalah kebahagiaan
Kadang merindukan dunia yang nirkenes
Kesenyapan dan kebisuan
Tiada keterburuan dan tenggat waktu
Memboroskan apa pun dan menghabiskan apa pun"

Read more »

Kamis, 24 Januari 2013

Kuliah Lagi

Kok tiba-tiba aja kepikiran topik ini. Ah, okelah. Mumpung lagi ketemu ide, maka inilah catatan saya seputar kuliah. 

Singkatnya ada keinginan saya yang rasanya tidak terlalu mendesak--alias saya tidak kebelet amat--yaitu kuliah lagi. Mungkin ini dampak dari saya yang tidak menyelesaikan kuliah dengan "sempurna". Saya memilih jalur non-skrip, alias tidak memakai skripsi. Gantinya saya mengambil beberapa mata kuliah ekstra. Memilih non-skrip sebenarnya bukan perkara mudah buat saya. Tapi karena alasan pragmatis, saya memilih jalur ini. Saya memilih non-skrip karena kalau saya mengambil jalur skripsi, maka saya harus menyediakan waktu dan tenaga... dan uang untuk satu semester tambahan. Dan itu tak mungkin. Ibu saya sudah kepingin saya segera kerja dan menghasilkan uang tinimbang menghabiskan uang kembali. 

Nah, jadilah saya pikir saya harus menuntaskan "unfinished business" itu. Saya mungkin akan melanjutkan kuliah Sastra saya. Saya suka kritik sastra. Dan kuliah ini yang saya rasa saya akan ambil. 

Lantas apa jurusan kedua? Saya rasanya akan memilih bidang ilmu selain sastra tapi juga bukan ilmu yang praktis macam manajemen, atau teknik audio, atau arsitektur. Saya tak minat pada kuliah-kuliah praktis seperti itu. Saya justru lebih tertarik pada bidang yang "tidak bermanfaat" secara praktis. Sejarah misalkan. Bidang ini definitely akan menjadi pilihan kedua saya. 

Lantas apa berikutnya? Belakangan saya menaruh minat pada kota. Dan ruang kreatif. Ini belakangan saya temukan. Saya bahkan sudah mencari universitas yang menyediakan jurusan ini. Saya menemukan jurusan "creative cities" di King College London. Niscaya ini menjadi idaman saya, jika saya berhasil memperbaiki keterampilan berbahasa Inggris. 

Kenapa saya tertarik dengan kota dan kreativitas? Entah. Tapi saya kira ada pengaruh tumbuh-kembang saya di sebuah kampung di Jakarta. Saya tumbuh di gang kecil di Jakarta. Dengan reriuhan tukang agar-agar, tukang bakso, tukang sayur, tukang ikan, tukang siomay. Tapi yang paling berkesan adalah bazar saban tujuhbelasan yang digelar di jalan. Ibu saya dagang kikil dan semur jengkol. Dan laku! Ini membahagiakan buat saya.

Tinggal di gang buat saya adalah bagian terpenting dalam hidup. Di mana keterampilan saya berinteraksi dilatih. Tempat kesenangan ada di tiap sentinya. Ada tokadal, galasin, bentengan, bola gebok yang murah meriah. Ada penyewaan komik dan gambaran (komik dalam selembar karton berisi 36 panel) yang melatih sensitivitas visual. Ada azan, pengajian, dan speaker--dulu disebut salon--tetangga yang memuntahkan aneka lagu kepada telinga siapa saja. Beruntunglah Kayumanis diapit paling sedikit empat bioskop (tunggu saya hitung, Tawang, Djaja, Nusantara, sebuah lagi di dekat Prumpung, sebuah lagi di Pasar Sunan Giri. Lihat, banyak bukan?) Pun ada dua penyewaan video beta yang menjadi langganan. Kami berkorban uang jajan untuk sekadar menyewa dan menonton ramai-ramai. Atau ada juga rumah Pak Pur atau dua tetangga lainnya yang "membuka" ruang keluarganya menjadi bioskop dadakan buat seluruh warga. Saya ingat episode ini. Di mana ruang tamu Pak Pur penuh dengan kepala banyak anak dan orang dewasa. Sementara sandal-sandal berantakan bertumpuk di luarnya. Edan! 

Beruntunglah saya dibentuk oleh Lapangan Aji Bini, atau Lapangan Gadis yang menjadi arena bermain bola. Ada puluhan pohon besar tempat kami berbagi keceriaan. Tempat saya menjadi monyet yang perkasa. Atau menjadi Ksatria Robin Hood. Dan saya mencuri-curi melihat majalah porno. Ada got besar alias kali. Ada ikan cere. Ada bunga bayam yang kami jadikan ayam. Ada episode perburuan jangkrik. 

Saya percaya ruang-ruang ini penting dalam membentuk manusia. Salah satunya saya. Dan karena itu saya percaya ruang-ruang ini adalah sumber interaksi yang pada akhirnya memantik kreativitas yang tak habis-habis. Saya percaya itu. 


Read more »

Selasa, 22 Januari 2013

Sok-Sokan

Semakin hari rasanya saya semakin sinis. Saya tak suka ini. Sebenarnya. Saya semakin tak suka dengan banyak orang. Daftarnya bisa panjang sekali. Dan saya benci ini. Saya tidak kepingin mneyebarkan kebencian. Saya ingin positif saja. 

Nah berikut adalah beberapa tipe orang yang saya tak suka. Ini pastinya berasal dari pengalaman pribadi. Menjadi teman, atasan, bawahan, bagi orang-orang di sekitar saya. 

1. Orang yang sok bijak. Macam Mario Teguh gitulah. Saya benci karena sepertinya mereka mengerdilkan kehidupan. Seperti kehidupan itu sederhana. Seakan mereka memiliki kunci-kunci untuk segala hal dan masalah. Termasuk dalam tipe ini adalah orang yang sok menjadi "ibu" atau "bapak"semua orang. They're everybody's darling. 

2. Orang yang sok pinter. Ingat ya, sok pintar. Ada banget di sekitar saya. Pinter itu adalah usaha dan takdir. Dan rasanya menyenangkan juga bersama orang-orang pintar. Karena dari mereka kita bisa dapat pengetahuan baru. Kebijaksanaan baru. Tapi orang sok pintar ini jenis spesies yang berbeda. Mereka ini tidak terlalu pintar. Biasa aja. Dan yang lebih parah adalah mereka menganggap kerdil orang lain. Prestasi sedikit tapi ngebacotnya banyak. Bahkan meremehkan orang lain. 

3. Orang yang sok tau. Orang sok tau mungkin saja tau banyak hal. Tapi ada jutaan bakteri di dunia ini. Dan ada ratusan, ribuan berita yang beredar tiap menit. Jadi yakinlah, tak ada orang yang tau segalanya. Sok tau ini jadi menyebalkan karena: (a) mereka cenderung bawel dan pamer pengetahuan. dan (b) mereka seperti menoyor kepala semua orang sambil membusungkan dada, 'nih gue yang paling tahu.'

4. Orang yang sok misterius, sok serius, pemendam-marah, fatalistik, depresif. Orang ini yang jelas menebar aura murung. Jadi biarkan saja. Nggak usah ditegur kalo nggak perlu. Biarin aja mereka larut dalam misteri mereka sendiri. 

5. Sok ganteng dan sok cool. Naudzubillah mindzalik. Tapi ya biarin aja sih. Selama mereka tidak menyenggol saya. Saya tak akan repot mengurus mereka juga 

Nah berbanding terbalik dengan itu, saya malah bisa toleransi dengan orang yang "sok asik." Ini justru aman buat saya. Karena kalau mereka ada di sekitar, saya ga perlu repot bikin bahan obrolan. Karena saya sungguh tak terampil untuk itu 

Read more »

Senin, 21 Januari 2013

Menulislah

Maka tibalah saya di sini. Di sebuah hari yang saya tak punya ide untuk menulis apa-apa. Sebenernya tempo hari ada beberapa hari ide yang kepingin saya tulis. Misalkan soal penghargaan yang diterima kantor saya. Cerita jelek soal atasan dan bawahan. Tapi saya nggak mau jadi kotor dan negatif. Itu janji.

Tapi saya juga janji untuk menulis setiap hari, sebisa mungkin. Untuk blog ini dan untuk tumbrl. Ah tapi saya tak tahu harus menulis apa.

Ah saya tahu. Saya mestinya bisa menulis tentang masa kecil saya. Berdasarkan ingatan subyektif saya. Yang kadang-kadang terselip ketidakakuratan.

Ah, tapi itu terlalu personal. Tidak ada ekstraksi pemikiran di sana. Cuma cerita saja. Mending kalau menarik. Dan itu rasanya nggak sesuai dengan tema blog ini. Karena di blog ini saya kepingin menuangkan apa yang saya pikirkan. Apa pelajaran yang bisa saya dapat. Untuk menjadi manusia seutuh-utuhnya--meskipun saya tahu itu adalah pasal yang tak mungkin untuk dikejar. Hatta mati sekalipun.


Read more »

Minggu, 20 Januari 2013

Kecewa Oh Kecewa

Saya sedih pagi ini. Asumsi saya terkonfirmasi. Dan meski saya sudah tahu dan memilih bersikap positif padanya, tetap saja saya mereasa kecewa. Selama ini saya beranggapan fungsi dan peran saya "agak" terpinggirkan di kantor ini. Tapi hari ini anggapan itu terkonfirmasi.

Dan rasanya tak enak saja.

Tapi ya sudah. Saya mengeluh di sini saja.

Saya berpikir positif. Mungkin ini adalah hukuman saya yang tidak disiplin mengikut aturan dan kehendak. Mungkin ini adalah karena sikap saya sendiri yang tak terlalu antusias mengikut perubahan.

Jadi ya sudahlah. Saya tetap kecewa sebagai manusia. Dan saya memilih bersikap positif karena saya kepingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Read more »

Rabu, 16 Januari 2013

Mengeluh Banjir

Pagi ini adalah waktu yang sangat tepat untuk memaki di media sosial. Karena Jakarta terendam dan macet di mana-mana. Di rumah kami banjir, saya menempuh perjalanan hampir dua jam dari rumah menuju kantor yang normalnya ditempuh dalam waktu 30 menit. Saya menempuh jalan kanan dan kiri, mencari alternatif. Dengan cemas yang luar biasa besar. Nah apa lagi coba yang kurang? Saya berhak memaki bukan?

Ah saya nggak mau.

Sebagian orang mengutuk tata kota yang jelek, sirkulasi dan tata air yang bedebah, atau pembangunan mal dan perkantoran yang agresif.

Saya tidak mau mengeluh.

Karena saya tahu, setelah ini berlalu kita semua bakal lupa. Kita tenang-tenang aja. Pembangunan mal terus jalan. Jangan-jangan kita malah menikmati.

Jadi saya tidak ma mengeluh.

Read more »

Kantor Saya

Saya mau cerita tentang kantor saya saja hari ini. Kantor ini adalah kantor paling asik sedunia, menurut saya paling tidak. Sangat tidak obyektif, mengingat saya baru dua kali pindah kantor. Itu pun cuma sebentar-sebentar. 

Kantor ini keren sejak awal. Dan tak pernah establish. Itu yang pasti. Meskipun hubungannya dengan paham anti-establishment masih harus ditelusur lagi. Ruangannya selalu berubah. Demikian juga programnya. Di kantor ini pula saya menjalani bermacam-macam peran. Mulai dari reporter, penerjemah, presenter berita, penulis laporan, mengambil laporan dari rekan-rekan daerah, menjadi mentor buat pelatihan di radio daerah, menjadi produser, menjadi penyiar, mengonsep iklan, memproduksi audio, bernegosiasi dengan narasumber, mengonsep program, sampai jadi supervisor, menangani anak buah. Mulai dari yang kooperatif sampai yang belagu dan sok tau. Ini adalah fase paling dinamis dalam hidup saya. 

Ah, apa lagi. Saya suka karena di kantor ini bermalas-malasan bisa dilakukan dengan santai aja. Saya dan banyak orang di sini bisa teriak-teriak dan bernyanyi pada jam kerja. Nonton youtube. Berlama-lama di sosial media. Update blog. Saya bahkan bermain musik di sini. Ah ini hal menyenangkan lainnya yang bisa dilakukan di sini. Yang penting kerjaan selesai. Kami digaji untuk itu. Bahkan pada masanya, gaji kami adalah yang paling besar untuk perusahaan sekelas. 

Saya bebas berbusana di sini. Meski busana bukanlah hal terpenting. 

Kami bisa menenggak alkohol dan menghirup cimeng bersama bos-bos kami dalam suasana yang egaliter. 

Di saat yang sama, sebagian kami juga ada di baris depan dalam menyuarakan isu kebebasan sipil, keberagaman, keberpihakan pada minoritas dan perempuan. Dan untuk itu saya luar biasa bangga bisa menjadi bagian dari tradisi dan komunitas itu. 

Senang-senang pwoll. Tapi skill dan kepedulian juga pwoll. Kira-kira begitulah.

Apa lagi yang bisa saya sampaikan. Ah saya juga senang dengan teman-teman dahulu. Yang bisa berbagi ide dan paham yang sama. Bisa berbagi kerisauan dan kebahagiaan yang sama. Dan canda yang sama. Itu penting bukan. Dan saya merindukan teman-teman itu. 

Brengsek. Saya sentimentil. Huh



Read more »

Senin, 14 Januari 2013

Sekolah


Pada 2010 uang sekolah di sekolah ini sudah mencapai 58 juta. Itu adalah untuk uang pangkal sampai kelas enam SD. Habis itu ada uang tahunan kira-kira tiga jutaan kalo nggak salah. Dan uang bulannya di atas satu juta. Bisa bayangkan itu? Berapa kira-kira penghasilan orang tuanya?

Buat saya ini di luar akal sehat? Ah atau karena saya belum seberuntung orang-orang tajir ini saja maka saya bilang ini di luar akal sehat. Mungkin. Tapi sungguh deh. Buat saya ini di luar akal sehat. Dan lebih nggak masuk akal lagi, yang kepingin memasukkan anaknya di sini nggak satu dua orang. Ada banyak. Dan sekolah ini sampai buka cabang. Gilak bukan?

Saya sudah pasti tidak akan memasukkan Senja ke sana. Karena praktis nggak mampu. Betapa pun saya kepingin Senja mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ah mungkin itu juga yang ada di kepala orang-orang tua ini. Mereka kepingin mendapatkan pendidikan terbaik untuk anak mereka. Dan kebetulan saja mereka punya uang. Dan mungkin itu juga yang ada di kepala penggagas dan pengusaha sekolah elite ini. Kepingin menyajikan pendidikan yang terbaik. Sampai mereka tiba pada kesimpulan: pendidikan terbaik itu butuh duid. Dihitunglah segala macam ongkosnya. Guru-gurunya nggak boleh ngobyek. Guru-gurunya mesti punya passion. Dan untuk mencegah orang-orang passion ini ke bidang lain yang bukan pendidikan, maka dipasanglah gaji tinggi. Dan diperlukan sarana yang bagus. Dan diperlukan bahan ajar yang bagus. Ah untuk itu kita harus bikin rencana bisnis bukan? Siapa yang memodali? Bagaimana cara agar pemodal mendapatkan keuntungan. Maka semuanya dibebankan kepada orang tua murid.

Dipasanglah iklan: kau mau dapat pendidikan terbaik, kemarilah. Kami menyediakan. Saya ngeri membayangkan bahwa sebuah sekolah didirikan dalam filosofi bisnis seperti ini. Tapi ya saya berbaik sangka, mudahmudahan nggak cuma bisnis yang ada dalam otak pemilik dan pengelola sekolah elite ini.

Saya mengemukakan ini bukan dalam nada menyalahkan. Atau mengutuk pengelola atau orang tua yang tajirun alaihim itu. Tidak.

Saya cuma mengandaikan: kenapa sekolah elite itu ada di muka bumi Indonesia. Sederhana sekali jawabnya. Karena ada kebutuhan pendidikan yang baik. Kenapa kebutuhan pendidikan yang baik itu sebegitu tinggi? Ya karena pemerintah tak mampu menyediakan. Saya membayangkan kualitas pendidikan macam apa yang disediakan sekolah dasar yang bayarannya cuma sepuluh ribu rupiah per bulan, bahkan gratis dengan sekolah dasar yang uang bulanannya satu koma empat juta rupiah? Mesti banyak perbedaannya bukan?

Begitu banyak cerita miris di sana. Satu kelas, satu guru, dengan tiga puluh bahkan empat puluh anak. Bagaimana mengharapkan inovasi terjadi pada guru yang begitu lelah dan capek mengurus puluhan anak. Bagaimana mengharapkan kebutuhan unik tiap anak terpenuhi di tengah kerumunan seperti itu?

Karena kualitas pendidikan umum yang disediakan pemerintah begitu curam berbeda dengan kualitas pendidikan yang disajikan sekolah elite ini. Maka wajar-wajar saja itu dilihat pengusaha atau penggagas sekolah elite. Sementara di luar sana ada banyak orang tua juga yang setuju dengan konsep para pengusaha ini, maka jadilah dia. Menjamurlah dia.

Siapa yang salah kalau begini?

Tapi saya ngomong begini juga dengan kesadaran tinggi, saya mungkin bisa bagian dalam arus ketidakwarasan ini: Kalau saya kaya raya maka saya akan menyekolahkan Senja ke sekolah terbaik yang mahal itu. Orang tua mana coba yang tak mau menyediakan pendidikan terbaik buat anaknya.

Read more »

Minggu, 13 Januari 2013

Nyinyir Kesekian

Saya jadi teringat lentingan (twit) Robi Navicula. Saya parafrasa: bahwa yang berbahaya sekarang adalah aktivis twitter. Mereka yang merasa sudah ikut andil atau berjasa ketika sudah memasang status atau mentwit atau meretwit yang isinya adalah kepedulian sosial.

Aha! Saya bersorak dengan itu. Sebab saya akur, meski saya termasuk golongan yang dicerahkan belakangan; bahwa ada perasaan semu yang berbahaya di balik lentingan status atau twit itu. Niat boleh saja baik. Tapi tanya deh ke dalam lubuk hati. Pasti ada perasaan merasa penting lepas melenting status. Bahwa kita ikut arus itu. Itu tidak orisinal. Itu yang pasti.

Dan karena itu pula saya rasanya tak pernah lagi ikut gelombang. Kalau pun ikut gelombang saya nggak kepingin ikutikutan nyinyir atau merasa penting dengan status itu. Saya mencoba menangkapnya dengan humor.

Dan begitu juga ketika marak betul sekarang petisi online. Saya menyimpan keraguan efektivitas metode tersebut. Apakah gejolak dunia maya mampu menghentak dunia nyata. Sudah lama betul warga maya itu tumpul. Cuma beberapa kali saja gerakan online berhasil di dunia offline. Tapi selebihnya yang ada hanyalah kekenesan belaka. Keganjenan kelas menengah.

Tapi ya sudah. Memang kenapa kalau ganjen? Kalau kenes. Bukankah bibit-bibit itu ada pada kita semua. Dan apa salahnya kalau mereka seperti itu.

Yang salah menurut saya adalah reaksi orang, yang kadang-kadang terlalu serius. Menanggapi dengan nyinyir. Atau negatif. Ah apalagi kalau membalas nyinyirnya itu di sosial media pulak. Apa bedanya kau dengan mereka bukan?

Saran saya, ya santai aja. Ini hidup cuma sekali. Nikmati aja kenapa. Sambil sering-sering menabur manfaat.

Read more »

Kamis, 10 Januari 2013

Menarik Diri

Barusan makan siang dan bertemu dengan rekan sekantor. Sudah tak lagi satu atap. Sudah lama tak ngobrol. Paling bertegur sapa saja dari jauh. Tapi jangan salah. Nggak ada rasa dendam di antara kami. Malahan dulu pernah sangat akrab. Saya malah pernah dikasih kaset The Smith. 

Jauh sebelum kami berpisah departemen, pisah gedung kemudian, memang sudah ada gap. Antara dia dengan tak cuma saya. Tapi yang lain. Yang lain menandai dia seperti menarik diri dari pergaulan. Segan nongkrong dengan yang lama, apalagi rekan-rekan yang baru. 

Sebagian bilang dia berubah jadi pemalas. Atau sesederhana bekerja saja sesuai argo. Waktunya kerja ya kerja. Waktu pulang ya pulang. Tak ada kreativitas atau upaya lebih untuk berkontribusi di luar kapasitasnya. Ngepas saja. 

Sebenernya saya menandai bukan cuma dia saja yang "menarik diri" dari pergaulan sosial di kantor. Ada rekan saya yang lain, yang juga seperti itu. Paling tidak ada satu orang lagi. 

Nah sebagian orang mungkin mencap negatif sikap itu. Amit-amit, mungkin saya dulu termasuk yang memberikan cap negatif itu pula. Saya berlindung pada tuhan atas sikap seperti itu, karena sangat mungkin saya melakukan hal itu. Karena saya tak begitu betah bekerja dengan orang yang letoy alias pekerja argo begitu. 

Ah celakanya saya. 

Saya rasanya sadar itu tak baik. Menjatuhkan nilai seperti itu. Sebab saya mungkin adalah si A tadi. Dan rekan saya yang lain itu: Pekerja Argo. Saya rasanya, perlahan-lahan berubah menjadi mereka.  Dan adalah tidak fair jika penarikan diri itu semata-mata disebabkan oleh rasa malas. 

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan sikap seperti itu. Pada tahap ini saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka. Dan merasakan lebih intens lagi apa yang sudah mengendap dalam pikiran saya. Ah,  mungkin dunia terlalu bawel buat kami. Terlalu banyak omongan sampah di luar sana. Atau kami sadar tidak ada yang bisa kami lakukan untuk berkontribusi. Kami adalah kaum pesimis. Mungkin juga kami sakit hati karena tak mendapatkan apresiasi. Karena melihat yang lain juga tak ada progres. Lihat ada banyak sekali alasannya bukan. 




Read more »