Senin, 30 September 2013

Niat Mulia

Ini adalah kali kesekian mempekerjakan teman, tentu saja dengan semangat berbagi rezeki dan solidaritas, dengan harapan meringankan pekerjaan pribadi. Cita-cita mulia dan bermanfaat bukan? Mestinya demikian. Tapi apa daya, ini adalah kali kedua cita-cita tersebut tidak kesampaian. Saya capek, karena mesti kerja dua, tiga, empat kali. Karena si bos menuntut pekerjaan berkualitas tinggi. Dua, tiga kali revisi bisa jadi bukan malah jadi versi final.

Ah pegel hati. Membayangkan mesti kerja lagi malam-malam. Demi mencapai target dan tenggat waktu. Nggak enak. Sungguh. Brengsek

Read more »

Jumat, 27 September 2013

Bisnis Suci

Barusan scrolling akun sosial bekas bos. Sedih membacanya. Silang pendapat yang keras yang bikin kepala panas. Saya rasanya sempat ikutan panas. Sebab saya tahu yang dituding-tuding itu bekas bos saya. Saya tahu dia orang baik. Jalannya lurus. Tak tega rasanya kalau orang begitu mendapat perlakuan sebegitu keras.

Tapi saya juga tahu bagaimana manajemen yang dia kelola tak sebegitu eloknya. Gemuk, keras kepala, dan cenderung tidak ada kontrol yang jeli. Itulah yang menurut saya membuat dia terjerembab.

Saya semakin pesimistis pada mereka yang terjun pada bisnis suci.

Read more »

Selasa, 24 September 2013

Waktunya

Waktunya terus berputar. Saya semakin tua. Semakin tidak berguna. Hampir 34 tahun. Dan masih berjuang mendapatkan pekerjaan yang melapangkan hati dan keluarga.


Read more »

Rabu, 11 September 2013

FAAAAAAKKKK!!!!!

Read more »

Selasa, 10 September 2013

Nggak Sederhana

Kemarin dapat kabar dari istri mengenai seorang teman. Katanya dia mau berhenti bekerja. Sudah begitu saja. Habis itu mau ngapain. Katanya mau break aja dulu.

Hmhmhmh, saya pernah kepingin mereka begitu. Atau masih... Tapi buat saya kondisi nggak semudah itu. Buat dia yang masih bujang dan bisa berbagi beban keluarga tentu saja kehilangan pekerjaan masih bisa ditanggung. Tapi buat saya? Dengan tagihan menggunung dan kebutuhan melebar? Rasanya nggak mungkin.

Nggak sesederhana itu kawan...

Read more »

Jumat, 06 September 2013

Hiburan saya

Setakat ini yang membuat saya terhibur adalah bertemu dengan begitu banyak orang di stasiun. Dan kegemaran saya baru-baru ini adalah melihat laki-laki dan (kebanyakan) perempuan yang bergaya. Saya senang karena mereka elok dan enak untuk dilihat. Terlihat percaya diri dan seperti bersinar saja di tengah khalayak. Sampai itu saja sebenarnya kehadiran mereka sudah menghibur saya. Cukup. 

Tapi tak sekadar itu, saya membayangkan saya mengambil foto-foto mereka. Menaruhnya di album khusus di Internet. Ah, memang ide ini sangat tidak orisinil. Tapi saya senang membayangkannya. Saya bisa membuat album foto berdasarkan tema, sesuai dengan apa yang saya tangkap dalam kamera. 

Lebih jauh, saya membayangkan saya bisa menghadirkan photo-essay mereka. Menangkap metamorfosis mereka dari bangun tidur, bersolek, hingga tampil di stasiun, bergaya di depan rekan kerja, berdesak-desakan di kereta sore, melepaskan segala atribut dan riasan wajah, sampai mengenakan piyama yang nyaman versi mereka. 

Buat saya, apa yang mereka lakukan adalah ekspresi yang patut dihargai. Mereka berani berdandan sedemikian rupa tidak dalam ekosistem yang steril--di mall, di kantor, di acara kawinan. Mereka ada di jantung ekosistem Jakarta: di ruang publik, dalam moda transportasi kelas rakyat biasa. 


Read more »

Senin, 02 September 2013

Deg-degan

Dan yang monyess itu saban pagi degdegan. Seperti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Dan sulit sekali mengusir perasaan itu. Membuat jantung berdetak lebih keras. Mudah-mudahan itu jantung tak berhenti. Atau merusak saraf di otak saya. Tuhan saya masih ingin hidup. Berbahagia. Bersama keluarga saya. Sesederhana itu.


Read more »