Kamis, 02 Desember 2010

sumbu pendek

saya pemarah. tidak sabaran. itu rasanya jelas. terang saya mengakui. istri saya di rumah pun saya rasa tak bisa menampik bahwa saya pemarah. saya tidak sabaran.

tapi saya juga sadar. sesadar-sadarnya bahwa marah itu tidak baik seluruhnya. mesti ditekan-tekan sesekali. tidak gampangan. karena kalau keluar begitu gampang, energi negatif marah itu menyebar. dan berdampak buat semua orang. padahal tidak semua orang kepingin terdampak dengan kemarahan kita. nggak semua orang kepingin mendengar orang ngomel-ngomel. karena nggak enak. tidak nikmat, dan membuat tidak nyaman.

nah saya rasa, saya memilih tidak mengeluarkan kemarahan karena alasan yang terakhir tadi. karena tidak ingin membuat orang tidak nyaman. kenapa penting bagi saya mengemukakan alasan itu? itu semata-mata sebab ada juga person yang memilih tidak marah karena tidak enak hati citranya melorot di depan orang lain (tuhan, percayalah saya juga tidak bisa menjamin saya steril dari status terakhir itu).

dan pelajaran tentang marah berserak di sekitar saya. tak harus punya kata. tapi laku tersirat pun bisa diambil hikmahnya. ada orang yang gampang sekali mengeluarkan kemarahan hatta pada hal-hal kecil sekalipun. dan di mata saya dia sedang bertarung memakai pedang naga puspa untuk menghadapi kucing kampung. tentu mengusir kucing kampung cuma membutuhkan sapu lidi. sapu lidi yang telah dipakai untuk membersihkan comberan pun akan klop adanya dengan kebutuhan itu.

dan lebih konyolnya lagi ada orang yang bahkan sebenarnya--menurut pengamatan saya yang picik ini--tidak berhak marah, tapi tetap marah. saya yakin dia tak berhak marah, karena kondisi yang menyebabkan dia marah adalah hasil kerjanya sendiri, bukan karena kebodohan orang lain yang menjengkelkan.

ya ya ya. tentu saja sah-sah saja orang marah. sebab toh nanti baik lagi. sebab toh marah tidak akan berlangsung selamanya.

tapi saya pikir adalah orang bodoh saja yang marah-marah tanpa obyek dan akibat dari kebodohannya sendiri. dan bagian terburuknya adalah dia membiarkan orang lain yang tidak kepingin merasakan energi negatif kemarahan untuk mendengarkan kemarahannya.

saya jadi ingat pelajaran yang diberikan istri: dia akan memeriksa baik-baik alasannya untuk marah. sebab boleh jadi marah itu tidak beralasan. bukankah celaka kalau kita menjilat ludah sendiri? menarik kemarahan yang sudah telanjur keluar, sementara obyek kemarahan itu tak berhak dimarahi.

akhirnya saya hanya menarik napas panjang. berusaha tidak marah dengan orang yang gampang marah dan merusak atmosfer riang. mudahmudahan saya sabar menghadapi orang dengan stok marah segudang. orang yang bersumbu pendek. gampang meledak.

Read more »