Minggu, 20 Maret 2011

ah ya begitulah. nggak jelas

Ini adalah masa-masa yang masygul buat saya. Masa yang membuat hati gentar. Hatta hidup bersama istri yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan, dengan akan yang luar biasa cerdas, pekerjaan yang sungguh di atas baik-baik saja, bergaji.... ya biasa-biasa saja, dengan tabungan sepuluh jutaan di bank, asuransi yang cukup mengcover pengeluaran bila sakit dan kebutuhan keluarga jika koit, tak cukup ampun menahan laju kerawanan hati.

Saya benci kondisi seperti ini. Karena saya seperti buntu. Okelah mestinya, di atas kartas dan secara teoritis, saya tak punya suatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi coba pikir ini: cicilan rumah, cicilan mobil, biaya pendidikan anak, kebutuhan harian dan rekreasi keluarga, kebutuhan untuk menghidupi sebagian hidup orang tua, kebutuhan untuk pribadi. Maka kombinasi itu seperti jurus yang mematikan akal sehat. Meski, mestinya Cuma, barang sejenak saja.

Hati saya sungguh masygul lagi rawan.

Sungguh tak enak jadi orang tak berdaya. Atau saya terlalu banyak maunya. Emoh sederhana. Jauh dari bersahaja.

Hati kalut. Mungkin ini saatnya. Seperti dalam Trainspotting. Inilah saat memilih pendidikan, memilih mobil, memilih rumah, memilih asuransi, memilih baju apa yang hendak dikenakan, sepatu yang pas di kaki, film yang hendak ditonton, musik yang mau didengar, buku yang enak dibaca, memilih mainan buat anak, hal untuk membahagiakan pasangan, memilih obat-obatan dan vitamin yang ditenggak, dokter siapa yang dikunjungi di rumah sakit mana, dst, dst. Mungkin inilah yang dikatakan hidup yang terkutuk bagi bujangan. Tapi saya bilang itu konsekuensi kehidupan. Kehidupan yang kita pilih.

Saat inilah bunga dan madu kehidupan yang dulu pernah saya inginkan bukan lagi hal yang sederhana yang bisa ditelan dalam frasa “kita bisa selesaikan nanti” atau “kita bisa mengatasinya” atau “yang penting kita selalu bersama”. Tapi bukankah itu isi melulu kehidupan?

Di saat seperti ini masa lalu jadi objek kutukan. Seakan semuanya salah dari awal. Kenapa begini kenapa begitu. Dan itu tolol dan konyol. Itu saya tahu betul, mestinya, di atas kertas, teorinya. Di saat seperti ini lagu pop murahan jadi relevan, “ah, seandainya kutahu apa yang terjadi sekarang di waktu yang lalu.”

Seandainya ini seandainya itu. Taik kucing. Tiada waktu buat mundur ke belakang. Teorinya, di atas kertas. Ah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Lakukan sesuatu yang konstruktif. Teorinya, di atas kertas. Ya sudah. Kita tahu sekarang situasinya apek buat kita. Lantas apa. Itu yang mesti kita lakukan. Ah itu teorinya, di atas kertas.

Kita punya pilihan untuk keluar dari situasi ini, atau hancur karenanya. Itu kita tahu. Di atas kertas. Teorinya.

Mungkin mestinya pilihan itu sederhana. Perkara menurunkan selera atau menaikkan pendapatan. Mungkin sesederhana itu: Live with it or do something about it. Yeah yeah yeah. Taik kucing.

Ya, ternyata tidak mudah hidup menjadi kelas menengah. Halah belagu berteori saja.

Read more »

Senin, 14 Maret 2011

Bekerja untuk gaji yang lebih tinggi?

Seandainya pekerjaan itu bergaji tinggi, saya tak akan segan-segan meninggalkan pekerjaan sekarang. Sungguh. Bukan karena tak loyal, atau tersiksa di dalam. Sebaliknya, pekerjaan sekarang ini sungguh kenikmatan buat saya. Saya suka merancang-rancang dan membuka ide-ide baru. Bikin program dan akhirnya bertemu dengan dunia baru. Pekerjaan ini kenikmatan buat saya, setelah segala pasang-surut hubungan profesional.

Seandainya pekerjaan itu bergaji tinggi, sungguh saya akan mengambilnya. Motifnya sungguh sederhana. Saya butuh gaji yang lebih besar agar punya opsi lebih banyak. Karena opsi itu terkait dengan kehidupan saya. Terkait dengan cara saya yang terusmenerus berkehendak dalam menikmati hidup.

Saya harus menghela napas dalam-dalam. Sekian lama saya tidak percaya pada jargon uang menentukan kebahagiaan. Tapi ya itu. Sungguh perkara besar.

Read more »

Selasa, 08 Maret 2011

Orang-orang cupet

Sungguh saya tidak mengerti apa yang ditakutkan mereka itu. Mereka bilang Ahmadiah mengancam keimanan umat. Membahayakan akidah, dst. dst. Tapi apa ukurannya?

Saya heran. Kalau jumlah umat adalah ukuran "berbahaya itu" marilah kita hitung dengan goblok. Sederhana saja.

Begini. Kalau menurut klaim MUI dan geng-geng tololnya, jumlah umat Ahmadiah itu tak lebih dari 30 ribu. Itu lantas kita ambil saja sebagai batas paling bawah. Lantas batas paling atas kita pakailah klaim dari pengurus JAI yang bilang mereka punya 500 ribu jemaah. Oh ya, kedua angka itu saya dapat ketika nonton televisi, dalam debat yang memperlihatkan betapa cupetnya pikiran MUI and d gank.

Nah, ayolah kita bodoh-bodohan. Kita imajinasikan berapa banyak pertumbuhan jemaah Ahmadiah dalam kurun waktu lebih dari 80 tahun ini, sejak Ahmadiah berdiri pada 1925. Ternyata tak lebih dari jumlah itu? Adakah Ahmadiah menjadi partai? Adakah dia menjadi aliran mainstream dalam Islam di Indonesia? Adakah dia berjaringan membentuk pesantren yang akhirnya laris manis macam gontor? Adakah dia mengadakan kongres besar-besaran? Koreksi saya kalau salah, tapi rasanya tak ada.

Maka bandingkanlah dengan pertumbuhan PKS. Partai yang besar di kalangan menengah terdidik ini, dalam waktu kurang dari 30 tahun, jika kita menghitung pertumbuhannya pada permulaan tahun 80-an. Dalam kurun waktu itu, maka dia sudah tumbuh menjadi partai. Jumlah massanya ratusan ribu. Duduk sebagai anggota parlemen dan pemerintahan, yang akhirnya menentukan gerak bangsa. Kalau kongres memakai hotel berbintang. Atau kalau mau unjuk gigi, maka jalan Sudirman-Thamrin, juga Gelora Bung Karno jadi langganan sasaran kumpul-kumpul.

Bandingkan dengan Hizbut Tahrir, yang waktu dan metode masuknya ke Indonesia kurang lebih sama dengan PKS. Mereka mengadakan kongres khilafah di Gelora Bung Karno. Dihadiri utusan internasional, bahkan. Di Bundaran HI, dan media mana pun yang mampu digaet, mereka tak takut menyuarakan ide khilafah. Sebuah konsep internasionalisme yang menghilangkan batas-batas nasional republik yang berdaulat.

Ceklah musala dekat rumah. Pasti tidak asing dengan jemaah anggota Jemaat Tabligh yang berdakwah keliling kampung dan menetap di musala-musala itu. Adakah larangan untuk mereka? Tidak sama sekali.

Ceklah tiap-tiap perempatan jalan di Jakarta hari-hari ini. Niscaya Anda menemukan banyak spanduk besar bergambar syekh keturunan Arab. Dengan embel-embel peringatan maulid dan semacamnya mengadakan kegiatan. Supir taksi yang saya tumpangi suatu kali mengeluhkan terjebak macet dua jam lebih, karena satu lajur jalanan ditutup demi menyukseskan kegiatan Majelis Rasulullah. Presiden lenje kita bahkan ikut berzikir bersama ratusan ribu orang pengikut sekte ini.

Nah saya jadi bingung. Apakah pencapaian yang diraih PKS yang agresif berpolitik, Hizbut Tahrir yang berkampanye syariah dan khilafah, Jamaah Tabligh yang aktif berdakwah, Majelis Rasulullah yang massif bersalawat tidak dihitung sebagai pencapaian umat Islam?

Apakah arti kemajuan itu dibandingkan dengan bahaya laten Ahmadiah? Kenapa jemaah yang tidak menarik dan mandek ini begitu ditakutkan?

Sungguh penyakit paling mematikan itu adalah kebodohan. Dan itu diidap oleh banyak orang Islam hari-hari ini, di negeri ngeri ini.

Lihatlah orang-orang ini. Sangat jauh dari kesan ramah.

Lucunya, apa miris, saya punya kawan. Seorang dai, katanya. Tapi dengan sengit dia memancarkan kebencian dan persetujuannya dengan aksi-aksi kekerasan terhadap Ahmadiah. Dai seperti ini, kita tak boleh percaya.

Read more »

Kamis, 03 Maret 2011

Ke Singapura

Saya berutang satu postingan dari perjalanan saya ke Singapura. Dan inilah tulisannya. Ketika saya menulis, perjalanan itu sudah berlalu hampir sebulan lamanya. Cukup waktu mengendapkan sensasi apa yang paling berkesan buat saya. Gegap perjalanan bersama emosinya sudah padam.

Well, saya tidak terlalu bersemangat untuk trip ini. Itu pasti. Tapi, dalam kondisi apa pun, sebuah perjalanan rasanya akan mengundang letupan, meski tidak harus keriaan. Jadi saya memutuskan untuk biasa saja dalam perjalanan ini.

Oke Singapura. Apa yang menarik dari sana? Nyaris saya tidak tahu. Kerena tak tahu itu pula jadi saya tak tertarik. Saya khawatir Singapura jadi menjemukan. Karena sebagian persnya dibungkam. Bahwa disiplin di sana juga sangat kuat. Negera bersih yang tertib administrasi. Itu semua membuat kesan negeri ini jadi agak robotik.

Tapi mestinya tidak robotik deh. Misalkan begini. Ada bendung yang sangat canggih. Selain meregulasi air yang super keren. Sangat saintifik dan mekanik. Tapi jangan salah bendung juga dipenuhi tawa manusia. Anak-anak, muda, dan tua.

Saya menyempatkan menjajal kereta bawah tanah Singapura. Yang sungguh sangat nyaman, tepat waktu, minim suara, terintegrasi, dan berteknologi terkini. Saya sungguh sangat terkesan. Meski pun teknologi sangat maju dan bikin keder, apalagi buat saya. Anak Kampung Kayumanis. *Tapi meski saya pandir dalam hal beginian, toh saya sukses membawa rombongan berisi 3 orang. Hebat bukan?

Di atas semua, saya rasa ada momen eksistensialis yang menyergap tiba-tiba: Saya sarapan pagi nasi goreng, di hotel bintang empat atau lima yang menyaji sajian Eropa, dilayani oleh, mungkin pekerja Indonesia yang bekerja di hotel, sambil membaca koran berbahas Inggris lantas membaca headline yang menyebut asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Singapura semakin memilih majikan tempat mereka bekerja. Hmhmh. Saya kebingungan dan menebak-nebak: Kira-kira saya sebagai manusia apa di momen itu.

Read more »

Rabu, 02 Maret 2011

Hadapilah

Salah satu hal yang sebal betul dari orang-orang adalah ketika mereka menolak untuk menerima kesalahan yang mereka bikin. Tentu saja, seperti halnya hal-hal lain yang sangat membias seperti spektrum, orang yang menolak menerima kesalahan yang mereka bikin ini sangat bervariasi. Tidak rata dan seragam.

Ada yang langsung menolak serta-merta. Mengaku hal ini atau itu bukan salahnya. Tapi orang lain atau situasi yang tidak bisa dikontrol. Ini yang paling saya sebal. Ada juga tipe orang yang berputar-putar terlebih dahulu. Menunjuk situasi x dan y dan z, dan si a, b, dan c yang membuat situasi memburuk dan membuat dia melakukan kesalahan. Berputar-putar juga diniatkan untuk mengaburkan kesalahan yang terjadi. Dengan begini, lawan bicara dan orang-orang lain jadi lupa sama sekali dengan kesalahan yang terjadi. Well, tuan mungkin pintar bersiasat, tapi sungguh tak sulit menebak ujung pembicaraan.

Terlepas dari tipe orang defensif, buat saya mereka ini menggelikan sekaligus menjengkelkan. Perilaku defensif seperti itu.

Buat saya menerima tanggung jawab atas kesalahan adalah hal yang paling utama. Ini adalah prioritas, sebelum langkah lainnya. Kita bisa menarik 1,2 3, sampai seribu alasan kenapa kesalahan terjadi. Tapi, terimalah dulu tanggung jawabnya. Baru kemudian kita runut apa saja situasi yang menyebabkan kesalahan terjadi.

Buat saya, menerima tanggung jawab itu adalah tanda keluasan hati. Kebesaran dirinya. Dan proses jadi manusia yang lebih baik lagi. Susah. Saya jamin tidak gampang menerima kesalahan. Tapi di situ mestinya kemanusiaan diuji. Mau jadi besar lagi, atau jadi manusia kerdil yang senantiasa berkelok-kelok.

Dan suatu saat, ketika saya sedang bermasalah, hati kecil mengelak tidak ingin disalahkan. Tapi saya merasa pelu menahan lidah. Sembari melapangkan hati dan pikiran, bersiap-siap. Dan akhirnya mengakui dulu kesalahan. Meski sering kali sehabis itu, saya dongkol. Sebab tak murni kesalahan itu disebabkan oleh saya. Tapi ya sudah. Namanya juga manusia. Nggak pernah konsisten. DOngkol ya dongkol saja. Biarkan itu ada di hati.

Read more »

Malas

Edan. Tolong. Saya berada di puncak kelelahan, rasanya. Well, mestinya bukan kelelahan, karena toh nggak ada aktivitas fisik yang berlebihan. Tidak juga aktivitas pikiran yang berlebihan.. Hmhmh? Mestinya tidak.

Hari ini contohnya. Saya tak lain tak bukan, sekadar ingin bermain bersama anak saja. Lantas membaca buku, dan bercinta. Lain dari itu, ampun deh. Tidak mau. Dan rasanya malas dan bosan saja.

Saya tidak mengerti apa yang terjadi pada saya. Ada begitu banyak pekerjaan yang saya bengkalaikan. Mudahmudahan tidak ada akibat yang bikin sengsara saya, apalagi orang-orang.

Read more »