Ini adalah masa-masa yang masygul buat saya. Masa yang membuat hati gentar. Hatta hidup bersama istri yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan, dengan akan yang luar biasa cerdas, pekerjaan yang sungguh di atas baik-baik saja, bergaji.... ya biasa-biasa saja, dengan tabungan sepuluh jutaan di bank, asuransi yang cukup mengcover pengeluaran bila sakit dan kebutuhan keluarga jika koit, tak cukup ampun menahan laju kerawanan hati.
Saya benci kondisi seperti ini. Karena saya seperti buntu. Okelah mestinya, di atas kartas dan secara teoritis, saya tak punya suatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi coba pikir ini: cicilan rumah, cicilan mobil, biaya pendidikan anak, kebutuhan harian dan rekreasi keluarga, kebutuhan untuk menghidupi sebagian hidup orang tua, kebutuhan untuk pribadi. Maka kombinasi itu seperti jurus yang mematikan akal sehat. Meski, mestinya Cuma, barang sejenak saja.
Hati saya sungguh masygul lagi rawan.
Sungguh tak enak jadi orang tak berdaya. Atau saya terlalu banyak maunya. Emoh sederhana. Jauh dari bersahaja.
Hati kalut. Mungkin ini saatnya. Seperti dalam Trainspotting. Inilah saat memilih pendidikan, memilih mobil, memilih rumah, memilih asuransi, memilih baju apa yang hendak dikenakan, sepatu yang pas di kaki, film yang hendak ditonton, musik yang mau didengar, buku yang enak dibaca, memilih mainan buat anak, hal untuk membahagiakan pasangan, memilih obat-obatan dan vitamin yang ditenggak, dokter siapa yang dikunjungi di rumah sakit mana, dst, dst. Mungkin inilah yang dikatakan hidup yang terkutuk bagi bujangan. Tapi saya bilang itu konsekuensi kehidupan. Kehidupan yang kita pilih.
Saat inilah bunga dan madu kehidupan yang dulu pernah saya inginkan bukan lagi hal yang sederhana yang bisa ditelan dalam frasa “kita bisa selesaikan nanti” atau “kita bisa mengatasinya” atau “yang penting kita selalu bersama”. Tapi bukankah itu isi melulu kehidupan?
Di saat seperti ini masa lalu jadi objek kutukan. Seakan semuanya salah dari awal. Kenapa begini kenapa begitu. Dan itu tolol dan konyol. Itu saya tahu betul, mestinya, di atas kertas, teorinya. Di saat seperti ini lagu pop murahan jadi relevan, “ah, seandainya kutahu apa yang terjadi sekarang di waktu yang lalu.”
Seandainya ini seandainya itu. Taik kucing. Tiada waktu buat mundur ke belakang. Teorinya, di atas kertas. Ah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Lakukan sesuatu yang konstruktif. Teorinya, di atas kertas. Ya sudah. Kita tahu sekarang situasinya apek buat kita. Lantas apa. Itu yang mesti kita lakukan. Ah itu teorinya, di atas kertas.
Kita punya pilihan untuk keluar dari situasi ini, atau hancur karenanya. Itu kita tahu. Di atas kertas. Teorinya.
Mungkin mestinya pilihan itu sederhana. Perkara menurunkan selera atau menaikkan pendapatan. Mungkin sesederhana itu: Live with it or do something about it. Yeah yeah yeah. Taik kucing.
Ya, ternyata tidak mudah hidup menjadi kelas menengah. Halah belagu berteori saja.
Saya benci kondisi seperti ini. Karena saya seperti buntu. Okelah mestinya, di atas kartas dan secara teoritis, saya tak punya suatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi coba pikir ini: cicilan rumah, cicilan mobil, biaya pendidikan anak, kebutuhan harian dan rekreasi keluarga, kebutuhan untuk menghidupi sebagian hidup orang tua, kebutuhan untuk pribadi. Maka kombinasi itu seperti jurus yang mematikan akal sehat. Meski, mestinya Cuma, barang sejenak saja.
Hati saya sungguh masygul lagi rawan.
Sungguh tak enak jadi orang tak berdaya. Atau saya terlalu banyak maunya. Emoh sederhana. Jauh dari bersahaja.
Hati kalut. Mungkin ini saatnya. Seperti dalam Trainspotting. Inilah saat memilih pendidikan, memilih mobil, memilih rumah, memilih asuransi, memilih baju apa yang hendak dikenakan, sepatu yang pas di kaki, film yang hendak ditonton, musik yang mau didengar, buku yang enak dibaca, memilih mainan buat anak, hal untuk membahagiakan pasangan, memilih obat-obatan dan vitamin yang ditenggak, dokter siapa yang dikunjungi di rumah sakit mana, dst, dst. Mungkin inilah yang dikatakan hidup yang terkutuk bagi bujangan. Tapi saya bilang itu konsekuensi kehidupan. Kehidupan yang kita pilih.
Saat inilah bunga dan madu kehidupan yang dulu pernah saya inginkan bukan lagi hal yang sederhana yang bisa ditelan dalam frasa “kita bisa selesaikan nanti” atau “kita bisa mengatasinya” atau “yang penting kita selalu bersama”. Tapi bukankah itu isi melulu kehidupan?
Di saat seperti ini masa lalu jadi objek kutukan. Seakan semuanya salah dari awal. Kenapa begini kenapa begitu. Dan itu tolol dan konyol. Itu saya tahu betul, mestinya, di atas kertas, teorinya. Di saat seperti ini lagu pop murahan jadi relevan, “ah, seandainya kutahu apa yang terjadi sekarang di waktu yang lalu.”
Seandainya ini seandainya itu. Taik kucing. Tiada waktu buat mundur ke belakang. Teorinya, di atas kertas. Ah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Lakukan sesuatu yang konstruktif. Teorinya, di atas kertas. Ya sudah. Kita tahu sekarang situasinya apek buat kita. Lantas apa. Itu yang mesti kita lakukan. Ah itu teorinya, di atas kertas.
Kita punya pilihan untuk keluar dari situasi ini, atau hancur karenanya. Itu kita tahu. Di atas kertas. Teorinya.
Mungkin mestinya pilihan itu sederhana. Perkara menurunkan selera atau menaikkan pendapatan. Mungkin sesederhana itu: Live with it or do something about it. Yeah yeah yeah. Taik kucing.
Ya, ternyata tidak mudah hidup menjadi kelas menengah. Halah belagu berteori saja.