Senin, 31 Desember 2012

Tahun Baru

Saya sungguhnya tidak terlalu suka dengan mereka yang keras sekali nyinyir dengan perayaan tahun baru. Ini event sekali setahun. Dan apa salahnya dengan bersenang-senang. Memang ada orang terganggu, sampah bertebaran, ledakan di mana-mana, dst. Tapi toh benefitnya juga banyak. Ada ekonomi yang bergerak. Ada tujuh ratus ribu orang sampai satu juta orang di luar sana yang merayakan tahun baru di luar ruang. Tanyalah kepada mereka. Apakah momen tahun baru adalah momen bahagia? Jawabnya mestinya iya. Dan itu berarti. Sudahlah. Tak perlu nyinyir.

Tapi buat saya, tahun baru sepertinya sama dengan malammalam sebelumnya. Saya demam. Kepala saya cenut-cenut. Dan itu membuat malam tadi jadi semakin tak istimewa. Saya tidur. Setelah mengobrol seperti biasa, setelah terkikik dengan komedi di TV. 

Andai pun tak sakit, rasanya tahun baru akan berlalu biasa-biasa saja. Sampai pagi ini. Saya mendapat ucapan selamat tahun dari istri saya. Dan bukankah tahun baru bisa dirayakan, sepurba atau sesederhana apa pun? Ah saya telat. 

Mudah-mudahan tahun depan saya ingat untuk merayakan tahun baru. Saya tak perlu gengsi untuk masuk dan ikut dalam arus besar kebudayaan merayakan tahun baru. Dan yang hampir pasti, saya tidak akan masuk ke dalam barisan nyinyir itu. 




Read more »

Selasa, 25 Desember 2012

Hobi

Saya selalu menemukan hobi baru dan akhirnya bosan sendiri. Suatu saat saya suka sekali membuat miniatur. Manakala rezeki melimpah saya beli itu mainan dan bisa merakit seharian. Waktu itu beruntungnya saya belum kena tremor.

Selanjutnya saya suka bersepeda. Aneka aksesoris beli dan akhirnya menghilang sendiri. Lanjut minum teh. Ah, tapi yang ini rasanya masih suka sampai sekarang. Meski turun naik juga. Selanjutnya oprak-aprek foto. Belasan aplikasi pemroses foto di android saya download. Dan akhirnya sekarang bosan. Yang tinggal cuma tiga aplikasi saja.

Nah yang memberikan saya banyak pelajaran adalah hobi selanjutnya. Saya selalu tidak bisa melacak dari mana hobi ini berasal. Tapi saya menikmati aktivitas berkebun. Saya sudah mencoba sebelumnya di rumah Pondok Bambu. Tapi karena berbagai faktor, entah tanahnya yang tidak bersahabat, saya tidak telaten, matahari yang kurang intens, atau air yang terlalu asam, hobi itu pupus. Padahal rasanya saya cukup investasi beli pupuk, pestisida, dll.

Nah begitu rumah Jatisari jadi. Saya coba kembali bertanam. Saya lupa pohon apa yang pertama-tama saya tanam. Tapi tanaman yang pertama menghuni petak depan rumah itu sepertinya bayam-bayam liar. Dan rerumputan. Dan saya diamkan saja sampai begitu rimbun. Saya merasa mereka berhak hidup di sana. Pelajaran pertama! Saya suka bagaimana tanaman ini hidup. Dan terus-menerus. Abai terhadap cuaca dan intervensi manusia. Meski beberapa saya potong, tapi mereka sepertinya dagel untuk bertahan. Bahkan sampai sekarang!

Mungkin istri saya jengah juga. Dan saya bosan. Jadilah semuanya saya babat. Saya bersihkan itu tanah selama berminggu-minggu. Tolong jangan bayangkan saya bekerja setiap hari selama berminggu-minggu ya. Karena saya cuma ke sana Jumat-Minggu. Maksimal Senin. Saya singkirkan puing-puing yang banyak dikandung. Dan itu banyak amat. Saya sampai khawatir, apa benar tanah ini subur? Tapi bayam liar tumbuh gigantik di sini, jadi saya merasa bongkahan batu, plastik, kayu, ini tak buruk-buruk amat. Malah mungkin membantu menangkap udara dan air lebih baik.

Habis itu--ini yang saya ingat betul, saya menyebar biji cabe. Di antara beberapa yang tumbuh, yang bertahan cuma 3 batang saja. Dan entah kenapa, mereka begitu produktif menghasilkan cabe. Dan tiada henti. Sampai waktunya berhenti. Maka berhentilah dia. Dia tak lagi produktif. Saya memutuskan untuk tetap memelihara batang-batang ini. Pelajaran kedua!!! Saya merasa ada pelanggaran moral jika saya langsung menebas tanaman perdu ini. Bagaimana pun dia menghasilkan begitu banyak cabe, meski saya tidak memintanya--tapi toh saya girang juga ketika memetik dan mengumpulkannya. Saya rasa tidak fair kalau saya langsung mematikannya. Saya tetap merawat tanaman-tanaman ini. Secara rutin masih memberi pupuk seperti waktu mereka masih produktif.

Kenapa mesti pohon cabe pulak yang saya tanam? Entah. Seperti yang saya bilang tadi. Saya tidak punya sejarah tanam-menanam. Tapi pernah ngobrol dengan kawan soal Pramoedya Ananta Toer. Lantas tersebutlah kisah soal bagaimana Pram selalu suka tanaman produktif. Dia tidak akan menanam bunga atau pohon warna-warni. Saya rasa ada yang puitis di sana. Ada filosofinya. Pelajaran ketiga!!! Kelak, meskipun ini bukan utuh menjadi filosofi hidup saya, saya belajar banyak hal dari ini.

Bahwa kangkung, bayam, cabe, itu begitu gampang ditanam. Dan betapa komoditas-komoditas ini tak akan membuat kaya seorang petani. Karena harganya tak akan pernah meninggi seperti daging sapi. Betapa kangkung, bayam, dan cabe mengajarkan saya jangan pernah mengabaikan hal-hal kecil. Dan tak ada hal yang remeh di dunia ini. Kangkung dan bayam takkan pernah rupawan seperti halnya mawar, anggrek--yang sebenarnya saya tak tahu juga di mana letak bagusnya. Tapi dia akan selalu mengundang kesegaran.

Berlanjut, habis itu saya menanam sawi. Hasilnya luar biasa lumayan. Ada 4-5 kilogram mungkin yang dihasilkan. Demikian juga tomat. Ada sekira berat itu pula: 4-5 kilogram. Sama saja saya memperlakukan mereka semenjak mula, seperti tanaman buah atau sayur lainnya yang saya tanam. Aha. Pelajaran Keempat!!! Saya tak pernah berharap atau menggesa mereka untuk berbuah. Ah itu pun bisa diperdebatkan rasanya. Dalam hati kecil, mungkin saya berharap berbuah. Karena itu tetap saja menyenangkan. Tapi beneran. Ketika menanam tomat dan sawi, saya menyebarkan benihnya begitu saja. Terserah kepada mereka. Mau tumbuh atau tidak. Yang penting saya sudah berusaha--ini juga pelajaran berikutnya: menghitung alam, apakah dia bersahabat atau tidak. Saya belajar masa terbaik bercocok tanam adalah musim penghujan. Di saat itu saya pikir dua perkara bertemu. Entah apakah itu pertempuran atau persetubuhan. Yang jelas ada yang puitis di sana: Benih-benih itu mencari tempatnya di tanah. Mencari suhu yang tepat dan kelembaban yang sesuai. Dan dicurah sinar matari dan disimbah air hujan. Hitung juga, mereka berkompetisi dengan benih yang lain di tempat yang sama. Siapa selamat siapa tidak, saya tak pernah tahu. Bukankah ada yang indah dalam kerja alam di sana? Satu-satunya yang saya intervensi adalah memberi pupuk. Itu pun pupuk organik. Bukan kimiawi. Jadi saya tidak terlalu harus merasa bersalah. Saya punya istilah buat ini: Kebun anarkis. Hehehe.


Di kebun, eh halaman depan kami sekarang ada dua batang pohon sirsak. Sekarang sudah hampir lima meter tingginya, sejak kami tanam setahun atau dua tahun lalu, waktu itu tingginya cuma 70cm. Ada dua rambatan pohon cincau di sana. Saya sudah membuat cincau sendiri. Dan rasanya bangga sekali. Hal sederhana bikin bahagia. Aha! Pelajaran kelima!!! Yang saya suka dari dua tanaman ini adalah daunnya bisa bermanfaat. Daun sirsak dipercaya menyembuhkan demam dan seterusnya. Cincau enak sekali bisa dimanfaatkan bikin jeli.

Belakangan saya merasa ada evolusi dalam hal saya memperlakukan kebun ini. Saya rasanya jadi lebih terorganisir. Saya misalkan membuat gundukan khusus dan menggemburkan tanah dengan pupuk sebelum menanam kangkung. Saya memotong dan merapikan jalaran pohon cincau. Saya juga mengelompokkan tomat di dalam talang yang saya sulap jadi pot horizontal. Pelajaran keenam!!! Punk itu alamiah di usia muda. Tapi evolusi adalah ketidakterelakkan di usia dewasa.

Sekarang, saya juga tak menyebar biji timun sembarang. Saya semai dulu secara khusus, ketika biji berubah menjadi benih usia sepekan, saya pindahkan ke tempat khusus dan bebaris yang rasanya rapi saja. Saya juga membariskan batang-batang sereh di sebelahnya. Lihat, rapi kan. Kebun anarkistis itu cuma legenda sekarang.

Tapi ini pelajar final setakat ini. Saya mendapati bahwa tomat yang saya tanam berbulan-bulan lalu belum juga berbuah. Berbunga saja tidak. Saya benar-benar tidak khawatir. Saya tetap menyiram dan memberikan pupuk. Tapi tetap saja dia kerdil. Dan ini yang saya bisa simpulkan: si tomat tak berkembang, karena akarnya tak kemana-mana. Dia terkungkung di dalam pot horizontal itu. Pelajaran ketujuh!!! Sebaik-baik tempat tumbuh itu adalah tanah.

Tanah adalah media yang tidak aman. Dia tidak steril dari fungi, serangga, asam, dll. Tapi dia adalah tempat terbaik buat tumbuh. Akar bisa menerabas sampai ke dalam. Apa yang dia temui di sana, tiada pernah kita tahu. Tapi hal-hal baik mungkin bisa didapat di sana. Lihat ada yang puitis di sana bukan? Sebaliknya pot adalah tempat yang bisa kita atur hampir dalam semua aspeknya. Dia steril. Tapi hasilnya: kerdil.

Pelajaran ini bisa diambil dalam membesarkan anak mestinya. Jadinya menurut saya, sebaik-baik tempat untuk Senja mestinya ya di luar sana. Bukan cuma di rumah.

Hobi berkebun kelak mungkin akan saya tinggalkan, karena bosan. Karena tahu potensi itulah saya enggan gembargembor atau fanatik. Biarlah dia mengalir saja. Tapi ada begitu banyak pelajaran yang tidak akan saya lupakan dari hobi yang satu ini.




Read more »

Minggu, 23 Desember 2012

Bosan

Saya seringkali berharap saya menghilang. Tapi tak sekadar menghilang. Tapi saya menyusup dan menyelinap ke dalam lagu yang megah atau tenggelam ke dalam layar bioskop dalam kenikmatan sinema. Dan betul itu yang seringkali saya harapkan.

Dalam dua hal ini saya menemukan semacam sanctuary. Tempat berteduh yang aman dari gugatan apa dan siapa pun. Dunia yang tidak memerlukan penjelasan dan konsekuensi. Tapi saya kira saya terlalu naif. Saya tidak konsisten dengan pilihan saya untuk hidup di dunia nyata. Dan menambatkan sebagian hidup saya pada orang-orang yang saya kasihi. Untuk itu saya sungguh kepingin konsisten. 

Meski saat ini saya kepingin seperti pencuri yang menyelinap dalam orkestra dan sinema. 

Read more »

Rabu, 19 Desember 2012

Bahan Cerita

Kepala saya mengebul. Sepertinya banyak yang hendak saya tulis. Mungkin karena sudah terlalu lama saya tidak menulis. Tulisan ini semata-mata untuk mengingatkan saya bahwa saya dilimpahi begitu banyak bahan untuk cerita-cerita saya. Semua cerita dengan serius saya coba cermati dan saya berusaha benamkan dalam otak. Mudahmudahan tidak menghilang.

Saya berasal dari keluarga besar. Baik dari garis bapak, apalagi ibu. Dan rasanya cerita-cerita yang melingkupi mereka begitu unik. Beberapa darinya akan saya catatkan di sini.

Kakek saya berasal dari Gombong, kalau tak salah. Hijrah ke Jakarta tahun 30-an. Membeli tanah. Dan beranak pinak di sini. Kelima anak lelakinya yang hidup--termasuk bapak saya--semuanya lahir  di Jakarta. Karena itu saya mengklaim bapak saya orang betawi saja. Keluarga kakek dan nenek dari bapak saya ini punya kerabat di Banjar Negara. Dan di sinilah imaji "kampung" dibangun. Saya tak pernah hapal garis dan silsilah, nama apalagi muka. Yang saya kenal misalkan Lek Muhadi, Atau Kasan. Atau Irin. Atau yang baru-baru ini meninggal, Wak Marilah. Pupus di usia sembilan puluhan.

Nah salah satu cerita menarik dari sini adalah bagaimana bapak atau abang-abang bapak kemudian dimusuhi oleh salah seorang pak lek atau Uwak, entah siapa. Karena dianggap sombong. Ceritanya setelah mereka menginap dan siap untuk pulang, segenap isi kampung itu mengumpulkan aneka hasil bumi untuk dibawa ke Jakarta. Beras lima liter sudah disiapkan di pintu sang pak lek atau uwak itu. Tapi Bapak kemudian lupa membawa. Hasilnya adalah dia dimusuhi untuk beberapa saat. Ini dramatis buat saya, Bisa menjadi fondasi buat cerita drama tentang menyembuhkan luka.

Atau saya juga akan banyak bercerita tentang keluarga besar Abdur Rohim, bapaknya ibu. Konon seorang menantu mengentarai keturunan Kong Doim--itu panggilannya cuma dengan menantap roman muka seorang. Kata dia, keturunan Kong Doim rata-rata bergigi tonggos. Tapi itu sebagian. Sebagian lainnya berparas cantik dan gagah. Lengkap dengan kulit putih. Jadi ada polarisasi di sana. Kalau jelek, ya jelek sekalian. Kalau cakep dan gagah, ya gagah dan cakep sekalian.

Saya mendapatkan pengalaman saya melayat semalam itu begitu absurd dan jenaka sekaligus. Saya dikenali oleh hampir semua sepupu saya. Tapi saya begitu tak enak karena tak hapal nama-nama mereka. Sungguh.

Kong Doim punya delapan anak kalau tak salah. Empat lelaki, empat perempuan. Wak Duloh yang paling tua punya 13 anak plus beberapa anak angkat. Wak Omat punya sekira enam atau tujuh anak dari dua istrinya. Istri kedua dinikahi setelah istri pertama meninggal. Dan Wak Omat meski tampil sangat kalem, adalah bekas residivis. Pernah ibu bercerita bagaimana dia menyembunyikan Wak Omat dari kejaran polisi. Wak Yadi adalah yang paling kalem. Meskipun dari cerita bapak Wak Yadi adalah buaya keroncong dan pecandu orkes melayu. Dia punya empat orang anak, dan saya bersyukur karena hapal nama semua anaknya. Dan laki-laki terakhir adalah Wak Amin yang saya sudah panjang lebar cerita sebelumnya.

Empat anak perempuannya dimulai dengan Wak Ope dengan hmhmhm berapa anaknya? Entah. Hapal namanya pun tidak. Tapi yang saya ingat adalah Wak Ope punya anak yang saya panggil Mpok I'il. Mpok I'il kelak menjadi istri Pakde Ramelan--abang bapak yang paling tua. Mpok I'il dinikahi Pakde Ramelan setelah istri terdahulunya meninggal. Aneh bukan. Saya tetap memanggilnya Mpok I'il tinimbang Bude. Habis itu ada Enyak Fat. Harusnya saya memanggilnya Wak Fat. Tapi karena dia dianggap seperti ibu sendiri buat ibu saya, maka saya memanggilnya Enyak. Dia juga punya banyak anak. Tapi saya ingat anak-anaknya karena mereka semua tinggal di Kayumanis dan saya tumbuh bersama mereka juga. Habis itu ada Wak Ence dengan hmmmh berapa anaknya? Saya tak tahu. Namanya juga tidak. Yang jelas Wak Ence ditinggal mati suaminya dan tak pernah menikah lagi. Dia punya wajah yang sangat mirip dengan ibu.

Huah banyak sekali ceritanya. Itu baru satu. Kami kelak harus berkumpul mendata dan saling berkenalan kembali sebagai satu keluarga--Kong Doim. Hehehehe. Ini fondasi cerita yang bagus juga bukan?

Ada lagi cerita yang lain. Tapi saya begitu cape dengan tulisan ini.



Read more »

Wak Amin

Kemarin Uwak saya meninggal. Kami memanggilnya Wak Amin. Dia kakaknya ibu. Kami mengenangnya sebagai orang yang sederhana dan sangat pengasih. Baik hati. Tak cuma dia, tapi seluruh keluarganya. Karena itu saban kami sekeluarga "pulang kampung" ke Tegal Parang pada lebaran, rumah uwak ini yang menjadi sasaran kami untuk menjadi sasaran mendarat. Dari situ barulah kami muter-muter ke tempat kerabat yang lain.

Dan kemarin dia meninggal. Kalau dari cerita-cerita yang saya dengan kemarin, kematiannya sederhana. Masuk rumah sakit pada Minggu, meninggal Rabu. Ringkas bukan? Penyebab kematiannya menurut sasus itu adalah karena dia kena virus apalah itu akibat banjir yang melanda rumahnya beberapa hari lalu, dan itu berkelindan dengan ginjal dan lever dan jantung dan aneka penyakit yang sudah lama dia derita. Jadilah dia mati.

Dan pada peristiwa kematian adalah pintu sejuta kemungkinan dan cerita. Dan Wak Amin tak pernah sedemikian hidup seperti sekarang ini--ketika dia mati. Saya merangkum cerita dan mengorek ingatan tentang dia. Dan hasilnya adalah Wak Amin lelaki yang berbeda dari kebanyakan lelaki lain. Dia memelihara kucing dan tanaman. Tanamannya terawat dengan baik di halaman. Senang sekali saya melihat kesegaran demikian rupa di halaman yang tak terlalu lebar pulak.

Kak Mela mengingatkan saya bahwa dia adalah orang yang begitu cermat mempersiapkan aneka dodol, tahu, dan buah tangan untuk dibagi-bagi saat saudara-saudaranya berkunjung ke rumah. Semua dapat bagian. Dodol pula yang jadi kenangan kuat Kak Mela pada Wak Amin.

Kak Han mengingat dia sebagai bapak yang tak segan menyeterika pakaian, atau mengepel, atau memasak, dan membuat tape uli dengan tangannya sendiri. Sebuah pekerjaan yang diidentikkan dengan kaum perempuan. Dari Kak Han juga saya mendapat informasi bahwa Wak Amin adalah fotografer otodidak. Saya tak pernah tahu pada batas mana kualitas hasil jepretannya. Tapi foto besar di ruang tamu, sedikit mengungkap cita rasanya soal gambar. Dia bersama istrinya dengan setelah lengkap busana Barat. Dengan foto hitam putih yang sempurna pencahayaannya. Bagus buat saya.

Dan ini adalah cerita lainnya yang menarik seputar Wak Amin. Bahwa ada teman SMA-nya yang datang menjenguk. Kepada keluarganya, perempuan ini memohon agar bila Wak Amin sudah pulang dari rumah sakit, dia saja yang merawat. Kasihan katanya, Wak Amin tinggal sendiri. Istrinya, kami memanggilnya, Wak Mune sudah meninggal empat, atau lima tahun yang lalu. Dari cerita para tetua, teman SMA ini adalah bekas pacar Wak Amin. Entah karena apa, hubungan mereka kandas. Wak Amin seperti yang kami semua tahu menikah dengan Wak Mune. Menghasilkan Kak Iyah, Kak Iyan, Tati, dan Helmi. Yang belakangan itu sekarang pria dewasa sepantaran saya.

Entah kenapa saya begitu terharu dengan kisah ini. Saya segera menancapkan episode ini dalam kepala. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan novel saya kelak. Kisah ini buat saya memantik aneka adegan dan cerita spekulatif.


Read more »

Selasa, 11 Desember 2012

begitu

Hari ini ada bagitu banyak kelebatan di dalam kepala. Tapi ini adalah salah satunya yang mesti saya tangkap. Biar tak kemana-mana.

Bahwasanya saya selamanya tak berminat dengan gerombolan. Tapi saya saya juga tak begitu tahan lama dengan kesepian.

Read more »

Percakapan

Semalam itu percakapan yang rasanya tiada duanya nikmatnya. Saya berbicara dengan nada biasa, kepada anak saya. Berusia hampir lima tahun, sembari dia bermain game. Tapi saya tahu dia tak konsentrasi karena apa yang saya obrolkan kelewat berat buat dia tanggung.

Saya bertanya kepadanya: Bolehkah saya bekerja di Bandung, andai tawaran itu bersambut. Belum lagi saya beberkan konsekuensinya. Dia langsung bilang nggak boleh. Nggak usah diterima tawarannya. Tentu saja dia paham Bandung itu ada di mana. Dan ada jarak dan waktu yang akan menganga, jika betul-betul saya ada di Bandung, dia ada di Jakarta.

Saya berusaha kembali meyakinkan. Bandung itu dekat. Sabtu-Minggu saya akan tetap bersamanya. Dan iya. Itu tak sanggup dia tanggung--padahal dalam hati, air mata saya juga sudah merembes. "Bagaimana kalau aku kangen Dada." Ah saya juga tak kuat rasanya.

Tapi saya tetap mau tampil tangguh di depannya. Saya membujuk kembali. Bahwa dia kelak bisa mengunjungi saya. Pakai kereta--yang menjadi favoritnya. Itu pula tak mempan.

Akhirnya saya keluarkan pilihan terakhir. Bagaimana jika kalau cuma tiga hari dalam sepekan saja saya di Bandung. Dia tak langsung setuju. Saya keluarkan benefitnya: Ada banyak waktu buat saya dan dia. Jika Senin-Selasa-Rabu saya di Bandung, maka Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu saya akan bersama dia di Jakarta. Dan iya. Akhirnya dia setuju.

Pembicaraan ini rasanya akan selamanya membekas buat saya. Terlepas, apakah saya dipanggil bekerja di sana atau tidak. Kami berbicara seperti orang dewasa. Saya sepertinya siap memperlakukan dia seperti orang dewasa. Teman mengobrol. Dan semoga dia juga bisa menerima saya. Sampai akhir hayatnya kelak.

Read more »

Jumat, 07 Desember 2012

Perpisahan

Perpisahan itu kejam saudara-saudara. Percayalah. Tanyalah kepada sesiapa yang pernah merasakannya. Dia seperti mengiris kita. Dengan rasa apa pun, kecuali yang positif. Ada yang jengkel, marah, sedih, kecewa, pahit. Tapi tak pernah sekali pun: gembira.

Dan saya merasa sedih setakat ini, karena kehilangan teman saya. Itulah pengalaman pertama yang ditimbulkan dari sebuah perpisahan: Kehilangan dan kesedihan. Sesuatu sepertinya sudah ditarik dari hati. Ada yang bolong di sana. Selamanya tidak terganti--paling tidak itu yang saya rasakan sekarang ini--entah nanti.

Tapi ya sudah ini mesti berlalu. Air mata sudah tumpah. Dan beranjaklah kita pada pengalaman kedua yang rasanya tak kalah menyakitkan: bahwa kita akan lupa, dilupakan, melupakan. Sadar atau tidak, niat atau tidak. Perlahan kita sadar bahwa kehidupan itu berjalan. Dan waktu adalah pil lupa yang manjur. Kita lupa dengan teman kita itu.

Saya membayangkan saya yang pamitan sore ini. Tumpah segala duka. Tapi ya sudah. Antiklimaks. Setelah itu kehidupan dan pekerjaan kembali menyedot kita. Tak ada waktu buat bersedih lama-lama. Dan saya kemudian menyadari, betapa pun saya sedih karena kehilangan. Karena meninggalkan teman-teman. Saya tidak sepenting itu. Saya bukan John Lennon, Kurt Cobain, atau Lady Di yang kepergiannya diperingati dengan perkabungan yang panjang. Saya perlahan, ah mungkin tergesa, lenyap. Atau menjadi hambar saja.

Sakit bukan?

Ah perpisahan selamanya akan menimbulkan luka, duka, dupa, nestapa, lara, dan muram durja. Tapi itu tak selamanya. Cuma itu saja yang mesti saya ingat-ingat.

Ah saya, teringat kutipan film yang barusan saya tonton, "Everything will be all right in the end. If it isnt then it's not yet the end..." 

Jika begitu teman, maka saya ucapkan sampai jumpa. Kita berjumpa lagi kelak. 


Read more »

Kamis, 06 Desember 2012

Sendiri Lagi

Saya khawatir tangan saya karatan. Pikiran jadi kepo, gara-gara kelamaan nggak nulis. Dan saya menulis ini dalam pengaruh wine. Astaga, ini pukul setengah tiga. Dan saya sudah menenggak alkohol. Bajingan. Ada yang salah dengan saya.

Ah terlalu banyak yang salah dengan saya. Banyak betul. Perkaranya saya tak suka menengok ke belakang mungkin.

Ah kenapa rasanya mendadak mendung begini di hati. Mungkin karena saya mendengar terlalu banyak Radiohead. Jadi depresif.

Ah ada beberapa hal yang saya kepingin bagi di blog ini. Pertama saya kehilangan kawan. Ah nggak kehilangan juga. Kawan itu tetap ada di sana. Cuma terpisah lingkungan saja. Dia pergi ke Bandung. Mengejar mimpi lainnya, katanya. Dan saya sedih karenanya. Betul. Bukan karena si kawan ini sempurna buat saya. Justru tidak. Dia, dalam banyak hal terasa menyebalkan. Tapi toh berkawan bukan semata karena kebaikan orang bukan?

Dengannya sudah banyak peristiwa yang saya lalui. Bersama dalam proyek yang musykil atau menyedot energi luar biasa. Tapi semua terasa menyenangkan. Betul. Terasa menyenangkan. Dan mengingat itu terbitlah gundah saya. Itu mungkin yang saya rasakan.

Saya bukan teman terdekatnya, itu pasti. Tapi apa yang kami punya rasanya juga cukup kuat buat mengikat kami.

Dan saya mengutuk hati, kenapa berasa melankoli seperti ini. Tapi saya punya pikiran begini. Mungkin bukan karena kepergiannya saya pergi. Bukan karena faktor dia. Tapi faktor kedirian saya yang membuat saya sedih. Emosi yang saya rasakan completely dipicu dengan apa yang ada dalam diri saya sendiri. Saya takut sendiri! Saya tak pernah sendiri. Sejak dulu. Ini bisa saya ceritakan nanti.

Setelah ini, saya sendiri di kantor ini. Saya adalah orang terakhir dari delapan orang yang ditugaskan pertama-tama membangun radio ini. Iya saya sendirian. Dan saya takut sendirian. Dan rasanya itu yang akan kejadian. Meskipun takdir belum menutup segel dari aneka peristiwa yang membuat hidup saya berwarna. Saya akan kehilangan orang di kantor yang bisa diajak ngobrol. Diledekin. Tertawa bersama. Kubus itu akan sepi, sepertinya. Saya akan terperangkap sepi di kabin saya.







Read more »