ini adalah hal yang sudah berulangulang kali saya alami dalam setiap perjalanan. ah tak perlu dalam sebuah perjalanan. dalam rangka apa pun, menunggu ketemu teman di tempat baru, bertemu dengan klien di sebuah tempat. dalam proses menunggu mereka itulah sebuah fenomena yang bernama cengo muncul. tidak tahu mesti apa, kecuali bengong. atau melihat hp lekatlekat. mencoba fitur baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dioprakaprek. atau mendadak menjadi pembaca buku paling khusyuk di seluruh dunia.
saya? tergantung. saya bisa saja berubahubah. saya bisa jadi salah satu yang saya sebutkan tadi. atau, yang paling sering, saya akan jadi pembengong nomor satu alias cengo saja. tapi saya bukan tipikal cengo yang matanya cukup di satu arah saja. eh apa janganjangan semua orang begitu? saya tak tahulah kalau begitu. tapi saya tipikal orang yang suka melihat orangorang.
saya suka melihat orang. saya suka melihat orang yang sedang cengo saja. atau kalau tempatnya di bandar udara, seperti yang barusan saja alami, saya suka melihat interaksi mereka. seorang bapak agak tersedu hendak meninggalkan keluarganya. ada pasangan bule yang berciuman mesra. saya suka mereka karena begitu ekspresif.
saya suka memperhatikan pembicaraan mereka dan gaya bicara mereka dan apa yang mereka kenakan dan bagaimana raut muka mereka, ini yang paling saya suka. sembari merekonstruksi, apa yang sedang mereka pikirkan, bagaimana mereka berpikir, bagaimana selera mereka. sungguh proses yang sungguh subversif, tapi sungguh enak karena tidak ada yang bisa melarang pikiran. siapa yang bisa melarang pikiran? (maka sungguh bodoh orang, kelompok, negara, yang hendak memberangus paham komunis, islamis, apalah itu)
pada titik ini saya memandang cengo bukan lagi sebagai aktivitas membuang waktu yang siasia. dia menjadi aktivitas penajam otak. saya memperhitungkan cengo sebagai aktivitas menjaga otak, agar jangan terlalu lama beku. siapa tahu anda menemukan pikiran brilian dalam masamaca cengo ini. menemukan diri anda yang sungguh aduhai di masa yang tidak penting ini. siapa tahu cengo itu seperti berak. yang bagi banyak orang adalah waktu yang sangat inspiratif.
saya? tergantung. saya bisa saja berubahubah. saya bisa jadi salah satu yang saya sebutkan tadi. atau, yang paling sering, saya akan jadi pembengong nomor satu alias cengo saja. tapi saya bukan tipikal cengo yang matanya cukup di satu arah saja. eh apa janganjangan semua orang begitu? saya tak tahulah kalau begitu. tapi saya tipikal orang yang suka melihat orangorang.
saya suka melihat orang. saya suka melihat orang yang sedang cengo saja. atau kalau tempatnya di bandar udara, seperti yang barusan saja alami, saya suka melihat interaksi mereka. seorang bapak agak tersedu hendak meninggalkan keluarganya. ada pasangan bule yang berciuman mesra. saya suka mereka karena begitu ekspresif.
saya suka memperhatikan pembicaraan mereka dan gaya bicara mereka dan apa yang mereka kenakan dan bagaimana raut muka mereka, ini yang paling saya suka. sembari merekonstruksi, apa yang sedang mereka pikirkan, bagaimana mereka berpikir, bagaimana selera mereka. sungguh proses yang sungguh subversif, tapi sungguh enak karena tidak ada yang bisa melarang pikiran. siapa yang bisa melarang pikiran? (maka sungguh bodoh orang, kelompok, negara, yang hendak memberangus paham komunis, islamis, apalah itu)
pada titik ini saya memandang cengo bukan lagi sebagai aktivitas membuang waktu yang siasia. dia menjadi aktivitas penajam otak. saya memperhitungkan cengo sebagai aktivitas menjaga otak, agar jangan terlalu lama beku. siapa tahu anda menemukan pikiran brilian dalam masamaca cengo ini. menemukan diri anda yang sungguh aduhai di masa yang tidak penting ini. siapa tahu cengo itu seperti berak. yang bagi banyak orang adalah waktu yang sangat inspiratif.