Selasa, 13 Oktober 2009

cengo

ini adalah hal yang sudah berulangulang kali saya alami dalam setiap perjalanan. ah tak perlu dalam sebuah perjalanan. dalam rangka apa pun, menunggu ketemu teman di tempat baru, bertemu dengan klien di sebuah tempat. dalam proses menunggu mereka itulah sebuah fenomena yang bernama cengo muncul. tidak tahu mesti apa, kecuali bengong. atau melihat hp lekatlekat. mencoba fitur baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dioprakaprek. atau mendadak menjadi pembaca buku paling khusyuk di seluruh dunia.

saya? tergantung. saya bisa saja berubahubah. saya bisa jadi salah satu yang saya sebutkan tadi. atau, yang paling sering, saya akan jadi pembengong nomor satu alias cengo saja. tapi saya bukan tipikal cengo yang matanya cukup di satu arah saja. eh apa janganjangan semua orang begitu? saya tak tahulah kalau begitu. tapi saya tipikal orang yang suka melihat orangorang.

saya suka melihat orang. saya suka melihat orang yang sedang cengo saja. atau kalau tempatnya di bandar udara, seperti yang barusan saja alami, saya suka melihat interaksi mereka. seorang bapak agak tersedu hendak meninggalkan keluarganya. ada pasangan bule yang berciuman mesra. saya suka mereka karena begitu ekspresif.

saya suka memperhatikan pembicaraan mereka dan gaya bicara mereka dan apa yang mereka kenakan dan bagaimana raut muka mereka, ini yang paling saya suka. sembari merekonstruksi, apa yang sedang mereka pikirkan, bagaimana mereka berpikir, bagaimana selera mereka. sungguh proses yang sungguh subversif, tapi sungguh enak karena tidak ada yang bisa melarang pikiran. siapa yang bisa melarang pikiran? (maka sungguh bodoh orang, kelompok, negara, yang hendak memberangus paham komunis, islamis, apalah itu)

pada titik ini saya memandang cengo bukan lagi sebagai aktivitas membuang waktu yang siasia. dia menjadi aktivitas penajam otak. saya memperhitungkan cengo sebagai aktivitas menjaga otak, agar jangan terlalu lama beku. siapa tahu anda menemukan pikiran brilian dalam masamaca cengo ini. menemukan diri anda yang sungguh aduhai di masa yang tidak penting ini. siapa tahu cengo itu seperti berak. yang bagi banyak orang adalah waktu yang sangat inspiratif.

Read more »

Selasa, 06 Oktober 2009

ke makassar

saya masih bisa merasai asin di udara. saya benarbenar meresapi sinar angin dan matari pagi dan sore saban hari di tiga hari dua malam perjalanan saya menuju Makassar. menumpang kapal laut yang menurut saya luar biasa besar [di akhir perjalanan, saya baru tau ada kapal yang jauh lebih besar ketimbang yang saya tumpangi ini]

saya pikir pelajaran terpenting dari kapal laut adalah anda mesti bersabar. kapal ini, entah benar atau tidak, tapi saya pikir berjalan sangaaaaat lambat. mungkin karena air laut yang senantiasa bergerak. atau memang karena mesin penggenjot kapal yang kelewat uzur. sabar, dik, perjalanan masih jauh. di sepanjang perjalanan pun tak ada pemandangan yang bisa dinikmati. jadi... sabar lagi ya dik. tapi ini laut. permukaan terluas yang pernah tuhan ciptakan. beberapa orang mungkin menganggap laut adalah latar di mana momen eksistensial terjadi. inilah manusia menghadapi luat yang maha. tapi bagi saya, laut adalah laut. tempat saya bisa merasai asin di udara dan matari meresapkan sinarnya di kulit saya, lekatlekat, di tiap sore dan pagi, saban hari di tiga hari perjalanan saya.

saya akan melupakan saja detail cerita sentimentil apa yang terjadi di kapal. oke saya bertemu dengan ragam orang dari timur Indonesia yang selama ini jarang saya temui di jakarta. saya menikmati betul ragam dialek Indonesia yang luar biasa kaya. menikmati menu serba ikan, yang membuat saya muak. saya bertambah muak begitu tau sisa makanan dan sampah lainnya digelontorkan begitu saja ke luar badan kapal. biarlah saya pikir. toh itu jadi makanan ikan dan organisma lainnya di dalam lautan sana.

saya tak ingat persis ngobrol dengan siapa, tapi saya ingat kutipannya: kalau mau lihat bagaimana pemerintah memperlakukan rakyatnya, lihatlah kapal ini. serba sumpek, overloaded, menu makan seadanya, sekoci seadanya, pelampung seadanya. konyolnya saya adalah penumpang gelap. saya diberikan tiket, tanpa nomor. itu artinya saya mesti siap menggelandang dari satu sudut ke sudut lain kapal ini. menggelar jaket atau selimut yang kami punya sebagai alas tidur. ya itu juga termasuk menikmati hembusan angin yang kelewat kencang dan tampias hujan yang tidak kami hendaki.

tapi ke Makassar lebih dari kapal. saya berkenalan dengan manusianya. saya bertemu orang bugis dan makassar, untuk sebab yang samar, dan saya sedikit sekali pengetahuannya, dua entitas ini menolak untuk disamakan. ada gengsi (atau dosa) dan salah paham sejarah yang tak kunjung selesai sampai sekarang, peninggalan zaman hasanuddin dulu. bukankah itu jadi semacam bukti, bahwa sejarah mesti telanjang dulu, mesti dibicarakan secara terbuka. bukan disembunyikan atau bahkan dibengkokkan. halo orde baru dan pki.

tapi sudahlah. saya tidak mau masuk dan tidak begitu peduli dengan perselisihan itu. bagian itu, cukuplah. tapi yang penting, saya mendapatkan masukan baru: ada budaya baru selain jawa. yang mungkin lebih digdaya. ada karaeng pattingaloang si cendekia. atau budaya ekspansif bugis yang mengkoloni bahkan menjadi tuan rumah di negeri orang. wawan, teman saya yang menjamu sedemikian dahsyat, bilang: silakan cari jejak orang bugis di banten, di ujung jakarta, di melayu. oh ini sensasional: orang bugis mengintrusi istana dan menjadi bagian integral dari sejarah melayu yang kesohor itu.

saya masih terkesan dengan perjalanan itu. saya masih bisa membaui asin di udara dan sinar matari yang lekat di kulit, yang saya rasakan saban pagi dan sore hari, di tiga hari perjalanan saya ke makassar

Read more »

tak kuat

oke sebelumnya saya sudah pernah terpisah dari senja. selama sepekan. tapi itu rasanya ga seberapa. saya yakin saja saya tidak terpisah. entah kenapa. mungkin karena saya masih kuasa menelepon. masih kuasa mengerutkan jarak bandung dan jakarta begitu saja. saya tak pernah merasa terpisah belaka.

tapi ini kali lain. saya sudah sedih duluan sebelum perjalanan bahkan dimulai. saya tak kuasa berpisah dengan muka polos sedemikian itu. saya rasa akan mendung melihat mukanya di bandara. karena itu saya tidak mau dia ada saat kami berpisah.

saya merasa sebagian hati tercabik bila berpisah sebegitu lama.

sampai sekarang saya tidak tahu harus dalam moda seperti apa kami berpisah.

saya sedemikian cinta

Read more »

mempersiapkan perjalan

saya rasa dia dan saya jadi sangat berbeda. dia adalah orang yang sangat terencana. semua harus diketahui terlebih dahulu. ada perencanaan dan perincian yang tegas. ga sekadar membayangkan akan terjadi dan membutuhkan apa di perjalanan, tapi mencatatkan dan melengkapi daftar pelengkap yang diperlukan untuk kelancaran perjalanan.

sementara saya? saya tipe orang yang tak jelas-excited-tapi juga tak cergas bergerak. saya rasa 60 persen dari saya adalah improvisasi-sok-takjelas. tapi begitulah. tak ada yang bisa mendefinisikan.

untuk perjalanan kali ini juga demikian. saya yang mestinya sangat sibuk mempersiapkan apa yang harus saya lengkapi untuk perjalanan. tentu saya lengkapi, dengan kadar keriangan tipis saja. mungkin bisa dibilang persiapan yang standar saja. sementara dia yang sibuk riset, bagaimana menggunakan alat elektronik, bagaimana bisa menelepon, pakai koper jenis apa, apa yang sebaiknya saya kunjungi. oh tuhan, terima kasih untuk dia.

Read more »