saya masih bisa merasai asin di udara. saya benarbenar meresapi sinar angin dan matari pagi dan sore saban hari di tiga hari dua malam perjalanan saya menuju Makassar. menumpang kapal laut yang menurut saya luar biasa besar [di akhir perjalanan, saya baru tau ada kapal yang jauh lebih besar ketimbang yang saya tumpangi ini]
saya pikir pelajaran terpenting dari kapal laut adalah anda mesti bersabar. kapal ini, entah benar atau tidak, tapi saya pikir berjalan sangaaaaat lambat. mungkin karena air laut yang senantiasa bergerak. atau memang karena mesin penggenjot kapal yang kelewat uzur. sabar, dik, perjalanan masih jauh. di sepanjang perjalanan pun tak ada pemandangan yang bisa dinikmati. jadi... sabar lagi ya dik. tapi ini laut. permukaan terluas yang pernah tuhan ciptakan. beberapa orang mungkin menganggap laut adalah latar di mana momen eksistensial terjadi. inilah manusia menghadapi luat yang maha. tapi bagi saya, laut adalah laut. tempat saya bisa merasai asin di udara dan matari meresapkan sinarnya di kulit saya, lekatlekat, di tiap sore dan pagi, saban hari di tiga hari perjalanan saya.
saya akan melupakan saja detail cerita sentimentil apa yang terjadi di kapal. oke saya bertemu dengan ragam orang dari timur Indonesia yang selama ini jarang saya temui di jakarta. saya menikmati betul ragam dialek Indonesia yang luar biasa kaya. menikmati menu serba ikan, yang membuat saya muak. saya bertambah muak begitu tau sisa makanan dan sampah lainnya digelontorkan begitu saja ke luar badan kapal. biarlah saya pikir. toh itu jadi makanan ikan dan organisma lainnya di dalam lautan sana.
saya tak ingat persis ngobrol dengan siapa, tapi saya ingat kutipannya: kalau mau lihat bagaimana pemerintah memperlakukan rakyatnya, lihatlah kapal ini. serba sumpek, overloaded, menu makan seadanya, sekoci seadanya, pelampung seadanya. konyolnya saya adalah penumpang gelap. saya diberikan tiket, tanpa nomor. itu artinya saya mesti siap menggelandang dari satu sudut ke sudut lain kapal ini. menggelar jaket atau selimut yang kami punya sebagai alas tidur. ya itu juga termasuk menikmati hembusan angin yang kelewat kencang dan tampias hujan yang tidak kami hendaki.
tapi ke Makassar lebih dari kapal. saya berkenalan dengan manusianya. saya bertemu orang bugis dan makassar, untuk sebab yang samar, dan saya sedikit sekali pengetahuannya, dua entitas ini menolak untuk disamakan. ada gengsi (atau dosa) dan salah paham sejarah yang tak kunjung selesai sampai sekarang, peninggalan zaman hasanuddin dulu. bukankah itu jadi semacam bukti, bahwa sejarah mesti telanjang dulu, mesti dibicarakan secara terbuka. bukan disembunyikan atau bahkan dibengkokkan. halo orde baru dan pki.
tapi sudahlah. saya tidak mau masuk dan tidak begitu peduli dengan perselisihan itu. bagian itu, cukuplah. tapi yang penting, saya mendapatkan masukan baru: ada budaya baru selain jawa. yang mungkin lebih digdaya. ada karaeng pattingaloang si cendekia. atau budaya ekspansif bugis yang mengkoloni bahkan menjadi tuan rumah di negeri orang. wawan, teman saya yang menjamu sedemikian dahsyat, bilang: silakan cari jejak orang bugis di banten, di ujung jakarta, di melayu. oh ini sensasional: orang bugis mengintrusi istana dan menjadi bagian integral dari sejarah melayu yang kesohor itu.
saya masih terkesan dengan perjalanan itu. saya masih bisa membaui asin di udara dan sinar matari yang lekat di kulit, yang saya rasakan saban pagi dan sore hari, di tiga hari perjalanan saya ke makassar
0 komentar:
Posting Komentar