akhirnya saya punya tato. sudah lama betul saya kepingin punya tato. tapi niat tinggal niat saja. tak kunjung terealisasi, karena saya sendiri malas ikhtiar. bergantung pada teman semata. sampai akhirnya teman menghadirkan temannya, yang adalah petato profesional di kantor. well, kali ini nggak ada alasan lagi. sip. maka jadilah itu tato.
jauh sebelumnya, saya sudah tahu apa yang mesti saya rajahkan ke badan. saya punya kandidat sebagai berikut: musik, love, mantra, dan inkonsistensi. yang terakhir ini bahkan sudah dibikinkan desain fontnya. dibikin, lagi-lagi oleh temannya teman. belakangan kata terakhir ini pula yang saya mantapkan. saya ingin kata itu di tubuh saya.

bukan tanpa alasan. tapi karena kejadian-kejadian. di sekitar saya. yang rasanya meneguhkan pilihan itu. saya menyaksikan betapa manusia begitu tidak konsistennya. di suatu saat pernah sangat benci pada orang ini. tapi saat ini pujapuji dilontarkan begitu saja. ah, mungkin orang itu juga saya.
ah saya mengalami badai hebat juga belakangan. badai yang hebat, sekali lagi. yang akhirnya juga tersangkut pada diksi itu: inkonsisten. pada hal apa pun!
nah setelah memantapkan pilihan, maka tiba saatnya untuk memilih bagaimana bentuk tato. apakah saya memakai anagram yang sudah dibuatkan temannya teman itu? atau saya memakai bentuk yang sama sekali baru?
saya tidak sreg dengan anagram itu. entah kenapa. memang tampaknya keren. bisa terbaca kata yang sama persis dibaca dari sudut mana pun. dia seperti lazimnya tato-tato yang lain.
tapi saya bosan dengan simetri. dia tidak selaras dengan falsafah saya. saya juga tak mau seperti orang kebanyakan yang sudah dan mudah bisa digolongkan jenis tatonya. saya ingin sederhana, tapi kuat sekaligus. berhubung tingkat keterampilan desain saya cekak, maka saya carilah font paku yang ada di Internet. saya kok merasa jenis huruf ini sangat kuat. kasar, tidak proporsional, chaos, tapi indah sekaligus. jadilah setelah mencari-cari ketemu jenis huruf yang mendekati keinginan saya. dan akhirnya inilah dia.

tato bukan perkara mudah buat saya. saya terlahir dari keluarga muslim. meski tak taat, tapi sangat menjauhi perkara yang celaka. termasuk di antaranya tato. nah, entah apa yang ada dalam pikiran keluarga, ibu utamanya, melihat tato ini. saya dalam ambang: tak begitu peduli. ini tubuh saya. perihal apakah saya masih diperbolehkan ibadah dengan atau tidak adanya tato ini: peduli setan!
saya rasa itu alasan yang terberat buat saya, ketika hendak membuat tato.
tapi sudahlah. saya bangga dengan tato ini. dia seperti blog ini. pribadi dan publik sekaligus. dilakukan untuk kesenangan saya tapi dengan ekspose ke publik yang begitu terbuka.
ya sudah
jauh sebelumnya, saya sudah tahu apa yang mesti saya rajahkan ke badan. saya punya kandidat sebagai berikut: musik, love, mantra, dan inkonsistensi. yang terakhir ini bahkan sudah dibikinkan desain fontnya. dibikin, lagi-lagi oleh temannya teman. belakangan kata terakhir ini pula yang saya mantapkan. saya ingin kata itu di tubuh saya.

bukan tanpa alasan. tapi karena kejadian-kejadian. di sekitar saya. yang rasanya meneguhkan pilihan itu. saya menyaksikan betapa manusia begitu tidak konsistennya. di suatu saat pernah sangat benci pada orang ini. tapi saat ini pujapuji dilontarkan begitu saja. ah, mungkin orang itu juga saya.
ah saya mengalami badai hebat juga belakangan. badai yang hebat, sekali lagi. yang akhirnya juga tersangkut pada diksi itu: inkonsisten. pada hal apa pun!
nah setelah memantapkan pilihan, maka tiba saatnya untuk memilih bagaimana bentuk tato. apakah saya memakai anagram yang sudah dibuatkan temannya teman itu? atau saya memakai bentuk yang sama sekali baru?
saya tidak sreg dengan anagram itu. entah kenapa. memang tampaknya keren. bisa terbaca kata yang sama persis dibaca dari sudut mana pun. dia seperti lazimnya tato-tato yang lain.
tapi saya bosan dengan simetri. dia tidak selaras dengan falsafah saya. saya juga tak mau seperti orang kebanyakan yang sudah dan mudah bisa digolongkan jenis tatonya. saya ingin sederhana, tapi kuat sekaligus. berhubung tingkat keterampilan desain saya cekak, maka saya carilah font paku yang ada di Internet. saya kok merasa jenis huruf ini sangat kuat. kasar, tidak proporsional, chaos, tapi indah sekaligus. jadilah setelah mencari-cari ketemu jenis huruf yang mendekati keinginan saya. dan akhirnya inilah dia.

tato bukan perkara mudah buat saya. saya terlahir dari keluarga muslim. meski tak taat, tapi sangat menjauhi perkara yang celaka. termasuk di antaranya tato. nah, entah apa yang ada dalam pikiran keluarga, ibu utamanya, melihat tato ini. saya dalam ambang: tak begitu peduli. ini tubuh saya. perihal apakah saya masih diperbolehkan ibadah dengan atau tidak adanya tato ini: peduli setan!
saya rasa itu alasan yang terberat buat saya, ketika hendak membuat tato.
tapi sudahlah. saya bangga dengan tato ini. dia seperti blog ini. pribadi dan publik sekaligus. dilakukan untuk kesenangan saya tapi dengan ekspose ke publik yang begitu terbuka.
ya sudah