Kalau ditanya apa momen terbaik saya setakat ini? Tanpa ragu saya akan menjawab: ketika menjadi bapak. Sepertinya seluruh hidup saya selama ini, makanan, buku, musik, film yang saya tonton, semuanya dipersiapkan untuk mengantarkan saya pada fase ini: menjadi bapak.
Jauhjauh hari, jauh sebelum meletakkan tangan saya dan berjanji pada pasangan, saya sudah berjanji akan menjadi the coolest dad for my kid. Saya akan nonton konser bersama, jalan bersama, ngomong soal cewek dan seks bersama. Saya akan berbagi selera musik dan film saya jika dia suka. Saya akan mengantarkan dia ke rak favorit saya di toko buku. Pun jika dia ingin.
Bila dia dewasa kelak, kami akan minum bersama. Dan ngobrol seperti dua teman selayaknya. Kalau dia mau, dia bisa mendengarkan cerita saya, dan sebaliknya.
Menjadi bapak itu ajaib saudarasaudara. Seperti sebelumnya, rasanya baru kemarin, saya menghabiskan waktu sebagai kanakkanak. Tapi sekarang saya mesti dewasa buat anak saya. Dan saya berjanji lagi untuk menjadi bapak yang terbaik buat anak saya.
Tidak akan sekalipun meletakkan tangan, apalagi gesper di tubuhnya dengan alasan apa pun. Saya tak percaya pada kekerasan. Tapi sebaliknya saya akan kokoh bergeming manakala dia tak masuk akal. Kami berantem saja dengan hebat. Tapi jangan harap saya akan mengalah apalagi kalah. Meskipun menang sama sekali bukan tujuan.
Menjadi bapak itu magis. Setara tuhan mungkin. Dari mani dan sel telur yang bertemu di saat senggama yang, mungkin tak seberapa, maka jadilah dia, kamu!
***
Tapi itu sematamata idealnya saudaraku. Dia tidak selamanya begitu. Tidak indah selamanya. Saya suka tertidur dan tak bisa menahan kantuk. Juga bosan. Energi saya tidak lagi semuda dulu. Ritme saya melambat. Sementara itu ego saya terus berkembang. Berkurang di beberapa departemen, tapi membengkak di seksi lainnya. Sementara si anak kepingin bermain. Terusmenerus. Ituitu saja. Tidak mengenal toleransi, dst.
Dan dwarr.
Kami bertengkar seperti besok dan selamanya tidak akan membutuhkan satu sama lain.
Dan itu menjadikan saya bapak yang tidak baik untuk sementara waktu. Dan dia? tidak ada anak yang tidak baik. Semuanya baik.
***
Having a children is really like having a tattoo on your forehead? Yeah, right... Dia akan menempel kemanamana. Tapi saya agak sinis dengan kalimat ini. Sepertinya kok ya punya anak itu berarti aib yang mesti ditutupi. Atau status yang membawa konflik dalam hubungan si penyandang status dengan orang lain. Tak tepat.
Sebaliknya, having a children is really about battle, a neverending one, with yourself. Having a children means your life, being sucked to dry. So it is not fun mate. Really. You cannot pretend being a mom or dad. And you cannot be a part-time mom or dad. Shit, no you cannot. This I can assure you!
But please dont misjudges me. I'am not cursing myself for being a dad now. No I'm not. Not a single atomic bit.
***
Tapi saya paling tak tahan dengan kesepian. Bisa mati dibuat kesendirian. Dan ini yang paling sering saya rasakan pada masa bujangan dulu. Karena itu kita berteman dengan banyak orang untuk mengisi cawan kosong kita. Tapi bahkan kawan dan teman juga punya kesibukan masingmasing. Karena itulah hidup bukan?
Nah karena itu....
BERSAMBUNG
0 komentar:
Posting Komentar