Tapi buat saya, tahun baru sepertinya sama dengan malammalam sebelumnya. Saya demam. Kepala saya cenut-cenut. Dan itu membuat malam tadi jadi semakin tak istimewa. Saya tidur. Setelah mengobrol seperti biasa, setelah terkikik dengan komedi di TV.
Andai pun tak sakit, rasanya tahun baru akan berlalu biasa-biasa saja. Sampai pagi ini. Saya mendapat ucapan selamat tahun dari istri saya. Dan bukankah tahun baru bisa dirayakan, sepurba atau sesederhana apa pun? Ah saya telat.
Mudah-mudahan tahun depan saya ingat untuk merayakan tahun baru. Saya tak perlu gengsi untuk masuk dan ikut dalam arus besar kebudayaan merayakan tahun baru. Dan yang hampir pasti, saya tidak akan masuk ke dalam barisan nyinyir itu.
0 komentar:
Posting Komentar