Sekolahnya anak saya ini mulai menyebalkan. Tapi saya tak punya pilihan.
Jadi ceritanya begini, lagi asyik-asyik berdua di kamar tidur, kami memang sering ngobrol. Dan kebanyakan memang saya yang harus banyak mengorek keterangan dari anak. Mengingat dia biasanya langsung omong, "biasa aja," kalau ditanya soal sekolahnya.
Nah malam kemarin sempet obrol-obrol. Saya kembali menanyakan niat kami untuk memelihara anjing. Dan meletuslah ucapannya. "Kata Bu Guru, aku nggak boleh melihara anjing," Ah kagetlah. Meski saya mestinya tak langsung menjatuhkan hukuman. Karena konteks kalimat itu boleh bisa mengubah apa yang saya pikirkan. Jadi memang harus diklarifikasi.
Tapi begini, saya percaya anak saya tidak bohong soal ini. Saya membayangkan dia pasti ditanya, "Senja mau pelihara apa?" dan jawabnya adalah dia mau memelihara anjing. Dan si ibu guru membalas dengan memelihara anjing itu tidak boleh. Saya khawatir dia bilang begitu, karena Senja adalah muslim. Dan karena itu tidak boleh memelihara anjing.
Ada dua hal yang saya tidak suka. Yang pertama adalah si guru langsung bilang "nggak" boleh untuk memelihara anjing. Buat saya itu sama saja merepresi pendapat si anak. Bagaimana pun hal itu tidak baik. Yang kedua saya tidak mendapatkan alasan yang jelas mengapa Senja dilarang memelihara anjing. Apakah karena statusnya sebagai muslim atau karena memelihara binatang itu punya konsekuensi yang berat?
Kalau memang alasannya sebagai muslim, saya terpaksa untuk tidak sependapat. Secara fiqih bisa kita berdebat soal itu. Saya menganut pendapat yang membolehkan anjing dalam rumah tangga muslim. Saya mungkin agak setuju kalau memang memelihara anjing mungkin bisa dikatakan berat! Memelihara anjing adalah komitmen. Dan tidak bisa dilepas begitu saja. Jangankan anak kecil, orang dewasa saja berat melakukan itu--kecuali mereka yang tidak bertanggung jawab.
Nah kalau argumen yang kedua yang dipakai pun, rasanya itu kurang tepat. Bagaimana pun nggak bolehlah anak-anak langsung dibilangin nggak boleh ini nggak boleh itu. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Tugas guru mendidik. Bukan untuk melarang ini atau itu.
Saya menduga alasan pertamalah yang lebih kuat. Ini berdasarkan pengalaman kami selama ini, bahwa ada kecenderungan sekolah bernuansa nasional ini bergeser arahnya ke kanan.Ini terlihat dari kebijakan pakai busana muslim tiap Jumat buat guru dan murid-muridnya. Dan Senja selalu kami pakaikan pakaian biasa, sebagai tanda kami tak suka kebijakan itu. Yang kedua, untuk ukuran TK B sudah banyak praktik agama yang diajarkan. Misalkan doa-doa, praktik wudhu dan salat, dll. Buat saya keterampilan seperti itu rasanya tak perlu untuk dikejar untuk diajarkan di usia dini.
Yang penting buat kami itu mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Berbuat baik sesama manusia. Tidak korupsi dan curang, dst. Nilai-nilai universal seperti itu yang butuh untuk terus ditanam. Bukan hapalan-hapalan.
Senin mendatang rencananya akan ada kunjungan anak-anak sekolah ini ke rumah kami. Pada saat itu indah rasanya menunjukkan bahwa punya anjing di keluarga muslim itu tak apa. Sayangnya kami belum punya.
Read more »