Jumat, 11 November 2011

Lesson from the office #4

Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.

Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.

Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.

Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.

Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.

Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?

Lantas apa kartu mati ini tidak bisa dibalik jadi kartu baik? Saya percaya bisa. Saya menyaksikan beberapa teman saya, yang dahulunya ignoran sekarang begitu bersemangat. Saya menyaksikan seorang teman yang begitu diberi kepercayaan sedikit langsung berkembang dengan pesat. Mengalami progres luar biasa. Dan termasuk apa yang terjadi pada saya sendiri. Kartu mati bisa dibalik.

Tapi hari ini saya begitu pesimistis kartu mati yang satu ini bisa diubah. Saya sebal betul dengan kartu mati ini.

Read more »

Lesson from the office #4

Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.

Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.

Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.

Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.

Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.

Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?

Dan hari ini saya sebal betul dengan kartu mati ini.

Read more »

Kamis, 10 November 2011

He's just loosing his touch

Dari dulu saya percaya bahwa manusia selamanya tidak sempurna. Dia akan selamanya tidak sempurna atau mati ketika berusaha untuk sempurna. Atau dia kehilangan kemanusiaannya ketika mau jadi sempurna. Dan para nabi itu adalah contoh baiknya. Atau para syekh pemberang itu. Yang hilang kemanusiaannya.

Dan karena itu saya menolak, selamanya, patron atau budaya patriarki atau idolaisasi atau heroisme atau apa pun itu. Yang menganggap seorang manusia selalu keren adanya. Dan pagi ini saya kembali diingatkan prinsip itu.

Saya diingatkan dan mengingatkan kembali kesadaran saya bahwa manusia bisa sangat mengecewakan. Apalagi jika kita memakai paradigma heroisme atau budaya patron itu. Sakit hati. Manusia yang dulunya diceritakan begitu herois, visioner, dst bisa saja kehilangan sentuhannya. Dia jadi lalai, abai, nirempati,dll. Dia bisa saja menjadi orang yang sangat kita benci karena ketidakprofesionalannya atau karena pelanggaran prinsip yang sangat serius.

Saya kecewa berkali-kali dengan bos saya ini. Karena beberapa pelanggaran yang menurut saya serius adanya. Tapi untungnya saya tak pernah benar-benar kecewa. Apalagi sakit hati. Karena saya meyakini prinsip saya di atas: bahwa manusia selamanya nggak sempurna. Dan wajar kalau dia salah. Dan wajar pula kalau dia kehilangan sentuhannya.

Saya cuma kecewa sedikit saja. Lantas tersenyum. Merayakan derajat kesadaran saya yang semakin awas. Dan penurunan integritasnya. Ah rasanya tidak sopan merayakan turunnya integritas orang bukan? Tidak. Saya nggak jadi merayakan kalau begitu.

Saran saya kepada orang ini adalah tobat saja. Buka telinga lebar-lebar bahwa ide brilian dan mimpi-mimpi, bersamaan dengan ikhtiar berjamaah, bisa datang dari orang-orang sekitarnya. Menjadi ignoran, padahal di pundaknya terletak nasib orang, sungguh bukan pilihan yang tepat. Sangat tidak bertanggung jawab.

Read more »