Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.
Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.
Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.
Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.
Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.
Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?
Dan hari ini saya sebal betul dengan kartu mati ini.
0 komentar:
Posting Komentar