Sudah ada titik terang sebenarnya, meski sedikit, untuk nasib saya. Teman-bos saya sudah memberikan skema yang menurut saya di luar ekspektasi saya. Saya "cuma" meluangkan waktu 3 jam dalam sehari.
plus ada beberapa proyek yang menyita lebih besar waktu, tapi itu pun tak sering-sering amat, sebegai rancangan pekerjaan masa depan saya.
Satu slot pendapatan sudah saya dapatkan. Minimal 40% dari pendapatan sekarang. Itu buat saya melegakan. Karena saya tinggal melangkah setengah lagi. Dan itu sangat cocok dengan rancangan yang ada di kepala. Saya kepingin menggarap naskah saya lebih serius. Kalau benar-benar perhitungan saya, dan saya dianugerahi energi dan konsistensi, hasil menulis ini cukup menjanjikan. Syaratnya cuma dua: konsisten dan berenergi tadi. Yang lain, tanpa bermaksud melebihkan diri sendiri, rasanya saya punya. Saya bisa menulis, saya suka berkhayal. Saya punya pengetahuan, dst.
Tapi masalahnya itu pendapatan dari buku tidak instan. Berbelit-belit. Dan basis pendapatannya pun tidak ajeg, per bulan misalkan. Jadi saya harus tetap mencari pendapatan lain. Otherwise keluarga kami tidak survive. Terlalu banyak pengeluaran ketimbang pendapatan. Sesederhana itu. Bukan karena saya berpenghasilan lebih kecil daripada istri. Saya tak pernah terlintas soal ketakutan itu. Jadi kesimpulannnya, saya mesti punya pekerjaan reguler. Tidak ideal memang. Tapi ada banyak kesakitan dan hal lain yang tidak kita suka, tapi mesti kita telan. Ya sudah telan saja. Urusan sakit jiwa belakangan.
Idealnya, menurut lintasan kepala saya saat ini, bukan nanti, dan nanti mungkin akan berubah lagi, saya mengerjakan pekerjaan "freelance" yang dirancang teman-bos saya itu. Saya bisa menemani Senja lebih banyak, dan saya bisa berkhayal semampu saya: menulis. Sambil berkhayal di layer ketiga--kok saya ingat film inception--tentang kedai teh saya. Tempat saya melayani orang-orang dengan hati saya.
plus ada beberapa proyek yang menyita lebih besar waktu, tapi itu pun tak sering-sering amat, sebegai rancangan pekerjaan masa depan saya.
Satu slot pendapatan sudah saya dapatkan. Minimal 40% dari pendapatan sekarang. Itu buat saya melegakan. Karena saya tinggal melangkah setengah lagi. Dan itu sangat cocok dengan rancangan yang ada di kepala. Saya kepingin menggarap naskah saya lebih serius. Kalau benar-benar perhitungan saya, dan saya dianugerahi energi dan konsistensi, hasil menulis ini cukup menjanjikan. Syaratnya cuma dua: konsisten dan berenergi tadi. Yang lain, tanpa bermaksud melebihkan diri sendiri, rasanya saya punya. Saya bisa menulis, saya suka berkhayal. Saya punya pengetahuan, dst.
Tapi masalahnya itu pendapatan dari buku tidak instan. Berbelit-belit. Dan basis pendapatannya pun tidak ajeg, per bulan misalkan. Jadi saya harus tetap mencari pendapatan lain. Otherwise keluarga kami tidak survive. Terlalu banyak pengeluaran ketimbang pendapatan. Sesederhana itu. Bukan karena saya berpenghasilan lebih kecil daripada istri. Saya tak pernah terlintas soal ketakutan itu. Jadi kesimpulannnya, saya mesti punya pekerjaan reguler. Tidak ideal memang. Tapi ada banyak kesakitan dan hal lain yang tidak kita suka, tapi mesti kita telan. Ya sudah telan saja. Urusan sakit jiwa belakangan.
Idealnya, menurut lintasan kepala saya saat ini, bukan nanti, dan nanti mungkin akan berubah lagi, saya mengerjakan pekerjaan "freelance" yang dirancang teman-bos saya itu. Saya bisa menemani Senja lebih banyak, dan saya bisa berkhayal semampu saya: menulis. Sambil berkhayal di layer ketiga--kok saya ingat film inception--tentang kedai teh saya. Tempat saya melayani orang-orang dengan hati saya.