Selasa, 23 April 2013

Secercah Cahaya?

Sudah ada titik terang sebenarnya, meski sedikit, untuk nasib saya. Teman-bos saya sudah memberikan skema yang menurut saya di luar ekspektasi saya. Saya "cuma" meluangkan waktu 3 jam dalam sehari.
plus ada beberapa proyek yang menyita lebih besar waktu, tapi itu pun tak sering-sering amat, sebegai rancangan pekerjaan masa depan saya.

Satu slot pendapatan sudah saya dapatkan. Minimal 40% dari pendapatan sekarang. Itu buat saya melegakan. Karena saya tinggal melangkah setengah lagi. Dan itu sangat cocok dengan rancangan yang ada di kepala. Saya kepingin menggarap naskah saya lebih serius. Kalau benar-benar perhitungan saya, dan saya dianugerahi energi dan konsistensi, hasil menulis ini cukup menjanjikan. Syaratnya cuma dua: konsisten dan berenergi tadi. Yang lain, tanpa bermaksud melebihkan diri sendiri, rasanya saya punya. Saya bisa menulis, saya suka berkhayal. Saya punya pengetahuan, dst.

Tapi masalahnya itu pendapatan dari buku tidak instan. Berbelit-belit. Dan basis pendapatannya pun tidak ajeg, per bulan misalkan. Jadi saya harus tetap mencari pendapatan lain. Otherwise keluarga kami tidak survive. Terlalu banyak pengeluaran ketimbang pendapatan. Sesederhana itu. Bukan karena saya berpenghasilan lebih kecil daripada istri. Saya tak pernah terlintas soal ketakutan itu. Jadi kesimpulannnya, saya mesti punya pekerjaan reguler. Tidak ideal memang. Tapi ada banyak kesakitan dan hal lain yang tidak kita suka, tapi mesti kita telan. Ya sudah telan saja. Urusan sakit jiwa belakangan.

Idealnya, menurut lintasan kepala saya saat ini, bukan nanti, dan nanti mungkin akan berubah lagi, saya mengerjakan pekerjaan "freelance" yang dirancang teman-bos saya itu. Saya bisa menemani Senja lebih banyak, dan saya bisa berkhayal semampu saya: menulis. Sambil berkhayal di layer ketiga--kok saya ingat film inception--tentang kedai teh saya. Tempat saya melayani orang-orang dengan hati saya.


Read more »

Minggu, 21 April 2013

Kritis

Sekarang saya sedang berusaha membulatkan tekad dan keyakinan, bahwa saya akan kembali lagi ke Jakarta pada tengah bulan depan. Semuanya seperti ketemu pada bulan ini. Saya tak lagi kuat berjauhan dengan Senja. Pekerjaan, bukannya saya benci, tapi juga tak bisa saya nikmati dan semakin banyak. Dan akhirnya pihak penyewa jasa saya--yang ada di luar negeri sana--memutuskan saya tak bisa berlanjut. Jadi pas toh? 

Saya sebenarnya tak gentar kehilangan pekerjaan ini. Cuma saja saya terus terang butuh uangnya. Saya tak masih punya banyak cicilan dan tanggungan. Masih menyumbang untuk kehidupan keluarga ibu saya. Dan itu terus terang membuat saya gentar sekali. Tapi saya harus menghadapi situasi tak enak ini. 

Jadi sepanjang pekan kemarin, saya sibuk mengontak teman dan kawan. Mencari lowongan kembali dan mengirimkan lamaran. Situasi yang sungguh tak enak untuk dilakoni. Tapi semua jumawa dan gengsi mesti saya telan. 

Ada satu lagi peluang yang sekarang benar-benar saya harus tekuni. Saya harus berkeras melawan kemalasan saya. Saya kepingin membuat naskah buku anak. Beberapa draf sudah saya bikin. Dan saya berharap saya bisa membuat paling sedikit sepuluh naskah dalam waktu sebulan ini. Dan mendapatkan kontrak penerbit. Untuk ini rasanya saya tak kurang teman. Saya yakin mereka bisa membantu saya. Dan kuncinya benar-benar di saya. Jika saya baik dalam membuat naskah, maka mereka pasti bisa membantu saya. Tapi kalau saya buruk, maka sudah pasti mereka takkan bisa memoles saya. 

Ah, mudah-mudahan ada jalan.

Read more »

Senin, 15 April 2013

Breakdown Jilid Kesekian


Ini adalah kali kesekian saya merasakan breakdown. Atau apapun yang kau mau bilang. Poinnya, saya seperti laptop dengan ram 512. Tapi saya diberi task ekstra banyak yang memerlukan prosesor lebih tinggi daripada itu. Hasilnya yang tadi.

Jadi begitulah. Ini juga yang saya rasakan sekarang. Awalnya saya sudah gentar duluan. Sebab, Senja sudah kadung tidak menerima pada awalnya. Sebab Senja sepertinya tak bisa seluruhnya pasrah. Dan sebab juga saya tidak bisa menikmati perpisahan ini. Saya nyaris tak berenergi di Bandung. Saya tak bisa menikmati kesendirian saya. Sebuah kondisi yang saya kira saya bakal nikmati. Dan ternyata rasanya hambar, kalau tak mau dibilang kecut.

Dan rasanya tekanan itu bertambah kuat sekarang ini. Saya merasa overwhelming dengan pekerjaan ini. Belum selesai satu urusan, saya diberi urusan lain. Mending kalau gampang. Ini sungguh berat. Saya merasa tak kapabel melakukannya. Dan ini rasanya merembet kemanamana. Perasaan tidak kapabel melakukan hal apa pun yang saya kerjakan sekarang. Coratcoret tak menghasilkan apa pun. Lintasan pikiran tak lantas tertangkap dan mengkristal. Pendeknya saya tak bisa menangkap dan menulis apa pun.

Saya diminta untuk menurunkan rencana strategis marketing... Dan komunikasi. Saya betulbetul tak paham soal ini. Saya diminta berkomunikasi sldengan orang yang sama sekali tak saya kenal, dengan bahasa yang saya tak mampu berekspresi di dalamnya, membicarakan sesuatu yang asing, yang saya sama sekali tak punya keterampilan atasnya. Dan ini benar-benar melelahkan. Dan membuat saya tak berdaya. Saya jadi lelah berpikir. Saya cape. Betulbetul capek. Sehingga saya kepingin meninggalkan pekerjaan ini.

Yang saya kepingin adalah segera meninggalkan pekerjaan ini. Meninggalkan Bandung, dan kembali ke Jakarta. Punya pekerjaan lain. Dan kali ini saya periksa benar-benar agar saya tak membuat kesalahan memilih lagi.

Seandainya bisa memilih, saat ini rasanya saya kepingin pekerjaan yang mekanis saja. Tak perlu mikir. Tak perlu berbincang soal strategi, komunikasi, marketing dan segala tetek bengek tentangnya.

Saya kepingin berkebun. Saya ingin menjaga kedai dan berbincang dengan pelanggan. Saya ingin memasak. Saya ingin menonton film dan berdiskusi. Saya ingin membaca buku dan menulis sedikit tentangnya.Pendeknya saya sekarang ini pekerjaan otot saja. Saya bosan dengan pekerjaan yang menggunakan otak. Sungguh.

Tapi adalah pekerjaan itu di dunia saya? Rasanya tidak. Saya hidup di dunia yang berkonsekuensi. Saya hidup dengan tagihan-tagihan dan rencana masa depan. Yang membutuhkan agunan dan uang yang direncanakan. Saya sudah berkeluarga, meski tak harus jadi kepalanya. Dan itu butuh kepada komitmen dan tanggung jawab. 

Read more »

Selasa, 09 April 2013

RAM 512

Ini agak aneh. Mengupdate blog di jam kantor. Di tengah-tengah kesibukan. Di tengah-tengah banyak PR yang mesti dikerjain.

Tapi asli. RAM saya rasanya nggak kuat untuk menghandle pekerjaan multitasking ini. Ada banyak pekerjaan yang mesti saya kerjain. Dan bukan pekerjaan yang tinggal menulis atau pekerjaan tenaga. Tapi pekerjaan strategis, analisis, dan tambahan tugas lainnya. Saya kalut sekarang. Gemetaran. Seperti hangnya komputer ketika membuka banyak aplikasi.

Saya merasa tak pantas dan tak cocok bekerja di pekerjaan ini. Saya tak berpikir secara linier. Secara urut, runtut, dan runut. Saya bekerja dengan sporadis. Dan akhirnya saya merasa tak cocok dengan pekerjaan ini. Saya not really into it this social marketing, social media, and this strategic communication thing. Paling tidak untuk sekarang ini.

Saya merasa sekarang. Saya nggak terlalu baik untuk ini.

Ah brengsek. Ini bukan lagi masanya cari-cari identitas. Saya sudah tua. Sudah berkeluarga. Tidak ada waktu lagi untuk main-main dang mengejar ilusi. Beda tipis dengan mimpi. Saya punya banyak hal untuk dipertaruhkan.

Jadi saya harus serius. Menjalani kerja ini. Menelan kehidupan meskipun pahit rasanya. Sebelum dia menelan saya.

Apa yang ingin saya katakan? Saya stress. Itu pasti.

 

Read more »