Minggu, 17 Maret 2013

Saban Subuh Ada Saja Hati yang Terluka

Pada matari pertama yang mengerling
Di subuh hari
Selalu kulihat selimut kabut
Yang membawa ayah entah kemana
Surga atau nestapanya

Kadang ingin kuminta saja
Agar dia berhenti menaruh luka pada hatinya
Turun dari kereta
Tak perlu lagi dia berkelana
Sungguhkah bahagia ada pada semua yang sebelumnya tak ada
Atau kita perlu percaya pada hal yang ada di muka

Padang sunyi
Ziarah kelana
Batas tapal yang tak tertera
Di mana sungguhnya kita menaruh tali kekang
Duh ayahda

Ooo hatiku oo hatiku
Kita tahu tak perlu tangga
Untuk mengantar seorang pada nirwana
Untuk itu dia cuma perlu tiada terjaga
Dan menganga
Pada kursi-kursi kosong oto antarkota

Oh maka berpeluklah kita
Yang erat
Dijabat
Karena kita memutuskan untuk percaya
Dan berpegangan pada hari esok lusa



Read more »

Rabu, 13 Maret 2013

Hari ini ada keinginan begitu kuat untuk kembali ke Jakarta. Sampai saya punya niat jahat. Pura-pura sakit saja. Saya kangen berat keluarga. Parah

Read more »

I'm Down

Hari ini down betul. Rasanya nggak enak ngapa-ngapain. Dan nggak tahu harus ngapain. Clueless. Dan perut yang melilit luar biasa. Brengsek. Bagaimana jika. What if. Bagaimana kalau saya gagal berfungsi. Tiba-tiba saya mengalami breakdown.

Saya begitu diliputi banyak ketakutan. Sampai saya nggak tahu harus berbuat apa-apa. Bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan saya. Bagaimana kalau saya kehilangan anak saya? Bagaimana kalau saya kehilangan keluarga saya? Bagaimana kalau saya jatuh miskin dan tidak bisa memberikan nafkah buat keluarga saya. Buat keluarga besar saya. Bagaimana kalau saya berhenti berfungsi. Bagaimana saya kehilangan kehidupan saya. Bagaimana kalau saya tidak ada.

Saya benar-benar takut hari ini. Brengsek.



Read more »

Bad Day

This is a bad day for me. Never hurt this bad before. Damn. I just wanna get home and hug my son.

Read more »

Selasa, 12 Maret 2013

Keinginan

Amboy, sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Tapi itu bukan berarti tidak ada pikiran yang hendak dituangkan. Cuma lantaran sibuk dengan kehidupan saja yang menjadikan saya tak mengupdate. Ada banyak sekali lintasan di kepala. Dan saya pikir cukup berharga untuk dituangkan di dalam blog. Tapi begitu tiba saatnya, seperti sekarang ini, malah saya lupa apa saja yang mau ditulis.

Pikiran Satu: Baru sekarang ini saya betul-betul perhitungan dengan jam kerja dan waktu libur. Saya menghitung ada berapa hari libur nasional yang saya dapatkan di bulan ini. Jam lima selesai, maka tutup buku, selesai juga pekerjaan ini. Tak ada upaya untuk memperpanjang. Ah mungkin ini karena saya begitu banyak kehilangan momen bersama keluarga.

Pikiran Dua: Kalau kemarin saya sempet googling tentang bisnis lele dan belut--yang kemudian saya gentar sendiri untuk terjun ke dalamnya--sekarang saya mendapati lintasan membuka kedai teh. Ini lantaran kemarin melihat rumah yang disulap jadi rumah makan. Saya terus terang iri. Saya suka sekali arsitektur rumah itu--bergaya rumah di Jakarta atau Bandung di era 70-an. Nah saya kemudian menggoogle frasa kedai teh. Memang tak terlalu banyak kedai yang menawarkan teh sebagai specialtynya. Dan memang ini bikin runyam juga urusannya. Ada sebuah di Bandung yang rasanya ingin saya kunjungi.

Pikiran Tiga: You cant buy happiness. Tapi duit rasanya bisa membuat kebahagiaan. Sesedikit dan sesebentar apa pun. Saya tak menyesal dilahirkan dari keluarga miskin, tapi rasanya juga enak jika punya banyak uang. Ah pikiran ini mestinya melintas karena banyaknya keinginan saya yang rasanya tak akan mewujud. Dalam kasus seperti ini, saya mesti berdamai dengan diri sendiri. Mengikis keinginan dan menggantikan dengan kenikmatan lainnya saja. Toh kata orang kebahagiaan itu sederhana dan bisa dicapai dengan hal-hal yang sederhana. Andai bisa sesederhana itu.


Read more »

Kamis, 07 Maret 2013

Butterfly Effect

Nggak ada hal yang sepele. Semua punya konsekuensi. Bahkan sekepak sayap kupu-kupu bisa memicu badai. Itu yang saya (sudah) pelajari. Tapi nyatanya terus saya abaikan. Jadilah saya terus-menerus melakukan kesalahan. Yang saya pikir kecil, tapi sebenarnya besar dan prinsip. Dan tiap kali begini, rasanya otak saya jadi mengecil disergap ketakutan. Saya jadi bodoh, kalut, dan takut.

Brengseklah saya. Kepingin menghilang saja. Tapi itu membuktikan kalau saya pengecut. Ah, memang saya pengecut kok. Ya memang. Trus? Ya mending menghilang. Brengsek. 

Read more »

Selasa, 05 Maret 2013

Mari Kita Berwirausaha

Hari ini lagi sibuk cari informasi tentang ternak lele dan belut. Dan ini brengseknya menyita perhatian dan energi saya... di kantor. Huehue. Bayangkan betapa tidak profesionalnya saya. Brengsek ah.

Tapi rasanya ini saya kepingin segera coba. Meski pun takutnya juga luar biasa.

Ya sudah itu saja

Read more »

Kosan Baru

Alhamdulilah di kosan baru, semua berjalan lancar. Kosan ini bapuk, rasanya iya. Lantainya papan gitu, ada di lantai dua. Sekilas terkesan kumuh. Kamar mandinya juga. Cuma ada 2 untuk delapan kamar dan beberapa penghuni. Ruang tamunya diisi dua sofa yang esktra rusak dan dekil.

Tapi ada beberapa hal positif di kosan ini. Pertama saya suka penjaganya. Pak Dadi namanya. Ramah sekali orangnya. Yang kedua kosan ini murah. 400 ribu saja per bulan. Yang kedua, saya suka kamarnya karena ekstra besar. Dan banyak cahaya masuk. Jadi lebih "hangat" dibanding kosan yang lama. Yang ketiga adalah para tetangga. Rasanya lebih bersahabat dan tak berisik.

Saya bahkan sempat menghabiskan 30 menitan nongkrong bareng mereka. Satu adalah karyawan swasta. Sudah dua tahun menempati kos ini. Sementara dua orang lainnya adalah mahasiswa geologi. Mereka asal dari Timor Leste.

Untunglah saya sedikit banyak tahu tentang Timor Leste: Dari perjalanan istri saya ke sana. Dan itu rasanya cukup memberikan saya modal untuk ngobrol bareng mereka.

Agak aneh obrolan kami, jika saya mengandaikan percakapan ini berlangsung di masa Orde Baru. Pasalnya saya bicara tentang penjajahan Indonesia atas Timor Leste. Nasib anak-anak yang dipaksa tercerabut dari akar keluarga dan tanah airnya di Timor Leste. Tentang penyiksaan tahanan oleh TNI. Dan semuanya diobrolkan dengan santai. Saya orang Indonesia. Dan tak merasa terusik sedikit pun dari pemaparan fakta-fakta tadi. Yang terusik adalah kemanusiaan saya. Bukan nasionalisme taik kucing yang bikin orang berani menyiksa orang lainnya.

Ah, obrolan yang enak semalam.

Read more »