Kamis, 28 Februari 2013

Berhenti Kerja

Nggak ada kerjaan yang nggak cape. Semuanya pasti cape. Nggak ada kerjaan yang menyenangkan 100%. Semua orang pasti ngerasain up and down. Hari ini mengutuk-ngutuk besok akan memuji setinggi langit: itu praktek wajar saja yang dilakukan para karyawan. Termasuk saya.

Hari ini saya merasa capek sekali. Dan kepingin berhenti bekerja saja. Saya tiba-tiba saja merasa, tak mau jadi pegawai selamanya. Sehebat apa pun pekerjaannya. Saya kepingin jaga warung saja. Menata barang belanjaan di etalase dan melayani konsumen baik-baik.

Atau menjadi pelayan atau meracik hidangan buat pengunjung. Sembari saya menulis atau bengong. Sembari mikir strategi pengembangan atau menikmati sajak.

Fiyuh. Sudahlah


Read more »

Selasa, 26 Februari 2013

Tetangga


Heran. Jangan-jangan isi blog ini penuh dengan negativity semua ya. Kok ya nggak ada yang positif-positifnya ya. Hehehe. Tapi biarlah. Mungkin ini ada baiknya juga. Daripada aura negatif saya keluar di luar. Mending di sini aja. Tak merugikan sesiapa.

Tapi izinkanlah sayabercerita tentang tetangga kos saya. Yang edan luar biasa itu. Saya baru menginjak dua pekan tinggal di situ ketika kejadian ini berlangsung. Mulai pukul delapan malam dia mulai beraktivitas membuat aneka kue. Dia akan ditemani dengan suaminya. Dan mereka akan berbincang dengan keras. As if dapur umum kami itu adalah dapur pribadi dan ruang keluarga mereka. Oh ya, kos saya itu punya dapur bersama. Dan ndilalahnya dapur itu ada tepat di samping kamar saya. Dan tebaklah sampai jam berapa aktivitas ini berlangsung? Sampai tengah malam lewat.

Paling tidak dua kali saya mengalami situasi ini. Yang pertama berlangsung sampai kira-kira pukul satu malam. Yang kedua, lebih parah lagi. Berlangsung hingga pukul setengah tiga pagi. Saya tak bisa tidur dibuatnya. 

Saya masukkan keluhan dong, kepada penjaga kos. Bahasa sehalus mungkin. Saya cuma kepingin tahu, berapa lama aktivitas ini akan berlangsung. Apakah si ibu dan suaminya akan membuat kue selamanya, dan akan terus memusatkan waktunya pada malam jelang tengah malam. Atau tidak. Nah kalau iya, saya tak akan melarang mereka. Sungguh. Tapi saya mengalah saja, saya akan cari kos baru. 

Rupanya si ibu penjaga kos menyampaikan keluhan saya. Kata ibu kos, si tetangga akan menggeser waktu pembuatannya. Ah, syukurlah. Saya tak perlu mencari kos lagi. Meski pun sudah siap untuk pindah. Bukan apa-apa, saya enggan berkonfrontasi saja.

Dan tebak saudara-saudara apa yang saya dapatkan pagi ini? Pagi ini saya diasemin. Huehuehue. Dicemberutin sama si tetangga. Ah untunglah saya sudah terbiasa dengan situasi ini: Diasemin. Saya sudah sering menerima perlakuan ini. Jangan tetangga jauh yang tak pernah saya kenal. Dengan teman yang akrab saja saya pernah diasemin. Jadi kehidupan saya rasanya tak akan terganggu.
Mudah-mudahan ini final. Tidak ada lagi kejadian buruk setelah ini. Amin untuk itu

Read more »

I'm a Cracking up or just getting older


And suddenly I’m thirtythree. Shoot. Am I that old? I mean thirtythree? For fuck sake, I’m this March. Duh, sepertinya ada perasaan takut pada saya menjelang usia 33. Entah kenapa. Rasanya banyak kekhawatiran yang mendera pikiran. Dan itu tidak mudah dipecahkan pada usia 33 ini. Fiyuh. 33.

Istri saya kemarin mendapati banyak sekali uban di kepala. Pada mulanya ketawa. Tapi kemudian saya sadar, saya sudah demikian tua.

Tapi apa coba yang saya pikirkan coba? Pekerjaan yang tidak ideal? Keluarga? Rasanya itu baik-baik saja. Hidup saya, yang begitu-begitu saja?

Tapi saya belum punya pencapaian. Saya belum menulis buku. Saya belum sekolah lagi. Saya belum punya ini dan itu. Saya belum punya karya yang patut dibanggakan. Dan itu mengerikan. Apakah saya belum ketemu jati diri pada usia segini? Itu jauh lebih mengerikan.

Dan tiba-tiba saya 33. Saya takut. Karena hidup di depan saya rasanya tak akan lebih mudah ketimbang tahun-tahun yang saya lampaui. Karena saya hidup di realitas sekarang dan masa depan. Di mana ada tagihan, premi asuransi, investasi, jaminan masa tua, pendidikan anak, kesehatan yang terus menurun, pekerjaan. Duh hidup. Apakah kau tak bisa lebih ramah lagi.

Read more »

Kamis, 21 Februari 2013

Menikmati Kebebasan

Saya memang tidak mengutuk-ngutuk situasi setakat ini. Saya di sini, keluarga di Jakarta. Ini pilihan yang harus diambil. Dan semua harus menanggung konsekuensinya saja. Termasuk saya. Tapi saya juga tidak lantas bergembira dengan keadaan ini. 

Ah mungkin ada kelebatan dalam pikiran, saya jadi lebih banyak punya waktu untuk diri sendiri. Bisa menulis, membaca, leyeh-leyeh, berimajinasi, berfantasi. Dan menikmati "kebebasan" saya. Ada bayangan saya bisa keliling kota naik sepeda, atau melempar kaki kemanapun dia menghendaki. Tanpa harus menimbang yang lain. Atau saya bisa kenalan dengan tetangga atau rekan kerja, atau bahkan seorang asing sama sekali. Saya bisa bergabung dengan klub diskusi atau yoga. Atau menikmati kafe dan minuman hangat di tengah dinginnya Buah Batu. 

Tetapi jawabnya tidak. Saya rasanya tidak menikmati semua yang terhidang. Ada banyak alasan. Karena saya tidak selera. Karena saya malas. Karena energi saya rasanya terserap pada pekerjaan. Atau saya terlalu letih, karena memendam rindu sedemikian rupa pada keluarga. 

Ah, hanya karena saya sendiri, itu bukan berarti saya menikmati kesendirian saya. 

Read more »

Rabu, 20 Februari 2013

Orang-orang Hebat

Yang brengsek adalah hidup di sini tidak semudah yang saya perkirakan. Demikian pula pekerjaannya. Bayangan membaca menulis dengan produktif rasanya tinggal ilusi semata. Sebagai gantinya saya terjebak dengan aneka pekerjaan--yang sebenarnya tak banyak-banyak amat, tapi rasanya cukup sulit--dan akhirnya saya bekerja secara sporadis. Sudahnya dia tak maksimal, saya pun rasanya terperas energinya. Betul.

Nah tadi ada satu hal yang keren dari pekerjaan ini. Sudah beberapa hari ini saya mengemas profil para pembaharu ini untuk keperluan publikasi web. Dan rasanya saya mengalami banyak pencerahan. Orang-orang ini hebat-hebat. Sumpah. Mereka adalah pionir dan menempatkan orang banyak di atas diri sendiri. Klise? Memang. Not moving? Maybe. Wait untill you read or see them yourself.

Ada nama Harry Suliztiarto. Saya baru tahu kalau dia adalah benih dari tokoh utama pemanjat tebing di novel Bilangan Fu. Edan! Dia bekerja dengan para pekerja yang bekerja di atas ketinggian. Meyakinkan perusahaan agar berinvestasi pada keselamatan, dan mendesak pemerintah untuk meregulasi bidang kerja baru ini. Dan semua rasanya sudah hampir tercapai. Apakah dia berhenti?

Nggak. Ada penderes nira. Tiba-tiba saya ingat Ahmad Tohari. Penderes nira yang jumlahnya ratusan ribu. Yang memanjat puluhan pohon kelapa dalam satu hari. Kalau Kang Harry punya pilihan untuk mendaki, maka penderes ini nggak punya pilihan kecuali manjat setiap hari untuk mencari nafkah. Dan itulah dia. Bekerja dengan penderes nira.

Satu lagi bernama Hokky Situngkir. Dia aktif di senat mahasiswa, punya klub aneka macam. Dan dia terusik dengan ketidakadilan dan cinta betul sama Indonesia dan budayanya. Nafasnya ada pada sains. Tapi dia tak mau sains menjadi semacam ilmu kosong tanpa konteks Indonesia. Dan jadilah dia bekerja. Berkarya dan hasilnya keren luar biasa. Dia membangun sains yang begitu elitis menjadi sangat fungsional buat masyarakat dan so-called proses membangun bangsa ini.

Ah dia utamanya punya inovasi mengembangkan teori kompleksitas. Teori ini dasarnya adalah perangkat untuk menganalisis pola-pola apa pun--sebagai bahan mentah--menjadi data yang lebih bisa "dibaca" dan dimanfaatkan oleh manusia. Ada pun bahan mentah itu bisa berupa apa saja. Dalam kasus Hokky, dia menganalisis tarian, batik, pertandingan bulu tangkis, sepakbola, bahkan azan. Edan aja ada doktor yang menganalisis pola azan.

Sebagai penutup malam ini saya membaca buku "Rippling: How Social Entrepreneurs Spread Innovation Throughout the World" Ini sebenarnya buku yang menghimpun cerita fellow-fellow Ashoka. Cerita pertamanya adalah tentang ibu rumah tangga biasa. Namanya Ursula Sladek. Yang membuat koperasi untuk pengadaan energi terbarukan. Dia bikin referendum agar desanya tidak lagi menggantungkan energinya dari grid nasional. Dia bikin orang mau berinvestasi pada energi terbarukan. It happens. Later on ada banyak kampung yang kepingin seperti kampungnya. Dan sekarang koperasinya bernilai jutaan euro. Dengan satu juta konsumen di seluruh Eropa. Edan bukan.

Apakah saya kepingin jadi mereka? Nggak tahu. Itu panggilan. Sifatnya nggak bisa dipaksa. Dan biasanya terjadi begitu saja tanpa sebab, kontras, dan begitu mendadak. Saya belum memiliki panggilan itu.

Read more »

Selasa, 19 Februari 2013

Rumah Rumah

Buah Batu hujan terus. Kalo nggak pagi, ya sore. Kalo nggak sore ya  pagi. Seneng sebenernya. Karena suhunya jadi adem kalau hujan. Tapi nggak enak, karena bolak-balik saya kebasahan. Karena itu hari saya putuskan nggak bawa laptop. Takut kebasahan.

Sebagai gantinya saya jalan kaki. Saya menikmati betul aktivitas ini. Biasanya saja berjalan nggak lebih dari 30 menit. Gonta-ganti rute biar nggak bosan. Sekaligus ngeliat-liat aneka rumah. Saya sebenarnya suka aktivitas ini. Saya suka memperhatikan detail muka rumah dan arsitekturnya. Utamanya di sini. Batas antara tembok dan atap cenderung rendah. Dengan halaman yang tak terlalu luas, aneka tanaman, warna-warna pudar, dan ini favorit saya, pagar rumah yang rendah pula.

Somehow saya suka sekali tipe rumah seperti ini. Mungkin karena dia memancarkan kebersahajaan. Rumah seperti ini juga seperti ingin selamanya mempertahankan kehangatan penghuninya. Saya membayangkan mendengar sayup-sayup derai tawa penghuninya. Tak cukup sampai tembok sebelah, tapi cukup untuk mengundang rasa ingin tahu dan senyum pelintas di jalan depan rumah.

Saya membayangkan rumah itu berwarna krem dan hijau pudar. Dengan beranda yang cukup luas untuk bersantai sebuah keluarga. Dan dia mengundang siapa pun untuk bertamu.

Ah tapi rasanya nggak mungkin itu terjadi. Apalagi di Jakarta.



Read more »

Senin, 18 Februari 2013

Menyalahkan Orang Lain

"People leave managers, not companies"
Kutipan ini saya dapat dari artikel yang diberikan istri pada saya. Saya suka isinya. Dan suka kutipan itu. Dalam beberapa aspek, mewakili apa yang saya rasakan. Saya rasanya punya alasan untuk meninggalkan kantor lama. Dan bos saya adalah salah satu alasannya.

Tapi itu rasanya tak begitu betul juga untuk saya ucapkan. Ada banyak situasi mestinya yang melatarbelakangi keputusan saya. Lagian mengerucutkan alasan pada hal-hal yang terlalu simpel menurut saya agak sembrono. Saya percaya tidak ada yang sederhana di balik sebuah keputusan yang terlihat sederhana.

Apakah saya meninggalkan pekerjaan saya karena bos saya? Iya, ada bagian itu. Saya tak suka gaya memimpin si bos ini. Tidak suka pendekatannya. Tidak suka strateginya. Tapi harap dicatat saya juga mengakui dia punya banyak poin yang benar.

Lagian saya takut ada sikap yang terlalu betul saat menyalahkan seorang tok atas kemalangan kita. Saya yakin ada banyak hal yang menyebabkan kemalangan itu. Dan laku dan pertimbangan kita adalah hal yang juga berperan.

Saya rasanya lebih suka pasrah dulu, menerima kesalahan sebelum tunjuk hidung orang lain sebagai biang masalah.

Read more »

Sabtu, 16 Februari 2013

Mencari Nilai Positif

Tugas perdana saya yang kelihatannya "simpel" adalah mencari person hebatuntuk mendapatkan anugerah. Kira-kira begitulah. Saya didraf beberapa nama dari teman. Tugas saya ya mencari data detail orang-orang ini. Saya sudah kenal beberapa di antaranya. 

Dan terus terang, saya rasanya nggak sreg dengan nama-nama ini. Cuma satu yang kelihatannya "yaaah... hmhm okeee..". Sementara dua lainnya yang lainnya menurut saya kok ya biasa saja. Yang pertama ini adalah aktivis. Dia koordinator sesuatu lha. Beken. Bahkan saya pernah mengundang ybs untuk diskusi internal kantor. Namanya sering menjadi narasumber untuk media massa nasional. Organisasi yang dia pimpin bahkan membawahkan paling tidak dua organisasi yang menurut saya juga lumayan lantang. 

Nah tapi menurut saya kok ya aktivitas ybs tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat yang katanya dia wakili. Saya, paling tidak dari penelusuran Internet, tidak menemukan dampak aktivitasnya pada masyarakat. Nah menurut saya yang bersangkutan tidak terlalu layak. 

Tapi kemudian bos saya yang baru ini, kalo menurut saya sekilas, orangnya cukup humble, membalikkan prasangka saya. Saya malu sendiri sebenarnya. Tapi saya merasa tidak dipermalukan dengan insiden ini. Kata si bos, coba dieksplore lagi data yang bersangkutan. Siapa tahu berjaringan ini adalah sesuatu yang baru dan baik untuk memperjuangkan petani yang selama ini diperjuangkan oleh ybs. Hmhmh, benar juga. 

Saya menskip profil orang kedua, karena tak ada waktu yang cukup. Tapi lagi-lagi kalau menurut saya orang kedua ini nggak terlalu cocok. Karena anggapan sementara saya, aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas para hipster masa kini. Untuk ganjen-ganjenan saja. Sekadar gincu untuk kelas menengah. Tapi ya syukurlah tidak dibahas. 

Nah yang ketiga ini adalah aktivis animal welfare. Saya suka kucing. Dan saya sungguh mendukung para konservasionis itu. Pun mereka yang mengurus domestic animal welfare. Tapi yang kurang menurut saya adalah persentuhan bidang ini dengan manusia. Tak ada impact langsung terhadap manusia. Kira-kira begitulah argumen saya, yang mungkin terkesan agak mengecilkan peran aktivis ini. 

Nah lagi-lagi saya kena batunya. Si ibu, bos saya itu bilang. Coba "dieksplore" lagi. Yang dilakukan orang ini menurut doi sebenernya adalah mengubah mindset manusia dalam memperlakukan hewan. Dan itu juga perubahan yang baik. Dwerrrr. Nelen ludah lagi. Malu lagi, meskipun jauh sekali dari kesan dipermalukan. 

Dan hebatnya si doi mengambil kesempilan begitu ya dari keterangan saya sendiri. Saya bilang kalau aktivis ini pernah menggelar kampanye menentang sirkus lumba-lumba. Padahal mainstream bilang sirkus itu untuk pendidikan, agar kita cinta pada hewan itu. Saya bilang aktivitas ybs juga termasuk adopsi hewan telantar dan jangan beli pet! Nah padahal mainstream bilang kalo mau beli hewan peliharaan pergilah ke toko binatang peliharaan. 

Ah saya belajar banyak dari si ibu. Berpikir out of the box itu nggak ajaib-ajaib amat. Sederhana aja. Berpikir positif dan mengeksplorasi kebaikan orang. 

Hmhmhm

Read more »

Kamis, 14 Februari 2013

Ngaco

Ah bajigur. Ternyata niat tinggallah niat. Bayangan tinggallah bayangan. Dalam khayalan sebelumnya saya membayangkan bisa menulis banyak hal, terutama draf buku yang saya kerjakan, saat bekerja di sini.

Dan sekarang hari ketiga. Saya belum bisa menulis apa pun kecuali untuk blog ini. Bajigur. Tidak produktif.

Pekerjaan menyita waktu. Halah, alasan saja.

Buah Batu hujan terus saban sore. Dem

Read more »

Rabu, 13 Februari 2013

Doa Saya

Betapa pun saya suka dengan gosip, tapi izinkanlah saya berdendang doa: mudah-mudahan lebih banyak kerja di sini ketimbang bergosip.

Read more »

Keluhan Pertama

Hari pertama kerja adalah informasi deras luar biasa sementara kaki-kaki saya kena polio. Tak kuat menahan derasnya. Ada begitu banyak informasi dan calon pekerjaan saya yang rasanya begitu berat untuk saya ikuti. 

Semuanya serba terukur. Bahkan untuk menulis profil saja sudah ada templatenya. Edan. Saya juga diberi formulir, mengenai apa saja yang akan saya capai selama setahun ini. Apa target saya. Saya tak biasa dengan tabel, dan angka. Ini semua membingungkan buat saya.

Ini semua membingungkan buat saya. Terus terang. Dan ada semacam gentar dalam hati. Apa ini pekerjaan yang cocok. 

Tapi pikir punya pikir, rasanya pekerjaan apa pun tiada yang cocok dengan saya. Karena pada akhirnya saya bekerja untuk orang kembali. Menjadi bawahan lagi. 

Pernah terbetik begini. Pekerjaan idaman saya adalah bekerja menjadi editor, penulis, produser, apa pun itulah di sini www.npr.org. Saya sungguh terkagum-kagum dengan website ini. Isinya out of the blue semua. Tapi toh sama saja, saya akan bekerja untuk orang dan menghadapi stres kembali. 

Jadi ya sudah. Hadapi saja! 



Read more »

Selasa, 12 Februari 2013

Waktu di Jalan

Sudah saya duga sebelumnya, meskipun dalam taraf yang biasa-biasa saja, alias tidak terlalu PD, bahwa saya akan produktif menulis di sini. Karena praktis saya tak punya pekerjaan lain. Tinimbang cape menggiring pikiran liar yang negatif, ya menulis sajalah.

Jadi... tadi saya menghabiskan waktu hampir tiga jam di jalan. Nyetir. Jakarta-Buah Batu. Dengan kemacetan saat menuju gebang Cikarang. Dan hujan luar biasa hebat, di paling tidak tiga titik. Dalam perjalanan itu, sengaja saya tak pasang musik. Saya rasanya bosan sekali dengan playlist dan senarai lagu yang ada di HP saya. Saya kepingin mendengar deru! Sebuah keinginan yang tak lazim.

Tapi lontaran berikutnya yang menurut saya sangat berharga dalam perjalanan itu adalah ini: Menyetir itu pekerjaan paling bodoh. Betapa tidak. Ketika menyetir saya tak bisa menyambi apa pun. Tak bisa berkhayal karena harus fokus. Tidak bisa rileks, karena taruhannya adalah nyawa. Kita dipaksa untuk konsentrasi pada hal yang tidak menambah kualitas hidup kita!

Betapa mubazirnya pekerjaan itu. Tiga jam yang luar biasa panjang, untuk hal yang bukan apa-apa.

Dan bersama ada puluhan, ratusan, ribuan orang yang menyetir. Untuk satu jam, dua jam, sepuluh jam berikutnya. Menempuh ratusan, bahkan ribuan kilometer.

Tuhan betapa beruntungnya saya. Tak harus seperti itu. Menghabiskan waktu di jalan.

Read more »

Memulai Hidup Baru

Jadi inilah. Saya resmi memulai lembaran hidup-profesional baru. Saya bekerja di tempat baru. Dan nggak sekadar itu. Tapi saya juga memulai hidup baru. Saya tinggal di kota yang baru, jauh dari keluarga. Ini baru tak cuma buat saya, tapi juga istri dan anak, yang setakat ini saya tinggal.

Berat rasanya. Tapi ya sudah.

Saya kepingin ini semua dibawa riang, meski rasanya berat.

Demi mewujudkan kesan riang dan bersemangat itu, saya tadinya berniat untuk membuat blog baru untuk merekam sebagian kehidupan dan ingatan saya saat tinggal di Buah Batu. Tapi saya takut. Yang pertama, saya tak konsisten. Dan yang kedua saya juga pemalas. Pertama-tama mungkin semangat mengeksplorasi tempat baru. Tapi berikutnya ya malas-malas saja.

Yang ketiga, apa sih yang kepingin saya tuangkan dalam blog? Apakah sekadar petunjuk, atau printilan yang biasa ditulis blog wisata? Saya bukan tipe itu, rasanya. Jadi klop deh. Saya membulatkan diri tidak menulis blog lainnya.

Lagian yang kepingin saya tuangkan ya cukup dua hal saja. Dan itu semua bisa tertampung di dua blog saya. Eh tiga. Yang pertama, yang sifatnya renungan atau curhat ya di sini tempatnya. Kalau bersifat karya--ya cerpen, sajak, sketsa, review, foto--ya masukin aja di tumblr. Selesai kan?

Yang esensial dari itu semua adalah pertimbangan ini: saya rasanya tidak akan mengeset Buah Batu atau pekerjaan ini menjadi tempat dan pekerjaan terakhir saya. Sungguh. Betapa pun saya punya cita-cita untuk tidak lagi bekerja untuk orang lain.

Saya merasa apa yang saya jalani mulai hari ini, pada hakikatnya adalah bukan kehidupan. Saya terpisah jauh, ruang dan waktu, dari yang saya cintai: Keluarga dan orang-orang yang saya cintai. Dan itu sungguhnya bukan kehidupan, rasanya buat saya--paling tidak itu yang saya rasakan setakat ini.

Mudah-mudahan hal itu memotivasi saya untuk mencari "kehidupan" saya yang berikutnya.

Sebuah papan reklame di tol Cikampek tadi cukup menarik. Sebenarnya dia tak didesain untuk kampanye sosial. Tapi berhubung belum ada pengiklan, maka dipampanglah poster sederhana. Isinya kira-kira adalah data berapa jam yang dihabiskan orang dijalan. Setelah ditotal jenderal, maka ada dua bulan setengah dalam setahun yang ternyata habis di jalan karena kemacetan. "Jadi lebih baik habiskan waktu di rumah, ketimbang di jalan" kira-kira begitulah pesan si reklame.

Ah, sementara saya menghabiskan waktu berbulan-bulan jauh dari keluarga. Dan itu bukan kehidupan.

Read more »

Minggu, 10 Februari 2013

Last Day

This is it! The final moment. The last day at work. Dan sampai sekarang masih nggak juga ngerasa sentimentil. Nggak ngerasa bahwa saya adalah "anak lama" terakhir di divisi ini. Nggak ngerasa juga kalau ini adalah hari terakhir dari hampir sepuluh tahun kerja.

Dari dulu yang saya pelajari dari tiap perpisahan adalah ini: life goes on. Dan organisasi kerja itu jauh lebih tangguh ketimbang saya digabungkan dengan dua, tiga, sembilan, sepuluh orang. Organisasi ini akan jalan terus, bahkan bisa mencapai puncaknya lagi. Dan saya dan mereka yang telah pergi harus pasrah. Tidak bisa menikmati itu.

Jadi karena itu rasanya saya sudah belajar banyak untuk tidak sentimentil. Biarkan saja, waktu berlalu. Ada banyak hal yang bisa saya tuju untuk menyalurkan emosi ini.

Dan dalam kasus saya: saya sedih karena harus kehilangan banyak momen bersama Senja. Berantem, mandi bareng, ngobrol, bacain buku, ngeledek. Itu yang paling saya sesali. Percayalah.

Saya rasanya tidak akan terlalu kehilangan momen ketika kami bermain musik misalkan. Atau bercanda yang tidak penting bersama teman-teman.

Dan ya sudah. Ini hari terakhir saya di kantor ini.

Hari terakhir saya ngeblog dengan fasilitas internet di kantor ini. Dari ruangan ini.

Fiyuh. Mari lanjutkan kehidupan.

Bismillah

Read more »

Rabu, 06 Februari 2013

Comfort Zone

"People keep saying, 'Oh, it'll be great to get out of your comfort zone'. It's like, 'Fuck you!' Get out of your fucking comfort zone! It fucking took me 20 years to build a comfort zone. I have no fucking intention of stepping outside of mine. Not for no fucker. That's fucking gone! Fucking comfort zone bastard." -Noel Gallagher

Nabi saya itu ya Noel Gallagher itu. Sebenarnya agak risi juga mengumumkan itu. Karena saya sadar hal itu mungkin menerbitkan cibiran yang rasanya juga akan keluar dari mulut saya jika ada orang yang mengidolakan person dari luar negeri atau musisi atau katakanlah popstar sebagai idola hidup. 

Tapi, ah bajingan tengiklah, saya adalah salah seorang dari mereka yang mengidolakan popstar sebagai panutan hidup. Tapi singatnya beginilah. Lewat lirik-liriknya, lagu-lagunya, Noel menyelamatkan saya dari kerasnya hidup sebagai orang miskin. Udah. Gitu ajah. Sebagai loser, saya berhasil keluar dari jurang itu berkat semangat dari lirik-liriknya. 

Dan kutipan di atas adalah salah satunya. Saya sebenarnya nggak ngerti-ngerti amat dengan apa itu comfort zone. Karena itu konsep yang asing buat saya. Buat saya cuma ada hidup atau mati. Nikmatin atau toleransi atau tinggalin. Udah begitu aja. 

Tapi kalimat itu jadi kelewat sering wara-wiri. Mereka yang kutu loncat atau energetik atau berwirausaha biasanya akan mengeluarkan mantra begini: Jangan terlena dengan comfort zone. Dan mereka yang lamaaaaaa betul bekerja di suatu tempat atau terlihat statis biasanya akan kena stempel: terlena dalam comfort zone. 

Seperti biasa, saya tidak mengenal konsep hitam-putih. Saya percaya abu-abu. Dan ratusan mungkin ribuan variannya. Gradasinya. Makanya saya agak jengah juga kalau ada orang gampang betul menyematkan 'terlena dengan comfort zone' kepada mereka yang bekerja--katakanlah 10 tahun di sebuah perusahaan. 

Istri saya adalah contoh paling dekat buat saya. Dia bekerja sudah 10 tahun lewat. Tapi saya yang mendampinginya dalam waktu kurang-lebih 7 tahun melihat betul betapa statis itu tidak ada dalam kamus kerja dan aktivitasnya. Setiap tahun pasti aja ada tantangan baru. Meski bidang yang digelutinya spesifik. 

Dalam kasus saya, pun demikian. Reporter berita-presenter buletin-produser-penyiar-sampai supervisor program. Saya tak masalah dengan waktu. Dan 'celakanya' saya tak tahu apakah saya sudah ada di comfort zone atau tidak. Yang jelas saya menikmati semua tahapan pekerjaan itu, pada akhirnya. Ada beberapa momentum tak enak. Di mana saya benci betul dengan situasi atau beberapa pekerjaan. Tapi hei... ini hidup. Biasa aja bukan? 

Sampai tiba pada akhirnya, saya tiba di titik ini. Saya tak lagi menikmati pekerjaan saya dalam waktu yang lumayan lama. Saya tak suka dengan atasan saya dalam bekerja dan akhirnya saya juga merasa gagal sebagai memimpin teman-teman saya. Nah kalau sudah begitu, pilihannya tinggal toleransi dan hengkang bukan? Saya pilih yang kedua. Tanpa konsiderans: "sudah saatnya saya hengkang dari comfort zone,"

Saya akan mengutuk serupa Noel: Fuck that. Saya suka komunitas ini. Lingkungan tempat saya bekerja. Pekerjaan saya. Tapi ada hal yang tak bisa saya kontrol. Dan ya sudah. --Tapi omong-omong ya saya rasanya juga tidak bisa menikmati perkembangan komunitas. Yang rasanya lebih suka bergosip ketimbang bekerja. Mana gosipnya luar biasa keji! Saya ingat betul kami dulu juga sering ngomongin para bos. Aka bergosip. Tapi itu lebih karena mereka kekurangan pekerjaan. Sementara kami membanting tulang bekerja. Tapi itu cukup. 

Di saat yang sama saya tak cukup dengan gaji ini. Saya tiba pada gerbang itu. Di mana angka mengukur segalanya. Ada uang sekolah, tagihan bulanan, dan kebutuhan harian menyerap dua pertiga kehidupan. 

Jadi apa itu comfort zone? Fuck that!


Read more »

Senin, 04 Februari 2013

Gosip

Ada yang gosipin istri saya. Katanya, cinta pertama dia adalah si X. Dan karena saya akan segera pergi ke Bandung, maka istri saya akan segera kembali pada cinta pertamanya. Pada awalnya saya nyengir dan tertawa. Karena saya tahu istri saya dan si X ini. Dia karib juga. 

Lebih nyengir lagi karena sumbernya adalah si Y, anak buah saya--kelak akan bekas anak buah saya. Barusan dalam penilaian tahunan saya kasih ponten bagus, sesuai kinerjanya dalam enam bulan terakhir. Lha, tahu apa si Y sehingga dia bisa muncul dengan skenario di atas. 

Saya tak menemukan relevansinya. Dan akhirnya inilah yang membuat saya tepekur. Kenapa? Kenapa dia muncul dengan skenario itu. Itu yang pertama mengganggu pikiran saya. Saya hampir sepuluh tahun bekerja di komunitas ini. Sementara X dan istri saya sudah bekerja lebih dari 11 tahun. Sementara Y? 3 tahun? Nah tahu apa dia soal kisah cinta pertama istri saya. Plus dia juga tak pernah berhubungan langsung dengan istri saya dan X. Jadi dia sungguh tidak kompeten bercerita tentang ini. Saya mengasihani dia, karena dia turut mengeluarkan kata-kata busuk itu. Kasihan. 

Ah, jangan-jangan ini karma? Karena saya berbuat jahat sama dia? Duh gusti, satu yang saya tidak mau adalah memotong nafkah orang. Atau berbuat buruk pada mereka yang tidak punya kepentingan terhadap saya. Saya tak punya alasan apa pun untuk membenci dia, demikian juga dia. Saya pernah menegur dia. Memberikan beban tambahan. Tapi itu kan pekerjaan. Memang sih, saya hapal karakternya: ngambek dan tidak menegur saya kalau dikasi pekerjaan tambahan. Tapi ya biarlah. Saya nggak pernah memberikan sanksi atas keterlambatannya dalam pekerjaan. Yang selalu hampir di atas 30 menit. Well? Saya tetap berprinsip tak boleh merugikan orang lain. Saya boleh saja gampang sekali tidak suka pada orang dan mendiamkannya. Tapi itulah sikap maksimal yang bisa saya keluarkan. Saya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan mereka. 

Tapi ya sudahlah. 

Ini membawa saya pada misteri berikutnya. Kalau bukan Y yang menjadi sumber berita kejam itu, lantas siapa yang bikin? Siapa yang tahu kalau X dan istri saya memang karib bergosip. Dan sungguh saya tidak keberatan atas itu. 

Jawabnya adalah mungkin teman lama. Teman lama kami. Yang cukup tahu kedekatan itu dan menafsirkannya seenak nafsunya. Tapi untuk kepentingan apa? Lagi-lagi mungkin dia punya kemarahan yang tak tuntas pada saya. Atau pada istri saya. Dan memutuskan untuk menyebar berita bohong itu. 

Ah kejam sekali. Kenapa kebencian itu disemarakkan. Dan dibagi-bagi kepada yang lain. Itu yang saya tak suka. Dia membenci saya atau kami ya biarlah. Saya juga tak bisa meyakinkan orang untuk suka sama saya. Saya tak punya kapasitas itu. Dan saya bukan tipe orang yang ingin menjadi "ibu" bagi semua orang. Everybody's darling. 



Read more »

Minggu, 03 Februari 2013

What if I'm not good enough? I'm in no capable state of giving? I'm soooo tired. Really.

Read more »