Saya selalu menemukan hobi baru dan akhirnya bosan sendiri. Suatu saat saya suka sekali membuat miniatur. Manakala rezeki melimpah saya beli itu mainan dan bisa merakit seharian. Waktu itu beruntungnya saya belum kena tremor.
Selanjutnya saya suka bersepeda. Aneka aksesoris beli dan akhirnya menghilang sendiri. Lanjut minum teh. Ah, tapi yang ini rasanya masih suka sampai sekarang. Meski turun naik juga. Selanjutnya oprak-aprek foto. Belasan aplikasi pemroses foto di android saya download. Dan akhirnya sekarang bosan. Yang tinggal cuma tiga aplikasi saja.
Nah yang memberikan saya banyak pelajaran adalah hobi selanjutnya. Saya selalu tidak bisa melacak dari mana hobi ini berasal. Tapi saya menikmati aktivitas berkebun. Saya sudah mencoba sebelumnya di rumah Pondok Bambu. Tapi karena berbagai faktor, entah tanahnya yang tidak bersahabat, saya tidak telaten, matahari yang kurang intens, atau air yang terlalu asam, hobi itu pupus. Padahal rasanya saya cukup investasi beli pupuk, pestisida, dll.
Nah begitu rumah Jatisari jadi. Saya coba kembali bertanam. Saya lupa pohon apa yang pertama-tama saya tanam. Tapi tanaman yang pertama menghuni petak depan rumah itu sepertinya bayam-bayam liar. Dan rerumputan. Dan saya diamkan saja sampai begitu rimbun. Saya merasa mereka berhak hidup di sana. Pelajaran pertama! Saya suka bagaimana tanaman ini hidup. Dan terus-menerus. Abai terhadap cuaca dan intervensi manusia. Meski beberapa saya potong, tapi mereka sepertinya dagel untuk bertahan. Bahkan sampai sekarang!
Mungkin istri saya jengah juga. Dan saya bosan. Jadilah semuanya saya babat. Saya bersihkan itu tanah selama berminggu-minggu. Tolong jangan bayangkan saya bekerja setiap hari selama berminggu-minggu ya. Karena saya cuma ke sana Jumat-Minggu. Maksimal Senin. Saya singkirkan puing-puing yang banyak dikandung. Dan itu banyak amat. Saya sampai khawatir, apa benar tanah ini subur? Tapi bayam liar tumbuh gigantik di sini, jadi saya merasa bongkahan batu, plastik, kayu, ini tak buruk-buruk amat. Malah mungkin membantu menangkap udara dan air lebih baik.
Habis itu--ini yang saya ingat betul, saya menyebar biji cabe. Di antara beberapa yang tumbuh, yang bertahan cuma 3 batang saja. Dan entah kenapa, mereka begitu produktif menghasilkan cabe. Dan tiada henti. Sampai waktunya berhenti. Maka berhentilah dia. Dia tak lagi produktif. Saya memutuskan untuk tetap memelihara batang-batang ini. Pelajaran kedua!!! Saya merasa ada pelanggaran moral jika saya langsung menebas tanaman perdu ini. Bagaimana pun dia menghasilkan begitu banyak cabe, meski saya tidak memintanya--tapi toh saya girang juga ketika memetik dan mengumpulkannya. Saya rasa tidak fair kalau saya langsung mematikannya. Saya tetap merawat tanaman-tanaman ini. Secara rutin masih memberi pupuk seperti waktu mereka masih produktif.
Kenapa mesti pohon cabe pulak yang saya tanam? Entah. Seperti yang saya bilang tadi. Saya tidak punya sejarah tanam-menanam. Tapi pernah ngobrol dengan kawan soal Pramoedya Ananta Toer. Lantas tersebutlah kisah soal bagaimana Pram selalu suka tanaman produktif. Dia tidak akan menanam bunga atau pohon warna-warni. Saya rasa ada yang puitis di sana. Ada filosofinya. Pelajaran ketiga!!! Kelak, meskipun ini bukan utuh menjadi filosofi hidup saya, saya belajar banyak hal dari ini.
Bahwa kangkung, bayam, cabe, itu begitu gampang ditanam. Dan betapa komoditas-komoditas ini tak akan membuat kaya seorang petani. Karena harganya tak akan pernah meninggi seperti daging sapi. Betapa kangkung, bayam, dan cabe mengajarkan saya jangan pernah mengabaikan hal-hal kecil. Dan tak ada hal yang remeh di dunia ini. Kangkung dan bayam takkan pernah rupawan seperti halnya mawar, anggrek--yang sebenarnya saya tak tahu juga di mana letak bagusnya. Tapi dia akan selalu mengundang kesegaran.
Berlanjut, habis itu saya menanam sawi. Hasilnya luar biasa lumayan. Ada 4-5 kilogram mungkin yang dihasilkan. Demikian juga tomat. Ada sekira berat itu pula: 4-5 kilogram. Sama saja saya memperlakukan mereka semenjak mula, seperti tanaman buah atau sayur lainnya yang saya tanam. Aha. Pelajaran Keempat!!! Saya tak pernah berharap atau menggesa mereka untuk berbuah. Ah itu pun bisa diperdebatkan rasanya. Dalam hati kecil, mungkin saya berharap berbuah. Karena itu tetap saja menyenangkan. Tapi beneran. Ketika menanam tomat dan sawi, saya menyebarkan benihnya begitu saja. Terserah kepada mereka. Mau tumbuh atau tidak. Yang penting saya sudah berusaha--ini juga pelajaran berikutnya: menghitung alam, apakah dia bersahabat atau tidak. Saya belajar masa terbaik bercocok tanam adalah musim penghujan. Di saat itu saya pikir dua perkara bertemu. Entah apakah itu pertempuran atau persetubuhan. Yang jelas ada yang puitis di sana: Benih-benih itu mencari tempatnya di tanah. Mencari suhu yang tepat dan kelembaban yang sesuai. Dan dicurah sinar matari dan disimbah air hujan. Hitung juga, mereka berkompetisi dengan benih yang lain di tempat yang sama. Siapa selamat siapa tidak, saya tak pernah tahu. Bukankah ada yang indah dalam kerja alam di sana? Satu-satunya yang saya intervensi adalah memberi pupuk. Itu pun pupuk organik. Bukan kimiawi. Jadi saya tidak terlalu harus merasa bersalah. Saya punya istilah buat ini: Kebun anarkis. Hehehe.
Di kebun, eh halaman depan kami sekarang ada dua batang pohon sirsak. Sekarang sudah hampir lima meter tingginya, sejak kami tanam setahun atau dua tahun lalu, waktu itu tingginya cuma 70cm. Ada dua rambatan pohon cincau di sana. Saya sudah membuat cincau sendiri. Dan rasanya bangga sekali. Hal sederhana bikin bahagia. Aha! Pelajaran kelima!!! Yang saya suka dari dua tanaman ini adalah daunnya bisa bermanfaat. Daun sirsak dipercaya menyembuhkan demam dan seterusnya. Cincau enak sekali bisa dimanfaatkan bikin jeli.
Belakangan saya merasa ada evolusi dalam hal saya memperlakukan kebun ini. Saya rasanya jadi lebih terorganisir. Saya misalkan membuat gundukan khusus dan menggemburkan tanah dengan pupuk sebelum menanam kangkung. Saya memotong dan merapikan jalaran pohon cincau. Saya juga mengelompokkan tomat di dalam talang yang saya sulap jadi pot horizontal. Pelajaran keenam!!! Punk itu alamiah di usia muda. Tapi evolusi adalah ketidakterelakkan di usia dewasa.
Sekarang, saya juga tak menyebar biji timun sembarang. Saya semai dulu secara khusus, ketika biji berubah menjadi benih usia sepekan, saya pindahkan ke tempat khusus dan bebaris yang rasanya rapi saja. Saya juga membariskan batang-batang sereh di sebelahnya. Lihat, rapi kan. Kebun anarkistis itu cuma legenda sekarang.
Tapi ini pelajar final setakat ini. Saya mendapati bahwa tomat yang saya tanam berbulan-bulan lalu belum juga berbuah. Berbunga saja tidak. Saya benar-benar tidak khawatir. Saya tetap menyiram dan memberikan pupuk. Tapi tetap saja dia kerdil. Dan ini yang saya bisa simpulkan: si tomat tak berkembang, karena akarnya tak kemana-mana. Dia terkungkung di dalam pot horizontal itu. Pelajaran ketujuh!!! Sebaik-baik tempat tumbuh itu adalah tanah.
Tanah adalah media yang tidak aman. Dia tidak steril dari fungi, serangga, asam, dll. Tapi dia adalah tempat terbaik buat tumbuh. Akar bisa menerabas sampai ke dalam. Apa yang dia temui di sana, tiada pernah kita tahu. Tapi hal-hal baik mungkin bisa didapat di sana. Lihat ada yang puitis di sana bukan? Sebaliknya pot adalah tempat yang bisa kita atur hampir dalam semua aspeknya. Dia steril. Tapi hasilnya: kerdil.
Pelajaran ini bisa diambil dalam membesarkan anak mestinya. Jadinya menurut saya, sebaik-baik tempat untuk Senja mestinya ya di luar sana. Bukan cuma di rumah.
Hobi berkebun kelak mungkin akan saya tinggalkan, karena bosan. Karena tahu potensi itulah saya enggan gembargembor atau fanatik. Biarlah dia mengalir saja. Tapi ada begitu banyak pelajaran yang tidak akan saya lupakan dari hobi yang satu ini.
Read more »