Senin, 31 Desember 2012

Tahun Baru

Saya sungguhnya tidak terlalu suka dengan mereka yang keras sekali nyinyir dengan perayaan tahun baru. Ini event sekali setahun. Dan apa salahnya dengan bersenang-senang. Memang ada orang terganggu, sampah bertebaran, ledakan di mana-mana, dst. Tapi toh benefitnya juga banyak. Ada ekonomi yang bergerak. Ada tujuh ratus ribu orang sampai satu juta orang di luar sana yang merayakan tahun baru di luar ruang. Tanyalah kepada mereka. Apakah momen tahun baru adalah momen bahagia? Jawabnya mestinya iya. Dan itu berarti. Sudahlah. Tak perlu nyinyir.

Tapi buat saya, tahun baru sepertinya sama dengan malammalam sebelumnya. Saya demam. Kepala saya cenut-cenut. Dan itu membuat malam tadi jadi semakin tak istimewa. Saya tidur. Setelah mengobrol seperti biasa, setelah terkikik dengan komedi di TV. 

Andai pun tak sakit, rasanya tahun baru akan berlalu biasa-biasa saja. Sampai pagi ini. Saya mendapat ucapan selamat tahun dari istri saya. Dan bukankah tahun baru bisa dirayakan, sepurba atau sesederhana apa pun? Ah saya telat. 

Mudah-mudahan tahun depan saya ingat untuk merayakan tahun baru. Saya tak perlu gengsi untuk masuk dan ikut dalam arus besar kebudayaan merayakan tahun baru. Dan yang hampir pasti, saya tidak akan masuk ke dalam barisan nyinyir itu. 




Read more »

Selasa, 25 Desember 2012

Hobi

Saya selalu menemukan hobi baru dan akhirnya bosan sendiri. Suatu saat saya suka sekali membuat miniatur. Manakala rezeki melimpah saya beli itu mainan dan bisa merakit seharian. Waktu itu beruntungnya saya belum kena tremor.

Selanjutnya saya suka bersepeda. Aneka aksesoris beli dan akhirnya menghilang sendiri. Lanjut minum teh. Ah, tapi yang ini rasanya masih suka sampai sekarang. Meski turun naik juga. Selanjutnya oprak-aprek foto. Belasan aplikasi pemroses foto di android saya download. Dan akhirnya sekarang bosan. Yang tinggal cuma tiga aplikasi saja.

Nah yang memberikan saya banyak pelajaran adalah hobi selanjutnya. Saya selalu tidak bisa melacak dari mana hobi ini berasal. Tapi saya menikmati aktivitas berkebun. Saya sudah mencoba sebelumnya di rumah Pondok Bambu. Tapi karena berbagai faktor, entah tanahnya yang tidak bersahabat, saya tidak telaten, matahari yang kurang intens, atau air yang terlalu asam, hobi itu pupus. Padahal rasanya saya cukup investasi beli pupuk, pestisida, dll.

Nah begitu rumah Jatisari jadi. Saya coba kembali bertanam. Saya lupa pohon apa yang pertama-tama saya tanam. Tapi tanaman yang pertama menghuni petak depan rumah itu sepertinya bayam-bayam liar. Dan rerumputan. Dan saya diamkan saja sampai begitu rimbun. Saya merasa mereka berhak hidup di sana. Pelajaran pertama! Saya suka bagaimana tanaman ini hidup. Dan terus-menerus. Abai terhadap cuaca dan intervensi manusia. Meski beberapa saya potong, tapi mereka sepertinya dagel untuk bertahan. Bahkan sampai sekarang!

Mungkin istri saya jengah juga. Dan saya bosan. Jadilah semuanya saya babat. Saya bersihkan itu tanah selama berminggu-minggu. Tolong jangan bayangkan saya bekerja setiap hari selama berminggu-minggu ya. Karena saya cuma ke sana Jumat-Minggu. Maksimal Senin. Saya singkirkan puing-puing yang banyak dikandung. Dan itu banyak amat. Saya sampai khawatir, apa benar tanah ini subur? Tapi bayam liar tumbuh gigantik di sini, jadi saya merasa bongkahan batu, plastik, kayu, ini tak buruk-buruk amat. Malah mungkin membantu menangkap udara dan air lebih baik.

Habis itu--ini yang saya ingat betul, saya menyebar biji cabe. Di antara beberapa yang tumbuh, yang bertahan cuma 3 batang saja. Dan entah kenapa, mereka begitu produktif menghasilkan cabe. Dan tiada henti. Sampai waktunya berhenti. Maka berhentilah dia. Dia tak lagi produktif. Saya memutuskan untuk tetap memelihara batang-batang ini. Pelajaran kedua!!! Saya merasa ada pelanggaran moral jika saya langsung menebas tanaman perdu ini. Bagaimana pun dia menghasilkan begitu banyak cabe, meski saya tidak memintanya--tapi toh saya girang juga ketika memetik dan mengumpulkannya. Saya rasa tidak fair kalau saya langsung mematikannya. Saya tetap merawat tanaman-tanaman ini. Secara rutin masih memberi pupuk seperti waktu mereka masih produktif.

Kenapa mesti pohon cabe pulak yang saya tanam? Entah. Seperti yang saya bilang tadi. Saya tidak punya sejarah tanam-menanam. Tapi pernah ngobrol dengan kawan soal Pramoedya Ananta Toer. Lantas tersebutlah kisah soal bagaimana Pram selalu suka tanaman produktif. Dia tidak akan menanam bunga atau pohon warna-warni. Saya rasa ada yang puitis di sana. Ada filosofinya. Pelajaran ketiga!!! Kelak, meskipun ini bukan utuh menjadi filosofi hidup saya, saya belajar banyak hal dari ini.

Bahwa kangkung, bayam, cabe, itu begitu gampang ditanam. Dan betapa komoditas-komoditas ini tak akan membuat kaya seorang petani. Karena harganya tak akan pernah meninggi seperti daging sapi. Betapa kangkung, bayam, dan cabe mengajarkan saya jangan pernah mengabaikan hal-hal kecil. Dan tak ada hal yang remeh di dunia ini. Kangkung dan bayam takkan pernah rupawan seperti halnya mawar, anggrek--yang sebenarnya saya tak tahu juga di mana letak bagusnya. Tapi dia akan selalu mengundang kesegaran.

Berlanjut, habis itu saya menanam sawi. Hasilnya luar biasa lumayan. Ada 4-5 kilogram mungkin yang dihasilkan. Demikian juga tomat. Ada sekira berat itu pula: 4-5 kilogram. Sama saja saya memperlakukan mereka semenjak mula, seperti tanaman buah atau sayur lainnya yang saya tanam. Aha. Pelajaran Keempat!!! Saya tak pernah berharap atau menggesa mereka untuk berbuah. Ah itu pun bisa diperdebatkan rasanya. Dalam hati kecil, mungkin saya berharap berbuah. Karena itu tetap saja menyenangkan. Tapi beneran. Ketika menanam tomat dan sawi, saya menyebarkan benihnya begitu saja. Terserah kepada mereka. Mau tumbuh atau tidak. Yang penting saya sudah berusaha--ini juga pelajaran berikutnya: menghitung alam, apakah dia bersahabat atau tidak. Saya belajar masa terbaik bercocok tanam adalah musim penghujan. Di saat itu saya pikir dua perkara bertemu. Entah apakah itu pertempuran atau persetubuhan. Yang jelas ada yang puitis di sana: Benih-benih itu mencari tempatnya di tanah. Mencari suhu yang tepat dan kelembaban yang sesuai. Dan dicurah sinar matari dan disimbah air hujan. Hitung juga, mereka berkompetisi dengan benih yang lain di tempat yang sama. Siapa selamat siapa tidak, saya tak pernah tahu. Bukankah ada yang indah dalam kerja alam di sana? Satu-satunya yang saya intervensi adalah memberi pupuk. Itu pun pupuk organik. Bukan kimiawi. Jadi saya tidak terlalu harus merasa bersalah. Saya punya istilah buat ini: Kebun anarkis. Hehehe.


Di kebun, eh halaman depan kami sekarang ada dua batang pohon sirsak. Sekarang sudah hampir lima meter tingginya, sejak kami tanam setahun atau dua tahun lalu, waktu itu tingginya cuma 70cm. Ada dua rambatan pohon cincau di sana. Saya sudah membuat cincau sendiri. Dan rasanya bangga sekali. Hal sederhana bikin bahagia. Aha! Pelajaran kelima!!! Yang saya suka dari dua tanaman ini adalah daunnya bisa bermanfaat. Daun sirsak dipercaya menyembuhkan demam dan seterusnya. Cincau enak sekali bisa dimanfaatkan bikin jeli.

Belakangan saya merasa ada evolusi dalam hal saya memperlakukan kebun ini. Saya rasanya jadi lebih terorganisir. Saya misalkan membuat gundukan khusus dan menggemburkan tanah dengan pupuk sebelum menanam kangkung. Saya memotong dan merapikan jalaran pohon cincau. Saya juga mengelompokkan tomat di dalam talang yang saya sulap jadi pot horizontal. Pelajaran keenam!!! Punk itu alamiah di usia muda. Tapi evolusi adalah ketidakterelakkan di usia dewasa.

Sekarang, saya juga tak menyebar biji timun sembarang. Saya semai dulu secara khusus, ketika biji berubah menjadi benih usia sepekan, saya pindahkan ke tempat khusus dan bebaris yang rasanya rapi saja. Saya juga membariskan batang-batang sereh di sebelahnya. Lihat, rapi kan. Kebun anarkistis itu cuma legenda sekarang.

Tapi ini pelajar final setakat ini. Saya mendapati bahwa tomat yang saya tanam berbulan-bulan lalu belum juga berbuah. Berbunga saja tidak. Saya benar-benar tidak khawatir. Saya tetap menyiram dan memberikan pupuk. Tapi tetap saja dia kerdil. Dan ini yang saya bisa simpulkan: si tomat tak berkembang, karena akarnya tak kemana-mana. Dia terkungkung di dalam pot horizontal itu. Pelajaran ketujuh!!! Sebaik-baik tempat tumbuh itu adalah tanah.

Tanah adalah media yang tidak aman. Dia tidak steril dari fungi, serangga, asam, dll. Tapi dia adalah tempat terbaik buat tumbuh. Akar bisa menerabas sampai ke dalam. Apa yang dia temui di sana, tiada pernah kita tahu. Tapi hal-hal baik mungkin bisa didapat di sana. Lihat ada yang puitis di sana bukan? Sebaliknya pot adalah tempat yang bisa kita atur hampir dalam semua aspeknya. Dia steril. Tapi hasilnya: kerdil.

Pelajaran ini bisa diambil dalam membesarkan anak mestinya. Jadinya menurut saya, sebaik-baik tempat untuk Senja mestinya ya di luar sana. Bukan cuma di rumah.

Hobi berkebun kelak mungkin akan saya tinggalkan, karena bosan. Karena tahu potensi itulah saya enggan gembargembor atau fanatik. Biarlah dia mengalir saja. Tapi ada begitu banyak pelajaran yang tidak akan saya lupakan dari hobi yang satu ini.




Read more »

Minggu, 23 Desember 2012

Bosan

Saya seringkali berharap saya menghilang. Tapi tak sekadar menghilang. Tapi saya menyusup dan menyelinap ke dalam lagu yang megah atau tenggelam ke dalam layar bioskop dalam kenikmatan sinema. Dan betul itu yang seringkali saya harapkan.

Dalam dua hal ini saya menemukan semacam sanctuary. Tempat berteduh yang aman dari gugatan apa dan siapa pun. Dunia yang tidak memerlukan penjelasan dan konsekuensi. Tapi saya kira saya terlalu naif. Saya tidak konsisten dengan pilihan saya untuk hidup di dunia nyata. Dan menambatkan sebagian hidup saya pada orang-orang yang saya kasihi. Untuk itu saya sungguh kepingin konsisten. 

Meski saat ini saya kepingin seperti pencuri yang menyelinap dalam orkestra dan sinema. 

Read more »

Rabu, 19 Desember 2012

Bahan Cerita

Kepala saya mengebul. Sepertinya banyak yang hendak saya tulis. Mungkin karena sudah terlalu lama saya tidak menulis. Tulisan ini semata-mata untuk mengingatkan saya bahwa saya dilimpahi begitu banyak bahan untuk cerita-cerita saya. Semua cerita dengan serius saya coba cermati dan saya berusaha benamkan dalam otak. Mudahmudahan tidak menghilang.

Saya berasal dari keluarga besar. Baik dari garis bapak, apalagi ibu. Dan rasanya cerita-cerita yang melingkupi mereka begitu unik. Beberapa darinya akan saya catatkan di sini.

Kakek saya berasal dari Gombong, kalau tak salah. Hijrah ke Jakarta tahun 30-an. Membeli tanah. Dan beranak pinak di sini. Kelima anak lelakinya yang hidup--termasuk bapak saya--semuanya lahir  di Jakarta. Karena itu saya mengklaim bapak saya orang betawi saja. Keluarga kakek dan nenek dari bapak saya ini punya kerabat di Banjar Negara. Dan di sinilah imaji "kampung" dibangun. Saya tak pernah hapal garis dan silsilah, nama apalagi muka. Yang saya kenal misalkan Lek Muhadi, Atau Kasan. Atau Irin. Atau yang baru-baru ini meninggal, Wak Marilah. Pupus di usia sembilan puluhan.

Nah salah satu cerita menarik dari sini adalah bagaimana bapak atau abang-abang bapak kemudian dimusuhi oleh salah seorang pak lek atau Uwak, entah siapa. Karena dianggap sombong. Ceritanya setelah mereka menginap dan siap untuk pulang, segenap isi kampung itu mengumpulkan aneka hasil bumi untuk dibawa ke Jakarta. Beras lima liter sudah disiapkan di pintu sang pak lek atau uwak itu. Tapi Bapak kemudian lupa membawa. Hasilnya adalah dia dimusuhi untuk beberapa saat. Ini dramatis buat saya, Bisa menjadi fondasi buat cerita drama tentang menyembuhkan luka.

Atau saya juga akan banyak bercerita tentang keluarga besar Abdur Rohim, bapaknya ibu. Konon seorang menantu mengentarai keturunan Kong Doim--itu panggilannya cuma dengan menantap roman muka seorang. Kata dia, keturunan Kong Doim rata-rata bergigi tonggos. Tapi itu sebagian. Sebagian lainnya berparas cantik dan gagah. Lengkap dengan kulit putih. Jadi ada polarisasi di sana. Kalau jelek, ya jelek sekalian. Kalau cakep dan gagah, ya gagah dan cakep sekalian.

Saya mendapatkan pengalaman saya melayat semalam itu begitu absurd dan jenaka sekaligus. Saya dikenali oleh hampir semua sepupu saya. Tapi saya begitu tak enak karena tak hapal nama-nama mereka. Sungguh.

Kong Doim punya delapan anak kalau tak salah. Empat lelaki, empat perempuan. Wak Duloh yang paling tua punya 13 anak plus beberapa anak angkat. Wak Omat punya sekira enam atau tujuh anak dari dua istrinya. Istri kedua dinikahi setelah istri pertama meninggal. Dan Wak Omat meski tampil sangat kalem, adalah bekas residivis. Pernah ibu bercerita bagaimana dia menyembunyikan Wak Omat dari kejaran polisi. Wak Yadi adalah yang paling kalem. Meskipun dari cerita bapak Wak Yadi adalah buaya keroncong dan pecandu orkes melayu. Dia punya empat orang anak, dan saya bersyukur karena hapal nama semua anaknya. Dan laki-laki terakhir adalah Wak Amin yang saya sudah panjang lebar cerita sebelumnya.

Empat anak perempuannya dimulai dengan Wak Ope dengan hmhmhm berapa anaknya? Entah. Hapal namanya pun tidak. Tapi yang saya ingat adalah Wak Ope punya anak yang saya panggil Mpok I'il. Mpok I'il kelak menjadi istri Pakde Ramelan--abang bapak yang paling tua. Mpok I'il dinikahi Pakde Ramelan setelah istri terdahulunya meninggal. Aneh bukan. Saya tetap memanggilnya Mpok I'il tinimbang Bude. Habis itu ada Enyak Fat. Harusnya saya memanggilnya Wak Fat. Tapi karena dia dianggap seperti ibu sendiri buat ibu saya, maka saya memanggilnya Enyak. Dia juga punya banyak anak. Tapi saya ingat anak-anaknya karena mereka semua tinggal di Kayumanis dan saya tumbuh bersama mereka juga. Habis itu ada Wak Ence dengan hmmmh berapa anaknya? Saya tak tahu. Namanya juga tidak. Yang jelas Wak Ence ditinggal mati suaminya dan tak pernah menikah lagi. Dia punya wajah yang sangat mirip dengan ibu.

Huah banyak sekali ceritanya. Itu baru satu. Kami kelak harus berkumpul mendata dan saling berkenalan kembali sebagai satu keluarga--Kong Doim. Hehehehe. Ini fondasi cerita yang bagus juga bukan?

Ada lagi cerita yang lain. Tapi saya begitu cape dengan tulisan ini.



Read more »

Wak Amin

Kemarin Uwak saya meninggal. Kami memanggilnya Wak Amin. Dia kakaknya ibu. Kami mengenangnya sebagai orang yang sederhana dan sangat pengasih. Baik hati. Tak cuma dia, tapi seluruh keluarganya. Karena itu saban kami sekeluarga "pulang kampung" ke Tegal Parang pada lebaran, rumah uwak ini yang menjadi sasaran kami untuk menjadi sasaran mendarat. Dari situ barulah kami muter-muter ke tempat kerabat yang lain.

Dan kemarin dia meninggal. Kalau dari cerita-cerita yang saya dengan kemarin, kematiannya sederhana. Masuk rumah sakit pada Minggu, meninggal Rabu. Ringkas bukan? Penyebab kematiannya menurut sasus itu adalah karena dia kena virus apalah itu akibat banjir yang melanda rumahnya beberapa hari lalu, dan itu berkelindan dengan ginjal dan lever dan jantung dan aneka penyakit yang sudah lama dia derita. Jadilah dia mati.

Dan pada peristiwa kematian adalah pintu sejuta kemungkinan dan cerita. Dan Wak Amin tak pernah sedemikian hidup seperti sekarang ini--ketika dia mati. Saya merangkum cerita dan mengorek ingatan tentang dia. Dan hasilnya adalah Wak Amin lelaki yang berbeda dari kebanyakan lelaki lain. Dia memelihara kucing dan tanaman. Tanamannya terawat dengan baik di halaman. Senang sekali saya melihat kesegaran demikian rupa di halaman yang tak terlalu lebar pulak.

Kak Mela mengingatkan saya bahwa dia adalah orang yang begitu cermat mempersiapkan aneka dodol, tahu, dan buah tangan untuk dibagi-bagi saat saudara-saudaranya berkunjung ke rumah. Semua dapat bagian. Dodol pula yang jadi kenangan kuat Kak Mela pada Wak Amin.

Kak Han mengingat dia sebagai bapak yang tak segan menyeterika pakaian, atau mengepel, atau memasak, dan membuat tape uli dengan tangannya sendiri. Sebuah pekerjaan yang diidentikkan dengan kaum perempuan. Dari Kak Han juga saya mendapat informasi bahwa Wak Amin adalah fotografer otodidak. Saya tak pernah tahu pada batas mana kualitas hasil jepretannya. Tapi foto besar di ruang tamu, sedikit mengungkap cita rasanya soal gambar. Dia bersama istrinya dengan setelah lengkap busana Barat. Dengan foto hitam putih yang sempurna pencahayaannya. Bagus buat saya.

Dan ini adalah cerita lainnya yang menarik seputar Wak Amin. Bahwa ada teman SMA-nya yang datang menjenguk. Kepada keluarganya, perempuan ini memohon agar bila Wak Amin sudah pulang dari rumah sakit, dia saja yang merawat. Kasihan katanya, Wak Amin tinggal sendiri. Istrinya, kami memanggilnya, Wak Mune sudah meninggal empat, atau lima tahun yang lalu. Dari cerita para tetua, teman SMA ini adalah bekas pacar Wak Amin. Entah karena apa, hubungan mereka kandas. Wak Amin seperti yang kami semua tahu menikah dengan Wak Mune. Menghasilkan Kak Iyah, Kak Iyan, Tati, dan Helmi. Yang belakangan itu sekarang pria dewasa sepantaran saya.

Entah kenapa saya begitu terharu dengan kisah ini. Saya segera menancapkan episode ini dalam kepala. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan novel saya kelak. Kisah ini buat saya memantik aneka adegan dan cerita spekulatif.


Read more »

Selasa, 11 Desember 2012

begitu

Hari ini ada bagitu banyak kelebatan di dalam kepala. Tapi ini adalah salah satunya yang mesti saya tangkap. Biar tak kemana-mana.

Bahwasanya saya selamanya tak berminat dengan gerombolan. Tapi saya saya juga tak begitu tahan lama dengan kesepian.

Read more »

Percakapan

Semalam itu percakapan yang rasanya tiada duanya nikmatnya. Saya berbicara dengan nada biasa, kepada anak saya. Berusia hampir lima tahun, sembari dia bermain game. Tapi saya tahu dia tak konsentrasi karena apa yang saya obrolkan kelewat berat buat dia tanggung.

Saya bertanya kepadanya: Bolehkah saya bekerja di Bandung, andai tawaran itu bersambut. Belum lagi saya beberkan konsekuensinya. Dia langsung bilang nggak boleh. Nggak usah diterima tawarannya. Tentu saja dia paham Bandung itu ada di mana. Dan ada jarak dan waktu yang akan menganga, jika betul-betul saya ada di Bandung, dia ada di Jakarta.

Saya berusaha kembali meyakinkan. Bandung itu dekat. Sabtu-Minggu saya akan tetap bersamanya. Dan iya. Itu tak sanggup dia tanggung--padahal dalam hati, air mata saya juga sudah merembes. "Bagaimana kalau aku kangen Dada." Ah saya juga tak kuat rasanya.

Tapi saya tetap mau tampil tangguh di depannya. Saya membujuk kembali. Bahwa dia kelak bisa mengunjungi saya. Pakai kereta--yang menjadi favoritnya. Itu pula tak mempan.

Akhirnya saya keluarkan pilihan terakhir. Bagaimana jika kalau cuma tiga hari dalam sepekan saja saya di Bandung. Dia tak langsung setuju. Saya keluarkan benefitnya: Ada banyak waktu buat saya dan dia. Jika Senin-Selasa-Rabu saya di Bandung, maka Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu saya akan bersama dia di Jakarta. Dan iya. Akhirnya dia setuju.

Pembicaraan ini rasanya akan selamanya membekas buat saya. Terlepas, apakah saya dipanggil bekerja di sana atau tidak. Kami berbicara seperti orang dewasa. Saya sepertinya siap memperlakukan dia seperti orang dewasa. Teman mengobrol. Dan semoga dia juga bisa menerima saya. Sampai akhir hayatnya kelak.

Read more »

Jumat, 07 Desember 2012

Perpisahan

Perpisahan itu kejam saudara-saudara. Percayalah. Tanyalah kepada sesiapa yang pernah merasakannya. Dia seperti mengiris kita. Dengan rasa apa pun, kecuali yang positif. Ada yang jengkel, marah, sedih, kecewa, pahit. Tapi tak pernah sekali pun: gembira.

Dan saya merasa sedih setakat ini, karena kehilangan teman saya. Itulah pengalaman pertama yang ditimbulkan dari sebuah perpisahan: Kehilangan dan kesedihan. Sesuatu sepertinya sudah ditarik dari hati. Ada yang bolong di sana. Selamanya tidak terganti--paling tidak itu yang saya rasakan sekarang ini--entah nanti.

Tapi ya sudah ini mesti berlalu. Air mata sudah tumpah. Dan beranjaklah kita pada pengalaman kedua yang rasanya tak kalah menyakitkan: bahwa kita akan lupa, dilupakan, melupakan. Sadar atau tidak, niat atau tidak. Perlahan kita sadar bahwa kehidupan itu berjalan. Dan waktu adalah pil lupa yang manjur. Kita lupa dengan teman kita itu.

Saya membayangkan saya yang pamitan sore ini. Tumpah segala duka. Tapi ya sudah. Antiklimaks. Setelah itu kehidupan dan pekerjaan kembali menyedot kita. Tak ada waktu buat bersedih lama-lama. Dan saya kemudian menyadari, betapa pun saya sedih karena kehilangan. Karena meninggalkan teman-teman. Saya tidak sepenting itu. Saya bukan John Lennon, Kurt Cobain, atau Lady Di yang kepergiannya diperingati dengan perkabungan yang panjang. Saya perlahan, ah mungkin tergesa, lenyap. Atau menjadi hambar saja.

Sakit bukan?

Ah perpisahan selamanya akan menimbulkan luka, duka, dupa, nestapa, lara, dan muram durja. Tapi itu tak selamanya. Cuma itu saja yang mesti saya ingat-ingat.

Ah saya, teringat kutipan film yang barusan saya tonton, "Everything will be all right in the end. If it isnt then it's not yet the end..." 

Jika begitu teman, maka saya ucapkan sampai jumpa. Kita berjumpa lagi kelak. 


Read more »

Kamis, 06 Desember 2012

Sendiri Lagi

Saya khawatir tangan saya karatan. Pikiran jadi kepo, gara-gara kelamaan nggak nulis. Dan saya menulis ini dalam pengaruh wine. Astaga, ini pukul setengah tiga. Dan saya sudah menenggak alkohol. Bajingan. Ada yang salah dengan saya.

Ah terlalu banyak yang salah dengan saya. Banyak betul. Perkaranya saya tak suka menengok ke belakang mungkin.

Ah kenapa rasanya mendadak mendung begini di hati. Mungkin karena saya mendengar terlalu banyak Radiohead. Jadi depresif.

Ah ada beberapa hal yang saya kepingin bagi di blog ini. Pertama saya kehilangan kawan. Ah nggak kehilangan juga. Kawan itu tetap ada di sana. Cuma terpisah lingkungan saja. Dia pergi ke Bandung. Mengejar mimpi lainnya, katanya. Dan saya sedih karenanya. Betul. Bukan karena si kawan ini sempurna buat saya. Justru tidak. Dia, dalam banyak hal terasa menyebalkan. Tapi toh berkawan bukan semata karena kebaikan orang bukan?

Dengannya sudah banyak peristiwa yang saya lalui. Bersama dalam proyek yang musykil atau menyedot energi luar biasa. Tapi semua terasa menyenangkan. Betul. Terasa menyenangkan. Dan mengingat itu terbitlah gundah saya. Itu mungkin yang saya rasakan.

Saya bukan teman terdekatnya, itu pasti. Tapi apa yang kami punya rasanya juga cukup kuat buat mengikat kami.

Dan saya mengutuk hati, kenapa berasa melankoli seperti ini. Tapi saya punya pikiran begini. Mungkin bukan karena kepergiannya saya pergi. Bukan karena faktor dia. Tapi faktor kedirian saya yang membuat saya sedih. Emosi yang saya rasakan completely dipicu dengan apa yang ada dalam diri saya sendiri. Saya takut sendiri! Saya tak pernah sendiri. Sejak dulu. Ini bisa saya ceritakan nanti.

Setelah ini, saya sendiri di kantor ini. Saya adalah orang terakhir dari delapan orang yang ditugaskan pertama-tama membangun radio ini. Iya saya sendirian. Dan saya takut sendirian. Dan rasanya itu yang akan kejadian. Meskipun takdir belum menutup segel dari aneka peristiwa yang membuat hidup saya berwarna. Saya akan kehilangan orang di kantor yang bisa diajak ngobrol. Diledekin. Tertawa bersama. Kubus itu akan sepi, sepertinya. Saya akan terperangkap sepi di kabin saya.







Read more »

Senin, 22 Oktober 2012

kurusan

Mestinya saya senang-senang saja kalau ada orang mengatakan: wah kurusan lu! Ah senangnya. Mestinya. Dan memang senang juga yang saya rasakan pertama-tama. Itu adalah kejadian kesekian. Seingat saya ada tiga empat kawan yang sudah lama tak berjumpa dan ketika berjumpa berkata kepada saya: Elu kurusan.

Ah, iya kurusan. Tapi yang pasti bukan karena program diet yang berhasil. Atau saya ingin mempertahankan imaji langsing di usia berkepala tiga--saya seorang bapak! Tapi mestinya itu lantaran stres.

Setahun belakangan adalah periode terberat bagi hidup saya--well bagi keluarga saya juga. Hidup saya seperti terbelah. Kalau pikiran seperti keramik, maka otak saya seperti kena gada dan pecah berkeping. Masalah hati, masalah pekerjaan, masalah pertemanan, masalah ekonomi, dan masalah ke-diri-an saya. Ah lihat betapa egoisnya saya yang cuma mengukur diri sendiri. Tapi ini blog saya. Dan saya tak bisa bohong di blog ini bukan?

Saya merasa saya kadung rusak dan tidak bisa diperbaiki. Saya tidak bisa lagi menjadi topangan. Ada yang salah dengan pikiran saya, itu yang pertama dan utama. Dan akhirnya semua laku saya menjadi salah. Itulah yang membuat saya rusak.

Ini beberapa indikator yang menurut saya bisa dipakai secara sah untuk menentukan saya rusak atau tidak:

1. Saya tidak bisa menemukan pikiran dan alasan yang mengandung kebenaran dalam tindakan saya.

2. Saya mengambil tindakan culas yang cenderung menguntungkan diri sendiri. Dalam tindakan itu saya benar-benar tidak mempertimbangan perasaan orang lain.

Dan akhirnya saya benar-benar merasa sudah rusak.

Saya tahu dalam kondisi seperti ini mestinya saya tidak sendiri. Saya mesti tahu dan sadar ada orang yang betul-betul mau membantu. Meredakan semua ini. Unconditional. Tapi hidup tak semudah cangkem Mario Teguh. Dan psikolog paling bodoh pun tahu, jiwa seorang tak bisa dipetakan. Tak ada resep yang mudah buat jiwa manusia. Apalagi yang kadung rusak. Seperti saya.

Saya seperti jauh. Dan akan menghilang dalam lagu. Seperti saya menari ketika menulis ini beriring lagu tentang drakula dan cinta sejatinya pada matari.



Read more »

Senin, 15 Oktober 2012

Multitasking

Satu hal yang saya pelajari belakangan ini. Dan akhirnya saya sadari: bahwa saya tidak bakat untuk menjadi person yang multitasking. Saya tidak berbakat menjadi pegawai merangkap pengusaha salad buah atau musisi kacangan.

Hal utama yang menyebabkan saya termasuk golongan yang tidak multitasking adalah bahwa saya adalah manajer yang buruk. Saya tidak bisa menata waktu saya, energi saya, perhatian saya pada porsi yang tepat dan selaras pada satu hal.

Saya pelupa, tidak gampang konsentrasi, kadang impulsif, tidak enakan, kadang tidak bertanggung jawab dan tidak sadar betul status saya sebagai suami dan bapak. Nah kombinasi satu atau dua hal di atas tadi yang akhirnya membuat saya menjadi bencana bagi banyak orang. Utamanya keluarga saya. Saya mungkin punya niat baik untuk tidak mengecewakan satu atau dua orang. Tapi faktanya adalah begitu banyak insiden dan pertengkaran yang terjadi karena sifat-sifat saya itu.

Jadi dan padahal selamanya niat baik itu tidak akan cukup. 

Jadi sebaiknya saya melupakan saja semuanya. Lebih baik saya konsentrasi dengan status saya sebagai suami sebagai bapak. Dan itulah yang akan saya penuhi. Meski kadang berantakan.

Read more »

Kamis, 11 Oktober 2012

Maybe

Maybe I am not that good. Maybe I am not a good father and definitely not a good husband. Maybe you guys better off without me. Maybe...

Read more »

Senin, 08 Oktober 2012

Saatnya Mempertahankan Kewarasan

Dalam kondisi seperti ini sangat mudah larut dalam emosi. Mudah sekali searus dengan emosi yang ada di hati dan di kepala. Konsisten. Betul itu. Karena apa yang ada dalam pikiran dan hati itu pula yang ada dalam lisan.

Dalam kondisi seperti ini sulit untuk mempertahankan akal sehat, obyektivitas, dan individualitas.

Yang paling enak adalah ikut dalam arus, menurut saja pada emosi, dan nilai kebenaran yang kita pegang.

Dewata, sungguhnya saya berusaha.


Read more »

Kamis, 04 Oktober 2012

Feeling depressed

Read more »

Unhappy

Read more »

Terengah-engah.

Read more »

Senin, 24 September 2012

Depresi

Awal pekan ini terasa agak sesak buat saya. Satu-satunya yang membuat saya tidak depresi rasanya cuma ingatan liburan ke Garut kemarin. Itu saja. Capenya pwoll, tapi senengnya juga tak terkira. Di luar itu, pekan ini terasa tidak mengenakkan.

Hal yang bikin saya gering utamanya adalah soal kerjaan (baru). Meski tidak ada pemberitahuan formal, rasanya saya sudah pasti tidak dipanggil untuk pekerjaan yang baru itu. Kecewa? Sangat rasanya. Karena harapan saya cukup tinggi untuk pekerjaan ini. Meski saya bilang berulang-ulang kali: 'jangan berharap.. jangan berharap.. jangan berharap,'

Dan ya sudah. Suami teman saya--yang memberikan info soal pekerjaan ini, yang juga bekerja di perusahaan itu--memberi tahu kalau rekrutan baru akan bekerja mulai pekan ini. Dan saya boro-boro bekerja, dipanggil saja tidak. Dan ya sudahlah.

Saya masih kecewa, sebenarnya.

Hal yang bikin saya sesak lainnya adalah saya rasanya sudah begitu siap untuk meninggalkan pekerjaan ini. Sampai kebosanan dan ketidaknyamanan tidak saya reken. Saya telan dengan semangat, dengan pengharapan kondisi seperti ini akan segera berakhir. Tapi ternyata saya gagal meninggalkan ini semua. Ah rasanya tak enak betul, harus mengatasi lingkungan kerja yang kadung membosankan dan tidak nyaman ini.



Read more »

Jumat, 07 September 2012

Perubahan

Saya menandai, setakat ini saya tengah mengalami fase kesekian transformasi dalam hidup saya. Dalam fase ini saya lebih positif, lebih tenang, tidak terlalu banyak marah, dst. Meski yang pasti saya masih meyakini: tidak konsisten.
Saya senang dengan transformasi ini. Sungguh senang. Karena ini membuat hidup saya lebih enteng.

Dan yang perlu digarisbawahi adalah proses transformasi ini murni saya petik dari ekstraksi saya terhadap pengalaman saya sendiri. First hand experience. Bukan dengan meminjam kata-kata Mario Teguh, pun nasihat orang lain. Murni saya sendiri. Bukan berarti sombong. Ini pula yang bikin saya semakin yakin bahwa kebijaksanaan dan sikap hidup nggak akan bisa didoktrin dari luar diri. Semuanya harus didapat dari pengalaman diri sendiri. Saya nggak akan mendapatkan konsep luka yang paripurna sebelum saya mengalami luka. Begitulah kira-kira. Dan saya senang transformasi ini membantu saya lebih arif dalam menyikapi hidup saya, pekerjaan saya.

+++

Sekarang ini di kantor saya sedang ada perubahan. Sebagian deg-degan. Sebagian biasa saja. Sebagian agak resisten, dst. Saya? Saya tetap optimistis. Bahkan ketika keputusan yang menurut akal mestinya saya sikapi dengan negatif itu keluar. Ya. Saya rasanya tersingkir dari keputusan-keputusan strategis dalam pekerjaan saya. Meski saya berada di level mid-management.

Saya mestinya sakit hati karena mengalami itu. Tapi sungguh. Ketika menulis ini, saya tidak merasakan aura negatif sedikit pun. Saya tidak punya bibit mengeluh sedikit pun yang bisa berkembang menjadi kedengkian.

Kalau penyingkiran itu belum cukup maka tambahlah ini: pekerjaan saya sekarang lebih bersifat robotik saja. Dan itu pun tak tanggung-tanggung. Bejibun pekerjaannya. Saya mesti menyiapkan banyak hal yang dahulu saya delegasikan kepada bawahan. Yet, saya tetap tidak mengeluh. Dan saya bangga mencatat ini: tak sebiji zarrah pun kekecewaan yang timbul di hati.

Kalau itu juga belum cukup, maka tambahlah ini: ada beberapa orang baru yang sepertinya dipersiapkan untuk menjalankan roda organisasi. Dan kalau sepembacaan saya: mereka menggantikan posisi mid-management yang selama ini saya dan rekan saya jalani. Dan kasarnya, tanpa saya dan rekan saya, organisasi ini akan tangguh menjalankan organisasinya. Karena mereka yang baru datang ini punya skill yang mumpuni. Jauh lebih hebat dari saya.

Nah tak kurang bukan, alasan buat saya superduper kecewa? Tapi sumpah demi Allah, Muhammad, Yesus, Budha, Sang Hyang Widi, saya tidak kecewa. Saya betul-betul menikmati ini semua sebagai perjalanan hidup saya. Ya sudah. Begitu. Dan nikmati.

+++

Sebaliknya saya menjalani tugas baru ini dengan hati lapang. Saya akan bekerja keras untuk memenuhi permintaan bos saya yang baru. Kalau diomelin, ya terima saja. La wong saya yang salah. Kalau diminta pendapat saya akan mengeluarkan yang ada di pikiran dengan seutuh-utuhnya. Kalau diminta ide, saya akan keluarkan ide terbaik zonder mereken. Saya juga akan mengeluarkan inisiatif jika diperlukan. Sungguh saya akan bekerja keras. Tanpa tapi. Tanpa kecuali.

Read more »

Kamis, 30 Agustus 2012

b.a.n.g.s.a.t

Read more »

Senin, 13 Agustus 2012

Penyanyi, Pekerja Lepas

Saya menolak untuk dikategorikan sebagai wartawan. Ini saya cantumkan dalam profile di fesbuk saya. Selain itu, di signature email saya yang lama, saya cantumkan pekerjaan saya: penyanyi dan pekerja lepas.

Saya menolak untuk dikategorikan sebagai wartawan karena pengalaman buruk saya. Melihat banyak orang, para wartawan itu sendiri yang bertingkah polah dan merasa sebagai seorang yang penting sekali. Seakan-akan dunia akan runtuh tanpa wartawan. Atau seakan-akan wartawan adalah kiblat kehidupan.

Well, you are not. Definitely not.

Tentu saja banyak wartawan yang baik hati di luar sana. Yang rendah hati dan benar-benar menaruh energi, ikhtiar, reputasi, bahkan nyawa untuk menyampaikan informasi: untuk bikin dunia lebih baik lagi. Tidah seperti yang saya jumpai kebanyakan. Baru nulis sekali dua kali udah jumawa. Atau baru menemukan eureka, atau pikiran yang cemerlang dan menolak mainstream, mereka sudah merasa menggenggam dunia. Jadi jumawa.

Tapi ya sudah. Selamat menikmati hidup kalian. Sebagaimana saya menikmati hidup saya: berpretensi dan menjadi tidak penting buat kehidupan orang banyak. Sambil bikin apa pun yang saya bisa dan saya suka.




Read more »

Rabu, 25 Juli 2012

I guess you cannot make everyone happy

Iya itu

Read more »

Senin, 23 Juli 2012

Bekerja dan Berusaha

Paling tidak ada dua kejadian sederhana yang tidak berpretensi apa pun yang membuat saya kembali menghidupkan secuil angan di masa lalu. Itu betul-betul secuil. Sungguh. Saya tidak punya ambisi atau keinginan berlebih. Cuma kepingin yang sederhana saja.

Yang pertama adalah saya dan istri makan malam, hmhmh bukan, tepatnya cemil malam di sebuah kedai. Kedai pasta yang lumayan enak dan tidak generik. Dulu kedai ini sederhana. cuma ada tiga atau empat meja kecil. Tapi meski berimpit-impit, tapi kedai ini sungguh enak untuk dinikmati. Terasa sangat intim, dan bersahabat.

Tapi sekarang kedai ini bertransformasi. Berkembang jauh lebih besar. Dua lantai dengan lampu-lampu yang berderang. Banyak meja dan banyak pengunjung. Lebih riuh, meski ruangan sudah begitu besar. Saya tidak lagi menikmati suasana itu.

Hal yang kedua adalah saya berbicara dengan atasan saya. Saya bilang padanya saya tengah mencari pekerjaan yang baru. Karena itu beberapa pekerjaan mungkin akan saya delegasikan ke beberapa orang. Agar proses transisi kelak berjalan mulus. Dia cuma bilang begini: Mau kemana? Bekerja atau Berusaha? Berusaha itu tentu maksudnya adalah berwiraswasta. Dia bilang kalau bekerja lagi mah percuma. Kalau berusaha, barulah dia akan mengacungkan jempol.

Sontak saya menghubungkan letupan ini dengan pikiran saya tadi malam. Yang melayang dan berangan seperti ini: Alangkah enaknya punya kedai makan atau minum sendiri. Yang bisa jadi tempat mampir orang sehari-hari. Tempat mampir sementara sekadar rehat atau bekerja di luar kantor. Tempat orang curhat atau sekadar cari internet gratisan. Atau tempat orang berbagi sedih dan bahagia. Jadi tempat intim, tempat orang mengukir kenangannya.

Alangkah indahnya punya kedai seperti ini. Dan karena saya suka teh. Maka saya berpikir kedai itu mestinya adalah kedai teh. Kedai teh sederhana di mana teh aneka aroma tidak diobral juga dikenakan harga yang fantastis. Kalau saya membandingkan di Dunkin Donut teh panas dihargai 17 ribu, maka harga teh di kedai itu mestinya lebih murah dari itu. 10 ribu atau 13 ribu maksimal.

Saya membayangkan saya sendiri yang menghidangkan teh itu. Berbagi cerita di mana aroma dauh kering yang direbus itu berada. Di mana dia mengeluarkan aroma terbaiknya. Itu juga kalau mereka tertarik ceritanya. Kalau tidak, tidak bermasalah buat saya. Saya akan punya teh putih terbaik, teh hijau terbaik, teh hitam terbaik, teh melati terbaik, teh dengan daun mint terbaik. Yang pasti tidak teh botol atau teh kotak. atau teh botolan yang buruk sekali rasanya.

Saya juga membayangkan teh akan hadir dengan gorengan lokal. Ubi rebus atau singkong manis. Atau pisang goreng saja. Sedap sekali membayangkan paduan ini dinikmati sore hari, saat hujan turun. Dan musik Sore mengalun di sana.

Saya bisa memajang aneka poster yang saya suka. Dan menjual aneka kaos yang saya desain sendiri. Saya juga membayangkan ada dapur di tengah kedai. Tempat siapa pun bisa menjerang makanannya. Kalau saya lowong, saya bisa bikin singkong keju buat saya sendiri. Orang lain boleh menikmati.

Buku dan komik favorit akan saya pajang di situ. Di rak-rak kayu yang saya desain sendiri. Siapa pun bisa menikmati. Saya juga akan menambah item kedai dengan aneka permainan di mana saya tumbuh besar. Ludo, halma, ular tangga, gambaran. Ah mungkin kartu gaple dan remi.

Tapi itu tentu saja keinginan yang tidak serius. Karena harganya pasti mahal dan tidak mudah untuk dikerjakan, apalagi sampai menguntungkan. Jadi biarlah itu jadi bahan khayalan saya di waktu senggang saja.

Kembali ke soal bekerja atau berusaha? Ah, setakat ini saya pasti mengatakan bekerja. Untuk orang lain. Tak ada kepentingan ideologis dengan itu. Semata-mata cari duit. Dan mengaktualisasi diri. Itu saja. Tidak lebih dari itu.

Saya tidak memilih berusaha. Bukan karena tak berani coba (atau saya sekadar penakut saja?) Tapi semata-mata saya tak punya uang lebih. Dan juga saya sudah membuktikan diri bahwa saya tidak berbakat berusaha. Saya pernah jualan minyak wangi, block note, sapu tangan dan aneka slayer, makelar aneka cetakan, sablon kaos, dan masih banyak lagi. Saya tak tahan dengan keuntungannya. Saya tak pandai mengurus hingga berkesinambungan. Nah persaksikanlah saya telah mencoba.







Read more »

Kamis, 12 Juli 2012

Monumen Kegagalan

Itu yang sedang saya pikirkan tentang saya sendiri. Sekarang ini.

Read more »

Selasa, 26 Juni 2012

Sinis

Butuh waktu sepuluh tahun buat saya menyadari bahwa saya memang iya: sinis. Sudah itu, bahkan sampai detik saya menulis kalimat ini, saya tetap tak percaya bahwa seorang sinis. Kesadaran saya bilang dengan sesadar-sadarnya bahwa saya tidak sinis. Tapi faktanya ada di sana. Dipampang di muka bahwa saya seorang sinis.

Selama ini saya cuma mengira saya seorang muram. Agak fatalistis. Tapi sudahlah tidak perlu saya berargumentasi lagi. Saya pasrah. Saya seorang sinis.

Adalah buku itu yang menegaskan. Buku yang saya tulis 10 tahun lalu. Itu rasanya bukan masa-masa yang paling subur dalam menulis. saya tak ingat betul kapan saya menulisnya. Dalam fase apa. Tapi rasanya menjelang kelulusan. Atau baru saja lulus dari kuliah. Saya baru menyelesaikan perjalanan ke Makassar. Dengan kapal laut. Yang membuat saya berpikir banyak hal. Saya masih sendiri rasanya. Sedang tergila-gila esei.

Rasanya itu buku ditulis ketika saya begitu terobsesi dengan mati. Aduh, lihat betapa anak 21-22 tahun itu menulis tentang mati. Betapa soknya saya.

Tapi saya takjub kenapa saya bisa menulis soal itu. Maksud saya subyeknya. Yang saya rasanya betul-betul tidak menarik. Gaya menulisnya, amburadul. Kadang pakai gaya liris kadang gaya cakapan. Bahkan dialek betawi.

Tapi saya rasa saya mengambil keputusan yang betul. Menyimpan buku itu--meskipun dalam sepuluh tahun terakhir tak pernah sekalipun rasanya saya buka-buka. Saya, meskipun rasanya agak risih dengan isinya karena ditulis dengan tendens yang begitu tinggi, tetap bersyukur. Karena buku itu menyimpan satu fase penting dalam hidup saya. Buku itu merekam pikiran-pikiran saya yang rasanya agak penting dan membentuk saya sepeti yang sekarang ini.

Fiyuh.

Buku merah itu adalah satu-satunya buku catatan saya yang tersisa. Selain dua atau tuga buah yang tidak selamat. Saya putuskan untuk membuang segala catatan itu, karena saya pikir isinya kebanyakan dan melulu soal kesepian saya. Soal perempuan yang saya taksir. Yang saya malu untuk mengakuinya. Atau berpotensi mengganggu hubungan saya dengan istri saya.

Jadi begitulah. Saya seorang sinis. Definitely.

Read more »

Minggu, 17 Juni 2012

Completely

Useless...

Read more »

Jumat, 15 Juni 2012

I Disappear

Hari-hari gering untukmu, Opa
Umurmu sudah tua
tinggal menghitung hari
dan kau rasanya akan mati.

Badanmu sudah geremet-geremet
minta diistirahatkan
tapi kau masih nekat bercinta
tanggung sendiri akibatnya

Suatu saat gajah kepingin terbang ke angkasa
tapi kita tahu itu melawan kodratnya
Maka itu pilihan ada dua
Matikan saja itu rasa
Atau kau mati bersamanya.


Read more »

Senin, 28 Mei 2012

Acak

ini adalah kali kesekian saya mencoba posting sesuatu di blog ini. Dan semua end up ga selesai. Sudah banyak pikiran matang yang kepingin dituang. Tapi tak satu pun muntah dalam tulisan. Entah kenapa.

Misalkan saya kepingin posting soal rasa percaya sesama manusia. Basi memang frasa itu. Tapi kemudian mentah. Saya sudah punya ide untuk bikin cerpen dari itu. Tapi setelah mikir lagi, basis cerpen itu kok ya jadi mirip ide dasar "Menunggu Godot".

Saya kepingin memposting sesuatu juga soal kemarahan. Dan bagaimana menjadi manusia yang lebih baik tanpa marah.

Saya kepingin posting tentang cinta. Tentang luka. Tentang manusia.

Tapi brengsek semuanya. Nggak ada satu pun yang tumpah dari pikiran.

Saya kepingin posting tentang pekerjaan saya. Dan mungkin masa depan profesional saya.

###

Tapi biarlah saya posting sesuatu tentang salat. Tentang sembahyang dalam Islam. Setakat ini agama saya dalam KTP adalah Islam. Tapi saya sudah kehilangan kepercayaan saya pada agama. Jadi perangkat apapun yang terkait rasanya juga sudah tidak relevan buat saya. Jadi saya tidak salat.

Dan rasanya sekarang ini satu-satunya yang bisa membuat salat adalah ibu saya. Kalau dia meminta dan memaksa, saya akan menuruti. Buat saya murka ibu adalah murka semesta--mungkin juga tuhan; jika dia ada. Jadi pasti akan saya turuti.

Di luar itu, siapa pun yang meminta, saya tak akan menuruti. Saya tak akan salat, kecuali juga kalau saya kepingin.

Pun jika saya tergoncang. Dan hari-hari ini adalah goncangan terbesar buat saya--setakat tiga puluhan usia saya. Ketika saya butuh bantuan, saya tak akan mengemis pada tuhan. Karena ini masalah saya. Dia--iya kamu tuhan, kalau kamu ada--mungkin sibuk dengan urusan Palestina, Pakistan, Afganistan, dan mungkin Indonesia. Tapi sungguh saya tak hendak dan tak mau berpegang pada buhul salat.

Saya lebih suka percaya pada diri sendiri dan mungkin manusia lain yang saya percaya untuk menyelesaikan masalah. Saya percaya manusialah yang bisa menyelesaikan problem manusia. Meskipun pada akhirnya problem itu tak kunjung terpecahkan. Tapi biarlah itu jadi urusan manusia. Dan manusia saja.

Saya khawatir jika kita berpegang pada salat dan tuhan, kita kehilangan kepercayaan pada diri kita sendiri. Kita kehilangan kepercayaan pada manusia(-manusia).

Jadi persaksikanlah saya tak akan kabur dan petaka. Saya akan berpegangan pada diri sendiri. Pada manusia. Dan manusia saja. Meski saya harus mati karenanya. Tapi saya percaya pada derajat kemanusiaan kita.


Read more »

Rabu, 21 Maret 2012

Saya tahu semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan saya juga tahu, seorang pembohong bisa saja tobat, insyaf, dan menjadi seorang jujur.

Saya tahu bahwa saya mesti positif pada orang. Nggak boleh berburuk sangka. Ini penting buat saya bukan demi kebanggaan saya di mata orang. Atau membangun reputasi. Tapi semata karena saya kepingin hidup positif. Tanpa dengki atau buruk sangka atau energi negatif.

Tapi ini bukan perkara mudah saudara-saudara. Saya sulit percaya dengan orang ini. Sulit membersihkan hati saya dari syakwasangka. Apalagi kalau mengingat-ingat "reputasi" si orang ini.

Ya sudahlah. Mudah-mudahan keputusan yang saya ambil nggak salah. Tidak merugikan sesiapa.

Read more »

Kamis, 23 Februari 2012

Pagi ini saya capek betul oleh sebab berkendara di Jakarta. Lalu lintasnya kacau. Saya sungguh tidak mengeluh dengan kemacetan. Karena itu konsekuensi belaka. Di kota maju mana pun di dunia, kemacetan itu ada. Berjam-jam pun ndak masalah--mudahmudahan saya bisa konsisten. Tapi perkaranya adalah semua orang semaunya. Lampu merah diterabas. Menyerobot dari sebelah kiri. Melaju terlalu cepat, padahal yang bersangkutan membonceng anak dan istri di belakangnya.



Sungguh ini perkara yang membuat saya jengkel setengah mampus. Mudahmudahan saya diberi anugerah kelapangan hati dan kepala seluasluasnya oleh tuhan yang mahasegala untuk menghadapi ini. Semoga kekecewaan cuma bermuara pada kejengkelan semata. Tidak pada kerucut frustrasi.



Dan sebagai kompensasinya (ah betulkah itu?), saat berkendara tibatiba melintaslah pikiran seperti ini: "seandainya ada kesempatan untuk hidup, ingat untuk hidup ya bukan semata bekerja, di luar negeri, katakanlah di Eropa, saya pasti akan mengambilnya". Seandainya istri dan akan setuju, saya tidak akan berpikir lagi untuk mengambilnya.



Itu semua saya rasa, karena saya menyimpan pikiran agak tidak terang: bahwa kota ini, Jakarta, terlalu rusak untuk diperbaiki. Kotanya sudah rusak, dan orangnya apa lagi. Kota mungkin mudah untuk diperbaiki. Ada banyak perencana kota yang pintar yang bisa memperbaiki tata bangun dan tata kelola kota. Tapi bagaimana memperbaiki orang-orangnya?



Saya agak ragu orangorang cacat pikiran seperti anggota dan tetua FPI itu bisa diinsafkan dari selaput yang menutup otak mereka? Bagaimana menginsyafkan para pengendara bermotor tentang etika, adab, dan norma? Ini bukan karena saya mengendara mobil sekarang. Saya pernah mengendara motor kok sebelumnya. Bagaimana menyadarkan orang-orang yang menyelenggarakan maulid hingga tengah malam, ditambah menyalakkan petasan--dari mana datangnya ide petasan dengan hari kelahiran baginda nabi? Bagaimana meyakinkan para pengurus masjid dan pengurus pengajian lainnya kalau mau menyelenggarakan apa pun itu jangan menutup jalan?



Ah semua ini terlalu ruwet, bukan? Dan agak nggak cocok untuk diposting pagipagi.

Read more »

Rabu, 22 Februari 2012

Sebal Deh (Sungguh ini judul yang tidak layak)

Serius deh, mudah menghakimi itu menyebalkan. Meski sebetulnya, sungguh betul, saya nggak kepingin sebal. Karena apa saudara-saudara? Sebab karena sebal atau marah atas sesuatu itu pertanda kita menaruh perhatian dan menginvestasikan emosi. Dan itu mubazir saudara. Dan mubazir itu temannya syaithon la'natullah alaih. Nah tapi apa boleh buat, banyak banget kejadian di sekitar saya. Well, actually nggak terlalu banyak sih. Tapi sering kejadiannya, di mana ada orang yang suka menjatuhkan vonis alias penghakiman alias nge-judge. Misalkan sekolah ini katrok karena begini. Atau produk ini nggak ada bagus-bagusnya. Well dear, kalau pikiran itu cuma ada di batok kepala sih ya nggak apa-apa yah. Tapi problemnya kalimat-kalimat sinis yang cenderung judgemental ini terbang kemana-mana. Ke ruang yang sebenarnya privat tapi publik sekaligus. Apa maksudnya? Maksudnya misalkan di status fesbuk. Atau di twitter. Nah kasihan kita yang berteman atau following dia kan? Karena kita mau nggak mau terbentur (halah!) dengan kumpulan kata yang agak ganggu itu. Nah sebenarnya sih juga, kata-kata tadi nggak perlu saya pikirin. Karena toh tidak ada yang ditujukan untuk menyerang saya misalkan. Atau menghina kepercayaan dan akal sehat saya. Lagian, nggak perlu geer deh, doi menulis aneka pendapat tadi bukan untuk saya atau kita semua secara personal. Betul nggak? Jadi saya agak curiga, postingan ini agak berlebihan untuk menanggapi syair-syair judgemental tadi. Betapa celakanya saya. Tapi ini adalah beberapa pikiran saya mengenai orang yang judgemental itu. Seperti yang kita tahu saudara-saudara, saya selalu curiga bahwa di bawah dasar segala suatu perkara terhimpun anasir-anasir yang tidak sederhana. Misalkan, sebuah bangku merek Ikea yang bentuknya sederhana banget. Polos banget. Tapi harganya mahal. Atau sebuah sekolah yang muahilnya minta ampun. Padahal sekolahnya kecil banget. Saya curiga, untuk yang pertama, desainnya itu sungguh tidak sederhana. Dan benefitnya pasti ada buat manusia. Saya curiga, untuk yang kedua, sekolah itu mahal karena memang ada banyak sekali fasilitas yang oke-oke. Nah jadi kan sebuah perkara itu tidak sesederhana yang terlihat. Nah akan jadi terlihat bodoh kemudian, jika ada orang mengatakan bahwa xxx itu jelek , bodoh, dan kampungan. Padahal kalau kita teliti lagi padahal si xxx itu nggak jelek, bodoh, dan kampungan. Just becouse you dont know about a thing doesnt mean it is a bad thing, right? Kalau sudah begitu kan jadi yang bersangkutan sendiri yang kelihatan bodoh bukan? Belum lagi kalau soalnya begini: cuma beda selera. Akan jadi sangat katrok jika bilang Oasis itu rubbish kepada saya atau penggemar yang lain. Padahal kan Oasis itu soal selera. Kalo ada yang suka ya Oasis adalah dewa. Atau misalkan model kemeja deh. Menurut saya ini kemeja keren banget sementara menurut ybs jeleknya minta ampun. Nah ini soal selera lagih. Nah akibat memproklamasikan vonis yang buru-buru tadi, yang dipublikasi sebelum memeriksa lagi argumen-argumennya, maka sayanglah dirimu. Karena engkau akan terjerembab pada gelaran "asal nyablak". Aih terasa nggak enaknya bukan? "Asal nyablak" mungkin masih nggak terlalu parah, karena itu nggak ada hubungannya dengan orang lain. Toh yang menderita dengan atribut itu adalah diri doi sendiri. Reputasinya doi sendiri. Tapi gimana kalau pendapat atau vonisnya itu melukai orang lain? Bikin dosa bukan? Waspadalah. Dosa pada orang lain itu menurut saya jauh lebih besar tinimbang dosa pada tuhan. Ingat ini opini pribadi lho. Tapi yang mengganggu saya terutama adalah karena mudah menjatuhkan itu menyebalkan. Menyebalkan seperti menyaksikan kebodohan dan kebebalan yang berulang-ulang.

Read more »

Kamis, 19 Januari 2012

tato

akhirnya saya punya tato. sudah lama betul saya kepingin punya tato. tapi niat tinggal niat saja. tak kunjung terealisasi, karena saya sendiri malas ikhtiar. bergantung pada teman semata. sampai akhirnya teman menghadirkan temannya, yang adalah petato profesional di kantor. well, kali ini nggak ada alasan lagi. sip. maka jadilah itu tato.

jauh sebelumnya, saya sudah tahu apa yang mesti saya rajahkan ke badan. saya punya kandidat sebagai berikut: musik, love, mantra, dan inkonsistensi. yang terakhir ini bahkan sudah dibikinkan desain fontnya. dibikin, lagi-lagi oleh temannya teman. belakangan kata terakhir ini pula yang saya mantapkan. saya ingin kata itu di tubuh saya.



bukan tanpa alasan. tapi karena kejadian-kejadian. di sekitar saya. yang rasanya meneguhkan pilihan itu. saya menyaksikan betapa manusia begitu tidak konsistennya. di suatu saat pernah sangat benci pada orang ini. tapi saat ini pujapuji dilontarkan begitu saja. ah, mungkin orang itu juga saya.

ah saya mengalami badai hebat juga belakangan. badai yang hebat, sekali lagi. yang akhirnya juga tersangkut pada diksi itu: inkonsisten. pada hal apa pun!

nah setelah memantapkan pilihan, maka tiba saatnya untuk memilih bagaimana bentuk tato. apakah saya memakai anagram yang sudah dibuatkan temannya teman itu? atau saya memakai bentuk yang sama sekali baru?

saya tidak sreg dengan anagram itu. entah kenapa. memang tampaknya keren. bisa terbaca kata yang sama persis dibaca dari sudut mana pun. dia seperti lazimnya tato-tato yang lain.

tapi saya bosan dengan simetri. dia tidak selaras dengan falsafah saya. saya juga tak mau seperti orang kebanyakan yang sudah dan mudah bisa digolongkan jenis tatonya. saya ingin sederhana, tapi kuat sekaligus. berhubung tingkat keterampilan desain saya cekak, maka saya carilah font paku yang ada di Internet. saya kok merasa jenis huruf ini sangat kuat. kasar, tidak proporsional, chaos, tapi indah sekaligus. jadilah setelah mencari-cari ketemu jenis huruf yang mendekati keinginan saya. dan akhirnya inilah dia.



tato bukan perkara mudah buat saya. saya terlahir dari keluarga muslim. meski tak taat, tapi sangat menjauhi perkara yang celaka. termasuk di antaranya tato. nah, entah apa yang ada dalam pikiran keluarga, ibu utamanya, melihat tato ini. saya dalam ambang: tak begitu peduli. ini tubuh saya. perihal apakah saya masih diperbolehkan ibadah dengan atau tidak adanya tato ini: peduli setan!

saya rasa itu alasan yang terberat buat saya, ketika hendak membuat tato.

tapi sudahlah. saya bangga dengan tato ini. dia seperti blog ini. pribadi dan publik sekaligus. dilakukan untuk kesenangan saya tapi dengan ekspose ke publik yang begitu terbuka.

ya sudah

Read more »

Minggu, 08 Januari 2012

Kalau ditanya apa momen terbaik saya setakat ini? Tanpa ragu saya akan menjawab: ketika menjadi bapak. Sepertinya seluruh hidup saya selama ini, makanan, buku, musik, film yang saya tonton, semuanya dipersiapkan untuk mengantarkan saya pada fase ini: menjadi bapak.

Jauhjauh hari, jauh sebelum meletakkan tangan saya dan berjanji pada pasangan, saya sudah berjanji akan menjadi the coolest dad for my kid. Saya akan nonton konser bersama, jalan bersama, ngomong soal cewek dan seks bersama. Saya akan berbagi selera musik dan film saya jika dia suka. Saya akan mengantarkan dia ke rak favorit saya di toko buku. Pun jika dia ingin.

Bila dia dewasa kelak, kami akan minum bersama. Dan ngobrol seperti dua teman selayaknya. Kalau dia mau, dia bisa mendengarkan cerita saya, dan sebaliknya.

Menjadi bapak itu ajaib saudarasaudara. Seperti sebelumnya, rasanya baru kemarin, saya menghabiskan waktu sebagai kanakkanak. Tapi sekarang saya mesti dewasa buat anak saya. Dan saya berjanji lagi untuk menjadi bapak yang terbaik buat anak saya.

Tidak akan sekalipun meletakkan tangan, apalagi gesper di tubuhnya dengan alasan apa pun. Saya tak percaya pada kekerasan. Tapi sebaliknya saya akan kokoh bergeming manakala dia tak masuk akal. Kami berantem saja dengan hebat. Tapi jangan harap saya akan mengalah apalagi kalah. Meskipun menang sama sekali bukan tujuan.

Menjadi bapak itu magis. Setara tuhan mungkin. Dari mani dan sel telur yang bertemu di saat senggama yang, mungkin tak seberapa, maka jadilah dia, kamu!

***

Tapi itu sematamata idealnya saudaraku. Dia tidak selamanya begitu. Tidak indah selamanya. Saya suka tertidur dan tak bisa menahan kantuk. Juga bosan. Energi saya tidak lagi semuda dulu. Ritme saya melambat. Sementara itu ego saya terus berkembang. Berkurang di beberapa departemen, tapi membengkak di seksi lainnya. Sementara si anak kepingin bermain. Terusmenerus. Ituitu saja. Tidak mengenal toleransi, dst.

Dan dwarr.

Kami bertengkar seperti besok dan selamanya tidak akan membutuhkan satu sama lain.

Dan itu menjadikan saya bapak yang tidak baik untuk sementara waktu. Dan dia? tidak ada anak yang tidak baik. Semuanya baik.

***

Having a children is really like having a tattoo on your forehead? Yeah, right... Dia akan menempel kemanamana. Tapi saya agak sinis dengan kalimat ini. Sepertinya kok ya punya anak itu berarti aib yang mesti ditutupi. Atau status yang membawa konflik dalam hubungan si penyandang status dengan orang lain. Tak tepat.

Sebaliknya, having a children is really about battle, a neverending one, with yourself. Having a children means your life, being sucked to dry. So it is not fun mate. Really. You cannot pretend being a mom or dad. And you cannot be a part-time mom or dad. Shit, no you cannot. This I can assure you!

But please dont misjudges me. I'am not cursing myself for being a dad now. No I'm not. Not a single atomic bit.

***

Tapi saya paling tak tahan dengan kesepian. Bisa mati dibuat kesendirian. Dan ini yang paling sering saya rasakan pada masa bujangan dulu. Karena itu kita berteman dengan banyak orang untuk mengisi cawan kosong kita. Tapi bahkan kawan dan teman juga punya kesibukan masingmasing. Karena itulah hidup bukan?

Nah karena itu....

BERSAMBUNG

Read more »