Pagi ini saya capek betul oleh sebab berkendara di Jakarta. Lalu lintasnya kacau. Saya sungguh tidak mengeluh dengan kemacetan. Karena itu konsekuensi belaka. Di kota maju mana pun di dunia, kemacetan itu ada. Berjam-jam pun ndak masalah--mudahmudahan saya bisa konsisten. Tapi perkaranya adalah semua orang semaunya. Lampu merah diterabas. Menyerobot dari sebelah kiri. Melaju terlalu cepat, padahal yang bersangkutan membonceng anak dan istri di belakangnya.
Sungguh ini perkara yang membuat saya jengkel setengah mampus. Mudahmudahan saya diberi anugerah kelapangan hati dan kepala seluasluasnya oleh tuhan yang mahasegala untuk menghadapi ini. Semoga kekecewaan cuma bermuara pada kejengkelan semata. Tidak pada kerucut frustrasi.
Dan sebagai kompensasinya (ah betulkah itu?), saat berkendara tibatiba melintaslah pikiran seperti ini: "seandainya ada kesempatan untuk hidup, ingat untuk hidup ya bukan semata bekerja, di luar negeri, katakanlah di Eropa, saya pasti akan mengambilnya". Seandainya istri dan akan setuju, saya tidak akan berpikir lagi untuk mengambilnya.
Itu semua saya rasa, karena saya menyimpan pikiran agak tidak terang: bahwa kota ini, Jakarta, terlalu rusak untuk diperbaiki. Kotanya sudah rusak, dan orangnya apa lagi. Kota mungkin mudah untuk diperbaiki. Ada banyak perencana kota yang pintar yang bisa memperbaiki tata bangun dan tata kelola kota. Tapi bagaimana memperbaiki orang-orangnya?
Saya agak ragu orangorang cacat pikiran seperti anggota dan tetua FPI itu bisa diinsafkan dari selaput yang menutup otak mereka? Bagaimana menginsyafkan para pengendara bermotor tentang etika, adab, dan norma? Ini bukan karena saya mengendara mobil sekarang. Saya pernah mengendara motor kok sebelumnya. Bagaimana menyadarkan orang-orang yang menyelenggarakan maulid hingga tengah malam, ditambah menyalakkan petasan--dari mana datangnya ide petasan dengan hari kelahiran baginda nabi? Bagaimana meyakinkan para pengurus masjid dan pengurus pengajian lainnya kalau mau menyelenggarakan apa pun itu jangan menutup jalan?
Ah semua ini terlalu ruwet, bukan? Dan agak nggak cocok untuk diposting pagipagi.
0 komentar:
Posting Komentar