Kamis, 28 November 2013

Start all over again

Tentu tidak adil dan mestilah itu berkilah jika saya bilang saya sekadar mengucapkannya: bagaimana jika kita mulai segalanya dari nol. Ini mestinya bersumber dari kelelahan saya menghadapi kemacetan di Jakarta. Dari kantor pukul 17.30 dan sampai rumah pukul 20.30. Tiga jam! Melalui berkali-kali moda. 

Saya khawatir kewarasan kami berkurang. Dan kami semakin kebas dan toleran terhadap ketidaknormalan. Dan yang lebih parah kami mewakili degradasi ini kepada anak kami. Nauzubillah. 

Ingatan saya melayang pada seorang teman di Bandung. Mengenai kenapa dia memilih dataran tinggi di sana sebagai tempat tinggal. Tidak mendekat dengan orang tuanya, maupun mertuanya. Jawaban yang sederhana dan tidak impresif--saat itu: Karena itu rasanya tempat terbaik untuk membesarkan anak. 

Duh gusti. Tahan-tahankanlah saya menghadapi Jakarta. 

Read more »

Sudah lama

Sudah lama saya  tidak mengeluh tentang kehidupan. Apakah kehidupan saya baik-baik saja. Saya cuma bisa berdoa, semoga iya. Iya, pekerjaan mulai tertata. Meski beratnya minta ampun. Ada bagian yang saya bisa nikmati betul.

Misalkan bagian saya bepergian ke beberapa wilayah di Indonesia. Saya belajar mengalokasikan waktu untuk menikmati kota-kota yang saya kunjungi. Dan kemarin ada kesibukan luar biasa mengurus konferensi. Berat dan capek. Tapi ini yang membuat saya senang. Saya berkumpul dengan teman-teman baru saya yang luar biasa santai dan humoris. Nyaris tiada jam tanpa tertawa. Saya betul-betul menikmati ini. Bukan pekerjaannya. Hehehehe

Read more »