Kamis, 28 November 2013

Start all over again

Tentu tidak adil dan mestilah itu berkilah jika saya bilang saya sekadar mengucapkannya: bagaimana jika kita mulai segalanya dari nol. Ini mestinya bersumber dari kelelahan saya menghadapi kemacetan di Jakarta. Dari kantor pukul 17.30 dan sampai rumah pukul 20.30. Tiga jam! Melalui berkali-kali moda. 

Saya khawatir kewarasan kami berkurang. Dan kami semakin kebas dan toleran terhadap ketidaknormalan. Dan yang lebih parah kami mewakili degradasi ini kepada anak kami. Nauzubillah. 

Ingatan saya melayang pada seorang teman di Bandung. Mengenai kenapa dia memilih dataran tinggi di sana sebagai tempat tinggal. Tidak mendekat dengan orang tuanya, maupun mertuanya. Jawaban yang sederhana dan tidak impresif--saat itu: Karena itu rasanya tempat terbaik untuk membesarkan anak. 

Duh gusti. Tahan-tahankanlah saya menghadapi Jakarta. 

0 komentar:

Posting Komentar