Rabu, 19 Desember 2012

Wak Amin

Kemarin Uwak saya meninggal. Kami memanggilnya Wak Amin. Dia kakaknya ibu. Kami mengenangnya sebagai orang yang sederhana dan sangat pengasih. Baik hati. Tak cuma dia, tapi seluruh keluarganya. Karena itu saban kami sekeluarga "pulang kampung" ke Tegal Parang pada lebaran, rumah uwak ini yang menjadi sasaran kami untuk menjadi sasaran mendarat. Dari situ barulah kami muter-muter ke tempat kerabat yang lain.

Dan kemarin dia meninggal. Kalau dari cerita-cerita yang saya dengan kemarin, kematiannya sederhana. Masuk rumah sakit pada Minggu, meninggal Rabu. Ringkas bukan? Penyebab kematiannya menurut sasus itu adalah karena dia kena virus apalah itu akibat banjir yang melanda rumahnya beberapa hari lalu, dan itu berkelindan dengan ginjal dan lever dan jantung dan aneka penyakit yang sudah lama dia derita. Jadilah dia mati.

Dan pada peristiwa kematian adalah pintu sejuta kemungkinan dan cerita. Dan Wak Amin tak pernah sedemikian hidup seperti sekarang ini--ketika dia mati. Saya merangkum cerita dan mengorek ingatan tentang dia. Dan hasilnya adalah Wak Amin lelaki yang berbeda dari kebanyakan lelaki lain. Dia memelihara kucing dan tanaman. Tanamannya terawat dengan baik di halaman. Senang sekali saya melihat kesegaran demikian rupa di halaman yang tak terlalu lebar pulak.

Kak Mela mengingatkan saya bahwa dia adalah orang yang begitu cermat mempersiapkan aneka dodol, tahu, dan buah tangan untuk dibagi-bagi saat saudara-saudaranya berkunjung ke rumah. Semua dapat bagian. Dodol pula yang jadi kenangan kuat Kak Mela pada Wak Amin.

Kak Han mengingat dia sebagai bapak yang tak segan menyeterika pakaian, atau mengepel, atau memasak, dan membuat tape uli dengan tangannya sendiri. Sebuah pekerjaan yang diidentikkan dengan kaum perempuan. Dari Kak Han juga saya mendapat informasi bahwa Wak Amin adalah fotografer otodidak. Saya tak pernah tahu pada batas mana kualitas hasil jepretannya. Tapi foto besar di ruang tamu, sedikit mengungkap cita rasanya soal gambar. Dia bersama istrinya dengan setelah lengkap busana Barat. Dengan foto hitam putih yang sempurna pencahayaannya. Bagus buat saya.

Dan ini adalah cerita lainnya yang menarik seputar Wak Amin. Bahwa ada teman SMA-nya yang datang menjenguk. Kepada keluarganya, perempuan ini memohon agar bila Wak Amin sudah pulang dari rumah sakit, dia saja yang merawat. Kasihan katanya, Wak Amin tinggal sendiri. Istrinya, kami memanggilnya, Wak Mune sudah meninggal empat, atau lima tahun yang lalu. Dari cerita para tetua, teman SMA ini adalah bekas pacar Wak Amin. Entah karena apa, hubungan mereka kandas. Wak Amin seperti yang kami semua tahu menikah dengan Wak Mune. Menghasilkan Kak Iyah, Kak Iyan, Tati, dan Helmi. Yang belakangan itu sekarang pria dewasa sepantaran saya.

Entah kenapa saya begitu terharu dengan kisah ini. Saya segera menancapkan episode ini dalam kepala. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan novel saya kelak. Kisah ini buat saya memantik aneka adegan dan cerita spekulatif.


0 komentar:

Posting Komentar