Jumat, 07 Desember 2012

Perpisahan

Perpisahan itu kejam saudara-saudara. Percayalah. Tanyalah kepada sesiapa yang pernah merasakannya. Dia seperti mengiris kita. Dengan rasa apa pun, kecuali yang positif. Ada yang jengkel, marah, sedih, kecewa, pahit. Tapi tak pernah sekali pun: gembira.

Dan saya merasa sedih setakat ini, karena kehilangan teman saya. Itulah pengalaman pertama yang ditimbulkan dari sebuah perpisahan: Kehilangan dan kesedihan. Sesuatu sepertinya sudah ditarik dari hati. Ada yang bolong di sana. Selamanya tidak terganti--paling tidak itu yang saya rasakan sekarang ini--entah nanti.

Tapi ya sudah ini mesti berlalu. Air mata sudah tumpah. Dan beranjaklah kita pada pengalaman kedua yang rasanya tak kalah menyakitkan: bahwa kita akan lupa, dilupakan, melupakan. Sadar atau tidak, niat atau tidak. Perlahan kita sadar bahwa kehidupan itu berjalan. Dan waktu adalah pil lupa yang manjur. Kita lupa dengan teman kita itu.

Saya membayangkan saya yang pamitan sore ini. Tumpah segala duka. Tapi ya sudah. Antiklimaks. Setelah itu kehidupan dan pekerjaan kembali menyedot kita. Tak ada waktu buat bersedih lama-lama. Dan saya kemudian menyadari, betapa pun saya sedih karena kehilangan. Karena meninggalkan teman-teman. Saya tidak sepenting itu. Saya bukan John Lennon, Kurt Cobain, atau Lady Di yang kepergiannya diperingati dengan perkabungan yang panjang. Saya perlahan, ah mungkin tergesa, lenyap. Atau menjadi hambar saja.

Sakit bukan?

Ah perpisahan selamanya akan menimbulkan luka, duka, dupa, nestapa, lara, dan muram durja. Tapi itu tak selamanya. Cuma itu saja yang mesti saya ingat-ingat.

Ah saya, teringat kutipan film yang barusan saya tonton, "Everything will be all right in the end. If it isnt then it's not yet the end..." 

Jika begitu teman, maka saya ucapkan sampai jumpa. Kita berjumpa lagi kelak. 


0 komentar:

Posting Komentar