Kepala saya mengebul. Sepertinya banyak yang hendak saya tulis. Mungkin karena sudah terlalu lama saya tidak menulis. Tulisan ini semata-mata untuk mengingatkan saya bahwa saya dilimpahi begitu banyak bahan untuk cerita-cerita saya. Semua cerita dengan serius saya coba cermati dan saya berusaha benamkan dalam otak. Mudahmudahan tidak menghilang.
Saya berasal dari keluarga besar. Baik dari garis bapak, apalagi ibu. Dan rasanya cerita-cerita yang melingkupi mereka begitu unik. Beberapa darinya akan saya catatkan di sini.
Kakek saya berasal dari Gombong, kalau tak salah. Hijrah ke Jakarta tahun 30-an. Membeli tanah. Dan beranak pinak di sini. Kelima anak lelakinya yang hidup--termasuk bapak saya--semuanya lahir di Jakarta. Karena itu saya mengklaim bapak saya orang betawi saja. Keluarga kakek dan nenek dari bapak saya ini punya kerabat di Banjar Negara. Dan di sinilah imaji "kampung" dibangun. Saya tak pernah hapal garis dan silsilah, nama apalagi muka. Yang saya kenal misalkan Lek Muhadi, Atau Kasan. Atau Irin. Atau yang baru-baru ini meninggal, Wak Marilah. Pupus di usia sembilan puluhan.
Nah salah satu cerita menarik dari sini adalah bagaimana bapak atau abang-abang bapak kemudian dimusuhi oleh salah seorang pak lek atau Uwak, entah siapa. Karena dianggap sombong. Ceritanya setelah mereka menginap dan siap untuk pulang, segenap isi kampung itu mengumpulkan aneka hasil bumi untuk dibawa ke Jakarta. Beras lima liter sudah disiapkan di pintu sang pak lek atau uwak itu. Tapi Bapak kemudian lupa membawa. Hasilnya adalah dia dimusuhi untuk beberapa saat. Ini dramatis buat saya, Bisa menjadi fondasi buat cerita drama tentang menyembuhkan luka.
Atau saya juga akan banyak bercerita tentang keluarga besar Abdur Rohim, bapaknya ibu. Konon seorang menantu mengentarai keturunan Kong Doim--itu panggilannya cuma dengan menantap roman muka seorang. Kata dia, keturunan Kong Doim rata-rata bergigi tonggos. Tapi itu sebagian. Sebagian lainnya berparas cantik dan gagah. Lengkap dengan kulit putih. Jadi ada polarisasi di sana. Kalau jelek, ya jelek sekalian. Kalau cakep dan gagah, ya gagah dan cakep sekalian.
Saya mendapatkan pengalaman saya melayat semalam itu begitu absurd dan jenaka sekaligus. Saya dikenali oleh hampir semua sepupu saya. Tapi saya begitu tak enak karena tak hapal nama-nama mereka. Sungguh.
Kong Doim punya delapan anak kalau tak salah. Empat lelaki, empat perempuan. Wak Duloh yang paling tua punya 13 anak plus beberapa anak angkat. Wak Omat punya sekira enam atau tujuh anak dari dua istrinya. Istri kedua dinikahi setelah istri pertama meninggal. Dan Wak Omat meski tampil sangat kalem, adalah bekas residivis. Pernah ibu bercerita bagaimana dia menyembunyikan Wak Omat dari kejaran polisi. Wak Yadi adalah yang paling kalem. Meskipun dari cerita bapak Wak Yadi adalah buaya keroncong dan pecandu orkes melayu. Dia punya empat orang anak, dan saya bersyukur karena hapal nama semua anaknya. Dan laki-laki terakhir adalah Wak Amin yang saya sudah panjang lebar cerita sebelumnya.
Empat anak perempuannya dimulai dengan Wak Ope dengan hmhmhm berapa anaknya? Entah. Hapal namanya pun tidak. Tapi yang saya ingat adalah Wak Ope punya anak yang saya panggil Mpok I'il. Mpok I'il kelak menjadi istri Pakde Ramelan--abang bapak yang paling tua. Mpok I'il dinikahi Pakde Ramelan setelah istri terdahulunya meninggal. Aneh bukan. Saya tetap memanggilnya Mpok I'il tinimbang Bude. Habis itu ada Enyak Fat. Harusnya saya memanggilnya Wak Fat. Tapi karena dia dianggap seperti ibu sendiri buat ibu saya, maka saya memanggilnya Enyak. Dia juga punya banyak anak. Tapi saya ingat anak-anaknya karena mereka semua tinggal di Kayumanis dan saya tumbuh bersama mereka juga. Habis itu ada Wak Ence dengan hmmmh berapa anaknya? Saya tak tahu. Namanya juga tidak. Yang jelas Wak Ence ditinggal mati suaminya dan tak pernah menikah lagi. Dia punya wajah yang sangat mirip dengan ibu.
Huah banyak sekali ceritanya. Itu baru satu. Kami kelak harus berkumpul mendata dan saling berkenalan kembali sebagai satu keluarga--Kong Doim. Hehehehe. Ini fondasi cerita yang bagus juga bukan?
Ada lagi cerita yang lain. Tapi saya begitu cape dengan tulisan ini.
0 komentar:
Posting Komentar