Kamis, 06 Desember 2012

Sendiri Lagi

Saya khawatir tangan saya karatan. Pikiran jadi kepo, gara-gara kelamaan nggak nulis. Dan saya menulis ini dalam pengaruh wine. Astaga, ini pukul setengah tiga. Dan saya sudah menenggak alkohol. Bajingan. Ada yang salah dengan saya.

Ah terlalu banyak yang salah dengan saya. Banyak betul. Perkaranya saya tak suka menengok ke belakang mungkin.

Ah kenapa rasanya mendadak mendung begini di hati. Mungkin karena saya mendengar terlalu banyak Radiohead. Jadi depresif.

Ah ada beberapa hal yang saya kepingin bagi di blog ini. Pertama saya kehilangan kawan. Ah nggak kehilangan juga. Kawan itu tetap ada di sana. Cuma terpisah lingkungan saja. Dia pergi ke Bandung. Mengejar mimpi lainnya, katanya. Dan saya sedih karenanya. Betul. Bukan karena si kawan ini sempurna buat saya. Justru tidak. Dia, dalam banyak hal terasa menyebalkan. Tapi toh berkawan bukan semata karena kebaikan orang bukan?

Dengannya sudah banyak peristiwa yang saya lalui. Bersama dalam proyek yang musykil atau menyedot energi luar biasa. Tapi semua terasa menyenangkan. Betul. Terasa menyenangkan. Dan mengingat itu terbitlah gundah saya. Itu mungkin yang saya rasakan.

Saya bukan teman terdekatnya, itu pasti. Tapi apa yang kami punya rasanya juga cukup kuat buat mengikat kami.

Dan saya mengutuk hati, kenapa berasa melankoli seperti ini. Tapi saya punya pikiran begini. Mungkin bukan karena kepergiannya saya pergi. Bukan karena faktor dia. Tapi faktor kedirian saya yang membuat saya sedih. Emosi yang saya rasakan completely dipicu dengan apa yang ada dalam diri saya sendiri. Saya takut sendiri! Saya tak pernah sendiri. Sejak dulu. Ini bisa saya ceritakan nanti.

Setelah ini, saya sendiri di kantor ini. Saya adalah orang terakhir dari delapan orang yang ditugaskan pertama-tama membangun radio ini. Iya saya sendirian. Dan saya takut sendirian. Dan rasanya itu yang akan kejadian. Meskipun takdir belum menutup segel dari aneka peristiwa yang membuat hidup saya berwarna. Saya akan kehilangan orang di kantor yang bisa diajak ngobrol. Diledekin. Tertawa bersama. Kubus itu akan sepi, sepertinya. Saya akan terperangkap sepi di kabin saya.







0 komentar:

Posting Komentar