Senin, 22 Oktober 2012

kurusan

Mestinya saya senang-senang saja kalau ada orang mengatakan: wah kurusan lu! Ah senangnya. Mestinya. Dan memang senang juga yang saya rasakan pertama-tama. Itu adalah kejadian kesekian. Seingat saya ada tiga empat kawan yang sudah lama tak berjumpa dan ketika berjumpa berkata kepada saya: Elu kurusan.

Ah, iya kurusan. Tapi yang pasti bukan karena program diet yang berhasil. Atau saya ingin mempertahankan imaji langsing di usia berkepala tiga--saya seorang bapak! Tapi mestinya itu lantaran stres.

Setahun belakangan adalah periode terberat bagi hidup saya--well bagi keluarga saya juga. Hidup saya seperti terbelah. Kalau pikiran seperti keramik, maka otak saya seperti kena gada dan pecah berkeping. Masalah hati, masalah pekerjaan, masalah pertemanan, masalah ekonomi, dan masalah ke-diri-an saya. Ah lihat betapa egoisnya saya yang cuma mengukur diri sendiri. Tapi ini blog saya. Dan saya tak bisa bohong di blog ini bukan?

Saya merasa saya kadung rusak dan tidak bisa diperbaiki. Saya tidak bisa lagi menjadi topangan. Ada yang salah dengan pikiran saya, itu yang pertama dan utama. Dan akhirnya semua laku saya menjadi salah. Itulah yang membuat saya rusak.

Ini beberapa indikator yang menurut saya bisa dipakai secara sah untuk menentukan saya rusak atau tidak:

1. Saya tidak bisa menemukan pikiran dan alasan yang mengandung kebenaran dalam tindakan saya.

2. Saya mengambil tindakan culas yang cenderung menguntungkan diri sendiri. Dalam tindakan itu saya benar-benar tidak mempertimbangan perasaan orang lain.

Dan akhirnya saya benar-benar merasa sudah rusak.

Saya tahu dalam kondisi seperti ini mestinya saya tidak sendiri. Saya mesti tahu dan sadar ada orang yang betul-betul mau membantu. Meredakan semua ini. Unconditional. Tapi hidup tak semudah cangkem Mario Teguh. Dan psikolog paling bodoh pun tahu, jiwa seorang tak bisa dipetakan. Tak ada resep yang mudah buat jiwa manusia. Apalagi yang kadung rusak. Seperti saya.

Saya seperti jauh. Dan akan menghilang dalam lagu. Seperti saya menari ketika menulis ini beriring lagu tentang drakula dan cinta sejatinya pada matari.



0 komentar:

Posting Komentar