Selasa, 05 Oktober 2010

soal agama

sebab pada dasarnya saya percaya betul tidak ada manusia yang konsisten. satu-satunya manusia yang konsisten, betapa pun dia akhirnya mendapat predikat superhero, saya pikir akan retak dan rawan pecah di mana-mana. ah ya, mungkin saja nabi bisa konsisten. tapi itu saya pun yakin umatnya sangat sibuk menutup lobang dan membangun cerita mistis dan mitos, agar dia kekal sempurna: konsisten.

dan dasar kepercayaan saya itu: bahwa manusia tidak konsisten, yang akhirnya membuat saya sangsi pada agama. bukan apa-apa, agama mengandaikan semua sempurna. dan ada konsekuensi buat mereka yang tidak konsisten. manusia, tidak bisa tidak, mesti konsisten tanpa cela dan dosa.

okelah ada mekanisme tobat. tapi bukankah itu artinya agama juga mengakui bahwa ada kecenderungan tidak konsisten pada manusia. bahwa kalau kau berbuat nista dan cela, inilah yang harus kautempuh: tobat.

saya kok juga yakin sikap agama mendua. ambil tamsil, soal seksualitas. aktivitas ini terlarang untuk siapa pun yang tidak berhak. siapa itu yang berhak, maka inilah aturannya. maka hakim merentangkan rampai senarai tata cara dan sistemnya. padahal kita sedang berbicara soal seksualitas: hasrat paling purba manusia yang sebenarnya adalah hewan pulak! hewan yang pada fitrahnya tidak ambil permisi ketika hasrat sudah di ubun-ubun kelaminnya.

rasanya agama tidak jujur memandang manusia. selamanya dia akan menjadi subyek aturan, tapi celakanya tidak mendapat pengakuan akan segala keterbatasan, termasuk inkonsistensinya.

0 komentar:

Posting Komentar