Jumat, 11 November 2011

Lesson from the office #4

Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.

Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.

Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.

Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.

Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.

Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?

Lantas apa kartu mati ini tidak bisa dibalik jadi kartu baik? Saya percaya bisa. Saya menyaksikan beberapa teman saya, yang dahulunya ignoran sekarang begitu bersemangat. Saya menyaksikan seorang teman yang begitu diberi kepercayaan sedikit langsung berkembang dengan pesat. Mengalami progres luar biasa. Dan termasuk apa yang terjadi pada saya sendiri. Kartu mati bisa dibalik.

Tapi hari ini saya begitu pesimistis kartu mati yang satu ini bisa diubah. Saya sebal betul dengan kartu mati ini.

Read more »

Lesson from the office #4

Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.

Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.

Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.

Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.

Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.

Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?

Dan hari ini saya sebal betul dengan kartu mati ini.

Read more »

Kamis, 10 November 2011

He's just loosing his touch

Dari dulu saya percaya bahwa manusia selamanya tidak sempurna. Dia akan selamanya tidak sempurna atau mati ketika berusaha untuk sempurna. Atau dia kehilangan kemanusiaannya ketika mau jadi sempurna. Dan para nabi itu adalah contoh baiknya. Atau para syekh pemberang itu. Yang hilang kemanusiaannya.

Dan karena itu saya menolak, selamanya, patron atau budaya patriarki atau idolaisasi atau heroisme atau apa pun itu. Yang menganggap seorang manusia selalu keren adanya. Dan pagi ini saya kembali diingatkan prinsip itu.

Saya diingatkan dan mengingatkan kembali kesadaran saya bahwa manusia bisa sangat mengecewakan. Apalagi jika kita memakai paradigma heroisme atau budaya patron itu. Sakit hati. Manusia yang dulunya diceritakan begitu herois, visioner, dst bisa saja kehilangan sentuhannya. Dia jadi lalai, abai, nirempati,dll. Dia bisa saja menjadi orang yang sangat kita benci karena ketidakprofesionalannya atau karena pelanggaran prinsip yang sangat serius.

Saya kecewa berkali-kali dengan bos saya ini. Karena beberapa pelanggaran yang menurut saya serius adanya. Tapi untungnya saya tak pernah benar-benar kecewa. Apalagi sakit hati. Karena saya meyakini prinsip saya di atas: bahwa manusia selamanya nggak sempurna. Dan wajar kalau dia salah. Dan wajar pula kalau dia kehilangan sentuhannya.

Saya cuma kecewa sedikit saja. Lantas tersenyum. Merayakan derajat kesadaran saya yang semakin awas. Dan penurunan integritasnya. Ah rasanya tidak sopan merayakan turunnya integritas orang bukan? Tidak. Saya nggak jadi merayakan kalau begitu.

Saran saya kepada orang ini adalah tobat saja. Buka telinga lebar-lebar bahwa ide brilian dan mimpi-mimpi, bersamaan dengan ikhtiar berjamaah, bisa datang dari orang-orang sekitarnya. Menjadi ignoran, padahal di pundaknya terletak nasib orang, sungguh bukan pilihan yang tepat. Sangat tidak bertanggung jawab.

Read more »

Senin, 18 April 2011

Gamang

Ini adalah pagi yang gamang buat saya. Halah gamang. Tapi betul. Tidak pura-pura dan betul sengaja memilih diksi itu. Karena gamang itulah yang ada di hati saya pagi ini.

Saya bangun tidur, bermain dengan anak dan istri, sarapan, mandi, memeluk anak, dan bekerja. Dan hal pertama yang saya kerjakan adalah membuka facebook dan mengupdate blog ini. Apa saya kurang kerjaan di kantor? Apa saya jenuh dan bosan bekerja di sini? Tidak. Pekerjaannya enak. Cukup menantang, meskipun oktan tantangannya tidak terlalu menggila. Teman-teman saya, mengesampingkan orang-orang sok-tahu dan belagu, sangat menyenangkan.

Lantas apa ini yang bikin saya gamang? Ah, tidak.

Saya orang yang sangat percaya tidak ada sebab tunggal di balik peristiwa apa pun. Dan saya pada sebab akumulatif di balik keberadaan apa pun. Demikian juga gamang ini.

Mungkin karena saya sedang butuh uang akhir-akhir ini. Mungkin karena cicilan ini dan itu yang memakan lebih dari setengah gaji per bulan. Dan saya akan lebih dari sepuluh tahun terbelenggu utang. Saya membayangkan betapa lama waktu itu.

Dan mungkin ini efek setelah saya menonton the company men. Film ini sungguh mengganggu ketenangan saya. Brengsek. Film ini sukses membuat pertanyaan: "Kok ya kita nggak pernah mengajukan pertanyaan pada pekerjaan kita?" "Lantas bagaimana kalau kita kehilangan pekerjaan?" Saya taken for granted saja pekerjaan ini.

Padahal ada nasib dan nafkah orang yang ada di situ. Dalam kasus saya, jika saya kehilangan pekerjaan maka ada keluarga saya yang bergantung di situ. Keluarga ibu dan ayah saya yang bergantung di situ.

Apakah selesai cuma bertanya? Saya rasa tidak. Problem berikutnya yang membuat saya gamang adalah: pekerjaan apa yang cocok buat saya? Tidak ada pekerjaan yang sempurna, itu saya tahu.

Habis itu terbit pertanyaan apakah pekerjaan saya bisa jadi pekerja tetap? Atau harus berdebar-debar di setiap akhir kontrak?

Habis itu terbit pertanyaan apa yakin mau bekerja dengan orang? Apa nggak lebih baik memulai pekerjaan sendiri alias berusaha. Tapi saya bukan wirausaha yang baik.

Lantas bagaimana kalau saya tua nanti. Saya tidak bisa bekerja dan tidak ada satu pun yang bisa membantu saya. Tanpa uang mengalir? Ah... seram rasanya.

Read more »

Minggu, 20 Maret 2011

ah ya begitulah. nggak jelas

Ini adalah masa-masa yang masygul buat saya. Masa yang membuat hati gentar. Hatta hidup bersama istri yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan, dengan akan yang luar biasa cerdas, pekerjaan yang sungguh di atas baik-baik saja, bergaji.... ya biasa-biasa saja, dengan tabungan sepuluh jutaan di bank, asuransi yang cukup mengcover pengeluaran bila sakit dan kebutuhan keluarga jika koit, tak cukup ampun menahan laju kerawanan hati.

Saya benci kondisi seperti ini. Karena saya seperti buntu. Okelah mestinya, di atas kartas dan secara teoritis, saya tak punya suatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi coba pikir ini: cicilan rumah, cicilan mobil, biaya pendidikan anak, kebutuhan harian dan rekreasi keluarga, kebutuhan untuk menghidupi sebagian hidup orang tua, kebutuhan untuk pribadi. Maka kombinasi itu seperti jurus yang mematikan akal sehat. Meski, mestinya Cuma, barang sejenak saja.

Hati saya sungguh masygul lagi rawan.

Sungguh tak enak jadi orang tak berdaya. Atau saya terlalu banyak maunya. Emoh sederhana. Jauh dari bersahaja.

Hati kalut. Mungkin ini saatnya. Seperti dalam Trainspotting. Inilah saat memilih pendidikan, memilih mobil, memilih rumah, memilih asuransi, memilih baju apa yang hendak dikenakan, sepatu yang pas di kaki, film yang hendak ditonton, musik yang mau didengar, buku yang enak dibaca, memilih mainan buat anak, hal untuk membahagiakan pasangan, memilih obat-obatan dan vitamin yang ditenggak, dokter siapa yang dikunjungi di rumah sakit mana, dst, dst. Mungkin inilah yang dikatakan hidup yang terkutuk bagi bujangan. Tapi saya bilang itu konsekuensi kehidupan. Kehidupan yang kita pilih.

Saat inilah bunga dan madu kehidupan yang dulu pernah saya inginkan bukan lagi hal yang sederhana yang bisa ditelan dalam frasa “kita bisa selesaikan nanti” atau “kita bisa mengatasinya” atau “yang penting kita selalu bersama”. Tapi bukankah itu isi melulu kehidupan?

Di saat seperti ini masa lalu jadi objek kutukan. Seakan semuanya salah dari awal. Kenapa begini kenapa begitu. Dan itu tolol dan konyol. Itu saya tahu betul, mestinya, di atas kertas, teorinya. Di saat seperti ini lagu pop murahan jadi relevan, “ah, seandainya kutahu apa yang terjadi sekarang di waktu yang lalu.”

Seandainya ini seandainya itu. Taik kucing. Tiada waktu buat mundur ke belakang. Teorinya, di atas kertas. Ah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Lakukan sesuatu yang konstruktif. Teorinya, di atas kertas. Ya sudah. Kita tahu sekarang situasinya apek buat kita. Lantas apa. Itu yang mesti kita lakukan. Ah itu teorinya, di atas kertas.

Kita punya pilihan untuk keluar dari situasi ini, atau hancur karenanya. Itu kita tahu. Di atas kertas. Teorinya.

Mungkin mestinya pilihan itu sederhana. Perkara menurunkan selera atau menaikkan pendapatan. Mungkin sesederhana itu: Live with it or do something about it. Yeah yeah yeah. Taik kucing.

Ya, ternyata tidak mudah hidup menjadi kelas menengah. Halah belagu berteori saja.

Read more »

Senin, 14 Maret 2011

Bekerja untuk gaji yang lebih tinggi?

Seandainya pekerjaan itu bergaji tinggi, saya tak akan segan-segan meninggalkan pekerjaan sekarang. Sungguh. Bukan karena tak loyal, atau tersiksa di dalam. Sebaliknya, pekerjaan sekarang ini sungguh kenikmatan buat saya. Saya suka merancang-rancang dan membuka ide-ide baru. Bikin program dan akhirnya bertemu dengan dunia baru. Pekerjaan ini kenikmatan buat saya, setelah segala pasang-surut hubungan profesional.

Seandainya pekerjaan itu bergaji tinggi, sungguh saya akan mengambilnya. Motifnya sungguh sederhana. Saya butuh gaji yang lebih besar agar punya opsi lebih banyak. Karena opsi itu terkait dengan kehidupan saya. Terkait dengan cara saya yang terusmenerus berkehendak dalam menikmati hidup.

Saya harus menghela napas dalam-dalam. Sekian lama saya tidak percaya pada jargon uang menentukan kebahagiaan. Tapi ya itu. Sungguh perkara besar.

Read more »

Selasa, 08 Maret 2011

Orang-orang cupet

Sungguh saya tidak mengerti apa yang ditakutkan mereka itu. Mereka bilang Ahmadiah mengancam keimanan umat. Membahayakan akidah, dst. dst. Tapi apa ukurannya?

Saya heran. Kalau jumlah umat adalah ukuran "berbahaya itu" marilah kita hitung dengan goblok. Sederhana saja.

Begini. Kalau menurut klaim MUI dan geng-geng tololnya, jumlah umat Ahmadiah itu tak lebih dari 30 ribu. Itu lantas kita ambil saja sebagai batas paling bawah. Lantas batas paling atas kita pakailah klaim dari pengurus JAI yang bilang mereka punya 500 ribu jemaah. Oh ya, kedua angka itu saya dapat ketika nonton televisi, dalam debat yang memperlihatkan betapa cupetnya pikiran MUI and d gank.

Nah, ayolah kita bodoh-bodohan. Kita imajinasikan berapa banyak pertumbuhan jemaah Ahmadiah dalam kurun waktu lebih dari 80 tahun ini, sejak Ahmadiah berdiri pada 1925. Ternyata tak lebih dari jumlah itu? Adakah Ahmadiah menjadi partai? Adakah dia menjadi aliran mainstream dalam Islam di Indonesia? Adakah dia berjaringan membentuk pesantren yang akhirnya laris manis macam gontor? Adakah dia mengadakan kongres besar-besaran? Koreksi saya kalau salah, tapi rasanya tak ada.

Maka bandingkanlah dengan pertumbuhan PKS. Partai yang besar di kalangan menengah terdidik ini, dalam waktu kurang dari 30 tahun, jika kita menghitung pertumbuhannya pada permulaan tahun 80-an. Dalam kurun waktu itu, maka dia sudah tumbuh menjadi partai. Jumlah massanya ratusan ribu. Duduk sebagai anggota parlemen dan pemerintahan, yang akhirnya menentukan gerak bangsa. Kalau kongres memakai hotel berbintang. Atau kalau mau unjuk gigi, maka jalan Sudirman-Thamrin, juga Gelora Bung Karno jadi langganan sasaran kumpul-kumpul.

Bandingkan dengan Hizbut Tahrir, yang waktu dan metode masuknya ke Indonesia kurang lebih sama dengan PKS. Mereka mengadakan kongres khilafah di Gelora Bung Karno. Dihadiri utusan internasional, bahkan. Di Bundaran HI, dan media mana pun yang mampu digaet, mereka tak takut menyuarakan ide khilafah. Sebuah konsep internasionalisme yang menghilangkan batas-batas nasional republik yang berdaulat.

Ceklah musala dekat rumah. Pasti tidak asing dengan jemaah anggota Jemaat Tabligh yang berdakwah keliling kampung dan menetap di musala-musala itu. Adakah larangan untuk mereka? Tidak sama sekali.

Ceklah tiap-tiap perempatan jalan di Jakarta hari-hari ini. Niscaya Anda menemukan banyak spanduk besar bergambar syekh keturunan Arab. Dengan embel-embel peringatan maulid dan semacamnya mengadakan kegiatan. Supir taksi yang saya tumpangi suatu kali mengeluhkan terjebak macet dua jam lebih, karena satu lajur jalanan ditutup demi menyukseskan kegiatan Majelis Rasulullah. Presiden lenje kita bahkan ikut berzikir bersama ratusan ribu orang pengikut sekte ini.

Nah saya jadi bingung. Apakah pencapaian yang diraih PKS yang agresif berpolitik, Hizbut Tahrir yang berkampanye syariah dan khilafah, Jamaah Tabligh yang aktif berdakwah, Majelis Rasulullah yang massif bersalawat tidak dihitung sebagai pencapaian umat Islam?

Apakah arti kemajuan itu dibandingkan dengan bahaya laten Ahmadiah? Kenapa jemaah yang tidak menarik dan mandek ini begitu ditakutkan?

Sungguh penyakit paling mematikan itu adalah kebodohan. Dan itu diidap oleh banyak orang Islam hari-hari ini, di negeri ngeri ini.

Lihatlah orang-orang ini. Sangat jauh dari kesan ramah.

Lucunya, apa miris, saya punya kawan. Seorang dai, katanya. Tapi dengan sengit dia memancarkan kebencian dan persetujuannya dengan aksi-aksi kekerasan terhadap Ahmadiah. Dai seperti ini, kita tak boleh percaya.

Read more »

Kamis, 03 Maret 2011

Ke Singapura

Saya berutang satu postingan dari perjalanan saya ke Singapura. Dan inilah tulisannya. Ketika saya menulis, perjalanan itu sudah berlalu hampir sebulan lamanya. Cukup waktu mengendapkan sensasi apa yang paling berkesan buat saya. Gegap perjalanan bersama emosinya sudah padam.

Well, saya tidak terlalu bersemangat untuk trip ini. Itu pasti. Tapi, dalam kondisi apa pun, sebuah perjalanan rasanya akan mengundang letupan, meski tidak harus keriaan. Jadi saya memutuskan untuk biasa saja dalam perjalanan ini.

Oke Singapura. Apa yang menarik dari sana? Nyaris saya tidak tahu. Kerena tak tahu itu pula jadi saya tak tertarik. Saya khawatir Singapura jadi menjemukan. Karena sebagian persnya dibungkam. Bahwa disiplin di sana juga sangat kuat. Negera bersih yang tertib administrasi. Itu semua membuat kesan negeri ini jadi agak robotik.

Tapi mestinya tidak robotik deh. Misalkan begini. Ada bendung yang sangat canggih. Selain meregulasi air yang super keren. Sangat saintifik dan mekanik. Tapi jangan salah bendung juga dipenuhi tawa manusia. Anak-anak, muda, dan tua.

Saya menyempatkan menjajal kereta bawah tanah Singapura. Yang sungguh sangat nyaman, tepat waktu, minim suara, terintegrasi, dan berteknologi terkini. Saya sungguh sangat terkesan. Meski pun teknologi sangat maju dan bikin keder, apalagi buat saya. Anak Kampung Kayumanis. *Tapi meski saya pandir dalam hal beginian, toh saya sukses membawa rombongan berisi 3 orang. Hebat bukan?

Di atas semua, saya rasa ada momen eksistensialis yang menyergap tiba-tiba: Saya sarapan pagi nasi goreng, di hotel bintang empat atau lima yang menyaji sajian Eropa, dilayani oleh, mungkin pekerja Indonesia yang bekerja di hotel, sambil membaca koran berbahas Inggris lantas membaca headline yang menyebut asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Singapura semakin memilih majikan tempat mereka bekerja. Hmhmh. Saya kebingungan dan menebak-nebak: Kira-kira saya sebagai manusia apa di momen itu.

Read more »

Rabu, 02 Maret 2011

Hadapilah

Salah satu hal yang sebal betul dari orang-orang adalah ketika mereka menolak untuk menerima kesalahan yang mereka bikin. Tentu saja, seperti halnya hal-hal lain yang sangat membias seperti spektrum, orang yang menolak menerima kesalahan yang mereka bikin ini sangat bervariasi. Tidak rata dan seragam.

Ada yang langsung menolak serta-merta. Mengaku hal ini atau itu bukan salahnya. Tapi orang lain atau situasi yang tidak bisa dikontrol. Ini yang paling saya sebal. Ada juga tipe orang yang berputar-putar terlebih dahulu. Menunjuk situasi x dan y dan z, dan si a, b, dan c yang membuat situasi memburuk dan membuat dia melakukan kesalahan. Berputar-putar juga diniatkan untuk mengaburkan kesalahan yang terjadi. Dengan begini, lawan bicara dan orang-orang lain jadi lupa sama sekali dengan kesalahan yang terjadi. Well, tuan mungkin pintar bersiasat, tapi sungguh tak sulit menebak ujung pembicaraan.

Terlepas dari tipe orang defensif, buat saya mereka ini menggelikan sekaligus menjengkelkan. Perilaku defensif seperti itu.

Buat saya menerima tanggung jawab atas kesalahan adalah hal yang paling utama. Ini adalah prioritas, sebelum langkah lainnya. Kita bisa menarik 1,2 3, sampai seribu alasan kenapa kesalahan terjadi. Tapi, terimalah dulu tanggung jawabnya. Baru kemudian kita runut apa saja situasi yang menyebabkan kesalahan terjadi.

Buat saya, menerima tanggung jawab itu adalah tanda keluasan hati. Kebesaran dirinya. Dan proses jadi manusia yang lebih baik lagi. Susah. Saya jamin tidak gampang menerima kesalahan. Tapi di situ mestinya kemanusiaan diuji. Mau jadi besar lagi, atau jadi manusia kerdil yang senantiasa berkelok-kelok.

Dan suatu saat, ketika saya sedang bermasalah, hati kecil mengelak tidak ingin disalahkan. Tapi saya merasa pelu menahan lidah. Sembari melapangkan hati dan pikiran, bersiap-siap. Dan akhirnya mengakui dulu kesalahan. Meski sering kali sehabis itu, saya dongkol. Sebab tak murni kesalahan itu disebabkan oleh saya. Tapi ya sudah. Namanya juga manusia. Nggak pernah konsisten. DOngkol ya dongkol saja. Biarkan itu ada di hati.

Read more »

Malas

Edan. Tolong. Saya berada di puncak kelelahan, rasanya. Well, mestinya bukan kelelahan, karena toh nggak ada aktivitas fisik yang berlebihan. Tidak juga aktivitas pikiran yang berlebihan.. Hmhmh? Mestinya tidak.

Hari ini contohnya. Saya tak lain tak bukan, sekadar ingin bermain bersama anak saja. Lantas membaca buku, dan bercinta. Lain dari itu, ampun deh. Tidak mau. Dan rasanya malas dan bosan saja.

Saya tidak mengerti apa yang terjadi pada saya. Ada begitu banyak pekerjaan yang saya bengkalaikan. Mudahmudahan tidak ada akibat yang bikin sengsara saya, apalagi orang-orang.

Read more »

Selasa, 25 Januari 2011

Kicauan di dunia maya

Ada percakapan yang tidak bisa saya dapatkan ketika menguping di dunia maya. Ada yang gagal saya tarik dengan menekuni kicauan dan timeline dan status orang-orang. Okelah kita berbuncah-buncah dengan Koin untuk Prita dan juga gerakan satu juta facebooker untuk Bibit-Hamzah. Betapa dunia maya menemukan manifestasinya dengan massif dan menggelegar. Okelah bahwa percakapan-percakapan itu, beberapa, ah mungkin banyak, membukakan mata kita. Di dunia itu, damai relatif bisa terwujud. Perdebatan sangat keras pun rasanya, sepanjang pengetahuan saya, tiada yang berujung pada bentrok fisik. Ah seperti itu juga yang kepingin kita dapatkan di dunia nyata bukan?

Tapi ada percakapan yang tidak bisa saya dapatkan ketika menguping di dunia maya. Rasanya saya kehilangan tekstur pembicaraan. Kicauan yang saya tangkap dari layar 14 inchi, atau kurang sari lima centi, di layar telepon genggam, nyaris tidak bernada. Kehilangan teksturnya tadi.

Dan hari ini saya mendapatkan sesuatu dari percakapan seorang ibu. Pekerja di kawasan Kelapa Gading yang hendak pulang ke Bogor. Menyisihkan uang jajannya berhari-hari, sekarang dia tengah bercakap hangat dengan penjual bakso. Oh ya dia membeli bakso untuk dimakan di rumah bersama keluarga. Dia mungkin berusia 40 lewat.

Tukar kata boleh jadi hemat. Nyaris tidak punya sayap. Nyungsep belaka. Tapi, arti dan bobotnya jauh lebih mengena ketimbang kicauan dunia maya.

Saya rasa ada yang hilang dari kicauan di dunia

Read more »

Rabu, 12 Januari 2011

saya mengenal kata kultus pertama kali ketika pelarangan al-arqam di indonesia merebak. al-arqam, organisasi paling awal yang saya kagumi, didesak bubar, salah satunya karena menganjurkan ajakaran kultus, kultus individu pada pemimpinnya ashari muhamad.

sudahlah saya tidak mau lebar-lebar. tapi demikianlah perjumpaan saya dengan kata kultus itu. saya cari penjelasannya dengan proses mengira-ngira saja. mencari makna dalam konteks kalimat atau paragraf. juga dengan bertanya-tanya.

nah semenjak tahu maknanya pula saya jadi agak was-was dengan konsep tadi. dalam konteks apa pun. apalagi hari-hari ini. saat kewarasan saya terang-berderang.

saya katakan saja pendirian saya: saya sama sekali menolak kultus. bagi saya kultus itu mematikan orang--karena orang tidak boleh salah. tidak boleh tidak suci, dan seterusnya. padahal, sebagaimana prinsip hidup saya, tiadalah satu pun makhluk yang disebut manusia itu yang lepas dari dosa, ketidaksucian, ketidakkonsistenan. bagi saya manusia, sepanjang hayatnya akan selalu berdosa, tidak suci, dan tidak konsisten.

bagi saya manusia akan tidak konsisten pada akhirnya. bolehlah dari awal dia sangat baik. pada masa jayanya juga baik. tapi ada saatnya dia menjadi tua. berkembang menjadi egomaniak, dan akhirnya luluh. ada kalanya maestro hebat sekalipun kehilangan sentuhannya. he's loosing his touch. ada kalanya bukan?

mestinya banyak contoh yang menguatkan tesis saya ini. cukup liat soekarno yang menjadi megalomaniak. gila kekuasaan... dan perempuan juga. yang dilakukan soekarno adalah menjadi manusia. dan karena itu dia tidak lagi suci. tidak kultus. dia sekadar habis masanya. itu saja. tidak ada yang lain. meskipun untuk menjadi manusia, soekarno harus membayar mahal: kekuasaannya juga rakyatnya.

dalam skala kecil pun seperti itu. saya juga tak percaya kesucian dan kehebatan selama-lamanya, dua unsur yang menopang kultus individu, juga organisasi. dan ketika banyak teman di sekitar saya memuja bahkan mengikrarkan komitmen jangka panjang pada individu, juga pada organisasi, saya memilih menepi. loyalitas saya cuma pada kesadaran saya. itu saja.

bersambung

Read more »

Rabu, 05 Januari 2011

satu saja

saya merasa punya anak itu soal filosofis, sedikit menyerempet ke problem eksistensialis.



jadi begini ceritanya. hari ini ada sedikit kehebohan. saya pikir lucu. tapi si bunce rasanya sedikit tersinggung. ceritanya saya majang sebuah kalimat di status fesbuk saya. nah komenter berdatangan. poinnya: orang-orang menyangka si bunce hamil. padahal tidak. hahaha. saya tidak merasa mengarahkan opini orang-orang itu. kalau pun mereka mengambil kesimpulan hamil, maka itu semata-mata kesimpulan mereka sendiri. sama sekali bukan saya.

nah soal hamil ini memang jadi perkara serius buat saya, buat bunce. di awal pernikahan kami memantapkan pilihan untuk punya dua anak saja. tapi dalam proses hamil dan mengasuh anak pertama, kami memutuskan kembali: satu anak saja. kenapa satu anak saja? ada banyak pertimbangan mestinya. bunce mantap dengan pilihan itu. saya? awalnya mantap, sempat goyah, lantas mantap kembali *halo ini saya, orang yang tidak pernah konsisten.

kenapa saya goyah? mungkin ada kaitannya dengan latar belakang saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga besar. saya punya enam saudara laki-laki dan perempuan. ayah saya punya empat saudara laki-laki. ibu saya punya sembilan saudara. dari keluarga, saya mendapatkan 17 keponakan. mudah-mudahan tidak bertambah. nah yang paling nikmat tentu saja ketika lebaran. ketika semua berkumpul dan gelak tawa menghambur. nikmatnya tiada tara. suasana seperti itulah yang saya nikmati paling tidak selama hampir 25 tahun hidup saya. oh ya saya berusia 30 tahun.

mungkin kekhawatiran seperti itu yang menghinggapi saya. takut kenikmatan itu meruap. mungkin saya takut menghabiskan masa tua berdua saja, tanpa kehadiran keluarga besar. mungkin saya takut sendiri saja ketika usia beranjak senja. saya mendefinisikan diri sendiri sebagai manusia modern, tapi untuk urusan sentimentil seperti ini, rasanya saya masih primitif.

tapi saya adalah manusia masa kini--bukan sama sekali bukan merujuk pada definisi anak trendi. saya tidak sama dengan saya di tiga, lima, sepuluh, dua puluh tahun yang lalu. saya tidak mungkin menghapus masa lalu, pun latar belakang keluarga saya yang cenderung tradisional dan non-literer. tapi saya sekarang adalah saya yang dengan sadar sesadar-sadarnya dan setidaksadar-tidaksadarnya membentuk dan mendefinisi diri sendiri. saya yang egoistik dan memperhatikan kebutuhan saya sebagai manusia. yang kepingin menikmati hidup sampai sumsum-sumsumnya. saya yang eksistensial.

nah, karena filosofi itu pula akhirnya saya tidak bersama tradisi keluarga. saya memilih ramping dalam berkeluarga. saya mencintai anak saya, saya akan bela dia sampai mati, tapi saya juga kadang merasakan dia sebagai tantangan dan kendala saat kami, saya dan bunce sedang mengaktualisasi diri, ketika sedang bekerja, ketika sedang menjadi manusia yang utuh. saya sekarang tidak mampu, bahkan untuk sekadar membayangkan berpisah dari anak saya barang sebulan--meski saya pernah meninggalkan dia sampai dua pekan. padahal saya dan bunce juga berhak atas kehidupan dan eksistensi, sebagaimana anak saya juga berhak untuk mendapatkan kasih sayang kami yang melimpah.

sebutlah saya egois, saya terima tulusa tanpa dendam. tapi dalam kehidupan sehari-hari terasa sekali ada banyak hal yang tidak bisa kami lakukan karena faktor anak tadi. sisi sosial terpangkas, meskipun tidak drastis. kami harus timbang baik-baik waktu, kebutuhan, dan suasana untuk sekadar membaca buku, menonton film, atau berkumpul dengan teman. kehidupan praktis cuma kantor dan rumah saja. di titik ini saya bersyukur pekerjaan saya adalah kenikmatan, demikian juga keluarga saya.

hidup penuh opsi. dan semuanya mengandung konsekuensi. dan saya telah memilih. saya menjalaninya dengan riang gembira.

dan akhirnya, rasanya saya menyadari bahwa untuk menciptakan kehidupan, harus ada kehidupan lain yang direlakan. untuk memberikan kehidupan yang layak buat anak, maka sebagian kehidupan orang tua juga harus direlakan. tapi ini bukan berarti si anak senantiasa berutang pada orang tuanya. apakah jika si anak sudah besar, maka si anak berutang pada ibunya yang mengandung sembilan bulan, lantas pada bapak dan ibunya yang melimpahkan kasih sayang dan perawatan sampai dia mandiri? tidak sama sekali tidak. anak tidak berutang apa-apa. mantra senja tidak berutang apa-apa terhadap saya dan bunce.

tidak ada anak yang minta dilahirkan di dunia. dia hadir semata-mata karena pilihan orang tuanya, yang memilih berpasangan, bersenggama, dan akhirnya melahirkan manusia. nah karena opsi itu mengandung konsekuensi, maka orang tua berkewajiban untuk membesarkan. tidak ada utang-piutang di sana.

tugas kami adalah membesarkan mantra senja menjadi manusia yang utuh, paripurna. sembari menjalani hidup kami--yang adalah kewajiban kami juga sebagai individu. nah karena memperhatikan keseimbangan itu pula, akhirnya kami memutuskan untuk memeliki satu mantra senja saja. tidak ada "merapal kala" yang saya reka-reka menjadi nama anak kedua. kami memilih satu saja, agar kewarasan tetap terjaga, untuk kami sebagai individu, pun untuk anak kami, yang kami cintai sampai jari-jari kaki beku perlahan, merambat ke ubun-ubun dan akhirnya mati.

Read more »