Rabu, 05 Januari 2011

satu saja

saya merasa punya anak itu soal filosofis, sedikit menyerempet ke problem eksistensialis.



jadi begini ceritanya. hari ini ada sedikit kehebohan. saya pikir lucu. tapi si bunce rasanya sedikit tersinggung. ceritanya saya majang sebuah kalimat di status fesbuk saya. nah komenter berdatangan. poinnya: orang-orang menyangka si bunce hamil. padahal tidak. hahaha. saya tidak merasa mengarahkan opini orang-orang itu. kalau pun mereka mengambil kesimpulan hamil, maka itu semata-mata kesimpulan mereka sendiri. sama sekali bukan saya.

nah soal hamil ini memang jadi perkara serius buat saya, buat bunce. di awal pernikahan kami memantapkan pilihan untuk punya dua anak saja. tapi dalam proses hamil dan mengasuh anak pertama, kami memutuskan kembali: satu anak saja. kenapa satu anak saja? ada banyak pertimbangan mestinya. bunce mantap dengan pilihan itu. saya? awalnya mantap, sempat goyah, lantas mantap kembali *halo ini saya, orang yang tidak pernah konsisten.

kenapa saya goyah? mungkin ada kaitannya dengan latar belakang saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga besar. saya punya enam saudara laki-laki dan perempuan. ayah saya punya empat saudara laki-laki. ibu saya punya sembilan saudara. dari keluarga, saya mendapatkan 17 keponakan. mudah-mudahan tidak bertambah. nah yang paling nikmat tentu saja ketika lebaran. ketika semua berkumpul dan gelak tawa menghambur. nikmatnya tiada tara. suasana seperti itulah yang saya nikmati paling tidak selama hampir 25 tahun hidup saya. oh ya saya berusia 30 tahun.

mungkin kekhawatiran seperti itu yang menghinggapi saya. takut kenikmatan itu meruap. mungkin saya takut menghabiskan masa tua berdua saja, tanpa kehadiran keluarga besar. mungkin saya takut sendiri saja ketika usia beranjak senja. saya mendefinisikan diri sendiri sebagai manusia modern, tapi untuk urusan sentimentil seperti ini, rasanya saya masih primitif.

tapi saya adalah manusia masa kini--bukan sama sekali bukan merujuk pada definisi anak trendi. saya tidak sama dengan saya di tiga, lima, sepuluh, dua puluh tahun yang lalu. saya tidak mungkin menghapus masa lalu, pun latar belakang keluarga saya yang cenderung tradisional dan non-literer. tapi saya sekarang adalah saya yang dengan sadar sesadar-sadarnya dan setidaksadar-tidaksadarnya membentuk dan mendefinisi diri sendiri. saya yang egoistik dan memperhatikan kebutuhan saya sebagai manusia. yang kepingin menikmati hidup sampai sumsum-sumsumnya. saya yang eksistensial.

nah, karena filosofi itu pula akhirnya saya tidak bersama tradisi keluarga. saya memilih ramping dalam berkeluarga. saya mencintai anak saya, saya akan bela dia sampai mati, tapi saya juga kadang merasakan dia sebagai tantangan dan kendala saat kami, saya dan bunce sedang mengaktualisasi diri, ketika sedang bekerja, ketika sedang menjadi manusia yang utuh. saya sekarang tidak mampu, bahkan untuk sekadar membayangkan berpisah dari anak saya barang sebulan--meski saya pernah meninggalkan dia sampai dua pekan. padahal saya dan bunce juga berhak atas kehidupan dan eksistensi, sebagaimana anak saya juga berhak untuk mendapatkan kasih sayang kami yang melimpah.

sebutlah saya egois, saya terima tulusa tanpa dendam. tapi dalam kehidupan sehari-hari terasa sekali ada banyak hal yang tidak bisa kami lakukan karena faktor anak tadi. sisi sosial terpangkas, meskipun tidak drastis. kami harus timbang baik-baik waktu, kebutuhan, dan suasana untuk sekadar membaca buku, menonton film, atau berkumpul dengan teman. kehidupan praktis cuma kantor dan rumah saja. di titik ini saya bersyukur pekerjaan saya adalah kenikmatan, demikian juga keluarga saya.

hidup penuh opsi. dan semuanya mengandung konsekuensi. dan saya telah memilih. saya menjalaninya dengan riang gembira.

dan akhirnya, rasanya saya menyadari bahwa untuk menciptakan kehidupan, harus ada kehidupan lain yang direlakan. untuk memberikan kehidupan yang layak buat anak, maka sebagian kehidupan orang tua juga harus direlakan. tapi ini bukan berarti si anak senantiasa berutang pada orang tuanya. apakah jika si anak sudah besar, maka si anak berutang pada ibunya yang mengandung sembilan bulan, lantas pada bapak dan ibunya yang melimpahkan kasih sayang dan perawatan sampai dia mandiri? tidak sama sekali tidak. anak tidak berutang apa-apa. mantra senja tidak berutang apa-apa terhadap saya dan bunce.

tidak ada anak yang minta dilahirkan di dunia. dia hadir semata-mata karena pilihan orang tuanya, yang memilih berpasangan, bersenggama, dan akhirnya melahirkan manusia. nah karena opsi itu mengandung konsekuensi, maka orang tua berkewajiban untuk membesarkan. tidak ada utang-piutang di sana.

tugas kami adalah membesarkan mantra senja menjadi manusia yang utuh, paripurna. sembari menjalani hidup kami--yang adalah kewajiban kami juga sebagai individu. nah karena memperhatikan keseimbangan itu pula, akhirnya kami memutuskan untuk memeliki satu mantra senja saja. tidak ada "merapal kala" yang saya reka-reka menjadi nama anak kedua. kami memilih satu saja, agar kewarasan tetap terjaga, untuk kami sebagai individu, pun untuk anak kami, yang kami cintai sampai jari-jari kaki beku perlahan, merambat ke ubun-ubun dan akhirnya mati.

0 komentar:

Posting Komentar