saya mengenal kata kultus pertama kali ketika pelarangan al-arqam di indonesia merebak. al-arqam, organisasi paling awal yang saya kagumi, didesak bubar, salah satunya karena menganjurkan ajakaran kultus, kultus individu pada pemimpinnya ashari muhamad.
sudahlah saya tidak mau lebar-lebar. tapi demikianlah perjumpaan saya dengan kata kultus itu. saya cari penjelasannya dengan proses mengira-ngira saja. mencari makna dalam konteks kalimat atau paragraf. juga dengan bertanya-tanya.
nah semenjak tahu maknanya pula saya jadi agak was-was dengan konsep tadi. dalam konteks apa pun. apalagi hari-hari ini. saat kewarasan saya terang-berderang.
saya katakan saja pendirian saya: saya sama sekali menolak kultus. bagi saya kultus itu mematikan orang--karena orang tidak boleh salah. tidak boleh tidak suci, dan seterusnya. padahal, sebagaimana prinsip hidup saya, tiadalah satu pun makhluk yang disebut manusia itu yang lepas dari dosa, ketidaksucian, ketidakkonsistenan. bagi saya manusia, sepanjang hayatnya akan selalu berdosa, tidak suci, dan tidak konsisten.
bagi saya manusia akan tidak konsisten pada akhirnya. bolehlah dari awal dia sangat baik. pada masa jayanya juga baik. tapi ada saatnya dia menjadi tua. berkembang menjadi egomaniak, dan akhirnya luluh. ada kalanya maestro hebat sekalipun kehilangan sentuhannya. he's loosing his touch. ada kalanya bukan?
mestinya banyak contoh yang menguatkan tesis saya ini. cukup liat soekarno yang menjadi megalomaniak. gila kekuasaan... dan perempuan juga. yang dilakukan soekarno adalah menjadi manusia. dan karena itu dia tidak lagi suci. tidak kultus. dia sekadar habis masanya. itu saja. tidak ada yang lain. meskipun untuk menjadi manusia, soekarno harus membayar mahal: kekuasaannya juga rakyatnya.
dalam skala kecil pun seperti itu. saya juga tak percaya kesucian dan kehebatan selama-lamanya, dua unsur yang menopang kultus individu, juga organisasi. dan ketika banyak teman di sekitar saya memuja bahkan mengikrarkan komitmen jangka panjang pada individu, juga pada organisasi, saya memilih menepi. loyalitas saya cuma pada kesadaran saya. itu saja.
bersambung
0 komentar:
Posting Komentar