Ada percakapan yang tidak bisa saya dapatkan ketika menguping di dunia maya. Ada yang gagal saya tarik dengan menekuni kicauan dan timeline dan status orang-orang. Okelah kita berbuncah-buncah dengan Koin untuk Prita dan juga gerakan satu juta facebooker untuk Bibit-Hamzah. Betapa dunia maya menemukan manifestasinya dengan massif dan menggelegar. Okelah bahwa percakapan-percakapan itu, beberapa, ah mungkin banyak, membukakan mata kita. Di dunia itu, damai relatif bisa terwujud. Perdebatan sangat keras pun rasanya, sepanjang pengetahuan saya, tiada yang berujung pada bentrok fisik. Ah seperti itu juga yang kepingin kita dapatkan di dunia nyata bukan?
Tapi ada percakapan yang tidak bisa saya dapatkan ketika menguping di dunia maya. Rasanya saya kehilangan tekstur pembicaraan. Kicauan yang saya tangkap dari layar 14 inchi, atau kurang sari lima centi, di layar telepon genggam, nyaris tidak bernada. Kehilangan teksturnya tadi.
Dan hari ini saya mendapatkan sesuatu dari percakapan seorang ibu. Pekerja di kawasan Kelapa Gading yang hendak pulang ke Bogor. Menyisihkan uang jajannya berhari-hari, sekarang dia tengah bercakap hangat dengan penjual bakso. Oh ya dia membeli bakso untuk dimakan di rumah bersama keluarga. Dia mungkin berusia 40 lewat.
Tukar kata boleh jadi hemat. Nyaris tidak punya sayap. Nyungsep belaka. Tapi, arti dan bobotnya jauh lebih mengena ketimbang kicauan dunia maya.
Saya rasa ada yang hilang dari kicauan di dunia
0 komentar:
Posting Komentar