Rabu, 25 Agustus 2010

formulir

baru-baru ini saya mendapat pekerjaan tambahan. menyunting profil finalis kompetisi kewirausahaan. menarik dan asik. hanya saja sulit dalam pengerjaannya. ada banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari formulir-formulir cenderung beku ini. iya beku. karena mereka tidak bergerak. dan cuma dapat makna ketika saya mencerna perlahan untuk menjaring informasi penting yang hendak saya tuangkan dalam satu paragraf saja. padahal itu formulir berlembar-lembar.

formulir. orang cenderung meremehkan barang yang satu ini. dan merekatkan maknanya pada segudang kesulitan administrasi. tapi siapa sangka formulir ini bicara banyak sekali pada saya. kami rapat sekali bertukar tutur.

oke. pelajaran pertama

1. orang-orang ini demikian hebat. mereka rata-rata seusia saya. bahkan ada yang lebih muda. tapi mereka sudah meraih banyak hal. saya tahu status bisa mengelabui, tapi yang penting adalah mereka rata-rata adalah pemilik usaha kreatif yang mumpuni. saya bisa bayangkan mereka selalu banjir ide dan begitu bergairah dengan kerja mereka. hingga mendapatkan begitu banyak capaian. omsetnya ada yang bahkan mencapai lima miliar rupiah per tahun. saya tak akan detail menjabarkan profesi mereka. tapi saya berkaca. apa yang sudah saya capai di usia segini.

2. mereka pekerja kreatif yang sangat solid. mereka selalu dikelilingi tim yang sangat solid, pekerja keras, dan penuh dengan ide. dan mereka juga tidak takut berbagi keahlian. belajar mendelegasikan mungkin adalah keahlian mereka lainnya. dan rata-rata mereka juga mengalami hambatan begitu ada duri dalam daging. ada satu orang yang tidak cocok dengan irama kerja. ini pelajaran pas buat saya, karena saya kerap menghadapi situasi serupa. mengalami dan melihat kondisi seperti itu. ada orang-orang yang tidak bergairah, tidak kreatif, bahkan tidak senang dengan sistem pekerjaan. pesan moralnya untuk saya, diperlukan tim yang solid untuk menjalankan sistem. dan tim yang solid itu ibarat pernikahan. cocok-cocokan sifatnya. tidak bisa dipaksakan.

3. formulir. seperti yang saya bilang di atas. formulit tidak beku. dia kerap menghadirkan tutur. bahkan tanpa perlu bicara saya rasanya bisa mengenal beberapa aspek, karakter dari si finalis. saya bisa menduga orang ini punya begitu banyak potensi dan keunggulan. tapi mungkin dia tidak mengenal dirinya sendiri. atau terlalu banyak detail penting yang dilupakan dalam hidupnya hingga lupa untuk dipanggil untuk dilekatkan dalam formulir.

saya hari ini mendapatkan begitu banyak pelajaran dari selembar formulir

Read more »

Senin, 23 Agustus 2010

...

jangan pernah membawa pekerjaan kantor ke rumah. sebaliknya, malah kalau bisa bawalah pekerjaan rumah ke kantor.

ya saya tahu itu tidak profesional. Victor teman saya pun mengucapkan kalimat tersebut dalam nada guyon yang kental. Meski pun dia meyakinkan saya bahwa itu kalimat benar adanya. dan dia penganut prinsip tersebut.

tapi baru-baru ini saya belajar, mungkin ada benarnya juga itu kalimat

Read more »

Senin, 16 Agustus 2010

lessons from the office #2

asik bekerja, di belakang saya lantas ada lelaki yang sedang berbicara di telepon. saya tak tahu dan sungguh tak mau tahu apa yang dibicarakan. tapi kerap kali si lelaki ini bilang; "iya bun... iya bun... bunda nggak... siapa, bunda?" gitu deh. saya pikir dia berbicara kepada ibunya. ah anak muda. senang sekali bisa mesra bersama bundanya.

tapi saya salah. setelah memantang kuping, ternyata yang dimaksud bunda tadi adalah atasannya belaka. berjenis kelamin perempuan. dengar-dengar gosip, konon katanya si bos itu adalah orang yang mengayomi. tapi menurut gosip lain, sebaliknya. bodo amatlah. saya mah tidak ambil pusing. bukan itu inti cerita saya. tapi inti ceritanya adalah soal hubungan profesional yang jadi berwarna beda dengan hubungan yang saya sendiri bingung merumuskan jenisnya.

saya yakin di mana pun, ada tipe orang yang seperti itu. orang yang mengayomi, tampak sangat baik. kepingin baik kepada semua orang. menjadi "hero" untuk semua orang. dan pada akhirnya banyaklah orang yang kesengsem sama ini orang. tapi saya bukan salah satu di antaranya. saya tidak mudah jatuh simpati pada orang seperti ini. atas dasar banyak pertimbangan.

yang pertama saya pernah berpengalaman buruk dengan seseorang yang bertipikal seperti itu. pertama-tama saya kasihan betul, padanya karena kok ya mau mengorbankan diri untuk hal yang tidak prinsipil. misalkan menggantikan jadwal orang, menemani orang melakukan tugas-tugas peliputan. bayangkan betapa tidak dewasanya orang yang meminta bantuan (dan menurut saya yang dimintai bantuan juga sama tidak dewasanya) apa dia nggak tahu kalau memanjakan orang itu tidak mendidik? Orang perlu belajar dewasa dan bertanggung jawab dengan pekerjaan profesionalnya. tapi tak lama kemudian rasa kasihan itu mendadak jadi rasa sebal, karena keinginannya untuk menjadi "bunda" bagi semua orang, malah mengalahkan prinsip-prinsip profesional. menutupi kesalahan orang, berbohong. ah saya tak suka. maaf-maaf saja.

yang kedua saya rasa saya tidak suka gagasan heroisme yang dikandung dalam entitas "bunda" ini. bagi saya hampir tiada hero itu. tidak ada orang yang sempurna. dan tidak ada hasil sempurna yang berasal dari ikhtiar gratis--tanpa korban. korban, apa pun itu, perlu diberi pengakuan. dan apakah yang perlu dilakukan orang agar menjadi "bunda"? apakah termasuk menipu perasaan sendiri sampai dengan menipu orang?

kejujuran diapresiasi bung, dan juga nona.

masih terkait dengan urusan tipu-menipu dan pengorbanan, konsep "bunda" ini menurut saya juga agak sakit, sebab dia menindas ruang pribadi. banyak kebutuhan dan ruang-ruang pribadi yang dirampas demi mendapatkan identitas baru sebagai "bunda". padahal saya percaya ruang individual itu harus dipelihara dan dihargai oleh diri sendiri, sebelum berangkat ke ranah interaksi antarmanusia.

barang siapa yang tak menghargai dirinya, dia sulit menghargai orang lain. kalau sudah begitu, bagaimana dia mau jadi "bunda" sesungguhnya.

everyone is bunda for her/himself. no need to argue for that.

Read more »

Jumat, 13 Agustus 2010

sakit

minggu ini kembali lagi terdera sakit. nggak enak. monyonghailah. saya nggak suka kondisi begini, karena rasanya nanggung aja. kenapa nggak sekalian sakit parah *tapi ya tuhan jangan cabut dulu nyawaku*. kan lumayan dapet uang asuransi, saya bisa istirahat total, memutus sejenak siklus hidup yang mungkin terasa membosankan dan melelahkan. ah mungkin saja dalam periode saya terbujur di rumah sakit, karena sakit saja *ya tuhan, saya mohon kepadamu jangan cabut dulu nyawaku* saya mendapatkan pencerahan ke arah yang lebih baik. ah siapa tahu saya menjadi manusia yang bertakwa *ahahahay*.

sementara kalau sakit nanggung seperti ini ya sama saja. badan dan pikiran tidak bisa diajak rehat. tapi mau kerja juga kok ya lemes.

ah agak sedikit heroik, saya mau cerita. settingnya di jakarta *ya iyalah* kurun tengah sampai akhir juli. ceritanya citra diberi tugas ikut konferensi keanekaragaman hayati di bali. seminggu. sebelum citra berangkat, ini badan udah terasa nggak enaknya. tapi ya sudahlah. perjalanan ini sudah dirancang sejak lama.

nah kebetulan juga di kantor saya sedang ada proyek besar. dan kita sedang di ambang pintu eksekusi. nggak mungkin saya nggak masuk. jadilah badan kojor itu dipaksa bekerja dan mengurus anak. untungnya masih numpang di rumah mertua, masih bisa minta tolong jaga-jaga senja. saban magrib atau kondisi ruang terlalu dingin, pasti saya meriang dan badan drop. paling nggak dua kali tengah malam saya menggigil tanpa alasan dan sebab yang jelas *halah monyong, lebay ah*.

tengah minggu, cek darah. ketahuan saya positif salmonella paratyphi BH dengan kadar 1/320. kata mertua, ya mesti minum obat, dan istirahat. saya berasumsi: ah nggak terlalu mengkhawatirkan.

mulai tengah pekan rutin minum obat hasil rekomendasi mertua. dan menjelang pelaksanaan alhamdulilah badan baikan. acaranya sukses.

beberapa hari setelah pelaksanaan, saya bertemu teman-teman Lembaga Bahasa UI. ada seorang ibu, dosen kedokteran dan ada seorang mahasiswi kedokteran juga. jadilah kami berbincang-bincang. saya ditanya sakit apa. saya cerita bla bla bla. lalu sampai pada pertanyaan berapa kadar salmonella paratyphi itu. nah saya bilanglah 1/320. weits mereka langsung bereaksi, itu mah sangat tinggi. yang ditoleransi ya dalam angka belasanlah.

fiuh. saya bersyukur. untung masih belum lewat

Read more »

Kamis, 12 Agustus 2010

lessons from the office #1

sebenarnya ada banyak hal yang saya kepingin tulis sebagai hasil interaksi saya, baik langsung maupun tidak langsung di kantor. ada banyak pelajaran dan renungan yang saya kepingin abadikan di sini.

tapi seperti postingan saya sebelumnya, saya jadi agak nggak enak untuk menuliskannya karena khawatir: bagaimana kalau tulisan saya dibaca sama orang yang bersangkutan. bagaimana kalau dia tersinggung? nah rumit kan?

padahal saya punya pengalaman berurusan dengan orang-orang yang sensi-nya minta ampun. nggak sekadar sensi, tapi juga orang yang nggak pernah belajar untuk mengerem tingkah lakunya yang katro.

ada suatu kali, saya berkomentar si status fb-nya, beberapa saat kemudian saya baru mengetahui kalau saya ternyata di-remove dari list teman-temannya. satu kali lagi saya berkomentar, menyatakan ketidaksetujuan ata pendapatnya yang cenderung bombastis dan serampangan, eh malah dia spaneng. ah repot berurusan dengan orang-orang sensi ini. tapi ya sudahlah. ketimbang menguap maka saya tuliskan saja pendapat-pendapat saya. toh ini blog saya.

* * *

pelajaran pertama dari status fb. ada banyak hal yang bisa ditarik dari status fb orang. sebagian saya nilai begitu cerdas. sebagian ignorant, sebagian lagi norak. dan sebagian lagi agak ceroboh memberikan pernyataan. dan kecerobohan inilah yang bikin saya berasumsi: jangan-jangan orang ini bodoh?

hari ini di status saya jumpai pernyataan begini "yah kuping orang Indonesia kayanya nganggep Smashing Pumpkins tuh udah Rock banget". duile. agak serampangan membuat pernyataan seperti ini.

pernyataan seperti berpotensi besar untuk dibantai dalam ajang kompetisi debat. sangat lemah. meski belum keliatan juga, apa sih argumen penyangganya.

pertama orang indonesia yang mana yang dimaksud dalam kalimat ini? apakah dia bukan orang indonesia? apakah ratusan ribu atau jutaan orang penggemar musik di indonesia semuanya beranggapan smashing pumpkin sudah sangat rock. apakah penggemar metal fundamentalis tidak ada yang menikmati musik smashing pumpkin?

yang kedua. kenapa tolok ukurnya smashing pumpkin? ada apa dengan memilih nama band ini? apakah ada maksud untuk mengatakan smashing pumpkin tidak rock? kenapa tidak mengambil stone temple pilot? atau the killer misalkan?

yang ketiga saya jadi tergelitik, lantas sebenarnya apa definisi rock sebenar-benarnya? adakah definisi rock yang solid?

saya curiga, jangan-jangan pernyataan di atas cuma dikeluarkan dengan aroma permusuhan dan kebencian semata. untuk menjelaskan satu genre musik lebih unggul tinimbang yang lain?

yang keempat, mau tidak mau saya jadi mengira-ngira atas dasar kompetensi apa dia ngomong seperti itu. apa yang keluar dari denny sakrie atau musisi, atau jurnalis musik yang seleranya lebar mungkin saya akan percaya. tapi rasanya pernyataan dari orang yang seleranya begitu-begitu aja dan koleksi musiknya, bisa CD bisa file bajakan, nggak bertambah, ya wassalam dong.

untungnya saya sudah bertobat.

jujurlah padaku, siapakah penggemar metal yang tidak tahu dan mungkin sebagian besar, hapal dengan lirik lagu Isabella Search? bahkan teman saya victor menjadikan isabela sebagai titik tolak memeluk rock menjadi agamanya? dan dia adalah penikmat musik metal dan mariah carey sekaligus.

jujurlah padaku, apakah sehari, 24 jam, seminggu 7 hari, kita bisa menikmati terus musik metal atau musik apa pun yang sama tanpa diselingi dengan musik yang lain? saya kenal dengan banyak orang yang cukup menggilai musik-musik cadas. tapi mereka berpikiran sangat terbuka. masih menikmati musik-musik alternatif. bahkan sebagian lagi masih mengikuti selera musik anak-anak mereka.

pesan moralnya apa? jangan sotoy. dan orang sotoy sangat mungkin kelihatan bodoh. saya sangat yakin tak ada seorang pun yang kepingin terlihat bodoh? atau ada yang kepingin.

pesan moralnya apa? ya santai aja. di musik, seperti halnya cabang kesenian lain, selera oranglah yang jadi nomor satu. apa yang bagus bagi satu orang sangat boleh jadi tidak begitu bagus bagi orang lain. jangan pernah mencap musik seseorang buruk hanya karena kita tidak berselera.

Read more »