Senin, 29 Juli 2013

Horor Jakarta

Saya tidak menyangka saya sedemikian cepat rontok oleh lalulintas Jakarta. Cuma dalam hitungan pekan saja, mungkin nyaris dua bulan, saya sudah begitu stres dengan kemacetannya. Saya berantem dengan istri. Saya mesti memendam emosi--dan mungkin agresivitas saya--ketika berhadapan dengan stres.

Dahulu, saya dan istri sudah berhitung soal perjalanan kantor-rumah. Dan sudah bersiap dengan kalkulasi waktu tempuh, yang akan menghabiskan waktu 4-5 jam per hari. Tapi entahlah. Persiapan mental itu tak ada artinya dengan lalulintas Jakarta yang begitu brengsek.

Saya khawatir jadi gila. Saya khawatir melampiaskan emosi pada anak dan istri saya. Saya takut mereka jadi sasaran kegilaan saya.

Dan parahnya saya nggak tahu harus bagaimana, kecuali harus menghadapi horor ini. Setiap hari. Dan saya takut, saya tak bisa melampaui horor ini dengan hidup-hidup.


Read more »

Rabu, 24 Juli 2013

Bekerjalah

Sejak dulu saya menganut prinsip yang saya adopsi dari teman karib saya. Jangan pernah bawa kerjaan kantor ke rumah. Kalau bisa, bawalah kerjaan rumah ke kantor. Sekilas ini tampak bercanda. Tapi nggak. Ini sungguh serius. Karena membawa pekerjaan kantor ke rumah itu rasanya tidak adil buat keluarga dan buat sendiri.

Ilustrasinya begini. Contohlah saya sendiri. Tak terbiasa bergadang. Dan suatu saat mesti ngerjain laporan yang mesti disetor besok. Dari semenjak pulang kantor saja, saya sudah merasa ada beban kuat di punggung. Pikiran ini, sekuat apa pun saya bisa cegah, rasanya akan merembes. Dan buntutnya ketika bermain dan ngelonin anak, maka saya tak bisa total ceria. Belum lagi kehilangan waktu berbicara dengan istri--padahal ngobrol adalah kebutuhan saya. Saya mengerjakan laporan 5-6 jam. Tidur pukul 3. Bangun pukul 6, dalam kondisi yang tidak wajar. Kecapean, dan akhirnya siklus kelelahan ini bertahan lama. Saya sungguh tidak suka itu.

Lagian secara prinsip, menurut saya ada yang dilanggar di sana. Kantor mambayar gaji kita untuk 40 jam kerja sepekan. Ya tugas kita adalah memaksimalkan waktu itu bekerja. Dan kalau kemudian ada beberapa pekerjaan yang tertunda akibat pekerjaan lain yang juga sama-sama penting, ya biarlah itu menunggu. Bukan lantas mengorbankan waktu di rumah.

Tapi itu adalah dunia ideal saudara-saudara. Kita dalam hubungan industrial yang rasanya kerap menghilangkan batas-batas ideal itu. Dan saya adalah manusia yang kalah.

Jadi, rasanya mengganggu buat saya ketika bos saya bilang "saya justru produktif di akhir pekan" atau "saya mesti bekerja sampai larut malam untuk mengerjakan PR-PR". Ah tapi jangan salah. Itu bukan berarti yang dilakukannya itu jelek. Atau buruk. Tidak. Beberapa orang memang ditakdirkan untuk begitu. Ada banyak beban yang dia tumpuk di pundak. Sehingga privilese buat dirinya berkurang. Dan buat mereka saya angkat topi. Salut. Hanya saja, itu tidak berlaku buat saya. Saya adalah orang tidak penting, tidak berpretensi untuk menjadi penting, dan bangga dengan itu. Di dunia ini, saya cuma kepingin berarti buat saya dan keluarga saya sendiri. Sudah. Kalau pun kalau nanti saya bermanfaat, anggaplah itu bonus saja.









Read more »

Selasa, 23 Juli 2013

Gagal

Word might kills you. It is true. Definitely. I failed. Again. Kalau seandainya tidak ada tanggungan, saya sudah pasti akan meninggalkan pekerjaan ini. Bukan karena tak mau menyelesaikan, tapi malu. Karena gagal. 

Dan rasanya saya kembali terjebak dalam pekerjaan yang saya tidak terlalu suka. Ini rasanya bukan saya. 

Read more »

Jumat, 19 Juli 2013

Andai aku muda

Setakat ini ada banyak sekali keinginan saya. Wajar bukan? Namanya juga manusia. Dan boleh jadi keinginan itu bisa diakomodasi, jika saya kembali pada waktu ketika muda. Saat saya masih belum punya tanggungan dan seterusnya. 

Tapi kembali lagi seperti muda dulu, apakah itu yang saya inginkan? Saya ragu. Belum tentu saja punya pikiran dan kesadaran seperti sekarang. Dan boleh jadi saya mengulang kesalahan atau malah melakukan hal yang lebih buruk lagi. 

Duh, saya heran kenapa saya memunculkan perbincangan ini di kepala. Tapi rasanya seperti ini: mungkin dilatarbelakangi saya yang kepingin macam-macam. Saya kepingin belajar fotografi, saya kepingin belajar musik, belajar desain, belajar bikin film. Semuanya hobi mahal belaka. Dan semuanya nggak mungkin tercapai dengan napas saya yang ngos-ngosan sekarang ini. Hidup terlalu berat. Dengan aneka tagihan tiap bulan, empat jam perjalanan kantor-rumah, dan ratusan jam yang mesti dialokasi per bulan setiap jamnya di kantor. 

Hidup itu soal kompromi bukan? 


Read more »

Kamis, 11 Juli 2013

The Quitter

Sebenernya saya rasanya pernah menulis judul tulisan seperti yang di atas itu. Judul itu saya ambil dari novel grafis siapa gitu, Lumayan sohor juga. Saya suka gambarnya. Saya suka ceritanya--entah kenapa cerita otobiografis macam itu sepertinya melulu bersifat kuat buat saya. Marjane Satrapi dengan Parsepolis. David B dengan Epilepsi, Lat dengan Anak Kampung.

Tapi buat saya The Quitter itu lebih dari sekadar cerita. Dalam ceritanya saya menemukan diri saya. Gambaran suram yang sulit diterima. Buat saya sendiri, buat orang-orang yang dekat dan peduli dengan saya. Bahwa saya sesungguhnya rasanya bertalian dengan tokoh di dalam novel grafis itu.

Saya merasa punya minat besar pada banyak hal. Saya suka musik, komik, filsafat, sastra, teh, agama, budaya, desain, pornografi, diy, dll. Karena itu dalam perjalanan panjang bersama seorang teman baru ke Jember akhir pekan lalu saya demikian lancar bercerita tentang banyak hal, mulai dari Umm Kulthum sampai dengan fotografi. Saya merasa saya juga menaruh minat dan punya keterampilan dalam dunia tulis-menulis, event organizer, manajerial, pengetahuan soal lingkungan, dll.

Tapi semuanya rasanya tak pernah menawarkan sesuatu yang benar-benar saya bisa kategorikan sebagai pemuas dahaga. Dan saya pun tak pernah merasa di "puncak"dalam aneka minat dan so-called keterampilan saya ini.

It feels like I almost good at something and then goes stuck and another failure. Just like the man in the novel.

Percayalah hidup seperti itu juga sulit.

Read more »

Selasa, 09 Juli 2013

Failed in the first task. Fuck

Read more »