Kamis, 11 Juli 2013

The Quitter

Sebenernya saya rasanya pernah menulis judul tulisan seperti yang di atas itu. Judul itu saya ambil dari novel grafis siapa gitu, Lumayan sohor juga. Saya suka gambarnya. Saya suka ceritanya--entah kenapa cerita otobiografis macam itu sepertinya melulu bersifat kuat buat saya. Marjane Satrapi dengan Parsepolis. David B dengan Epilepsi, Lat dengan Anak Kampung.

Tapi buat saya The Quitter itu lebih dari sekadar cerita. Dalam ceritanya saya menemukan diri saya. Gambaran suram yang sulit diterima. Buat saya sendiri, buat orang-orang yang dekat dan peduli dengan saya. Bahwa saya sesungguhnya rasanya bertalian dengan tokoh di dalam novel grafis itu.

Saya merasa punya minat besar pada banyak hal. Saya suka musik, komik, filsafat, sastra, teh, agama, budaya, desain, pornografi, diy, dll. Karena itu dalam perjalanan panjang bersama seorang teman baru ke Jember akhir pekan lalu saya demikian lancar bercerita tentang banyak hal, mulai dari Umm Kulthum sampai dengan fotografi. Saya merasa saya juga menaruh minat dan punya keterampilan dalam dunia tulis-menulis, event organizer, manajerial, pengetahuan soal lingkungan, dll.

Tapi semuanya rasanya tak pernah menawarkan sesuatu yang benar-benar saya bisa kategorikan sebagai pemuas dahaga. Dan saya pun tak pernah merasa di "puncak"dalam aneka minat dan so-called keterampilan saya ini.

It feels like I almost good at something and then goes stuck and another failure. Just like the man in the novel.

Percayalah hidup seperti itu juga sulit.

0 komentar:

Posting Komentar