Rabu, 24 Juli 2013

Bekerjalah

Sejak dulu saya menganut prinsip yang saya adopsi dari teman karib saya. Jangan pernah bawa kerjaan kantor ke rumah. Kalau bisa, bawalah kerjaan rumah ke kantor. Sekilas ini tampak bercanda. Tapi nggak. Ini sungguh serius. Karena membawa pekerjaan kantor ke rumah itu rasanya tidak adil buat keluarga dan buat sendiri.

Ilustrasinya begini. Contohlah saya sendiri. Tak terbiasa bergadang. Dan suatu saat mesti ngerjain laporan yang mesti disetor besok. Dari semenjak pulang kantor saja, saya sudah merasa ada beban kuat di punggung. Pikiran ini, sekuat apa pun saya bisa cegah, rasanya akan merembes. Dan buntutnya ketika bermain dan ngelonin anak, maka saya tak bisa total ceria. Belum lagi kehilangan waktu berbicara dengan istri--padahal ngobrol adalah kebutuhan saya. Saya mengerjakan laporan 5-6 jam. Tidur pukul 3. Bangun pukul 6, dalam kondisi yang tidak wajar. Kecapean, dan akhirnya siklus kelelahan ini bertahan lama. Saya sungguh tidak suka itu.

Lagian secara prinsip, menurut saya ada yang dilanggar di sana. Kantor mambayar gaji kita untuk 40 jam kerja sepekan. Ya tugas kita adalah memaksimalkan waktu itu bekerja. Dan kalau kemudian ada beberapa pekerjaan yang tertunda akibat pekerjaan lain yang juga sama-sama penting, ya biarlah itu menunggu. Bukan lantas mengorbankan waktu di rumah.

Tapi itu adalah dunia ideal saudara-saudara. Kita dalam hubungan industrial yang rasanya kerap menghilangkan batas-batas ideal itu. Dan saya adalah manusia yang kalah.

Jadi, rasanya mengganggu buat saya ketika bos saya bilang "saya justru produktif di akhir pekan" atau "saya mesti bekerja sampai larut malam untuk mengerjakan PR-PR". Ah tapi jangan salah. Itu bukan berarti yang dilakukannya itu jelek. Atau buruk. Tidak. Beberapa orang memang ditakdirkan untuk begitu. Ada banyak beban yang dia tumpuk di pundak. Sehingga privilese buat dirinya berkurang. Dan buat mereka saya angkat topi. Salut. Hanya saja, itu tidak berlaku buat saya. Saya adalah orang tidak penting, tidak berpretensi untuk menjadi penting, dan bangga dengan itu. Di dunia ini, saya cuma kepingin berarti buat saya dan keluarga saya sendiri. Sudah. Kalau pun kalau nanti saya bermanfaat, anggaplah itu bonus saja.









0 komentar:

Posting Komentar