Senin, 29 Juli 2013

Horor Jakarta

Saya tidak menyangka saya sedemikian cepat rontok oleh lalulintas Jakarta. Cuma dalam hitungan pekan saja, mungkin nyaris dua bulan, saya sudah begitu stres dengan kemacetannya. Saya berantem dengan istri. Saya mesti memendam emosi--dan mungkin agresivitas saya--ketika berhadapan dengan stres.

Dahulu, saya dan istri sudah berhitung soal perjalanan kantor-rumah. Dan sudah bersiap dengan kalkulasi waktu tempuh, yang akan menghabiskan waktu 4-5 jam per hari. Tapi entahlah. Persiapan mental itu tak ada artinya dengan lalulintas Jakarta yang begitu brengsek.

Saya khawatir jadi gila. Saya khawatir melampiaskan emosi pada anak dan istri saya. Saya takut mereka jadi sasaran kegilaan saya.

Dan parahnya saya nggak tahu harus bagaimana, kecuali harus menghadapi horor ini. Setiap hari. Dan saya takut, saya tak bisa melampaui horor ini dengan hidup-hidup.


0 komentar:

Posting Komentar