Kamis, 31 Januari 2013

Melankoli Jilid Kesekian

Brengsek, tiap mau menghitung mundur saya selalu terjebak pada melankoli. Ah bukan melankoli, tapi kesedihan. Bagaimana membayangkan adegan perpisahan. Makanya saya lebih suka menyibukkan diri dengan yang lain. Tidak berusaha memikirkan apa-apa. Atau menenggelamkan diri dalam sinema. 

Jadi beginilah. Sungguh jahat perpisahan itu.

Read more »

Rabu, 30 Januari 2013

Yang meneguhkan saya untuk menjadi sekular

Sejak SMP saya sudah bergabung di Kerohanian Islam. Lazim disingkat jadi Rohis saja. Di SMP bahkan saya termasuk yang menginisiasi pembentukannya. Saya bangga bisa 'menyeret' hampir ratusan orang untuk berjubel memenuhi kegiatan Rohis di mushola sekolah. Akhirnya saya terseret ke berbagai aktivisme lain. Ada satu keyakinan saat itu, yang saya atau kami lakukan itu adalah ibadah semata. Dan untuk itu saya tak takut berbeda. Saya meninggalkan semua yang duniawi. Termasuk musik yang saat itu tampil dalam masa yang rasanya paling indah. Saya menggantinya dengan koleksi nasyid dan membentuk kelompok nasyid.

Pada 96 atau 97 saya adalah ketua panitia festival nasyid. Mengorganisasi enam belas penampil dan lebih dari lima ratus orang penonton. Ini seingat saya adalah festival nasyid terbesar kedua yang dihelat di Jakarta. Tahun berikutnya kembali lagi kami bikin festival hampir sama di perpustakaan nasional. Rasanya indah sekali.

Kesyahduan ibadah dan berorganisasi itu benar-benar saya nikmati di SMA. Saat anak sebaya saya tak terlalu jelas orientasinya, saya memilih ikut kursus perbaikan bacaan Quran. Lanjut ke program tahfiz atau penghapalan AlQuran. Saya bangga, 2 juz Alquran saya sudah hapal. Rasanya tak ada anak di sekolah yang punya keterampilan itu. Seminggu tiga kali saya mengambil rute Kayumanis-Kampung Melayu-Mampang untuk ke tempat belajar itu. Dan semuanya saya jalani dengan senang.

Tapi itu menyisakan masalah sebenarnya. Karena dalam hati, ada banyak pertentangan. Karena ada demikian banyak aturan, larangan, restriksi, anjuran, dll. Padahal ada begitu banyak kecenderungan manusiawi saya, sebagai anak muda yang ingin dilepas. Bagaimana saya kalau ingin bergaul dengan perempuan, bagaimana kalau saya ingin menikmati musik. Bagaimana kalau saya punya hobi yang sifatnya duniawi? Yang tidak masuk akal adalah bagaimana untuk mengatasi desakan seksual? Masa iya cuma kawin satu-satunya jalan?

Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana inkonsistensi ini berlangsung. Pada diri saya, pada orang sekitar. Dan pada saat yang sama saya mengalami pencerahan. Belajar bahasa, sastra, dan sejarah Eropa.

Saya bulat memilih keluar dari arus ini. Yang pada saat saya keluar sedang membesar. Ini beberapa pertandanya: Hampir di semua sekolah negeri ada Rohisnya. Waktu saya SMP, cuma ada satu orang saja yang berkerudung. Pada saat saya keluar, ada puluhan yang memakai. Dan sekarang, tiap Jumat anak-anak sekolah pakai baju koko atau rok lebar dan kerudung buat yang perempuan. Ah, ukhti-ukhti yang dulu berkonflik dengan keluarga atau sekolah karena memakai jilbab, pasti berbangga dengan fakta ini--Oh ya kisah-kisah ini jadi bahan terbitan majalah An-Nida saat itu.

Satu lagi pencapaian yang paling ultimate menurut saya adalah ini: Partai! Edan. Jejaring-jejaring tertutup ini sekarang sudah menampakkan gurat akarnya. Dan cerita selanjutnya saya yakin kita mestinya sudah terekam dalam banyak buku sejarah-biografi tentang partai ini. Dan buku-buku yang membahas soal ini adalah buku yang saya wajibkan untuk konsumsi buat saya sendiri. Saya senang membandingkan fakta-fakta dalam buku dengan apa yang saya alami. Seperti perjalanan ulang-alik yang menyenangkan buat saya.

Dan semakin lama semakin terkuaklah boroknya. Pemecatan kader, semakin pragmatisnya langkah partai, adalah dua indikasi yang paling keliatan. Belum lagi kasus video porno. Dan akhirnya hari ini presiden PKS dijadikan tersangka kasus korupsi.

Saya senang bukan kepalang. Bukan karena ada hasrat untuk membenci atau menyerang PKS. Siapalah saya bukan?

Tapi saya senang karena kasus ini menunjukkan satu hal: bahwa manusia selamanya punya kecenderungan untuk berdosa. Catat ini: selamanya! Karena itu klaim partai bersih, atau mengaitkan partai dengan agama jadi sebuah petualangan yang berbahaya! Seberapa ketatnya aturan pun tak akan mampu menanggulangi kecenderungan manusia: untuk bersenang-senang, menikmati dunia, sesekali membuka tabu!

Sudah sepatutnya kader-kader PKS tidak lagi naif. Menganggap semua petingginya adalah kader terbaik setara malaikat. Dan mbok ya bilang aja yang salah ya salah. Bukan dengan alasan macam-macam.

Ah sudahlah. Saya sudah puas dengan berbagai pembuktian untuk tesis saya: bahwa yang duniawi tak mungkin menyatu dengan yang ukhrowi. Dan kalau mau menggabungkan siap-siap saja terbakar.

Saya hanya percaya bahwa ada nilai kebajikan di setiap manusia. Terlepas dari orientasi politik, seksual, kenegaraan, dan agama. Orang baik tak mesti berasal dari kalangan Islam. Dan untuk itu tak perlu mengklaim Islam sebagai yang terbaik. Santai saja.




Read more »

Selasa, 29 Januari 2013

Ada yang belum selesai

Rasanya ada yang belum selesai antara saya dengan diri saya. Dan urusan yang belum selesai ini kadang-kadang bikin letupan sesekali.

"Kadang merindukan dunia tanpa konsekuensi.
Tanpa alasan dan pertanyaan; kenapa?
Saat bertindak bodoh adalah kebahagiaan
Kadang merindukan dunia yang nirkenes
Kesenyapan dan kebisuan
Tiada keterburuan dan tenggat waktu
Memboroskan apa pun dan menghabiskan apa pun"

Read more »

Kamis, 24 Januari 2013

Kuliah Lagi

Kok tiba-tiba aja kepikiran topik ini. Ah, okelah. Mumpung lagi ketemu ide, maka inilah catatan saya seputar kuliah. 

Singkatnya ada keinginan saya yang rasanya tidak terlalu mendesak--alias saya tidak kebelet amat--yaitu kuliah lagi. Mungkin ini dampak dari saya yang tidak menyelesaikan kuliah dengan "sempurna". Saya memilih jalur non-skrip, alias tidak memakai skripsi. Gantinya saya mengambil beberapa mata kuliah ekstra. Memilih non-skrip sebenarnya bukan perkara mudah buat saya. Tapi karena alasan pragmatis, saya memilih jalur ini. Saya memilih non-skrip karena kalau saya mengambil jalur skripsi, maka saya harus menyediakan waktu dan tenaga... dan uang untuk satu semester tambahan. Dan itu tak mungkin. Ibu saya sudah kepingin saya segera kerja dan menghasilkan uang tinimbang menghabiskan uang kembali. 

Nah, jadilah saya pikir saya harus menuntaskan "unfinished business" itu. Saya mungkin akan melanjutkan kuliah Sastra saya. Saya suka kritik sastra. Dan kuliah ini yang saya rasa saya akan ambil. 

Lantas apa jurusan kedua? Saya rasanya akan memilih bidang ilmu selain sastra tapi juga bukan ilmu yang praktis macam manajemen, atau teknik audio, atau arsitektur. Saya tak minat pada kuliah-kuliah praktis seperti itu. Saya justru lebih tertarik pada bidang yang "tidak bermanfaat" secara praktis. Sejarah misalkan. Bidang ini definitely akan menjadi pilihan kedua saya. 

Lantas apa berikutnya? Belakangan saya menaruh minat pada kota. Dan ruang kreatif. Ini belakangan saya temukan. Saya bahkan sudah mencari universitas yang menyediakan jurusan ini. Saya menemukan jurusan "creative cities" di King College London. Niscaya ini menjadi idaman saya, jika saya berhasil memperbaiki keterampilan berbahasa Inggris. 

Kenapa saya tertarik dengan kota dan kreativitas? Entah. Tapi saya kira ada pengaruh tumbuh-kembang saya di sebuah kampung di Jakarta. Saya tumbuh di gang kecil di Jakarta. Dengan reriuhan tukang agar-agar, tukang bakso, tukang sayur, tukang ikan, tukang siomay. Tapi yang paling berkesan adalah bazar saban tujuhbelasan yang digelar di jalan. Ibu saya dagang kikil dan semur jengkol. Dan laku! Ini membahagiakan buat saya.

Tinggal di gang buat saya adalah bagian terpenting dalam hidup. Di mana keterampilan saya berinteraksi dilatih. Tempat kesenangan ada di tiap sentinya. Ada tokadal, galasin, bentengan, bola gebok yang murah meriah. Ada penyewaan komik dan gambaran (komik dalam selembar karton berisi 36 panel) yang melatih sensitivitas visual. Ada azan, pengajian, dan speaker--dulu disebut salon--tetangga yang memuntahkan aneka lagu kepada telinga siapa saja. Beruntunglah Kayumanis diapit paling sedikit empat bioskop (tunggu saya hitung, Tawang, Djaja, Nusantara, sebuah lagi di dekat Prumpung, sebuah lagi di Pasar Sunan Giri. Lihat, banyak bukan?) Pun ada dua penyewaan video beta yang menjadi langganan. Kami berkorban uang jajan untuk sekadar menyewa dan menonton ramai-ramai. Atau ada juga rumah Pak Pur atau dua tetangga lainnya yang "membuka" ruang keluarganya menjadi bioskop dadakan buat seluruh warga. Saya ingat episode ini. Di mana ruang tamu Pak Pur penuh dengan kepala banyak anak dan orang dewasa. Sementara sandal-sandal berantakan bertumpuk di luarnya. Edan! 

Beruntunglah saya dibentuk oleh Lapangan Aji Bini, atau Lapangan Gadis yang menjadi arena bermain bola. Ada puluhan pohon besar tempat kami berbagi keceriaan. Tempat saya menjadi monyet yang perkasa. Atau menjadi Ksatria Robin Hood. Dan saya mencuri-curi melihat majalah porno. Ada got besar alias kali. Ada ikan cere. Ada bunga bayam yang kami jadikan ayam. Ada episode perburuan jangkrik. 

Saya percaya ruang-ruang ini penting dalam membentuk manusia. Salah satunya saya. Dan karena itu saya percaya ruang-ruang ini adalah sumber interaksi yang pada akhirnya memantik kreativitas yang tak habis-habis. Saya percaya itu. 


Read more »

Selasa, 22 Januari 2013

Sok-Sokan

Semakin hari rasanya saya semakin sinis. Saya tak suka ini. Sebenarnya. Saya semakin tak suka dengan banyak orang. Daftarnya bisa panjang sekali. Dan saya benci ini. Saya tidak kepingin mneyebarkan kebencian. Saya ingin positif saja. 

Nah berikut adalah beberapa tipe orang yang saya tak suka. Ini pastinya berasal dari pengalaman pribadi. Menjadi teman, atasan, bawahan, bagi orang-orang di sekitar saya. 

1. Orang yang sok bijak. Macam Mario Teguh gitulah. Saya benci karena sepertinya mereka mengerdilkan kehidupan. Seperti kehidupan itu sederhana. Seakan mereka memiliki kunci-kunci untuk segala hal dan masalah. Termasuk dalam tipe ini adalah orang yang sok menjadi "ibu" atau "bapak"semua orang. They're everybody's darling. 

2. Orang yang sok pinter. Ingat ya, sok pintar. Ada banget di sekitar saya. Pinter itu adalah usaha dan takdir. Dan rasanya menyenangkan juga bersama orang-orang pintar. Karena dari mereka kita bisa dapat pengetahuan baru. Kebijaksanaan baru. Tapi orang sok pintar ini jenis spesies yang berbeda. Mereka ini tidak terlalu pintar. Biasa aja. Dan yang lebih parah adalah mereka menganggap kerdil orang lain. Prestasi sedikit tapi ngebacotnya banyak. Bahkan meremehkan orang lain. 

3. Orang yang sok tau. Orang sok tau mungkin saja tau banyak hal. Tapi ada jutaan bakteri di dunia ini. Dan ada ratusan, ribuan berita yang beredar tiap menit. Jadi yakinlah, tak ada orang yang tau segalanya. Sok tau ini jadi menyebalkan karena: (a) mereka cenderung bawel dan pamer pengetahuan. dan (b) mereka seperti menoyor kepala semua orang sambil membusungkan dada, 'nih gue yang paling tahu.'

4. Orang yang sok misterius, sok serius, pemendam-marah, fatalistik, depresif. Orang ini yang jelas menebar aura murung. Jadi biarkan saja. Nggak usah ditegur kalo nggak perlu. Biarin aja mereka larut dalam misteri mereka sendiri. 

5. Sok ganteng dan sok cool. Naudzubillah mindzalik. Tapi ya biarin aja sih. Selama mereka tidak menyenggol saya. Saya tak akan repot mengurus mereka juga 

Nah berbanding terbalik dengan itu, saya malah bisa toleransi dengan orang yang "sok asik." Ini justru aman buat saya. Karena kalau mereka ada di sekitar, saya ga perlu repot bikin bahan obrolan. Karena saya sungguh tak terampil untuk itu 

Read more »

Senin, 21 Januari 2013

Menulislah

Maka tibalah saya di sini. Di sebuah hari yang saya tak punya ide untuk menulis apa-apa. Sebenernya tempo hari ada beberapa hari ide yang kepingin saya tulis. Misalkan soal penghargaan yang diterima kantor saya. Cerita jelek soal atasan dan bawahan. Tapi saya nggak mau jadi kotor dan negatif. Itu janji.

Tapi saya juga janji untuk menulis setiap hari, sebisa mungkin. Untuk blog ini dan untuk tumbrl. Ah tapi saya tak tahu harus menulis apa.

Ah saya tahu. Saya mestinya bisa menulis tentang masa kecil saya. Berdasarkan ingatan subyektif saya. Yang kadang-kadang terselip ketidakakuratan.

Ah, tapi itu terlalu personal. Tidak ada ekstraksi pemikiran di sana. Cuma cerita saja. Mending kalau menarik. Dan itu rasanya nggak sesuai dengan tema blog ini. Karena di blog ini saya kepingin menuangkan apa yang saya pikirkan. Apa pelajaran yang bisa saya dapat. Untuk menjadi manusia seutuh-utuhnya--meskipun saya tahu itu adalah pasal yang tak mungkin untuk dikejar. Hatta mati sekalipun.


Read more »

Minggu, 20 Januari 2013

Kecewa Oh Kecewa

Saya sedih pagi ini. Asumsi saya terkonfirmasi. Dan meski saya sudah tahu dan memilih bersikap positif padanya, tetap saja saya mereasa kecewa. Selama ini saya beranggapan fungsi dan peran saya "agak" terpinggirkan di kantor ini. Tapi hari ini anggapan itu terkonfirmasi.

Dan rasanya tak enak saja.

Tapi ya sudah. Saya mengeluh di sini saja.

Saya berpikir positif. Mungkin ini adalah hukuman saya yang tidak disiplin mengikut aturan dan kehendak. Mungkin ini adalah karena sikap saya sendiri yang tak terlalu antusias mengikut perubahan.

Jadi ya sudahlah. Saya tetap kecewa sebagai manusia. Dan saya memilih bersikap positif karena saya kepingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Read more »

Rabu, 16 Januari 2013

Mengeluh Banjir

Pagi ini adalah waktu yang sangat tepat untuk memaki di media sosial. Karena Jakarta terendam dan macet di mana-mana. Di rumah kami banjir, saya menempuh perjalanan hampir dua jam dari rumah menuju kantor yang normalnya ditempuh dalam waktu 30 menit. Saya menempuh jalan kanan dan kiri, mencari alternatif. Dengan cemas yang luar biasa besar. Nah apa lagi coba yang kurang? Saya berhak memaki bukan?

Ah saya nggak mau.

Sebagian orang mengutuk tata kota yang jelek, sirkulasi dan tata air yang bedebah, atau pembangunan mal dan perkantoran yang agresif.

Saya tidak mau mengeluh.

Karena saya tahu, setelah ini berlalu kita semua bakal lupa. Kita tenang-tenang aja. Pembangunan mal terus jalan. Jangan-jangan kita malah menikmati.

Jadi saya tidak ma mengeluh.

Read more »

Kantor Saya

Saya mau cerita tentang kantor saya saja hari ini. Kantor ini adalah kantor paling asik sedunia, menurut saya paling tidak. Sangat tidak obyektif, mengingat saya baru dua kali pindah kantor. Itu pun cuma sebentar-sebentar. 

Kantor ini keren sejak awal. Dan tak pernah establish. Itu yang pasti. Meskipun hubungannya dengan paham anti-establishment masih harus ditelusur lagi. Ruangannya selalu berubah. Demikian juga programnya. Di kantor ini pula saya menjalani bermacam-macam peran. Mulai dari reporter, penerjemah, presenter berita, penulis laporan, mengambil laporan dari rekan-rekan daerah, menjadi mentor buat pelatihan di radio daerah, menjadi produser, menjadi penyiar, mengonsep iklan, memproduksi audio, bernegosiasi dengan narasumber, mengonsep program, sampai jadi supervisor, menangani anak buah. Mulai dari yang kooperatif sampai yang belagu dan sok tau. Ini adalah fase paling dinamis dalam hidup saya. 

Ah, apa lagi. Saya suka karena di kantor ini bermalas-malasan bisa dilakukan dengan santai aja. Saya dan banyak orang di sini bisa teriak-teriak dan bernyanyi pada jam kerja. Nonton youtube. Berlama-lama di sosial media. Update blog. Saya bahkan bermain musik di sini. Ah ini hal menyenangkan lainnya yang bisa dilakukan di sini. Yang penting kerjaan selesai. Kami digaji untuk itu. Bahkan pada masanya, gaji kami adalah yang paling besar untuk perusahaan sekelas. 

Saya bebas berbusana di sini. Meski busana bukanlah hal terpenting. 

Kami bisa menenggak alkohol dan menghirup cimeng bersama bos-bos kami dalam suasana yang egaliter. 

Di saat yang sama, sebagian kami juga ada di baris depan dalam menyuarakan isu kebebasan sipil, keberagaman, keberpihakan pada minoritas dan perempuan. Dan untuk itu saya luar biasa bangga bisa menjadi bagian dari tradisi dan komunitas itu. 

Senang-senang pwoll. Tapi skill dan kepedulian juga pwoll. Kira-kira begitulah.

Apa lagi yang bisa saya sampaikan. Ah saya juga senang dengan teman-teman dahulu. Yang bisa berbagi ide dan paham yang sama. Bisa berbagi kerisauan dan kebahagiaan yang sama. Dan canda yang sama. Itu penting bukan. Dan saya merindukan teman-teman itu. 

Brengsek. Saya sentimentil. Huh



Read more »

Senin, 14 Januari 2013

Sekolah


Pada 2010 uang sekolah di sekolah ini sudah mencapai 58 juta. Itu adalah untuk uang pangkal sampai kelas enam SD. Habis itu ada uang tahunan kira-kira tiga jutaan kalo nggak salah. Dan uang bulannya di atas satu juta. Bisa bayangkan itu? Berapa kira-kira penghasilan orang tuanya?

Buat saya ini di luar akal sehat? Ah atau karena saya belum seberuntung orang-orang tajir ini saja maka saya bilang ini di luar akal sehat. Mungkin. Tapi sungguh deh. Buat saya ini di luar akal sehat. Dan lebih nggak masuk akal lagi, yang kepingin memasukkan anaknya di sini nggak satu dua orang. Ada banyak. Dan sekolah ini sampai buka cabang. Gilak bukan?

Saya sudah pasti tidak akan memasukkan Senja ke sana. Karena praktis nggak mampu. Betapa pun saya kepingin Senja mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ah mungkin itu juga yang ada di kepala orang-orang tua ini. Mereka kepingin mendapatkan pendidikan terbaik untuk anak mereka. Dan kebetulan saja mereka punya uang. Dan mungkin itu juga yang ada di kepala penggagas dan pengusaha sekolah elite ini. Kepingin menyajikan pendidikan yang terbaik. Sampai mereka tiba pada kesimpulan: pendidikan terbaik itu butuh duid. Dihitunglah segala macam ongkosnya. Guru-gurunya nggak boleh ngobyek. Guru-gurunya mesti punya passion. Dan untuk mencegah orang-orang passion ini ke bidang lain yang bukan pendidikan, maka dipasanglah gaji tinggi. Dan diperlukan sarana yang bagus. Dan diperlukan bahan ajar yang bagus. Ah untuk itu kita harus bikin rencana bisnis bukan? Siapa yang memodali? Bagaimana cara agar pemodal mendapatkan keuntungan. Maka semuanya dibebankan kepada orang tua murid.

Dipasanglah iklan: kau mau dapat pendidikan terbaik, kemarilah. Kami menyediakan. Saya ngeri membayangkan bahwa sebuah sekolah didirikan dalam filosofi bisnis seperti ini. Tapi ya saya berbaik sangka, mudahmudahan nggak cuma bisnis yang ada dalam otak pemilik dan pengelola sekolah elite ini.

Saya mengemukakan ini bukan dalam nada menyalahkan. Atau mengutuk pengelola atau orang tua yang tajirun alaihim itu. Tidak.

Saya cuma mengandaikan: kenapa sekolah elite itu ada di muka bumi Indonesia. Sederhana sekali jawabnya. Karena ada kebutuhan pendidikan yang baik. Kenapa kebutuhan pendidikan yang baik itu sebegitu tinggi? Ya karena pemerintah tak mampu menyediakan. Saya membayangkan kualitas pendidikan macam apa yang disediakan sekolah dasar yang bayarannya cuma sepuluh ribu rupiah per bulan, bahkan gratis dengan sekolah dasar yang uang bulanannya satu koma empat juta rupiah? Mesti banyak perbedaannya bukan?

Begitu banyak cerita miris di sana. Satu kelas, satu guru, dengan tiga puluh bahkan empat puluh anak. Bagaimana mengharapkan inovasi terjadi pada guru yang begitu lelah dan capek mengurus puluhan anak. Bagaimana mengharapkan kebutuhan unik tiap anak terpenuhi di tengah kerumunan seperti itu?

Karena kualitas pendidikan umum yang disediakan pemerintah begitu curam berbeda dengan kualitas pendidikan yang disajikan sekolah elite ini. Maka wajar-wajar saja itu dilihat pengusaha atau penggagas sekolah elite. Sementara di luar sana ada banyak orang tua juga yang setuju dengan konsep para pengusaha ini, maka jadilah dia. Menjamurlah dia.

Siapa yang salah kalau begini?

Tapi saya ngomong begini juga dengan kesadaran tinggi, saya mungkin bisa bagian dalam arus ketidakwarasan ini: Kalau saya kaya raya maka saya akan menyekolahkan Senja ke sekolah terbaik yang mahal itu. Orang tua mana coba yang tak mau menyediakan pendidikan terbaik buat anaknya.

Read more »

Minggu, 13 Januari 2013

Nyinyir Kesekian

Saya jadi teringat lentingan (twit) Robi Navicula. Saya parafrasa: bahwa yang berbahaya sekarang adalah aktivis twitter. Mereka yang merasa sudah ikut andil atau berjasa ketika sudah memasang status atau mentwit atau meretwit yang isinya adalah kepedulian sosial.

Aha! Saya bersorak dengan itu. Sebab saya akur, meski saya termasuk golongan yang dicerahkan belakangan; bahwa ada perasaan semu yang berbahaya di balik lentingan status atau twit itu. Niat boleh saja baik. Tapi tanya deh ke dalam lubuk hati. Pasti ada perasaan merasa penting lepas melenting status. Bahwa kita ikut arus itu. Itu tidak orisinal. Itu yang pasti.

Dan karena itu pula saya rasanya tak pernah lagi ikut gelombang. Kalau pun ikut gelombang saya nggak kepingin ikutikutan nyinyir atau merasa penting dengan status itu. Saya mencoba menangkapnya dengan humor.

Dan begitu juga ketika marak betul sekarang petisi online. Saya menyimpan keraguan efektivitas metode tersebut. Apakah gejolak dunia maya mampu menghentak dunia nyata. Sudah lama betul warga maya itu tumpul. Cuma beberapa kali saja gerakan online berhasil di dunia offline. Tapi selebihnya yang ada hanyalah kekenesan belaka. Keganjenan kelas menengah.

Tapi ya sudah. Memang kenapa kalau ganjen? Kalau kenes. Bukankah bibit-bibit itu ada pada kita semua. Dan apa salahnya kalau mereka seperti itu.

Yang salah menurut saya adalah reaksi orang, yang kadang-kadang terlalu serius. Menanggapi dengan nyinyir. Atau negatif. Ah apalagi kalau membalas nyinyirnya itu di sosial media pulak. Apa bedanya kau dengan mereka bukan?

Saran saya, ya santai aja. Ini hidup cuma sekali. Nikmati aja kenapa. Sambil sering-sering menabur manfaat.

Read more »

Kamis, 10 Januari 2013

Menarik Diri

Barusan makan siang dan bertemu dengan rekan sekantor. Sudah tak lagi satu atap. Sudah lama tak ngobrol. Paling bertegur sapa saja dari jauh. Tapi jangan salah. Nggak ada rasa dendam di antara kami. Malahan dulu pernah sangat akrab. Saya malah pernah dikasih kaset The Smith. 

Jauh sebelum kami berpisah departemen, pisah gedung kemudian, memang sudah ada gap. Antara dia dengan tak cuma saya. Tapi yang lain. Yang lain menandai dia seperti menarik diri dari pergaulan. Segan nongkrong dengan yang lama, apalagi rekan-rekan yang baru. 

Sebagian bilang dia berubah jadi pemalas. Atau sesederhana bekerja saja sesuai argo. Waktunya kerja ya kerja. Waktu pulang ya pulang. Tak ada kreativitas atau upaya lebih untuk berkontribusi di luar kapasitasnya. Ngepas saja. 

Sebenernya saya menandai bukan cuma dia saja yang "menarik diri" dari pergaulan sosial di kantor. Ada rekan saya yang lain, yang juga seperti itu. Paling tidak ada satu orang lagi. 

Nah sebagian orang mungkin mencap negatif sikap itu. Amit-amit, mungkin saya dulu termasuk yang memberikan cap negatif itu pula. Saya berlindung pada tuhan atas sikap seperti itu, karena sangat mungkin saya melakukan hal itu. Karena saya tak begitu betah bekerja dengan orang yang letoy alias pekerja argo begitu. 

Ah celakanya saya. 

Saya rasanya sadar itu tak baik. Menjatuhkan nilai seperti itu. Sebab saya mungkin adalah si A tadi. Dan rekan saya yang lain itu: Pekerja Argo. Saya rasanya, perlahan-lahan berubah menjadi mereka.  Dan adalah tidak fair jika penarikan diri itu semata-mata disebabkan oleh rasa malas. 

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan sikap seperti itu. Pada tahap ini saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka. Dan merasakan lebih intens lagi apa yang sudah mengendap dalam pikiran saya. Ah,  mungkin dunia terlalu bawel buat kami. Terlalu banyak omongan sampah di luar sana. Atau kami sadar tidak ada yang bisa kami lakukan untuk berkontribusi. Kami adalah kaum pesimis. Mungkin juga kami sakit hati karena tak mendapatkan apresiasi. Karena melihat yang lain juga tak ada progres. Lihat ada banyak sekali alasannya bukan. 




Read more »

Rabu, 09 Januari 2013

Sendiri

Saya nggak pernah hidup sendirian. Seumur hidup. Parah memang. Tapi saya tidak dalam posisi mengutuki atau menyukuri hal tersebut. Saya anggap sebagai bagian hidup yang mesti saya jalani aja. Ada situasi. Dan saya hidup di situ. 

Tapi ya itu. Saya nggak pernah hidup sendirian. Saya sekolah di SD dekat rumah. Sekitar 10 menit kurang kalau berjalan dari rumah. SMP saya di Galur Sari. Itu pun jalan kaki. Ya sekitar setengah jam jalan sih. SMA juga demikian. Saya sekolah di Kramat Asem. Jalan kaki sekitar setengah jam juga. Kenapa saya memilih sekolah-sekolah itu? Sederhana sekali. Sebab kalau saya bersekolah jauh-jauh itu artinya ada ongkos yang harus dikeluarkan. Saya nggak tega meminta duid sama Emak. Nggak tega. Sepanjang SMP-SMA seingat saya, saya tak pernah meminta uang jajan. Kecuali kalau saya butuh membeli buku atau perlengkapan sekolah lain. Saya tahu diri. Kami orang miskin. 

Saya jajan dari uang upah. Upah menjadi kuli, upah jadi pesuruh, upah jadi apa aja yang penting halal. 

Nah periode sekolah terjauh saya ya ketika kuliah. Saya tidak ngekos. Lagi-lagi dengan alasan: tak punya uang. 

Habis itu saya pacaran. Habis itu menikah. Dari rumah Emak ke rumah mertua. Jadi praktis saya tak pernah sendirian. Tak pernah hidup benar-benar sendiri.

Lantas apa yang jadi soal? Rasanya nggak ada. Rasanya. Hmhmh iya. Kok saya mulai ragu. Apakah saya bisa hidup sendiri? 

Read more »

Selasa, 08 Januari 2013

Sebelum Melankoli

Sebelum melankoli datang terlebih dahulu ada pertanyaan: Apa saya sanggup berpisah dengan apa dan sesiapa yang saya cintai.

Berat, Bung. Itu pertanyaan berat sekali. Memang ini bukan kali pertama saya melamar dan diwawancara dengan perusahaan lain. Tapi rasanya belum ada yang seserius ini. Dan saya sedang getir begini. Membayangkan saya berpisah dari pekerjaan sekarang.

Bukan bermaksud untuk bikin melankoli. Tapi pekerjaan ini menyenangkan sekali. Bertemu dengan hal-hal baru hampir setiap hari. Saya bebas memakai apa pun yang saya pingin. Bekerja dengan metode apa pun yang saya inginkan. Bisa memutar musik keras-keras. Tertawa terbahak-bahak. Bermain musik. Bercanda tanpa sekat waktu dan ruang. Bisa bermalas-malasan. Ngeblog. Bikin review. Dan santai-santai saja. Dan yang terbaik dari itu semua, rasanya gajinya pun tak buruk-buruk amat.

Nah sanggupkah saya berpisah dari itu semua? Pasti bisa. Mesti bisa.

Ah, melankoli. Tak sudi saya menanggapi.


Read more »

Senin, 07 Januari 2013

Tua-Muda

Waktu itu saya, Rebecca, dan istri saya terlibat obrolan seru. Mengomentari sebuah kontes di bidang radio. Yang aneh bagi kami, utamanya Rebecca adalah bagaimana kutipan juri dipampangkan di dalam booklet. Dan komentar-komentar itu, rasanya tak pas. Kerena mencatumkan catatan: "Seharusnya..." atau kata "Tapi.." atau kata "kelemahan iklan ini..." dst.

Cukup aneh ada komentar yang seharusnya dibiarkan dalam ranah internal dicantumkan dalam booklet yang peredarannya kemana-mana. 

Rebecca bilang sepertinya juri mau bilang: Kami ini, yang tua-tua ini, hebat. Kamu tahu nggak anak kecil," dan anak-anak kecil itu adalah para kontestan tadi. Poin keberatan dia sih, yang kami amini, as if orang-orang tua ini selalu benar dan jago. Dan kalian... para junior harus belajar dari kami. 

Dalam satu hal, ini saya setuju betul dengan Rebecca. Kadang sebal betul dengan orang tua yang bebal. Feodalistik. Dan menganggap mereka selalu benar. Saya kenal banyak dengan orang yang lebih tua tapi kemudian kecerdasan emosionalnya ada di titik rendah. Ada juga orang tua yang tak kunjung bijaksana. Malah terbit sisi kekanak-kanakannya. Dan ini yang repotnya. Orang tua itu kadang-kadang luar biasa bebal untuk dibangunkan kesadarannya. 

Tapi kadang-kadang juga, saya ada di posisi itu. Saya sebagai orang tua. Senior. Dan kadang-kadang dalam posisi ini saya juga kerap kali marah. Dengan anak-anak muda yang kelewat slebor. Dan kebanyakan bacot. Tapi keterampilannya tak ada. Menuding-nuding kesalahan orang, dan melewatkan kelemahan diri sendiri. 

Padahal menurut saya anak muda sekarang diberkahi begitu banyak fasilitas. Internet! Tapi kok ya skillnya itu nggak meningkat. Ini yang bikin gregetan. *Sembari menulis ini saya bergumam. Lihat berita kemarin dinaikkan lagi. Padahal sudah saya tulis hari sebelumnya. Apakah mereka tak memasang tolok ukur yang tinggi? Duh.

Wajar mestinya. Saya suka membandingkan dengan apa yang sudah saya lakukan juga. Dulu mungkin saya juga sering ngebacot. Dan menilik lagi perbuatan itu, saya mungkin terpingkal sendiri. Betapa bodohnya saya. 

Nah saya khawatir deh. Makanya saya nggak boleh kelewat sering menuding-nuding kali ya. Betapa pun hasrat untuk itu tak terkendali dan membuat saya gatel. 

Read more »

Minggu, 06 Januari 2013

Semprul

Ini adalah sesuatu yang langka sekali terjadi pada hidup saya. Saya menolak dua pekerjaan. Dua calon tempat ini sudah sreg dengan saya. Dan rasanya saya juga demikian. Tapi yang nggak cocok cuma satu hal saja rasanya: Duit. Tak ada yang menawarkan gaji yang saya perkirakan. 

Padahal alasan pokok yang bikin saya melirik pekerjaan lain adalah soal duitnya. Tentu saja ada alasan lain. Alasan kreatif, alasan jenis pekerjaan, alasan dampak sosial, alasan ketidaknyamanan dengan lingkungan kerja yang lama. Dll. Tapi ya itu. Nggak ada yang menawarkan lebih. 

Saya butuh itu. Terus terang. Terserahlah orang mau bilang apa. Tapi saya butuh uang. Dan belakangan ini saya bokek terus. Senantiasa. Sungguh rasanya tak enak tak punya duit. Tak punya kontrol atas diri sendiri. Dan kemampuan untuk memenuhi hasrat saya. 

Duit, saudara-saudara, memang tidak mendefinisikan hidup saya. Tapi jelas juga saya butuh duit untuk bikin kehidupan saya benar-benar hidup. Rasanya tetap saja tak enak, tak punya uang sendiri. Seperti kehilangan separo tenaga. 

Saya tak berani perasaan ini steril dari kedirian saya sebagai laki-laki. Ah semprul! Ga ada hubungannya mestinya. Saya percaya perempuan dan laki-laki setera. Dalam hak dan kewajiban. Demikian juga ketika mereka memutuskan untuk berumah tangga. Rumah tangga saya dibangun atas dasar itu: Kesetaraan. 

Tapi tetap saja saya tak enak hati. Semprul. Ga punya duit. Betapa ceteknya hidup saya. 




Read more »

Selasa, 01 Januari 2013

How Do I Value Myself

Ini barusan aja saya renungi. Setelah berbincang dengan teman yang kepingin mencari tenaga kerja baru. Dia menyebutkan satu per satu nama yang kami kenal. Cuma dua yang saya rekomendasikan. Itu pun rasanya dengan catatan.

Yang lain? Nggak. Ada yang kelewat pasif. Ada yang banyak alasan. Ada yang terlalu banyak izin. Ada yang udah kelewat nyaman dengan kemalasan. Ada yang suka mengoverestimate kerjaannya. Dan banyak yang lainnya

Lantas bagaimana dengan saya? Bagaimana saya menilai saya sendiri? Mbuh. Saya pernah resisten. Itu yang pasti. Berseberangan dengan teman-teman saya. Pernah juga malas. Pernah juga tidak profesional.

Tapi pada akhirnya yang penting menurut saya adalah saya sadar. Saya berusaha memperbaiki diri. Dan saya selalu pada ambang kesadaran: bahwa saya berpotensi untuk jadi tidak baik dan tidak berharga. Dan dengan peringatan macam itu, saya berusaha untuk tidak menjadi buruk. Tidak ada jaminan hasil akhir. Yang penting saya berusaha

Read more »