Senin, 14 Januari 2013

Sekolah


Pada 2010 uang sekolah di sekolah ini sudah mencapai 58 juta. Itu adalah untuk uang pangkal sampai kelas enam SD. Habis itu ada uang tahunan kira-kira tiga jutaan kalo nggak salah. Dan uang bulannya di atas satu juta. Bisa bayangkan itu? Berapa kira-kira penghasilan orang tuanya?

Buat saya ini di luar akal sehat? Ah atau karena saya belum seberuntung orang-orang tajir ini saja maka saya bilang ini di luar akal sehat. Mungkin. Tapi sungguh deh. Buat saya ini di luar akal sehat. Dan lebih nggak masuk akal lagi, yang kepingin memasukkan anaknya di sini nggak satu dua orang. Ada banyak. Dan sekolah ini sampai buka cabang. Gilak bukan?

Saya sudah pasti tidak akan memasukkan Senja ke sana. Karena praktis nggak mampu. Betapa pun saya kepingin Senja mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ah mungkin itu juga yang ada di kepala orang-orang tua ini. Mereka kepingin mendapatkan pendidikan terbaik untuk anak mereka. Dan kebetulan saja mereka punya uang. Dan mungkin itu juga yang ada di kepala penggagas dan pengusaha sekolah elite ini. Kepingin menyajikan pendidikan yang terbaik. Sampai mereka tiba pada kesimpulan: pendidikan terbaik itu butuh duid. Dihitunglah segala macam ongkosnya. Guru-gurunya nggak boleh ngobyek. Guru-gurunya mesti punya passion. Dan untuk mencegah orang-orang passion ini ke bidang lain yang bukan pendidikan, maka dipasanglah gaji tinggi. Dan diperlukan sarana yang bagus. Dan diperlukan bahan ajar yang bagus. Ah untuk itu kita harus bikin rencana bisnis bukan? Siapa yang memodali? Bagaimana cara agar pemodal mendapatkan keuntungan. Maka semuanya dibebankan kepada orang tua murid.

Dipasanglah iklan: kau mau dapat pendidikan terbaik, kemarilah. Kami menyediakan. Saya ngeri membayangkan bahwa sebuah sekolah didirikan dalam filosofi bisnis seperti ini. Tapi ya saya berbaik sangka, mudahmudahan nggak cuma bisnis yang ada dalam otak pemilik dan pengelola sekolah elite ini.

Saya mengemukakan ini bukan dalam nada menyalahkan. Atau mengutuk pengelola atau orang tua yang tajirun alaihim itu. Tidak.

Saya cuma mengandaikan: kenapa sekolah elite itu ada di muka bumi Indonesia. Sederhana sekali jawabnya. Karena ada kebutuhan pendidikan yang baik. Kenapa kebutuhan pendidikan yang baik itu sebegitu tinggi? Ya karena pemerintah tak mampu menyediakan. Saya membayangkan kualitas pendidikan macam apa yang disediakan sekolah dasar yang bayarannya cuma sepuluh ribu rupiah per bulan, bahkan gratis dengan sekolah dasar yang uang bulanannya satu koma empat juta rupiah? Mesti banyak perbedaannya bukan?

Begitu banyak cerita miris di sana. Satu kelas, satu guru, dengan tiga puluh bahkan empat puluh anak. Bagaimana mengharapkan inovasi terjadi pada guru yang begitu lelah dan capek mengurus puluhan anak. Bagaimana mengharapkan kebutuhan unik tiap anak terpenuhi di tengah kerumunan seperti itu?

Karena kualitas pendidikan umum yang disediakan pemerintah begitu curam berbeda dengan kualitas pendidikan yang disajikan sekolah elite ini. Maka wajar-wajar saja itu dilihat pengusaha atau penggagas sekolah elite. Sementara di luar sana ada banyak orang tua juga yang setuju dengan konsep para pengusaha ini, maka jadilah dia. Menjamurlah dia.

Siapa yang salah kalau begini?

Tapi saya ngomong begini juga dengan kesadaran tinggi, saya mungkin bisa bagian dalam arus ketidakwarasan ini: Kalau saya kaya raya maka saya akan menyekolahkan Senja ke sekolah terbaik yang mahal itu. Orang tua mana coba yang tak mau menyediakan pendidikan terbaik buat anaknya.

0 komentar:

Posting Komentar