Rabu, 30 Januari 2013

Yang meneguhkan saya untuk menjadi sekular

Sejak SMP saya sudah bergabung di Kerohanian Islam. Lazim disingkat jadi Rohis saja. Di SMP bahkan saya termasuk yang menginisiasi pembentukannya. Saya bangga bisa 'menyeret' hampir ratusan orang untuk berjubel memenuhi kegiatan Rohis di mushola sekolah. Akhirnya saya terseret ke berbagai aktivisme lain. Ada satu keyakinan saat itu, yang saya atau kami lakukan itu adalah ibadah semata. Dan untuk itu saya tak takut berbeda. Saya meninggalkan semua yang duniawi. Termasuk musik yang saat itu tampil dalam masa yang rasanya paling indah. Saya menggantinya dengan koleksi nasyid dan membentuk kelompok nasyid.

Pada 96 atau 97 saya adalah ketua panitia festival nasyid. Mengorganisasi enam belas penampil dan lebih dari lima ratus orang penonton. Ini seingat saya adalah festival nasyid terbesar kedua yang dihelat di Jakarta. Tahun berikutnya kembali lagi kami bikin festival hampir sama di perpustakaan nasional. Rasanya indah sekali.

Kesyahduan ibadah dan berorganisasi itu benar-benar saya nikmati di SMA. Saat anak sebaya saya tak terlalu jelas orientasinya, saya memilih ikut kursus perbaikan bacaan Quran. Lanjut ke program tahfiz atau penghapalan AlQuran. Saya bangga, 2 juz Alquran saya sudah hapal. Rasanya tak ada anak di sekolah yang punya keterampilan itu. Seminggu tiga kali saya mengambil rute Kayumanis-Kampung Melayu-Mampang untuk ke tempat belajar itu. Dan semuanya saya jalani dengan senang.

Tapi itu menyisakan masalah sebenarnya. Karena dalam hati, ada banyak pertentangan. Karena ada demikian banyak aturan, larangan, restriksi, anjuran, dll. Padahal ada begitu banyak kecenderungan manusiawi saya, sebagai anak muda yang ingin dilepas. Bagaimana saya kalau ingin bergaul dengan perempuan, bagaimana kalau saya ingin menikmati musik. Bagaimana kalau saya punya hobi yang sifatnya duniawi? Yang tidak masuk akal adalah bagaimana untuk mengatasi desakan seksual? Masa iya cuma kawin satu-satunya jalan?

Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana inkonsistensi ini berlangsung. Pada diri saya, pada orang sekitar. Dan pada saat yang sama saya mengalami pencerahan. Belajar bahasa, sastra, dan sejarah Eropa.

Saya bulat memilih keluar dari arus ini. Yang pada saat saya keluar sedang membesar. Ini beberapa pertandanya: Hampir di semua sekolah negeri ada Rohisnya. Waktu saya SMP, cuma ada satu orang saja yang berkerudung. Pada saat saya keluar, ada puluhan yang memakai. Dan sekarang, tiap Jumat anak-anak sekolah pakai baju koko atau rok lebar dan kerudung buat yang perempuan. Ah, ukhti-ukhti yang dulu berkonflik dengan keluarga atau sekolah karena memakai jilbab, pasti berbangga dengan fakta ini--Oh ya kisah-kisah ini jadi bahan terbitan majalah An-Nida saat itu.

Satu lagi pencapaian yang paling ultimate menurut saya adalah ini: Partai! Edan. Jejaring-jejaring tertutup ini sekarang sudah menampakkan gurat akarnya. Dan cerita selanjutnya saya yakin kita mestinya sudah terekam dalam banyak buku sejarah-biografi tentang partai ini. Dan buku-buku yang membahas soal ini adalah buku yang saya wajibkan untuk konsumsi buat saya sendiri. Saya senang membandingkan fakta-fakta dalam buku dengan apa yang saya alami. Seperti perjalanan ulang-alik yang menyenangkan buat saya.

Dan semakin lama semakin terkuaklah boroknya. Pemecatan kader, semakin pragmatisnya langkah partai, adalah dua indikasi yang paling keliatan. Belum lagi kasus video porno. Dan akhirnya hari ini presiden PKS dijadikan tersangka kasus korupsi.

Saya senang bukan kepalang. Bukan karena ada hasrat untuk membenci atau menyerang PKS. Siapalah saya bukan?

Tapi saya senang karena kasus ini menunjukkan satu hal: bahwa manusia selamanya punya kecenderungan untuk berdosa. Catat ini: selamanya! Karena itu klaim partai bersih, atau mengaitkan partai dengan agama jadi sebuah petualangan yang berbahaya! Seberapa ketatnya aturan pun tak akan mampu menanggulangi kecenderungan manusia: untuk bersenang-senang, menikmati dunia, sesekali membuka tabu!

Sudah sepatutnya kader-kader PKS tidak lagi naif. Menganggap semua petingginya adalah kader terbaik setara malaikat. Dan mbok ya bilang aja yang salah ya salah. Bukan dengan alasan macam-macam.

Ah sudahlah. Saya sudah puas dengan berbagai pembuktian untuk tesis saya: bahwa yang duniawi tak mungkin menyatu dengan yang ukhrowi. Dan kalau mau menggabungkan siap-siap saja terbakar.

Saya hanya percaya bahwa ada nilai kebajikan di setiap manusia. Terlepas dari orientasi politik, seksual, kenegaraan, dan agama. Orang baik tak mesti berasal dari kalangan Islam. Dan untuk itu tak perlu mengklaim Islam sebagai yang terbaik. Santai saja.




0 komentar:

Posting Komentar