Minggu, 13 Januari 2013

Nyinyir Kesekian

Saya jadi teringat lentingan (twit) Robi Navicula. Saya parafrasa: bahwa yang berbahaya sekarang adalah aktivis twitter. Mereka yang merasa sudah ikut andil atau berjasa ketika sudah memasang status atau mentwit atau meretwit yang isinya adalah kepedulian sosial.

Aha! Saya bersorak dengan itu. Sebab saya akur, meski saya termasuk golongan yang dicerahkan belakangan; bahwa ada perasaan semu yang berbahaya di balik lentingan status atau twit itu. Niat boleh saja baik. Tapi tanya deh ke dalam lubuk hati. Pasti ada perasaan merasa penting lepas melenting status. Bahwa kita ikut arus itu. Itu tidak orisinal. Itu yang pasti.

Dan karena itu pula saya rasanya tak pernah lagi ikut gelombang. Kalau pun ikut gelombang saya nggak kepingin ikutikutan nyinyir atau merasa penting dengan status itu. Saya mencoba menangkapnya dengan humor.

Dan begitu juga ketika marak betul sekarang petisi online. Saya menyimpan keraguan efektivitas metode tersebut. Apakah gejolak dunia maya mampu menghentak dunia nyata. Sudah lama betul warga maya itu tumpul. Cuma beberapa kali saja gerakan online berhasil di dunia offline. Tapi selebihnya yang ada hanyalah kekenesan belaka. Keganjenan kelas menengah.

Tapi ya sudah. Memang kenapa kalau ganjen? Kalau kenes. Bukankah bibit-bibit itu ada pada kita semua. Dan apa salahnya kalau mereka seperti itu.

Yang salah menurut saya adalah reaksi orang, yang kadang-kadang terlalu serius. Menanggapi dengan nyinyir. Atau negatif. Ah apalagi kalau membalas nyinyirnya itu di sosial media pulak. Apa bedanya kau dengan mereka bukan?

Saran saya, ya santai aja. Ini hidup cuma sekali. Nikmati aja kenapa. Sambil sering-sering menabur manfaat.

0 komentar:

Posting Komentar