Senin, 07 Januari 2013

Tua-Muda

Waktu itu saya, Rebecca, dan istri saya terlibat obrolan seru. Mengomentari sebuah kontes di bidang radio. Yang aneh bagi kami, utamanya Rebecca adalah bagaimana kutipan juri dipampangkan di dalam booklet. Dan komentar-komentar itu, rasanya tak pas. Kerena mencatumkan catatan: "Seharusnya..." atau kata "Tapi.." atau kata "kelemahan iklan ini..." dst.

Cukup aneh ada komentar yang seharusnya dibiarkan dalam ranah internal dicantumkan dalam booklet yang peredarannya kemana-mana. 

Rebecca bilang sepertinya juri mau bilang: Kami ini, yang tua-tua ini, hebat. Kamu tahu nggak anak kecil," dan anak-anak kecil itu adalah para kontestan tadi. Poin keberatan dia sih, yang kami amini, as if orang-orang tua ini selalu benar dan jago. Dan kalian... para junior harus belajar dari kami. 

Dalam satu hal, ini saya setuju betul dengan Rebecca. Kadang sebal betul dengan orang tua yang bebal. Feodalistik. Dan menganggap mereka selalu benar. Saya kenal banyak dengan orang yang lebih tua tapi kemudian kecerdasan emosionalnya ada di titik rendah. Ada juga orang tua yang tak kunjung bijaksana. Malah terbit sisi kekanak-kanakannya. Dan ini yang repotnya. Orang tua itu kadang-kadang luar biasa bebal untuk dibangunkan kesadarannya. 

Tapi kadang-kadang juga, saya ada di posisi itu. Saya sebagai orang tua. Senior. Dan kadang-kadang dalam posisi ini saya juga kerap kali marah. Dengan anak-anak muda yang kelewat slebor. Dan kebanyakan bacot. Tapi keterampilannya tak ada. Menuding-nuding kesalahan orang, dan melewatkan kelemahan diri sendiri. 

Padahal menurut saya anak muda sekarang diberkahi begitu banyak fasilitas. Internet! Tapi kok ya skillnya itu nggak meningkat. Ini yang bikin gregetan. *Sembari menulis ini saya bergumam. Lihat berita kemarin dinaikkan lagi. Padahal sudah saya tulis hari sebelumnya. Apakah mereka tak memasang tolok ukur yang tinggi? Duh.

Wajar mestinya. Saya suka membandingkan dengan apa yang sudah saya lakukan juga. Dulu mungkin saya juga sering ngebacot. Dan menilik lagi perbuatan itu, saya mungkin terpingkal sendiri. Betapa bodohnya saya. 

Nah saya khawatir deh. Makanya saya nggak boleh kelewat sering menuding-nuding kali ya. Betapa pun hasrat untuk itu tak terkendali dan membuat saya gatel. 

0 komentar:

Posting Komentar