Kamis, 24 Januari 2013

Kuliah Lagi

Kok tiba-tiba aja kepikiran topik ini. Ah, okelah. Mumpung lagi ketemu ide, maka inilah catatan saya seputar kuliah. 

Singkatnya ada keinginan saya yang rasanya tidak terlalu mendesak--alias saya tidak kebelet amat--yaitu kuliah lagi. Mungkin ini dampak dari saya yang tidak menyelesaikan kuliah dengan "sempurna". Saya memilih jalur non-skrip, alias tidak memakai skripsi. Gantinya saya mengambil beberapa mata kuliah ekstra. Memilih non-skrip sebenarnya bukan perkara mudah buat saya. Tapi karena alasan pragmatis, saya memilih jalur ini. Saya memilih non-skrip karena kalau saya mengambil jalur skripsi, maka saya harus menyediakan waktu dan tenaga... dan uang untuk satu semester tambahan. Dan itu tak mungkin. Ibu saya sudah kepingin saya segera kerja dan menghasilkan uang tinimbang menghabiskan uang kembali. 

Nah, jadilah saya pikir saya harus menuntaskan "unfinished business" itu. Saya mungkin akan melanjutkan kuliah Sastra saya. Saya suka kritik sastra. Dan kuliah ini yang saya rasa saya akan ambil. 

Lantas apa jurusan kedua? Saya rasanya akan memilih bidang ilmu selain sastra tapi juga bukan ilmu yang praktis macam manajemen, atau teknik audio, atau arsitektur. Saya tak minat pada kuliah-kuliah praktis seperti itu. Saya justru lebih tertarik pada bidang yang "tidak bermanfaat" secara praktis. Sejarah misalkan. Bidang ini definitely akan menjadi pilihan kedua saya. 

Lantas apa berikutnya? Belakangan saya menaruh minat pada kota. Dan ruang kreatif. Ini belakangan saya temukan. Saya bahkan sudah mencari universitas yang menyediakan jurusan ini. Saya menemukan jurusan "creative cities" di King College London. Niscaya ini menjadi idaman saya, jika saya berhasil memperbaiki keterampilan berbahasa Inggris. 

Kenapa saya tertarik dengan kota dan kreativitas? Entah. Tapi saya kira ada pengaruh tumbuh-kembang saya di sebuah kampung di Jakarta. Saya tumbuh di gang kecil di Jakarta. Dengan reriuhan tukang agar-agar, tukang bakso, tukang sayur, tukang ikan, tukang siomay. Tapi yang paling berkesan adalah bazar saban tujuhbelasan yang digelar di jalan. Ibu saya dagang kikil dan semur jengkol. Dan laku! Ini membahagiakan buat saya.

Tinggal di gang buat saya adalah bagian terpenting dalam hidup. Di mana keterampilan saya berinteraksi dilatih. Tempat kesenangan ada di tiap sentinya. Ada tokadal, galasin, bentengan, bola gebok yang murah meriah. Ada penyewaan komik dan gambaran (komik dalam selembar karton berisi 36 panel) yang melatih sensitivitas visual. Ada azan, pengajian, dan speaker--dulu disebut salon--tetangga yang memuntahkan aneka lagu kepada telinga siapa saja. Beruntunglah Kayumanis diapit paling sedikit empat bioskop (tunggu saya hitung, Tawang, Djaja, Nusantara, sebuah lagi di dekat Prumpung, sebuah lagi di Pasar Sunan Giri. Lihat, banyak bukan?) Pun ada dua penyewaan video beta yang menjadi langganan. Kami berkorban uang jajan untuk sekadar menyewa dan menonton ramai-ramai. Atau ada juga rumah Pak Pur atau dua tetangga lainnya yang "membuka" ruang keluarganya menjadi bioskop dadakan buat seluruh warga. Saya ingat episode ini. Di mana ruang tamu Pak Pur penuh dengan kepala banyak anak dan orang dewasa. Sementara sandal-sandal berantakan bertumpuk di luarnya. Edan! 

Beruntunglah saya dibentuk oleh Lapangan Aji Bini, atau Lapangan Gadis yang menjadi arena bermain bola. Ada puluhan pohon besar tempat kami berbagi keceriaan. Tempat saya menjadi monyet yang perkasa. Atau menjadi Ksatria Robin Hood. Dan saya mencuri-curi melihat majalah porno. Ada got besar alias kali. Ada ikan cere. Ada bunga bayam yang kami jadikan ayam. Ada episode perburuan jangkrik. 

Saya percaya ruang-ruang ini penting dalam membentuk manusia. Salah satunya saya. Dan karena itu saya percaya ruang-ruang ini adalah sumber interaksi yang pada akhirnya memantik kreativitas yang tak habis-habis. Saya percaya itu. 


0 komentar:

Posting Komentar