hari ini saya akan mengenang erwin. teman saya. iya teman, karena saya malu menyandang status sahabat. sahabat agak intim, sementara saya tidak.
erwin. laki kurus, muka pas-pasan, gaya bicara tak meyakinkan, gigi berantakan, selera humor tak ada. tapi dia adalah teman yang baik. bagi semua orang mestinya. karena tiada satu pun yang keluar darinya yang menyakiti orang. termasuk saya.
saya sering mengalahkannya dalam adu argumen. tapi kami tahu, tiada yang menang dan kalah dalam argumen itu. dan kami mesra kembali.
lama betul kami tak bersua. ada mungkin setahun, dua tahun? entahlah. yang jelas sudah lama sekali. dan terakhir bersapa lewat dunia maya, lewat chatting. dia menyapa duluan. mengajak saya bertemu di rumah kawan lainnya. yang kerap jadi tempat kami berkumpul. saya, erwin, dan teman-teman lain, kebanyakan bekas anggota rohis sma kami.
tidak. tidak berbicara soal agama. bukan forum untuk saling nasihat-menasihati. sekadar forum ngobrol ngelantur apa saja. soal rumah, pekerjaan, kehidupan. dan bukankah kehidupan tak pernah kehabisan bahan buat diobrolkan. hangat. senang. saya selalu mengenang obrolan kami selalu membawa efek senang.
erwin ramah menyapa. saya balik bertanya. dia bilang kita mesti bertemu habis lebaran ini. dia bilang akan mengajak teman lainnya. saya menebak dia ingin nostalgia. saya tak keberatan. hanya saja, saya sudah beristri dan beranak. tak adil rasanya saya menghabiskan waktu agak banyak di luar. jadi saya tanggap enggan saja ajakannya.
dan saya mengutuk sikap enggan saya itu. karena itu adalah percakapan saya yang terakhir dengan erwin. percakapan kami yang lawas itu meluap dengan cepat. saya menyesal untuk itu.
erwin meninggal sehari-dua lalu. kecelakaan. dan saya sedih luar biasa hari ini. saya kehilangan teman. yang sederhana. yang bersahaja. teman yang pada absennya mencabut sebidang kenangan dari hati saya. ada yang mati di situ.
teman yang tak mesti bersua setiap saat. boleh absen menghilang setahun, dua bahkan sampai lima--tapi saya yakin tak akan kekurangan bahan obrolan dan kehangatan saat bersua.
hari ini saya mengenang erwin. teman saya. dalam angin, hujan, dan awan gelisah yang membekap jakarta sampai orang-orangnya gagap bernapas. saya mengenang erwin. dan saya menangis.
erwin. laki kurus, muka pas-pasan, gaya bicara tak meyakinkan, gigi berantakan, selera humor tak ada. tapi dia adalah teman yang baik. bagi semua orang mestinya. karena tiada satu pun yang keluar darinya yang menyakiti orang. termasuk saya.
saya sering mengalahkannya dalam adu argumen. tapi kami tahu, tiada yang menang dan kalah dalam argumen itu. dan kami mesra kembali.
lama betul kami tak bersua. ada mungkin setahun, dua tahun? entahlah. yang jelas sudah lama sekali. dan terakhir bersapa lewat dunia maya, lewat chatting. dia menyapa duluan. mengajak saya bertemu di rumah kawan lainnya. yang kerap jadi tempat kami berkumpul. saya, erwin, dan teman-teman lain, kebanyakan bekas anggota rohis sma kami.
tidak. tidak berbicara soal agama. bukan forum untuk saling nasihat-menasihati. sekadar forum ngobrol ngelantur apa saja. soal rumah, pekerjaan, kehidupan. dan bukankah kehidupan tak pernah kehabisan bahan buat diobrolkan. hangat. senang. saya selalu mengenang obrolan kami selalu membawa efek senang.
erwin ramah menyapa. saya balik bertanya. dia bilang kita mesti bertemu habis lebaran ini. dia bilang akan mengajak teman lainnya. saya menebak dia ingin nostalgia. saya tak keberatan. hanya saja, saya sudah beristri dan beranak. tak adil rasanya saya menghabiskan waktu agak banyak di luar. jadi saya tanggap enggan saja ajakannya.
dan saya mengutuk sikap enggan saya itu. karena itu adalah percakapan saya yang terakhir dengan erwin. percakapan kami yang lawas itu meluap dengan cepat. saya menyesal untuk itu.
erwin meninggal sehari-dua lalu. kecelakaan. dan saya sedih luar biasa hari ini. saya kehilangan teman. yang sederhana. yang bersahaja. teman yang pada absennya mencabut sebidang kenangan dari hati saya. ada yang mati di situ.
teman yang tak mesti bersua setiap saat. boleh absen menghilang setahun, dua bahkan sampai lima--tapi saya yakin tak akan kekurangan bahan obrolan dan kehangatan saat bersua.
hari ini saya mengenang erwin. teman saya. dalam angin, hujan, dan awan gelisah yang membekap jakarta sampai orang-orangnya gagap bernapas. saya mengenang erwin. dan saya menangis.