Jumat, 22 Oktober 2010

erwin

hari ini saya akan mengenang erwin. teman saya. iya teman, karena saya malu menyandang status sahabat. sahabat agak intim, sementara saya tidak.

erwin. laki kurus, muka pas-pasan, gaya bicara tak meyakinkan, gigi berantakan, selera humor tak ada. tapi dia adalah teman yang baik. bagi semua orang mestinya. karena tiada satu pun yang keluar darinya yang menyakiti orang. termasuk saya.

saya sering mengalahkannya dalam adu argumen. tapi kami tahu, tiada yang menang dan kalah dalam argumen itu. dan kami mesra kembali.

lama betul kami tak bersua. ada mungkin setahun, dua tahun? entahlah. yang jelas sudah lama sekali. dan terakhir bersapa lewat dunia maya, lewat chatting. dia menyapa duluan. mengajak saya bertemu di rumah kawan lainnya. yang kerap jadi tempat kami berkumpul. saya, erwin, dan teman-teman lain, kebanyakan bekas anggota rohis sma kami.

tidak. tidak berbicara soal agama. bukan forum untuk saling nasihat-menasihati. sekadar forum ngobrol ngelantur apa saja. soal rumah, pekerjaan, kehidupan. dan bukankah kehidupan tak pernah kehabisan bahan buat diobrolkan. hangat. senang. saya selalu mengenang obrolan kami selalu membawa efek senang.

erwin ramah menyapa. saya balik bertanya. dia bilang kita mesti bertemu habis lebaran ini. dia bilang akan mengajak teman lainnya. saya menebak dia ingin nostalgia. saya tak keberatan. hanya saja, saya sudah beristri dan beranak. tak adil rasanya saya menghabiskan waktu agak banyak di luar. jadi saya tanggap enggan saja ajakannya.

dan saya mengutuk sikap enggan saya itu. karena itu adalah percakapan saya yang terakhir dengan erwin. percakapan kami yang lawas itu meluap dengan cepat. saya menyesal untuk itu.

erwin meninggal sehari-dua lalu. kecelakaan. dan saya sedih luar biasa hari ini. saya kehilangan teman. yang sederhana. yang bersahaja. teman yang pada absennya mencabut sebidang kenangan dari hati saya. ada yang mati di situ.

teman yang tak mesti bersua setiap saat. boleh absen menghilang setahun, dua bahkan sampai lima--tapi saya yakin tak akan kekurangan bahan obrolan dan kehangatan saat bersua.

hari ini saya mengenang erwin. teman saya. dalam angin, hujan, dan awan gelisah yang membekap jakarta sampai orang-orangnya gagap bernapas. saya mengenang erwin. dan saya menangis.

Read more »

Rabu, 06 Oktober 2010

soal agama 2

masih soal agama. yang akan saya sampaikan berikut ini adalah salah satu hal yang menjadikan saya agak ragu dengan agama.

kerap kali kalau ada aksi kekerasan, terorisme, dll, semua orang sibuk menyangkal. denial. contohlah yang dilakukan orang-orang jihadis macam imam samudera dan konco-konconya. atau osama bin laden dan cecunguknya yang lain. ketika ada aksi teror dari kaum jihadis ini, maka kalangan islam moderat sibuk menangkal: eits, itu bukan islam kami. itu islam yang menyimpang.

katakanlah yang baru-baru ini melintas di televisi. ya di muka tuan presiden dan tuan-tuan sekalian. sekelompok orang membakar rumah ibadah penganut ahmadiah. atau sekelompok yang lain dengan barbar melarang orang berkumpul--kaum lgbt, orang komunis (meski saya hakkul yakin definisi itu bisa diperdebatkan), dll--bahkan melakukan kekerasan, maka kelompok muslim lainnya juga sibuk menyangkal keterlibatan agamanya dalam aksi keras itu. akidah kaum barbar ini bengkok, begitu katanya. tapi rasanya sulit berkata agama absen di situ.

orang-orang ini, jihadis dan kaum cupet pikiran dan selamanya merasa terancam, adalah bagian besar dari agama. mereka menggunakan referensi-referensi agama sebagai hujjah tindakan yang bodoh dan di luar nalar kemanusiaan. apakah ada yang berani mencap mereka nista dan kafir? keluar dari agama? rasanya tidak.

di surakarta, meski saya hakkul yakin pula tidak semuanya, kaum jihadis disambut bak superhero. akal sehat saya tidak mampu mencerna. maaf.

saya rasa, islam--apa pun labelnya liberal, moderat, bleketek bleketek, mesti mengakui bahwa kaum cupet adalah bagian dari mereka. dan bahwa kaum cupet ini mengambil referensi dari alquran dan sunnah yang sama dengan kaum liberal, moderat, bleketek dan bleketek ini. ini soal yang mesti diselesaikan. yang bermasalah orang atau nash-nya.

di saat yang sama saya juga tidak mampu mencerna penolakan islam mayoritas negeri ini terhadap ahmadiyah. okelah. taruhlah quran mereka berbeda, syahadat mereka berbeda. tapi apakah mereka menganjurkan kekerasan dan peperangan menghadapi orang kafir seperti kaum wahabi-jihadis ini?

Read more »

Selasa, 05 Oktober 2010

soal agama

sebab pada dasarnya saya percaya betul tidak ada manusia yang konsisten. satu-satunya manusia yang konsisten, betapa pun dia akhirnya mendapat predikat superhero, saya pikir akan retak dan rawan pecah di mana-mana. ah ya, mungkin saja nabi bisa konsisten. tapi itu saya pun yakin umatnya sangat sibuk menutup lobang dan membangun cerita mistis dan mitos, agar dia kekal sempurna: konsisten.

dan dasar kepercayaan saya itu: bahwa manusia tidak konsisten, yang akhirnya membuat saya sangsi pada agama. bukan apa-apa, agama mengandaikan semua sempurna. dan ada konsekuensi buat mereka yang tidak konsisten. manusia, tidak bisa tidak, mesti konsisten tanpa cela dan dosa.

okelah ada mekanisme tobat. tapi bukankah itu artinya agama juga mengakui bahwa ada kecenderungan tidak konsisten pada manusia. bahwa kalau kau berbuat nista dan cela, inilah yang harus kautempuh: tobat.

saya kok juga yakin sikap agama mendua. ambil tamsil, soal seksualitas. aktivitas ini terlarang untuk siapa pun yang tidak berhak. siapa itu yang berhak, maka inilah aturannya. maka hakim merentangkan rampai senarai tata cara dan sistemnya. padahal kita sedang berbicara soal seksualitas: hasrat paling purba manusia yang sebenarnya adalah hewan pulak! hewan yang pada fitrahnya tidak ambil permisi ketika hasrat sudah di ubun-ubun kelaminnya.

rasanya agama tidak jujur memandang manusia. selamanya dia akan menjadi subyek aturan, tapi celakanya tidak mendapat pengakuan akan segala keterbatasan, termasuk inkonsistensinya.

Read more »