Ini adalah pagi yang gamang buat saya. Halah gamang. Tapi betul. Tidak pura-pura dan betul sengaja memilih diksi itu. Karena gamang itulah yang ada di hati saya pagi ini.
Saya bangun tidur, bermain dengan anak dan istri, sarapan, mandi, memeluk anak, dan bekerja. Dan hal pertama yang saya kerjakan adalah membuka facebook dan mengupdate blog ini. Apa saya kurang kerjaan di kantor? Apa saya jenuh dan bosan bekerja di sini? Tidak. Pekerjaannya enak. Cukup menantang, meskipun oktan tantangannya tidak terlalu menggila. Teman-teman saya, mengesampingkan orang-orang sok-tahu dan belagu, sangat menyenangkan.
Lantas apa ini yang bikin saya gamang? Ah, tidak.
Saya orang yang sangat percaya tidak ada sebab tunggal di balik peristiwa apa pun. Dan saya pada sebab akumulatif di balik keberadaan apa pun. Demikian juga gamang ini.
Mungkin karena saya sedang butuh uang akhir-akhir ini. Mungkin karena cicilan ini dan itu yang memakan lebih dari setengah gaji per bulan. Dan saya akan lebih dari sepuluh tahun terbelenggu utang. Saya membayangkan betapa lama waktu itu.
Dan mungkin ini efek setelah saya menonton the company men. Film ini sungguh mengganggu ketenangan saya. Brengsek. Film ini sukses membuat pertanyaan: "Kok ya kita nggak pernah mengajukan pertanyaan pada pekerjaan kita?" "Lantas bagaimana kalau kita kehilangan pekerjaan?" Saya taken for granted saja pekerjaan ini.
Padahal ada nasib dan nafkah orang yang ada di situ. Dalam kasus saya, jika saya kehilangan pekerjaan maka ada keluarga saya yang bergantung di situ. Keluarga ibu dan ayah saya yang bergantung di situ.
Apakah selesai cuma bertanya? Saya rasa tidak. Problem berikutnya yang membuat saya gamang adalah: pekerjaan apa yang cocok buat saya? Tidak ada pekerjaan yang sempurna, itu saya tahu.
Habis itu terbit pertanyaan apakah pekerjaan saya bisa jadi pekerja tetap? Atau harus berdebar-debar di setiap akhir kontrak?
Habis itu terbit pertanyaan apa yakin mau bekerja dengan orang? Apa nggak lebih baik memulai pekerjaan sendiri alias berusaha. Tapi saya bukan wirausaha yang baik.
Lantas bagaimana kalau saya tua nanti. Saya tidak bisa bekerja dan tidak ada satu pun yang bisa membantu saya. Tanpa uang mengalir? Ah... seram rasanya.
0 komentar:
Posting Komentar