Saya berutang satu postingan dari perjalanan saya ke Singapura. Dan inilah tulisannya. Ketika saya menulis, perjalanan itu sudah berlalu hampir sebulan lamanya. Cukup waktu mengendapkan sensasi apa yang paling berkesan buat saya. Gegap perjalanan bersama emosinya sudah padam.
Well, saya tidak terlalu bersemangat untuk trip ini. Itu pasti. Tapi, dalam kondisi apa pun, sebuah perjalanan rasanya akan mengundang letupan, meski tidak harus keriaan. Jadi saya memutuskan untuk biasa saja dalam perjalanan ini.
Oke Singapura. Apa yang menarik dari sana? Nyaris saya tidak tahu. Kerena tak tahu itu pula jadi saya tak tertarik. Saya khawatir Singapura jadi menjemukan. Karena sebagian persnya dibungkam. Bahwa disiplin di sana juga sangat kuat. Negera bersih yang tertib administrasi. Itu semua membuat kesan negeri ini jadi agak robotik.
Tapi mestinya tidak robotik deh. Misalkan begini. Ada bendung yang sangat canggih. Selain meregulasi air yang super keren. Sangat saintifik dan mekanik. Tapi jangan salah bendung juga dipenuhi tawa manusia. Anak-anak, muda, dan tua.
Saya menyempatkan menjajal kereta bawah tanah Singapura. Yang sungguh sangat nyaman, tepat waktu, minim suara, terintegrasi, dan berteknologi terkini. Saya sungguh sangat terkesan. Meski pun teknologi sangat maju dan bikin keder, apalagi buat saya. Anak Kampung Kayumanis. *Tapi meski saya pandir dalam hal beginian, toh saya sukses membawa rombongan berisi 3 orang. Hebat bukan?
Di atas semua, saya rasa ada momen eksistensialis yang menyergap tiba-tiba: Saya sarapan pagi nasi goreng, di hotel bintang empat atau lima yang menyaji sajian Eropa, dilayani oleh, mungkin pekerja Indonesia yang bekerja di hotel, sambil membaca koran berbahas Inggris lantas membaca headline yang menyebut asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Singapura semakin memilih majikan tempat mereka bekerja. Hmhmh. Saya kebingungan dan menebak-nebak: Kira-kira saya sebagai manusia apa di momen itu.
0 komentar:
Posting Komentar