Rabu, 02 Maret 2011

Hadapilah

Salah satu hal yang sebal betul dari orang-orang adalah ketika mereka menolak untuk menerima kesalahan yang mereka bikin. Tentu saja, seperti halnya hal-hal lain yang sangat membias seperti spektrum, orang yang menolak menerima kesalahan yang mereka bikin ini sangat bervariasi. Tidak rata dan seragam.

Ada yang langsung menolak serta-merta. Mengaku hal ini atau itu bukan salahnya. Tapi orang lain atau situasi yang tidak bisa dikontrol. Ini yang paling saya sebal. Ada juga tipe orang yang berputar-putar terlebih dahulu. Menunjuk situasi x dan y dan z, dan si a, b, dan c yang membuat situasi memburuk dan membuat dia melakukan kesalahan. Berputar-putar juga diniatkan untuk mengaburkan kesalahan yang terjadi. Dengan begini, lawan bicara dan orang-orang lain jadi lupa sama sekali dengan kesalahan yang terjadi. Well, tuan mungkin pintar bersiasat, tapi sungguh tak sulit menebak ujung pembicaraan.

Terlepas dari tipe orang defensif, buat saya mereka ini menggelikan sekaligus menjengkelkan. Perilaku defensif seperti itu.

Buat saya menerima tanggung jawab atas kesalahan adalah hal yang paling utama. Ini adalah prioritas, sebelum langkah lainnya. Kita bisa menarik 1,2 3, sampai seribu alasan kenapa kesalahan terjadi. Tapi, terimalah dulu tanggung jawabnya. Baru kemudian kita runut apa saja situasi yang menyebabkan kesalahan terjadi.

Buat saya, menerima tanggung jawab itu adalah tanda keluasan hati. Kebesaran dirinya. Dan proses jadi manusia yang lebih baik lagi. Susah. Saya jamin tidak gampang menerima kesalahan. Tapi di situ mestinya kemanusiaan diuji. Mau jadi besar lagi, atau jadi manusia kerdil yang senantiasa berkelok-kelok.

Dan suatu saat, ketika saya sedang bermasalah, hati kecil mengelak tidak ingin disalahkan. Tapi saya merasa pelu menahan lidah. Sembari melapangkan hati dan pikiran, bersiap-siap. Dan akhirnya mengakui dulu kesalahan. Meski sering kali sehabis itu, saya dongkol. Sebab tak murni kesalahan itu disebabkan oleh saya. Tapi ya sudah. Namanya juga manusia. Nggak pernah konsisten. DOngkol ya dongkol saja. Biarkan itu ada di hati.

0 komentar:

Posting Komentar