Selasa, 08 Maret 2011

Orang-orang cupet

Sungguh saya tidak mengerti apa yang ditakutkan mereka itu. Mereka bilang Ahmadiah mengancam keimanan umat. Membahayakan akidah, dst. dst. Tapi apa ukurannya?

Saya heran. Kalau jumlah umat adalah ukuran "berbahaya itu" marilah kita hitung dengan goblok. Sederhana saja.

Begini. Kalau menurut klaim MUI dan geng-geng tololnya, jumlah umat Ahmadiah itu tak lebih dari 30 ribu. Itu lantas kita ambil saja sebagai batas paling bawah. Lantas batas paling atas kita pakailah klaim dari pengurus JAI yang bilang mereka punya 500 ribu jemaah. Oh ya, kedua angka itu saya dapat ketika nonton televisi, dalam debat yang memperlihatkan betapa cupetnya pikiran MUI and d gank.

Nah, ayolah kita bodoh-bodohan. Kita imajinasikan berapa banyak pertumbuhan jemaah Ahmadiah dalam kurun waktu lebih dari 80 tahun ini, sejak Ahmadiah berdiri pada 1925. Ternyata tak lebih dari jumlah itu? Adakah Ahmadiah menjadi partai? Adakah dia menjadi aliran mainstream dalam Islam di Indonesia? Adakah dia berjaringan membentuk pesantren yang akhirnya laris manis macam gontor? Adakah dia mengadakan kongres besar-besaran? Koreksi saya kalau salah, tapi rasanya tak ada.

Maka bandingkanlah dengan pertumbuhan PKS. Partai yang besar di kalangan menengah terdidik ini, dalam waktu kurang dari 30 tahun, jika kita menghitung pertumbuhannya pada permulaan tahun 80-an. Dalam kurun waktu itu, maka dia sudah tumbuh menjadi partai. Jumlah massanya ratusan ribu. Duduk sebagai anggota parlemen dan pemerintahan, yang akhirnya menentukan gerak bangsa. Kalau kongres memakai hotel berbintang. Atau kalau mau unjuk gigi, maka jalan Sudirman-Thamrin, juga Gelora Bung Karno jadi langganan sasaran kumpul-kumpul.

Bandingkan dengan Hizbut Tahrir, yang waktu dan metode masuknya ke Indonesia kurang lebih sama dengan PKS. Mereka mengadakan kongres khilafah di Gelora Bung Karno. Dihadiri utusan internasional, bahkan. Di Bundaran HI, dan media mana pun yang mampu digaet, mereka tak takut menyuarakan ide khilafah. Sebuah konsep internasionalisme yang menghilangkan batas-batas nasional republik yang berdaulat.

Ceklah musala dekat rumah. Pasti tidak asing dengan jemaah anggota Jemaat Tabligh yang berdakwah keliling kampung dan menetap di musala-musala itu. Adakah larangan untuk mereka? Tidak sama sekali.

Ceklah tiap-tiap perempatan jalan di Jakarta hari-hari ini. Niscaya Anda menemukan banyak spanduk besar bergambar syekh keturunan Arab. Dengan embel-embel peringatan maulid dan semacamnya mengadakan kegiatan. Supir taksi yang saya tumpangi suatu kali mengeluhkan terjebak macet dua jam lebih, karena satu lajur jalanan ditutup demi menyukseskan kegiatan Majelis Rasulullah. Presiden lenje kita bahkan ikut berzikir bersama ratusan ribu orang pengikut sekte ini.

Nah saya jadi bingung. Apakah pencapaian yang diraih PKS yang agresif berpolitik, Hizbut Tahrir yang berkampanye syariah dan khilafah, Jamaah Tabligh yang aktif berdakwah, Majelis Rasulullah yang massif bersalawat tidak dihitung sebagai pencapaian umat Islam?

Apakah arti kemajuan itu dibandingkan dengan bahaya laten Ahmadiah? Kenapa jemaah yang tidak menarik dan mandek ini begitu ditakutkan?

Sungguh penyakit paling mematikan itu adalah kebodohan. Dan itu diidap oleh banyak orang Islam hari-hari ini, di negeri ngeri ini.

Lihatlah orang-orang ini. Sangat jauh dari kesan ramah.

Lucunya, apa miris, saya punya kawan. Seorang dai, katanya. Tapi dengan sengit dia memancarkan kebencian dan persetujuannya dengan aksi-aksi kekerasan terhadap Ahmadiah. Dai seperti ini, kita tak boleh percaya.

0 komentar:

Posting Komentar