Serius deh, mudah menghakimi itu menyebalkan. Meski sebetulnya, sungguh betul, saya nggak kepingin sebal. Karena apa saudara-saudara? Sebab karena sebal atau marah atas sesuatu itu pertanda kita menaruh perhatian dan menginvestasikan emosi. Dan itu mubazir saudara. Dan mubazir itu temannya syaithon la'natullah alaih.
Nah tapi apa boleh buat, banyak banget kejadian di sekitar saya. Well, actually nggak terlalu banyak sih. Tapi sering kejadiannya, di mana ada orang yang suka menjatuhkan vonis alias penghakiman alias nge-judge. Misalkan sekolah ini katrok karena begini. Atau produk ini nggak ada bagus-bagusnya.
Well dear, kalau pikiran itu cuma ada di batok kepala sih ya nggak apa-apa yah. Tapi problemnya kalimat-kalimat sinis yang cenderung judgemental ini terbang kemana-mana. Ke ruang yang sebenarnya privat tapi publik sekaligus. Apa maksudnya? Maksudnya misalkan di status fesbuk. Atau di twitter. Nah kasihan kita yang berteman atau following dia kan? Karena kita mau nggak mau terbentur (halah!) dengan kumpulan kata yang agak ganggu itu.
Nah sebenarnya sih juga, kata-kata tadi nggak perlu saya pikirin. Karena toh tidak ada yang ditujukan untuk menyerang saya misalkan. Atau menghina kepercayaan dan akal sehat saya. Lagian, nggak perlu geer deh, doi menulis aneka pendapat tadi bukan untuk saya atau kita semua secara personal. Betul nggak? Jadi saya agak curiga, postingan ini agak berlebihan untuk menanggapi syair-syair judgemental tadi. Betapa celakanya saya.
Tapi ini adalah beberapa pikiran saya mengenai orang yang judgemental itu.
Seperti yang kita tahu saudara-saudara, saya selalu curiga bahwa di bawah dasar segala suatu perkara terhimpun anasir-anasir yang tidak sederhana. Misalkan, sebuah bangku merek Ikea yang bentuknya sederhana banget. Polos banget. Tapi harganya mahal. Atau sebuah sekolah yang muahilnya minta ampun. Padahal sekolahnya kecil banget. Saya curiga, untuk yang pertama, desainnya itu sungguh tidak sederhana. Dan benefitnya pasti ada buat manusia. Saya curiga, untuk yang kedua, sekolah itu mahal karena memang ada banyak sekali fasilitas yang oke-oke.
Nah jadi kan sebuah perkara itu tidak sesederhana yang terlihat. Nah akan jadi terlihat bodoh kemudian, jika ada orang mengatakan bahwa xxx itu jelek , bodoh, dan kampungan. Padahal kalau kita teliti lagi padahal si xxx itu nggak jelek, bodoh, dan kampungan. Just becouse you dont know about a thing doesnt mean it is a bad thing, right? Kalau sudah begitu kan jadi yang bersangkutan sendiri yang kelihatan bodoh bukan?
Belum lagi kalau soalnya begini: cuma beda selera. Akan jadi sangat katrok jika bilang Oasis itu rubbish kepada saya atau penggemar yang lain. Padahal kan Oasis itu soal selera. Kalo ada yang suka ya Oasis adalah dewa.
Atau misalkan model kemeja deh. Menurut saya ini kemeja keren banget sementara menurut ybs jeleknya minta ampun. Nah ini soal selera lagih. Nah akibat memproklamasikan vonis yang buru-buru tadi, yang dipublikasi sebelum memeriksa lagi argumen-argumennya, maka sayanglah dirimu. Karena engkau akan terjerembab pada gelaran "asal nyablak". Aih terasa nggak enaknya bukan?
"Asal nyablak" mungkin masih nggak terlalu parah, karena itu nggak ada hubungannya dengan orang lain. Toh yang menderita dengan atribut itu adalah diri doi sendiri. Reputasinya doi sendiri. Tapi gimana kalau pendapat atau vonisnya itu melukai orang lain? Bikin dosa bukan? Waspadalah. Dosa pada orang lain itu menurut saya jauh lebih besar tinimbang dosa pada tuhan. Ingat ini opini pribadi lho.
Tapi yang mengganggu saya terutama adalah karena mudah menjatuhkan itu menyebalkan. Menyebalkan seperti menyaksikan kebodohan dan kebebalan yang berulang-ulang.
0 komentar:
Posting Komentar