Butuh waktu sepuluh tahun buat saya menyadari bahwa saya memang iya: sinis. Sudah itu, bahkan sampai detik saya menulis kalimat ini, saya tetap tak percaya bahwa seorang sinis. Kesadaran saya bilang dengan sesadar-sadarnya bahwa saya tidak sinis. Tapi faktanya ada di sana. Dipampang di muka bahwa saya seorang sinis.
Selama ini saya cuma mengira saya seorang muram. Agak fatalistis. Tapi sudahlah tidak perlu saya berargumentasi lagi. Saya pasrah. Saya seorang sinis.
Adalah buku itu yang menegaskan. Buku yang saya tulis 10 tahun lalu. Itu rasanya bukan masa-masa yang paling subur dalam menulis. saya tak ingat betul kapan saya menulisnya. Dalam fase apa. Tapi rasanya menjelang kelulusan. Atau baru saja lulus dari kuliah. Saya baru menyelesaikan perjalanan ke Makassar. Dengan kapal laut. Yang membuat saya berpikir banyak hal. Saya masih sendiri rasanya. Sedang tergila-gila esei.
Rasanya itu buku ditulis ketika saya begitu terobsesi dengan mati. Aduh, lihat betapa anak 21-22 tahun itu menulis tentang mati. Betapa soknya saya.
Tapi saya takjub kenapa saya bisa menulis soal itu. Maksud saya subyeknya. Yang saya rasanya betul-betul tidak menarik. Gaya menulisnya, amburadul. Kadang pakai gaya liris kadang gaya cakapan. Bahkan dialek betawi.
Tapi saya rasa saya mengambil keputusan yang betul. Menyimpan buku itu--meskipun dalam sepuluh tahun terakhir tak pernah sekalipun rasanya saya buka-buka. Saya, meskipun rasanya agak risih dengan isinya karena ditulis dengan tendens yang begitu tinggi, tetap bersyukur. Karena buku itu menyimpan satu fase penting dalam hidup saya. Buku itu merekam pikiran-pikiran saya yang rasanya agak penting dan membentuk saya sepeti yang sekarang ini.
Fiyuh.
Buku merah itu adalah satu-satunya buku catatan saya yang tersisa. Selain dua atau tuga buah yang tidak selamat. Saya putuskan untuk membuang segala catatan itu, karena saya pikir isinya kebanyakan dan melulu soal kesepian saya. Soal perempuan yang saya taksir. Yang saya malu untuk mengakuinya. Atau berpotensi mengganggu hubungan saya dengan istri saya.
Jadi begitulah. Saya seorang sinis. Definitely.
0 komentar:
Posting Komentar