Senin, 28 Mei 2012

Acak

ini adalah kali kesekian saya mencoba posting sesuatu di blog ini. Dan semua end up ga selesai. Sudah banyak pikiran matang yang kepingin dituang. Tapi tak satu pun muntah dalam tulisan. Entah kenapa.

Misalkan saya kepingin posting soal rasa percaya sesama manusia. Basi memang frasa itu. Tapi kemudian mentah. Saya sudah punya ide untuk bikin cerpen dari itu. Tapi setelah mikir lagi, basis cerpen itu kok ya jadi mirip ide dasar "Menunggu Godot".

Saya kepingin memposting sesuatu juga soal kemarahan. Dan bagaimana menjadi manusia yang lebih baik tanpa marah.

Saya kepingin posting tentang cinta. Tentang luka. Tentang manusia.

Tapi brengsek semuanya. Nggak ada satu pun yang tumpah dari pikiran.

Saya kepingin posting tentang pekerjaan saya. Dan mungkin masa depan profesional saya.

###

Tapi biarlah saya posting sesuatu tentang salat. Tentang sembahyang dalam Islam. Setakat ini agama saya dalam KTP adalah Islam. Tapi saya sudah kehilangan kepercayaan saya pada agama. Jadi perangkat apapun yang terkait rasanya juga sudah tidak relevan buat saya. Jadi saya tidak salat.

Dan rasanya sekarang ini satu-satunya yang bisa membuat salat adalah ibu saya. Kalau dia meminta dan memaksa, saya akan menuruti. Buat saya murka ibu adalah murka semesta--mungkin juga tuhan; jika dia ada. Jadi pasti akan saya turuti.

Di luar itu, siapa pun yang meminta, saya tak akan menuruti. Saya tak akan salat, kecuali juga kalau saya kepingin.

Pun jika saya tergoncang. Dan hari-hari ini adalah goncangan terbesar buat saya--setakat tiga puluhan usia saya. Ketika saya butuh bantuan, saya tak akan mengemis pada tuhan. Karena ini masalah saya. Dia--iya kamu tuhan, kalau kamu ada--mungkin sibuk dengan urusan Palestina, Pakistan, Afganistan, dan mungkin Indonesia. Tapi sungguh saya tak hendak dan tak mau berpegang pada buhul salat.

Saya lebih suka percaya pada diri sendiri dan mungkin manusia lain yang saya percaya untuk menyelesaikan masalah. Saya percaya manusialah yang bisa menyelesaikan problem manusia. Meskipun pada akhirnya problem itu tak kunjung terpecahkan. Tapi biarlah itu jadi urusan manusia. Dan manusia saja.

Saya khawatir jika kita berpegang pada salat dan tuhan, kita kehilangan kepercayaan pada diri kita sendiri. Kita kehilangan kepercayaan pada manusia(-manusia).

Jadi persaksikanlah saya tak akan kabur dan petaka. Saya akan berpegangan pada diri sendiri. Pada manusia. Dan manusia saja. Meski saya harus mati karenanya. Tapi saya percaya pada derajat kemanusiaan kita.


0 komentar:

Posting Komentar