Paling tidak ada dua kejadian sederhana yang tidak berpretensi apa pun yang membuat saya kembali menghidupkan secuil angan di masa lalu. Itu betul-betul secuil. Sungguh. Saya tidak punya ambisi atau keinginan berlebih. Cuma kepingin yang sederhana saja.
Yang pertama adalah saya dan istri makan malam, hmhmh bukan, tepatnya cemil malam di sebuah kedai. Kedai pasta yang lumayan enak dan tidak generik. Dulu kedai ini sederhana. cuma ada tiga atau empat meja kecil. Tapi meski berimpit-impit, tapi kedai ini sungguh enak untuk dinikmati. Terasa sangat intim, dan bersahabat.
Tapi sekarang kedai ini bertransformasi. Berkembang jauh lebih besar. Dua lantai dengan lampu-lampu yang berderang. Banyak meja dan banyak pengunjung. Lebih riuh, meski ruangan sudah begitu besar. Saya tidak lagi menikmati suasana itu.
Hal yang kedua adalah saya berbicara dengan atasan saya. Saya bilang padanya saya tengah mencari pekerjaan yang baru. Karena itu beberapa pekerjaan mungkin akan saya delegasikan ke beberapa orang. Agar proses transisi kelak berjalan mulus. Dia cuma bilang begini: Mau kemana? Bekerja atau Berusaha? Berusaha itu tentu maksudnya adalah berwiraswasta. Dia bilang kalau bekerja lagi mah percuma. Kalau berusaha, barulah dia akan mengacungkan jempol.
Sontak saya menghubungkan letupan ini dengan pikiran saya tadi malam. Yang melayang dan berangan seperti ini: Alangkah enaknya punya kedai makan atau minum sendiri. Yang bisa jadi tempat mampir orang sehari-hari. Tempat mampir sementara sekadar rehat atau bekerja di luar kantor. Tempat orang curhat atau sekadar cari internet gratisan. Atau tempat orang berbagi sedih dan bahagia. Jadi tempat intim, tempat orang mengukir kenangannya.
Alangkah indahnya punya kedai seperti ini. Dan karena saya suka teh. Maka saya berpikir kedai itu mestinya adalah kedai teh. Kedai teh sederhana di mana teh aneka aroma tidak diobral juga dikenakan harga yang fantastis. Kalau saya membandingkan di Dunkin Donut teh panas dihargai 17 ribu, maka harga teh di kedai itu mestinya lebih murah dari itu. 10 ribu atau 13 ribu maksimal.
Saya membayangkan saya sendiri yang menghidangkan teh itu. Berbagi cerita di mana aroma dauh kering yang direbus itu berada. Di mana dia mengeluarkan aroma terbaiknya. Itu juga kalau mereka tertarik ceritanya. Kalau tidak, tidak bermasalah buat saya. Saya akan punya teh putih terbaik, teh hijau terbaik, teh hitam terbaik, teh melati terbaik, teh dengan daun mint terbaik. Yang pasti tidak teh botol atau teh kotak. atau teh botolan yang buruk sekali rasanya.
Saya juga membayangkan teh akan hadir dengan gorengan lokal. Ubi rebus atau singkong manis. Atau pisang goreng saja. Sedap sekali membayangkan paduan ini dinikmati sore hari, saat hujan turun. Dan musik Sore mengalun di sana.
Saya bisa memajang aneka poster yang saya suka. Dan menjual aneka kaos yang saya desain sendiri. Saya juga membayangkan ada dapur di tengah kedai. Tempat siapa pun bisa menjerang makanannya. Kalau saya lowong, saya bisa bikin singkong keju buat saya sendiri. Orang lain boleh menikmati.
Buku dan komik favorit akan saya pajang di situ. Di rak-rak kayu yang saya desain sendiri. Siapa pun bisa menikmati. Saya juga akan menambah item kedai dengan aneka permainan di mana saya tumbuh besar. Ludo, halma, ular tangga, gambaran. Ah mungkin kartu gaple dan remi.
Tapi itu tentu saja keinginan yang tidak serius. Karena harganya pasti mahal dan tidak mudah untuk dikerjakan, apalagi sampai menguntungkan. Jadi biarlah itu jadi bahan khayalan saya di waktu senggang saja.
Kembali ke soal bekerja atau berusaha? Ah, setakat ini saya pasti mengatakan bekerja. Untuk orang lain. Tak ada kepentingan ideologis dengan itu. Semata-mata cari duit. Dan mengaktualisasi diri. Itu saja. Tidak lebih dari itu.
Saya tidak memilih berusaha. Bukan karena tak berani coba (atau saya sekadar penakut saja?) Tapi semata-mata saya tak punya uang lebih. Dan juga saya sudah membuktikan diri bahwa saya tidak berbakat berusaha. Saya pernah jualan minyak wangi, block note, sapu tangan dan aneka slayer, makelar aneka cetakan, sablon kaos, dan masih banyak lagi. Saya tak tahan dengan keuntungannya. Saya tak pandai mengurus hingga berkesinambungan. Nah persaksikanlah saya telah mencoba.
0 komentar:
Posting Komentar